
Mobil sedan putih mendarat sempurna di depan halaman luas sebuah rumah mewah bergaya klasik eropa. Tak selang lama muncul dari balik kemudi seorang lelaki dengan pakaian kasualnya. Ia mengitari mobil menuju sisi pintu bagian kiri. Ia buka pintu mobil itu untuk mempersilakan wanitanya turun dari mobil.
Jenica tersenyum lebar. Dia selalu merasa bahagia diperlakukan manis dan romantis seperti ini oleh Erlan. Sikap Erlan yang seperti inilah yang membuatnya begitu mencintai calon suaminya ini.
"Terima kasih banyak Sayang."
"Sama-sama Sayang."
Sejenak, Jenica menatap intens rumah megah yang ada di depan matanya ini. Ia teramat takjub melihat kemewahan rumah ini. Ia sampai berpikir keras, berapa banyak harta yang dimiliki oleh pemilik rumah ini.
"Ini rumah Papamu Sayang?"
Erlan menganggukkan kepala seraya mengecek berkas e-mail yang dikirimkan oleh asistennya. "Betul Sayang, ini adalah rumah papaku. Tepatnya rumah baru yang baru dua bulan ini ia beli."
"Wah, wah, wah ... ini sih bukan rumah Sayang. Tapi istana. Megah dan mewah sekali Sayang," puji Jenica dengan sorot mata yang masih tidak ingin lepas dari bangunan ini.
Bagaimana bisa lepas jika desain rumah ini terlihat begitu menghipnotis kesadaran. Jika melihat bangunan ini, ia serasa berada di circle para crazy rich.
Erlan mengacak sedikit rambut Jenica seraya tersenyum simpul. "Kalau aku, tidak mau punya rumah sebesar ini Jen!"
Jenica menggeser pandangannya ke arah Erlan. Dahinya sedikit mengernyit karena begitu heran dengan maksud ucapan calon suaminya ini.
"Mengapa bisa begitu Sayang? Bukankah jika rumah kita besar dan megah seperti ini akan terasa lebih lega?"
"Hahahaha, lega sih lega Jen. Tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana capeknya membersihkan rumah sebesar ini. Pasti di badan terasa pegal semua," ucap Erlan dengan diselipi candaan.
Bibir Jenica mencebik dan ia memukul pelan bahu milik Erlan ini. "Hmmmm ... kalau perihal bersih-bersih rumah kan kita bisa cari pembantu Sayang. Jadi kita hanya tinggal memberikan instruksi saja."
Erlan mengedikkan bahu. "Entahlah Jen, aku merasa jauh lebih nyaman untuk tinggal di apartement daripada tinggal di rumah yang besar seperti ini. Kecuali..."
Erlan menjeda ucapannya yang membuat Jenica bertanya-tanya. "Kecuali apa Sayang?"
__ADS_1
Erlan menoel hidung mancung milik kekasihnya ini sembari terkekeh lirih. "Kecuali kalau kita sudah punya banyak anak, Sayang. Kalau anak kita banyak baru kita akan tinggal di rumah besar seperti ini. Oke!"
"Ihhhh kamu ini ada-ada saja Sayang," ucap Jenica manja sambil mencubit perut Erlan.
"Ya sudah, kita masuk yuk. Papa pasti sudah menunggu kita di dalam."
"Ayo Sayang!"
Jenica berjalan dengan menggamit lengan tangan Erlan. Keduanya berjalan menyusuri halaman luas rumah ini untuk menuju teras. Tangan kanan Jenica juga nampak menenteng kantong plastik bening yang berisi martabak manis yang tercium aroma nikmatnya. Empat puluh lima menit berada di jalan, menembus kemacetan ibu kota, pada akhirnya mereka bisa tiba di kediaman sang papa.
Dua pasang telapak kaki berbalut high heels dan sepatu kets itu menyusuri lantai berlapis marmer yang menghiasi. Di sisi kanan kiri nampak pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi. Seakan menjadi tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. Di depan teras, sudah ada seorang wanita yang menyambut kedatangan Erlan dan Jenica ini.
"Papa ada di rumah kan Bi?" tanya Erlan kepada bi Astuti yang merupakan asisten rumah tangga di rumah sang papa.
Astuti mengulas senyum manis di bibirnya. "Selamat datang Tuan muda, Nona muda. Tuan muda dan Nona muda sudah ditunggu Tuan besar di dalam sana. Mari saya antar!"
Jenica ikut menyunggingkan senyumnya. Ia ulurkan kantong plastik bening yang ia bawa ke arah Astuti. "Ini untuk Bibi dan pak Dirman."
"Apa ini Non?" tanya Astuti dengan dahi sedikit mengernyit. Tidak biasanya calon menantu majikannya ini membawakan sesuatu untuknya.
Hati Astuti menghangat. Ternyata calon menantu majikannya
ini memiliki sedikit jiwa berbagi. Padahal sebelumnya ia merasa bahwa calon istri tuan mudanya ini apatis dengan keadaan orang lain. Dengan penuh rasa syukur, Astuti menerima pemberian Jenica.
"Terima kasih banyak ya Non, Tuan. Pak Dirman pasti akan sangat senang sekali mendapatkan buah tangan ini."
"Sama-sama Bi. Kalau begitu, aku masuk dulu ya," sambung Erlan.
"Baik Tuan."
Erlan dan Jenica kembali mengayunkan tungkai kaki. Memasuki area ruang tamu dengan sofa-sofa mewah yang mendominasi. Sofa dengan kualitas terbaik, langsung di datangkan dari Timur Tengah yang pastinya memiliki harga fantastis sekali.
Guci-guci porselen yang didatangkan langsung dari Tiongkok, juga semakin mempertegas kesan mewah rumah ini. Tidak keketinggalan, sebuah pigura besar dengan foto sang ayah yang tengah berfoto bersama Kim Jong Un juga dipajang di salah satu sisi.
__ADS_1
Erlan sampai keheranan, ada bisnis apa sang papa sampai berfoto dengan orang nomor satu di Korea Utara itu. Sangat mustahil jika sang papa mengajak Kim Jong Un untuk berbisnis alat-alat berat seperti yang digelutinya selama ini.
Erlan dan Jenica duduk di sebuah sofa mewah yang berada di ruang tamu. Sembari menunggu sang papa, calon pengantin itu nampak fokus dengan gawai yang berada di dalam genggaman tangan masing-masing. Hingga perhatian mereka beralih pada sepasang manusia yang menuruni anak tangga dengan saling bergandengan tangan mesra.
"Erlan, kamu sudah datang?" ucap Barata menyambut kedatangan sang putra.
"Ya Pa, baru saja Erlan sampai." Erlan melirik sosok wanita berpakaian seksi yang tengah menggamit lengan tangan sang papa. "Dia siapa Pa?"
Barata tergelak pelan sembari mengusap pipi wanita seksi di sampingnya ini. "Hahahaha kamu ini masa tidak tahu Lan. Lelaki seusia Papa ini membutuhkan vitamin agar tetap bugar. Dan inilah vitamin Papa."
Erlan hanya bisa membuang napas kasar seraya memijit pelipisnya. Seharusnya ia tidak perlu tekejut karena memang seperti inilah perilaku sang papa setelah sang mama meninggal. Bergonta-ganti pasangan untuk memburu na*fsu sesaat.
"Om, kalau Om ada tamu, lalu Dena bagaimana? Om belum memberi Dena uang servis loh," ucap Dena dengan suara manjanya. Sikap Dena inilah yang semakin membuat Erlan merasa jijik.
"Sekarang kamu pulang ya Sayang. Untuk uang servis nanti akan Om transfer ke rekening kamu. Tenang, akan Om transfer tiga kali lipat. Oke?"
Mendengar kata tiga kali lipat sukses membuat wanita bernama Dena itu kegirangan. Tanpa basa-basi ia mencium pipi Barata dan bersegera meninggalkan rumah ini.
"Dena pulang dulu ya Om. Sampai jumpa besok. Muaahhhh!!!"
Perilaku wanita bernama Dena ini semakin membuat Erlan merasa geli dan jijik. Tidak habis pikir jika tabiat sang papa seperti ini. Ia bersyukur karena selama ini ia dirawat oleh mbok Surti dan pak Dirman. Meskipun mereka hanya sebagai pekerja yang kebetulan dipercaya oleh sang mama, namun di tangan mereka ia bisa tumbuh menjadi anak yang setidaknya tahu tata krama dan bisa menghargai makhluk bernama wanita.
Barata tergelak melihat sang putra yang tengah terbengong ini. Lelaki itu juga ikut mendaratkan bokongnya di sofa yang tersedia.
"Jadi, ada angin apa kamu datang kemari Lan? Biasanya kamu paling anti untuk mendatangi rumah Papamu ini?" ujar Barata seraya menyulut barang rokoknya.
"Dua minggu lagi aku akan menikah Pa. Untuk semua sudah dipersiapkan oleh tim WO. Papa tinggal datang saja untuk mendampingiku."
"Hanya itu saja?" tanya Barata memastikan.
Erlan mengangguk pelan. "Iya Pa. Mahar dan lainnya sudah aku persiapkan sendiri."
"Hebat, akhirnya putra Papa ini akan menikah." Barata melirik ke arah Jenica yang sedari tadi hanya terdiam dan membisu. "Terlebih menikah dengan wanita yang sangat cantik seperti Jenica ini."
__ADS_1
Jenica yang mendapatkan pujian dari Barata seketika terhenyak. Wanita itupun ikut melirik ke arah sang calon mertua. Betapa terkejutnya Jenica saat melihat sang calon mertua yang begitu genit dengan mengerligkan sebelah matanya.
Eh ini papa Erlan kenapa? Mengapa dia bersikap genit seperti ini?