Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 55. Merenungi


__ADS_3


Erlan duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan pena di atas meja hingga membuat bunyi tuk, tuk, tuk, sedikit menggema. Tatapannya sedikit menerawang dan pikirannya seakan melanglang buana entah kemana. Yang pasti secangkir kopi yang ia pesan melalui pantry kantor miliknya ini hanya ia diamkan begitu saja. Kopi yang sebelumnya terasa panas kini mungkin telah dingin. Sedingin sikap sang kekasih yang sedang ngambek😅


Erlan meraih gawai yang teronggok di samping laptop. Sejak larut dalam pikirannya, ia ingat bahwa ada sesuatu yang ingin ia cari kebenarannya. Gegas, lelaki itu mulai berselancar di dunia maya.


Dengan penuh kesabaran, Erlan mencari artikel-artikel perihal tidak berdarahnya seseorang saat malam pertama. Ia ingin tahu, apakah seseorang yang tidak mengeluarkan darah saat malam pertama memang bukan perawan. Dengan seksama, ia membaca satu persatu artikel yang ia temukan.


"Ckckkckkkk ... mentang-mentang pengantin baru terus bersantai ria di dalam ruangan. Siap-siap Lan, jam dua kamu ada janji bertemu dengan PT. ComTech."


Joni yang sebelumnya berada entah di mana, tiba-tiba memasuki ruang kerja Erlan. Dia heran karena sejak pagi tadi, lelaki itu hanya berdiam diri di ruangannya. Bahkan janji bertemu relasi pagi tadi dilimpahkan kepadanya.


"Jon, untuk meeting, kamu saja yang berangkat. Aku sedang malas ngapa-ngapain. Ingin di sini saja."


Joni yang sebelumnya bermaksud duduk di sofa, mendadak ia urungkan dan memilih untuk mendekat ke arah Erlan. Kini, lelaki itupun berdiri tepat di samping sang bos.


"Astaga Lan, kamu ini kenapa? Seharusnya setelah menikah kamu jauh lebih giat dan bersemangat dalam bekerja. Ini malah jadi malas-malasan. Pimpinan PT ComTech inginnya meeting sama kamu, Lan. Tidak mau jika diwakilkan."


"Sudah Jon, kamu saja yang menemui pimpinan PT ComTech. Biar nanti aku yang bicara ke pimpinan PT itu via WA."


Joni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia menyerah membujuk sang bos untuk bisa bertemu dengan pimpinan PT itu. Iseng, Joni melirik ke arah ponsel yang digenggam oleh Erlan. Seketika tubuhnya terperanjat dan kedua bola matanya terbelalak sempurna saat membaca judul artikel yang dibaca oleh bosnya ini.


"Lan, kamu lagi gak waras?"


"Maksudmu apa Jon?" tanya Erlan dengan sorot mata yang tak lepas dari gawai di tangannya.


"Mengapa artikel seperti itu masuk ke dalam daftar bacaanmu Lan? Ada apa? Jenica tidak berdarah di malam pertama?"


Joni seketika menembak Erlan dengan pertanyaan yang mungkin sedikit frontal. Namun alasan apa yang dimiliki oleh Erlan membaca artikel seperti itu. Artikel yang ia rasa begitu tidak wajar dibaca oleh seorang laki-laki setelah melakukan ritual malam pertama.


Erlan sampai tak bisa mengelak ataupun menghindar dari pertanyaan Joni. Lelaki itu hanya bisa mengangguk sembari memijit-mijit pelipis.


"Iya Jon, Jenica tidak berdarah pada saat malam pertama. Tapi setelah aku baca artikel ini, tidak selamanya yang tidak berdarah itu tidak perawan. Semua tergantung dari tekstur hymen masing-masing wanita."


"Lantas, kamu percaya kalau Jenica masih perawan Lan?"


"Apa yang membuatku tidak percaya Jon? Selama lima tahun kita menjalani hubungan, Jenica selalu bersikap baik dan bisa menjaga diri. Jadi aku yakin dia masih menjaga penuh keperawanannya."

__ADS_1


"Lalu pada saat kamu melakukannya, apa Jenica merintih kesakitan? Atau biasa saja?"


"Biasa saja Jon. Dia sama sekali tidak merasa kesakitan."


"Astaga!" Joni lagi-lagi dibuat terkejut setengah mati. "Ini sepertinya kamu telah salah pilih, Lan!"


"Salah pilih? Maksudnya?"


"Ya Tuhan Erlan. Kamu ini memang polos atau bo*doh sih?"


"Apa lagi ini maksudmu Jon?"


"Lan, perawan manapun entah itu yang memiliki hymen tebal atau tipis, jika melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya pasti akan merasakan sakit. Karena untuk kali pertama dimasuki oleh benda asing. Beda dengan seseorang yang sering melakukan hal-hal seperti itu, pasti sudah terbiasa dan sama sekali tidak merintih kesakitan."


Perkataan yang terlontar dari bibir Joni berhasil membuat perhatian Erlan teralih. Lelaki itu menautkan pandangannya ke arah sang asisten.


"Jadi, maksud kamu Jenica sudah tidak perawan Jon?"


"Menurutku seperti itu Lan. Mungkin memang benar bahwa kamu sudah lima tahun menjalin hubungan. Namun sebelum Jenica menjalani hubungan denganmu, kamu tidak pernah tahu dia menjalin hubungan dengan siapa saja kan?"


Ya Tuhan .. apa benar Jenica memang sudah tidak perawan? Apakah itu artinya sikap Jenica yang sebenarnya tidak sebaik yang aku kira selama ini? Ya Tuhan ... sungguh aku merasa bingung. Beri aku petunjuk Tuhan.


"Silakan direnungi Lan. Jika memang seperti itu keadaannya, kamu harus berupaya menerima dengan lapang dada. Karena bagaimanapun pernikahanmu dengan Jenica bukanlah permainan. Semua akan ada pertanggung jawabannya."


***


"Heh, pembantu!"


Dinda yang tengah menyiapkan menu makan malam, melonjak seketika karena tiba-tiba sang majikan sudah berada di belakangnya. Ia berbalik badan dan sang Nyonya sudah berdiri di sana.


"Eh Nona. Iya Non, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Aku dengar dari mbok Surti kalau suamiku cocok sekali dengan kopi buatanmu. Sekarang kamu buat kopi. Sebentar lagi Erlan pulang."


"Baik Nona."


Dinda hanya mengangguk patuh. Ia hentikan sejenak aktivitasnya dan beralih untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan oleh sang majikan.

__ADS_1


Jenica melihat dengan lekat step by step yang digunakan Dinda untuk membuat secangkir kopi yang dibilang mbok Surti sangat cocok di lidah suaminya ini. Ia teramat heran, mengapa lidah suaminya bisa cocok dengan kopi buatan Dinda. Padahal jika dilihat-lihat, cara yang digunakan oleh Dinda biasa-biasa saja.


"Kamu ini sudah menikah?" tanya Jenica mencoba membuka pembicaraan dengan Dinda. Seperti biasa, tangannya tidak lepas dari benda pipih yang kemanapun ia bawa.


"Iya Non, saya sudah menikah."


"Kalau kamu sudah menikah, mengapa kamu sampai bekerja menjadi pembantu? Memang suamimu lumpuh sampai membiarkanmu bekerja?"


Dinda menuangkan air mendidih ke dalam cangkir, ia aduk pelan dan aroma khas biji kopi seketika menguar memenuhi ruangan.


"Tidak Non, suami saya baik-baik saja dan tidak lumpuh. Saya bekerja karena memang ingin membantu perekonomian keluarga saya. Daripada saya berdiam diri di rumah, lebih baik saya ikut bekerja."


"Ckkkckkkk .... kamu ini wanita bo*doh!" Jenica berujar tanpa mempedulikan ucapannya yang sedikit nyelekit. "Kita sebagai seorang istri itu tidak berkewajiban untuk bekerja. Harusnya suami yang bekerja. Tugas kita hanya menghabiskan uang suami," sambungnya pula.


Dinda hanya tersenyum simpul. Ucapan Jenica mungkin memang benar, namun untuk kondisi keluarga yang serba kecukupan.


"Betul itu Non, tapi untuk saat ini, saya memang harus ikut bekerja untuk membantu suami saya."


Hampir saja Jenica menimpali perkataan Dinda, namun ia urungkan ketika terdengar pintu apartemen terbuka. Tak selang lama, sosok sang suami memasuki area depan.


"Sini kopinya, biar aku yang membawakannya untuk suamiku!"


"Ini Nona!"


Dengan senyum yang mengembang di bibir, Jenica membawa kopi buatan Dinda untuk ia sajikan di hadapan Erlan. Ia yakin dengan cara seperti ini Erlan pasti akan memujinya.


"Hai Sayang, baru pulang ya. Lihatlah, aku bikinkan kopi untukmu. Di minum gih, mumpung masih panas!" sapa Jenica sembari meletakkan kopinya di atas meja dan mempersilakan sang suami menikmatinya.


Erlan tidak memberikan respon apapun. Pikirannya masih berkutat pada obrolannya dengan Joni siang tadi perihal Jenica yang sudah tidak perawan. Namun, sekilas ia menatap wajah Jenica yang duduk di sampingnya ini.


"Masuk kamar Jen! Aku ingin bicara denganmu."


.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2