Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 31. Berangkat


__ADS_3


Sebuah travel bag berwarna biru dongker telah siap di depan teras. Sebuah tas yang berisikan beberapa potong pakaian milik Dinda yang akan ia bawa ke Jakarta. Setelah semalam mendapatkan kabar dari Surti, pagi ini ia bersiap untuk berangkat ke rumah sang majikan. Ada rasa gugup yang bergelayut manja di dalam hati Dinda, mengingat ini adalah pengalaman pertamanya untuk bekerja di luar kota.


"Mas, aku pamit ya. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan keseringan begadang dan jangan telat makan. Doakan aku agar aku senantiasa diberikan kelancaran dalam bekerja. Pastinya mendapatkan majikan yang baik."


Dinda menunduk takzim seraya mencium punggung tangan Bayu dengan intens. Meminta doa kepada sang suami untuk kelancaran di dalam ia menjemput rezeki. Dan memberikan pesan kepada Bayu untuk senantiasa menjaga kesehatan selama ia tidak berada di sisi sang suami.


Bayu mengusap pucuk kepala Dinda dengan lembut seraya melabuhkan sebuah kecupan di sana. "Iya Din, aku akan selalu menjaga kesehatanku dan akan selalu berdoa untukmu. Semoga di Jakarta nanti kamu bisa lebih sukses daripada di sini."


Senyum ironi terbit di bibir Dinda kala mendengar ucapan Bayu. Sebagai seorang istri, sejatinya ia ingin senantiasa berada di sisi sang suami. Menggunakan semua tenaga dan pikirannya untuk mendampingi, untuk merawat dan menjaga pasangan hidupnya. Namun, ia bisa apa jika keadaan yang memaksanya untuk meninggalkan sosok laki-laki yang paling ia cintai.


Bukan, bukan keadaan yang memaksa. Karena seandainya saja ia tidak memilih jalan untuk ikut bekerja sejatinya tidaklah mengapa. Namun kembali lagi, ia melakukan hal ini untuk membahagiakan orang-orang yang ia kasihi. Ikut menjemput rezeki demi keadaan yang bisa kembali seperti semula. Karena sungguh, tidak ada hal yang membahagiakan bagi seorang istri selain bisa terus berada di samping sang suami.


Dinda mengerjapkan mata. Berusaha untuk kembali ke alam sadar setelah sebelumnya berkelana entah kemana. Wanita itu tersenyum simpul seraya mengusap kristal bening yang mulai menetes satu persatu. Rasa sesak dalam dada terasa begitu menyeruak. Hingga membuatnya harus menghela napas dalam dan panjang untuk bisa meraup oksigen yang berada di sekitar.


"Aamiin Mas. Semoga apa yang kita cita-citakan dan kita impikan bisa segera terwujud dan aku bisa segera kembali ke sisimu."


"Tidak perlu tergesa-gesa untuk pulang, Dinda. Masa kontrak kamu selama dua tahun bukan? Jadi, lebih baik kamu giat dalam bekerja sehingga majikan kamu bisa merasa puas saat melihat pekerjaanmu. Dengan begitu, akan banyak bonus yang kamu dapatkan. Semakin banyak bonus yang kamu dapat makan akan semakin cepat membuat kita kaya."


Sonya yang dari tadi terdiam, mulai bersuara. Mengeluarkan pendapatnya yang terdengar sedikit aneh. Bagi kebanyakan orang tua yang melepas sang anak untuk pergi ke tanah perantauan, yang mereka harapkan adalah keselamatan sang anak. Namun hal itu sepertinya tidak berlaku untuk Sonya. Hanya perkara materi, materi, dan materi saja yang ada di dalam isi kepala.

__ADS_1


Senyum itu terbit di bibir Dinda meski sedikit dipaksakan. Kembali lagi, ia harus tetap menghargai dan menghormati Sonya sebagai sang ibu mertua.


"Iya Bu, aku akan giat di dalam bekerja. Karena bagaimanapun juga, aku harus totalitas dalam mengerjakan pekerjaanku. Itulah yang diajarkan oleh almarhum ayah dan ibuku."


"Bagus Din. Ibu salut dengan prinsip hidupmu yang seperti itu."


Dinda kembali menatap wajah sang suami. Menikmati detik-detik terakhir ia bisa menikmati wajah tampan Bayu yang entah kapan lagi ia bisa melihatnya secara langsung. Dan juga menikmati momen-momen terakhir di mana ia bisa berdiri di dekat sang suami.


"Mas, berjanjilah kepadaku untuk selalu menjaga hati juga pernikahan kita. Aku bekerja di Jakarta untuk keluarga kita. Jangan sampai kamu bermain api yang mungkin akan menghancurkan apa yang telah kita bina."


"Ckckckck ... sudahlah Din, saat ini bukan waktunya untuk berbicara tentang cinta ataupun perasaan. Saat ini yang perlu kamu pikirkan adalah bagaimana caranya agar kamu bisa mendapatkan uang yang banyak. Jadi Ibu harap, stop berbicara tentang hati, cinta ataupun perasaan."


Sonya berdecak lirih mendengar sang menantu berbicara tentang cinta. Baginya, cinta tidak akan pernah ada artinya jika tidak ada uang dalam genggaman tangan. Karena, yang membuat bahagia bukanlah cinta namun uang.


"Mas, kamu antarkan aku ke stasiun ya. Aku ingin bersamamu di saat-saat terakhir berada di kota ini."


"Aduhhh ... maaf ya Din. Kamu naik ojek online atau taksi online saja. Aku jam segini sudah ada janji untuk mengantar salah satu pelanggan setiaku. Hasilnya lumayan. Dia berani memberi tarif tiga kali lipat dari tarif biasa."


"Jadi, kamu tidak bisa mengantarkanku Mas?" tanya Dinda sekali lagi untuk meyakinkan.


Bayu menganggukkan kepala. "Iya Din, maaf ya. Sayang sekali kalau aku lewatkan orderan offline ini. Karena tarif yang diberikan tiga kali lipat."

__ADS_1


Dinda sedikit terhenyak mendengar penuturan Bayu. Di hari terakhir ia akan meninggalkan keluarga, kesempatan untuk bersama sang suami pun tidak ada. Bahkan yang lebih membuatnya terhenyak adalah ketika kepentingannya dikalahkan oleh nilai rupiah. Kecewa? Ya, ada rasa kecewa dalam dada. Namun kembali lagi, Dinda tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi Mas, hari ini terakhir kali aku bersamamu. Apa kamu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menghabiskan waktu bersamaku dengan mengantarkanku ke stasiun?"


Dinda masih belum menyerah. Ia masih berharap penuh di hari terakhirnya ia bisa bersama sang suami. Setidaknya sebagai celengan rindu yang entah kapan akan ia pecahkan. Bisa jadi enam bulan mendatang, satu tahun mendatang, atau bahkan mungkin dua tahun mendatang saat masa kontrak itu berakhir.


"Maaf ya Din, aku benar-benar tidak bisa mengantarkanmu. Sayang sekali jika aku melewatkan orderan offline ini. Kamu tahu bukan jika aku harus giat mencari peluang? Dan ini merupakan peluang yang baik untukku mendapatkan uang lebih."


"Tapi Mas..."


"Sudah, sudah, sudah. Jangan ribut lagi hanya karena antar mengantar seperti ini. Kamu juga Din, biarkan Bayu mengambil orderan offline itu jangan kamu halang-halangi. Kamu kan bisa naik ojek online ataupun taksi online yang lain untuk mengantarkanmu ke stasiun? Jangan manja dong!"


Sonya memangkas ucapan Dinda untuk mengakhiri perdebatan yang ia rasa sangat tidak berfaedah ini. Hanya perkara mengantar ke stasiun, membuat sang putra tidak segera berangkat mengambil orderan offline dengan tarif lumayan banyak yang sangat berarti untuk kondisi keuangan keluarganya.


Bibir Dinda terbuka untuk menyanggah ucapan sang ibu mertua. Namun baru saja ia akan bersuara tiba-tiba deru suara motor matic terdengar memasuki halaman rumah. Seorang driver ojek online memberhentikan laju motornya di halaman rumah milik Dinda yang tidak terlalu luas ini.


"Sudah aku pesankan ojek online untuk mengantarkanmu ke stasiun Din. Jadi, kamu tidak perlu ribut dan ribet lagi. Segeralah berangkat, agar kamu tidak ketinggalan kereta!"


.


.

__ADS_1


. bersambung..


__ADS_2