
"Iya Mas, ini aku lagi mau cuci piring. Mas Bayu lagi apa? Sudah sarapan kan?"
Sembari video call dengan sang suami, Dinda mencuci piring-piring kotor setelah dipakai oleh sang majikan sarapan pagi. Rasa rindu kepada Bayu seakan begitu membelenggu. Hingga membuat wanita itu mencuri-curi waktu. Menggunakan kesempatan untuk bisa melihat wajah sang suami via video call ya meskipun tidak dapat mengikis ruang, jarak dan waktu.
"Aku habis mengantar pelanggan offline-ku Din. Sudah, aku sudah sarapan kok. Kamu sudah sarapan juga kan?"
"Sudah Mas. Lalu setelah ini Mas Bayu mau kemana?"
"Biasa Din, mangkal di depan resto. Barangkali hari ini banyak orderan food. Lumayan lah untuk tabungan."
"Oh iya Mas. Pokoknya berapapun yang Mas Bayu dapatkan harus disyukuri. Semoga saja tabungan kita cepat terkumpul untuk bisa mengubah hidup. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan ya Mas."
"Itu sudah pasti Din. Kalau begitu sudah dulu ya. Ini ada orderan food yang masuk. Aku lanjut kerja dulu ya. Dadah Sayang. Muuuaaahhhhh."
Kedua pipi Dinda bersemu merah. Mendengar Bayu memanggilnya sayang dan memberikan kecupan mesra, sudah cukup membuat rasa bahagia itu kian membuncah. Wanita itu hanya bisa menundukkan wajah.
"Hati-hati juga Mas. Baik-baik ya di sana."
Layaknya mentari pagi yang menyinari bumi, wajah Dinda nampak berseri. Ia tiada henti mengulas senyum setelah sang suami menutup panggilan video call nya. Akhirnya, rasa rindu yang membelenggu sejak semalam, terbayar dengan kontan. Setelah melihat wajah yang tercinta meskipun hanya melalui layar ponsel semata.
Erlan yang kebetulan melintas tak jauh dari belakang punggung Dinda, terpaksa harus menghentikan langkah kakinya. Lelaki itu sepertinya begitu kepo dengan apa yang dilakukan oleh asisten rumah tangganya ini. Wanita itu sampai memasukkan ponselnya ke dalam plastik agar tidak terkena percikan air cucian piring untuk bisa tetap berkomunikasi dengan lelaki yang ada di video call itu.
"Loh Tuan? Ada apa kok berdiri di situ? Apa ada sesuatu yang Tuan perlukan?"
Dinda sedikit terkejut kala berbalik badan. Ia kira hanya ada dirinya seorang di tempat ini tapi ternyata ada sang majikan. Sedangkan Erlan hanya nyengir kuda. Rasanya begitu kikuk karena ketahuan kepo dengan urusan pribadi asisten rumah tangganya ini.
__ADS_1
Eheemmmm... Eheemmmm...
Erlan berdehem untuk menetralisir rasa kikuknya. Sebisa mungkin, ia memasang wajah yang biasa saja agar tidak terlihat konyol.
"Kamu tahu bukan bahwa kita sebagai manusia harus menghemat energi? Terlebih energi air. Di saat air di bumi sudah semakin berkurang karena banyaknya pohon di hutan yang ditebang sehingga membuat persediaan air dalam tanah menipis?"
Dinda terperangah dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. Perkataan Erlan sudah persis seperti seorang guru mata pelajaran Geografi yang tengah memaparkan persediaan air tanah. Mendadak pikiran Dinda berwisata ke masa lalu, di mana ia masih duduk di bangku kelas sepuluh.
"Iya Tuan, itu betul sekali. Karena salah satu fungsi dari hutan adalah untuk menjaga ketersediaan air di dalam tanah. Lalu, hubungannya dengan saya apa ya Tuan? Apakah Tuan ingin menguji pengetahuan pelajaran Geografi saya?"
"Nah, itu paham. Kalau paham, mengapa kamu tidak bijak dalam menggunakan air?" tanya Erlan masih dengan memasang wajah datar. Dan pertanyaannya ini sukses membuat Dinda semakin tidak mengerti.
"Tidak bijak?" tanya Dinda dengan kernyitan di dahi. "Maksud Tuan, perilaku saya yang mana yang menjadi indikator bahwa saya tidak bijak dalam menggunakan air?" sambungnya pula meminta penjelasan yang lebih rinci.
Erlan membuang napas sedikit kasar. Sejatinya ia tidak tahu harus mengatakan apa saat si asisten rumah tangga memergokinya berdiri di belakang punggung. Hanya untuk menutupi rasa malu karena kepergok, maka dari itu ia mencari bahan pembicaraan perihal energi air. (Modus kamu Bang🤣)
"Lain kali, kalau mencuci piring jangan sambil video call. Air kran mengucur terus saat kamu mengobrol. Itu bisa menjadi salah satu indikator bahwa kamu tidak bijak dalam menggunakan air. Jangan sampai tagihan airku melonjak tinggi gara-gara kamu sering video call sembari mencuci piring!"
Baru saja Dinda akan mengemukakan argumentasi namun tiba-tiba Erlan melangkahkan kaki, berlalu pergi untuk meninggalkan Dinda yang masih berada dalam mode bibir yang melongo. Lelaki itu tanpa mau mendengar penjelasan ataupun pembelaan dari Dinda memilih untuk segera ngacir begitu saja. Hal itulah yang membuat Dinda semakin geleng-geleng kepala.
"Tuan Erlan ini kesambet apa? Padahal saat aku video call, posisi air kran mati karena aku sedang membasuh piring-piring dengan sabun. Tapi kenapa dia bisa mengatakan bahwa air kran mengucur terus? Apa ada yang salah dengan penglihatan Tuan Erlan?"
Dinda hanya bisa bermonolog lirih sembari bertanya-tanya dan penasaran akan sikap majikannya. Tak ingin terlalu ambil pusing, ia pun memilih untuk meninggalkan ruangan ini dan bermaksud untuk menyusul mbok Surti yang ada di dalam kamar. Namun, baru saja ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba saja langkahnya terhenti kala mendengar ....
"Selamat pagi Sayang...." teriak seorang wanita yang suaranya mulai memenuhi sudut-sudut ruangan.
Dinda mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Terlihat seorang wanita muda dengan rambut blonde masuk ke dalam apartemen dan mulai bergelayut manja di pangkuan sang majikan yang tengah duduk di sofa.
__ADS_1
"Pagi Jen," balas Erlan dengan wajah yang sedikit datar dan tangannya tidak lepas dari gawainya.
"Sayang ... hari ini aku ingin belanja untuk keperluan hantaran yang harus kamu bawa saat pernikahan nanti. Aku ingin tas, sepatu, pakaian, perhiasan, make-up,dan semuanya. Aku mau yang branded dan jumlahnya banyak. Aku tidak ingin tamu-tamu undangan kita mencibir jika sampai barang yang aku dapatkan dari kamu bukan yang bermerk dan hanya sedikit."
Erlan sejenak menghentikan aktifitasnya berselancar di dunia maya. "Harus sekarang? Apa tidak bisa besok saja Jen?"
Jenica menggelengkan kepala dengan bibir mengerucut seperti ikan cucut. "Tidak mau Sayang, pokoknya hari ini, titik. Pernikahan kita itu tinggal sebentar lagi Sayang. Dan perihal hantaran ini sudah harus selesai."
"Lalu, aku harus menyediakan budget berapa untuk hantaran itu Jen?"
Jenica memutar kedua bola matanya. Menghitung-hitung dalam angan berapa banyak uang yang ia butuhkan. "Lima puluh juta sepertinya cukup Sayang."
Erlan sedikit terhenyak. "Lima puluh juta? Apa itu tidak kebanyakan Jen? Padahal untuk mahar saja sudah aku siapkan dua ratus lima puluh juta untukmu."
Bibir Jenica mencebik dan menatap Erlan dengan tatapan sedikit jengah. Ia cubit hidung mancung calon suaminya ini. "Ya itu dua hal yang berbeda Sayang. Hantaran itu sebagai pertanda bahwa kamu akan bersedia memenuhi semua kebutuhanku. Sedangkan mahar sebagai bukti bahwa aku ini merupakan wanita yang bernilai mahal dan patut untuk kamu berikan nilai yang tinggi."
Dengusan napas kasar terdengar lirih keluar dari bibir Erlan. Mau tak mau ia hanya bisa mengiyakan perkataan Jenica daripada berbuntut panjang.
"Oke, itu bisa diatur Jen. Tapi hari ini aku ada janji meeting dengan relasi dan tidak bisa menemanimu berbelanja. Kamu pergi berbelanja sendiri saja ya. Nanti akan aku transfer uang untuk belanja. Atau kamu ingin mengajak mamamu agar ada yang menemani?" ucap Erlan memberikan penawaran karena memang agendanya hari ini tidak bisa diundur ataupun dibatalkan.
"Tidak mau Sayang, karena mamaku lagi ada acara arisan bersama teman-teman sosialitanya. Pokoknya aku tidak mau belanja sendiri. Aku mau kamu temani!" rengek Jenica persis anak kecil yang merengek minta cilok kepada bapaknya.
"Tapi Jen, kalau hari ini aku benar-benar tidak bisa. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku sebelum hari pernikahan kita sehingga tidak ada beban." Erlan mencoba untuk memberikan pengertian sembari mencari cara agar calon istrinya ini tidak rewel lagi. Namun seketika ia teringat akan satu hal. Dan ia yakin jika Jenica akan setuju dengan usulannya ini. "Kamu pergi bersama Dinda saja kalau begitu. Aku rasa Dinda akan menjadi teman yang pas untuk menemanimu berbelanja."
.
.
__ADS_1
. bersambung...
Hari Senin datang lagi Kakak... Vote, vote, vote jangan lupaaaaaaaaaaaa😘😘😘😘😘😘