
Menikmati kicau burung pipit sembari menyesap secangkir white coffee di pagi hari menjadi rutinitas Jenica untuk mengawali hari. Di taman depan, ia duduk di sebuah bangku khas taman dengan gawai yang tidak pernah lepas dari genggaman tangan. Wanita itu berselancar di dunia maya. Membuka notif di instagram di mana orang-orang yang ia kenal memberikan komentar dan like di postingan semalam. Ia tersenyum lebar, karena orang-orang yang mengenalnya begitu antusias mengomentari barang-barang seserahan yang ia posting.
Deru suara mesin mobil terdengar merembet masuk ke dalam indera pendengaran Jenica. Wanita itu meletakkan sejenak gawai yang ada di tangan dan mengedarkan pandangannya ke arah mobil hitam yang mulai memasuki halaman. Senyum lebar nampak jelas di bibir Jenica. Hal itu karena pagi-pagi seperti ini sang kekasih sudah datang menyambanginya.
Tak selang lama, si pengemudi mobil mematikan mesin dan mulai keluar dari dalam sana. Ia lepaskan kacamata hitam yang ia kenakan dan ia letakkan di atas dashboard mobil.
"Sayang .... tumben pagi-pagi seperti ini kamu sudah datang kemari? Kangen ya?"
Jenica mengayunkan tungkai kakinya untuk bisa menjangkau tubuh Erlan. Seperti biasa, wanita itu bergelayut manja di lengan tangan Erlan.
Erlan tersenyum tipis. Sejatinya ia bisa sampai di rumah Jenica sepagi ini karena ada hal yang ingin ia sampaikan di depan sang calon istri. Keadaan Dinda yang sampai pingsan karena kelaparan sungguh berhasil menyita pikirannya.
"Iya Jen, aku ada janji bertemu dengan relasi di daerah dekat-dekat sini. Aku rasa tidak ada salahnya jika aku mampir terlebih dahulu di rumahmu."
"Aaahhhhh ... calon suamiku ini masih saja berkilah. Katakan saja kalau kamu ini merindukanku Sayang." Jenica semakin mencondongkan wajahnya di wajah Erlan. Seketika, ia kecup bibir calon suaminya ini. "Sabar Sayang, sebentar lagi aku sudah sah menjadi istrimu dan setiap hari kamu bisa melihat wajahku."
Erlan sedikit terkejut melihat Jenica yang nampak lebih agresif ini. Lelaki itu hanya tersenyum simpul dan mengajak Jenica untuk duduk di bangku taman.
"Oh iya Jen, aku ingin bertanya satu hal ke kamu," ucap Erlan membuka pembicaraan.
Jenica terkekeh pelan karena raut wajah calon suaminya ini terlihat begitu ragu untuk berucap. "Tanya apa sih Sayang? Jangankan satu hal sepuluh hal pun juga akan aku jawab. Apa yang ingin kamu tanyakan Sayang?"
"Apakah kemarin ketika kamu ke mall bersama Dinda, kamu tidak membelikan makanan untuk Dinda?"
Jenica sedikit terkejut saat mendengar Erlan mempertanyakan hal itu.
Mampus aku, kalau seperti ini bisa-bisa Erlan tahu kalau kemarin aku membiarkan pembantu itu kelaparan. Lagipula kenapa Erlan bisa sampai tahu? Ahhhh... jangan-jangan pembantu itu ngadu.
__ADS_1
"Jen, kok melamun? Apa benar kalau kemarin kamu membiarkan Dinda tidak makan seharian?"
"Eh!"
Jenica mencoba menetralisir degup jantung yang terlanjur berdegup kencang. Ia menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan.
"Kamu mengapa bisa bicara seperti itu Sayang? Pembantumu itu ngadu apa saja ke kamu?"
Erlan menggelengkan kepala. "Tidak, Dinda sama sekali mengadu apapun kepadaku. Hanya saja kemarin ia sempat pingsan karena kelaparan. Apa benar kamu yang membuat Dinda sampai seperti itu?"
"Astaga pembantumu itu sampai pingsan? Mengapa bisa seperti itu Sayang? Padahal kemarin aku sudah mengajaknya makan. Bahkan dia sampai nambah berkali-kali."
Kini giliran Erlan yang terkejut mendengar perkataan Jenica. "Benarkah seperti itu Jen? Tapi mengapa Dinda sampai kelaparan dan pingsan?"
"Iya Sayang, kemarin kita itu makan sup buntut di restoran bahkan Dinda sampai nambah berkali-kali. Aku heran mengapa dia bisa sampai pingsan dan mengatakan bahwa dia kelaparan?"
Kening Erlan berkerut dalam. Ia belum memiliki respon apapun terhadap ucapan calon istrinya ini. Ia masih menunggu hal apa lagi yang akan dikatakan oleh Jenica.
Jenica memekik dengan dua bola mata yang membulat sempurna sembari menepuk paha Erlan. Hal itulah yang membuat Erlan ikut tersentak.
"Ada apa Jen?"
"Jangan-jangan pembantumu itu bermuka dua Sayang?"
Kedua bola mata Erlan semakin menyipit. Tidak paham ke mana arah dan tujuan perkataan Jenica. "Bermuka dua bagaimana maksudmu Jen?"
"Ya bermuka dua, dengan maksud untuk membuat kita saling berselisih paham. Di hadapanmu dia seolah diperlakukan buruk olehku hingga membuat kita bertengkar karena kesalahpahaman itu. Dan perihal pingsan kemarin, dia hanya berpura-pura."
"Tidak Jen, aku rasa Dinda bukan orang seperti itu. Aku merasa dia benar-benar kelaparan kemarin. Dan tidak mungkin ia pura-pura pingsan."
__ADS_1
Jenica terperangah tiada percaya. Bisa-bisanya calon suaminya ini tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
Gila, Erlan bahkan sampai tidak mempercayai ucapanku. Ckckckck... bisa-bisa keberadaan pembantu sialan itu menjadi duri dalam pernikahanku dengan Erlan. Sekarang aku harus bagaimana coba? Untuk membuat Erlan percaya.
"Hiks ... hiks .... hiks ...."
"Loh Jen, kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?"
Jenica menundukkan kepala. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba wanita itu meneteskan air mata. Dari cara menangis terlihat ia seperti seseorang yang tengah dilanda oleh kesedihan.
"Aku sedih Sayang, melihat kamu jauh lebih percaya kepada pembantu itu daripada aku. Padahal aku ini calon istrimu loh Sayang."
Air mata Jenica semakin deras mengalir. Bahkan wanita itu sampai sesenggukan. Yang menjadi tada hati dan perasaannya begitu sakit.
Tak tega, itulah yang dirasakan oleh Erlan saat melihat calon istrinya ini menangis. Tiba-tiba saja ia dihinggapi oleh perasaan bersalah karena menyangsikan perkataan Jenica. Ia pun memilih untuk mendekat ke arah Jenica dan menggenggam tangannya.
"Maaf, maafkan aku Jen jika aku sempat berpikir yang macam-macam. Bukan maksudku untuk menginterogasi kamu, aku hanya ingin memastikan apa yang terjadi kemarin," lirih Erlan.
"Tapi ucapanmu tadi seolah kamu ingin menyalahkan aku Sayang. Padahal kemarin Dinda sampai berkali-kali nambah sup buntut yang kita pesan."
"Oke baiklah kalau memang begitu." Erlan ikut menghela napas panjang untuk terlepas dari rasa pusing yang tiba-tiba menyergap. "Lalu, bagaimana bisa Dinda naik ojek online saat pulang ke apartemen? Mengapa tidak kamu antar terlebih dahulu Jen?"
Jenica semakin merasa tersudut. Ia memang belum memiliki alasan-alasan apa yang akan gunakan untuk membantah perkataan Erlan.
"Kemarin tiba-tiba aku ada keperluan mendadak Sayang. Maka dari itu aku meminta Dinda untuk pulang naik ojek online."
Erlan menatap intens wajah calon istrinya ini. Ingin ia mencari kejujuran dari apa yang dikatakan oleh Jenica, namun sama sekali belum ia temui. Hatinya meragu, antara percaya atau tidak karena semua yang dikatakan oleh Jenica berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan oleh Dinda. Entah siapa yang akan ia percaya.
.
__ADS_1
.
. bersambung...