
Bayu meneyenderkan punggungnya di sandaran lincak yang berada di depan teras. Setelah melakukan video call bersama Dinda, ia semakin yakin bahwa istrinya itu betah sekali bekerja sebagai pembantu di ibu kota. Karena dari raut wajah sang istri nampak begitu berbinar bahagia.
"Dinda bagaimana Bay?" tanya Sonya sambil membawakan secangkir kopi untuk sang anak.
"Baik-baik saja kok Bu. Sepertinya pekerjaan menjadi pembantu memang cocok untuknya. Wajahnya itu seperti tidak pantas untuk menjadi orang kaya."
Sonya sedikit terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Bayu. Pasalnya, tidak biasanya sang anak mengolok-olok sang istri di depannya.
"Hmmmm ... baru sadar kamu? Selama ini mata kamu tertutup apa? Dulu kan Ibu pernah bilang kalau Dinda itu tidak pantas menjadi istrimu karena kampungan. Jangan-jangan karena hal itulah sampai membuat Tuhan mencabut semua kenikmatan yang sebelumnya kamu dapatkan."
Bayu mengendikkan bahu. "Entahlah Bu. Yang jelas saat ini rasanya aku sudah tidak terlalu berhasrat pada Dinda. Yang aku inginkan, dia bekerja keras dan setiap bulan bisa mengirim uang untuk kita."
Sonya menatap lekat wajah putranya ini. Mencoba mencari tahu akar dari semua ucapan yang dilontarkan oleh Bayu.
"Bay, kamu tidak kesambet setan kan? Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu? Padahal sejauh yang Ibu tahu, kamu ini begitu mencintai Dinda dan tidak mungkin merendahkannya."
Bayu hanya terdiam membisu. Sejak pertemuannya dengan Maya kemarin, ia merasakan ada dorongan dari dalam hatinya untuk bisa lebih dekat dengan wanita itu. Bahkan untuk memperlancar semua, ia sampai mengarang cerita perihal Dinda yang bekerja di luar kota.
"Bay, mengapa melamun? Apa yang tengah kamu pikirkan?"
Sonya menepuk pundak Bayu yang seketika membuat tubuh lelaki ini terperanjat. Ia pun hanya tersenyum kikuk.
"Tidak Bu, tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong Bay!" Sonya menatap lebih dalam manik mata Bayu. Mencoba untuk mencari kebohongan di sana. "Sebenarnya, apa yang membuatmu sedikit berubah seperti ini?"
Bayu menghembuskan napas sedikit kasar. Mau tidak mau, suka tidak suka, rasanya ia harus mengatakan hal yang ia simpan kepada Sonya.
"Sepertinya aku jatuh cinta lagi Bu."
Sonya membelalakkan mata. "Jatuh cinta lagi? Kamu bercanda Bay? Dengan siapa?"
"Dengan anak dari pelanggan offline ku Bu. Yang kemarin aku jemput di bandara. Dia seorang janda beranak satu."
"Lalu, apa yang membuat kamu jatuh cinta sama orang itu Bay? Apa yang membuat Dinda bisa tergeser dari hatimu dan terganti oleh janda beranak satu itu?"
__ADS_1
"Dia cantik, modis, tinggi semampai, berkelas tinggi dan yang pastinya kaya raya Bu. Karena, ia merupakan anak tunggal dari nyonya Kartina yang akan mewarisi semua kekayaan sang ibu. Dan ia juga mendapatkan harta goni-gini setelah bercerai dari suaminya."
Mendengar kata warisan dan harta goni-gini, sudah cukup membuat wajah Sonya bersinar terang laksana matahari yang menyinari bumi. Wanita paruh baya itu pun juga sampai berteriak karena kegirangan.
"Kalau begitu, Ibu akan mendukungmu untuk bisa mendapatkan anak dari ibu Kartina itu. Ibu akan mendukungmu sepenuhnya."
Bayu serasa berada di atas angin. Tidak menyangka jika sang ibu mendukungnya untuk mempermainkan Dinda.
"Oke Bu, sekarang aku tinggal nungguin kiriman dari Dinda dan akan aku gunakan untuk bersikap royal di depan Maya. Ya di samping aku ngojek juga sih Bu. Yang jelas, di mata Maya aku akan menampakkan diri sebagai orang pembisnis. Dengan begitu aku bisa dengan mudah untuk menggaet hati Maya."
"Ibu mendukungmu, Bay." Sonya menepuk pundak sang anak. "Selama ini semua demi kehidupan kita untuk lebih baik, Ibu akan mendukung semua keputusanmu," sambung Sonya pula.
Bayu tak kalah tersenyum lebar. "Ibu memang terbaik."
"Oh, itu sudah jelas Bay. Selama hal itu untuk menambah pundi-pundi rupiah di tabungan kita, Ibu akan mendukungmu."
Bunyi nyaring nada panggil di ponsel Bayu mulai terdengar. Ia raih gawai yang ada di atas lincak dan melihat siapa yang menghubunginya di pagi hari seperti ini.
"Maya telepon Bu, Maya telepon!"
Sonya sedikit terkejut. "Apa? Maya? Ya sudah, diangkat Bay. Keburu mati."
"Ada apa Bay? Wajahmu kok terlihat bahagia seperti itu?"
"Maya memintaku menemaninya mencari sekolah, Bu."
"Sekolah? Untuk siapa Bay?"
"Untuk Cantika, Bu. Jika memang berjodoh, dia akan menjadi anak sambungku dan Ibu akan menjadi neneknya. Bagaimana? Menyenangkan kan?"
"Waaahhh ... jika memang seperti itu, berarti berkah untukmu Bay. Lagipula rasa-rasanya Ibu juga ingin segera menimang cucu. Kamu lihat kan, selama kamu menikah dengan Dinda, Dinda tidak kunjung hamil. Jangan-jangan dia mandul." Sonya menjeda sejenak ucapannya dan menghembuskan napas perlahan. "Sudah miskin, tidak berpendidikan tinggi, mandul lagi. Hmmmmmm istri macam apa yang kamu pilih itu Bay?"
Bayu tersenyum kecil sembari memegangi bahu sang ibu. "Sudahlah Bu, tidak perlu dipikirkan. Kalau aku bisa menikah dengan Maya, aku pastikan Ibu akan segera menimang cucu."
"Hmmmmm ... semoga saja Bay. Ya sudah kalau begitu. Berangkat gih, mumpung masih pagi."
"Oke Bu, aku berangkat dulu."
__ADS_1
***
"Aduh, maaf ya Mas karena aku ngerepotin lagi. Ini Cantika yang minta Mas Bayu untuk mengantar kami mendaftarkan sekolah."
Di depan teras, Maya dan Cantika sudah menunggu kedatangan Bayu. Wanita itu mengungkapkan rasa tidak enak hatinya karena kembali meminta Bayu untuk mengantarkannya.
Bayu mengulas senyum termanis yang ia punya. Sembari mengusap pucuk kepala Cantika yang tengah memandang sosok Bayu dengan tatapan penuh damba. Persis seorang anak perempuan yang mendambakan sosok ayah dalam hidupnya.
"Cantika ingin Om yang mengantar?"
Gadis kecil itu menganggukkan kepala. "Iya Om. Cantika ingin diantar oleh om Bayu dan juga mama. Biar seperti diantar oleh papa dan juga mama Cantika. Karena sejak Cantika sekolah, hanya Mama yang mengantar. Sedangkan Papa tidak pernah."
"Cantika ... Sayang, jangan berbicara seperti itu. Malu Sayang!"
Maya terhenyak kala mendengar perkataan polos yang terlontar dari bibir mungil putrinya ini. Ia sampai tidak mengerti mengapa sang anak memiliki pemikiran seperti itu.
"Cantika tidak malu Ma. Justru ketika Cantika datang ke sekolah tidak bersama pap, Cantika akan diejek oleh teman-teman Cantika. Cantika malu karena tidak pernah diantar oleh papa."
Lagi-lagi ucapan polos dari bibir sang putri membuat Maya terperangah. Ternyata selama di Surabaya, putrinya ini sering diolok-olok oleh teman-temannya.
Maya menatap wajah Bayu yang ada di hadapannya. Ada rasa tidak enak hati yang menggelayuti hati. "Maafkan ucapan Cantika ya Mas. Barangkali ada yang menyinggung mas Bayu."
Bayu menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa Mbak, santai saja. Saya tidak merasa terbebani kok. Kalau memang mbak Maya membutuhkan saya untuk perkara-perkara seperti ini, dengan senang hati saya akan membantu."'
Bayu merengkuh tubuh kecil Cantika untuk ia bawa ke dalam gendongannya. " Ayo Cantik, kita ke sekolah!"
"Horeee!!!!"
Senyum bahagia nampak terukir jelas di wajah Maya. Baru kali ini ia bisa melihat sang putri tertawa begitu lepas. Dan setelahnya, ia menatap punggung Bayu yang berada di depannya.
Mas Bayu ini memang benar-benar sosok lelaki idaman. Lelaki seperti ini mengapa sampai bisa mendapatkan seorang istri yang tidak pandai bersyukur dan malah memilih untuk pergi ke luar negeri untuk mencari kebahagiannya sendiri? Ah, seandainya aku yang menjadi istrimu, aku akan senantiasa ada di sisimu, apapun keadaanmu Mas.
Tak jauh berbeda dengan Maya juga Cantika, hati Bayu juga dipenuhi oleh kebahagiaan tiada terkira. Ia merasa jalannya untuk kembali menjadi orang semakin terbuka lebar.
Tidak kusangka, es krim dan coklat yang kemarin aku belikan untuk Cantika akan menjadi jalanku untuk bisa lebih dekat dengan gadis kecil ini. Dengan seperti ini, Cantika akan semakin dekat denganku dan aku pastikan dia akan bergantung kepadaku untuk menjadi figure seorang ayah. Tinggal menunggu waktu, di mana aku bisa menikahi ibu dari gadis kecil ini.
.
__ADS_1
.
. bersambung...