Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 68. Bekas Milik Siapa?


__ADS_3

Dinda masih berada dalam mode terpaku kala melihat notif yang berasal dari M-banking di ponsel miliknya. Sebuah notif di mana ada uang sejumlah enam juta yang masuk ke dalam rekening pribadinya. Siapa lagi jika bukan berasal dari sang majikan. Antara percaya atau tidak, namun nominal itulah yang tertera di layar ponselnya. Bagi Dinda sendiri, gaji yang diberikan oleh Erlan sungguh teramat banyak.


Keterpakuan Dinda terpangkas kala ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam apartemen. Dinda menautkan pandangannya ke arah sumber suara dan ternyata sang majikan pulang di jam tiga sore seperti ini.


"Loh, Tuan sudah pulang?"


"Iya, pukul enam nanti aku ada undangan makan malam dengan relasi jadi aku memutuskan pulang lebih awal dan bersiap untuk mendatangi acara makan malam itu."


"Oh, seperti itu. Apa mau saya buatkan kopi atau mungkin teh Tuan?"


Erlan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Din. Kebetulan sebelum pulang tadi, aku sudah nge-teh di kedai yang ada di dekat kantor." Erlan mengedarkan pandangannya ke arah penjuru. "Jenica pergi?"


"Iya Tuan. Tak selang lama setelah Tuan berangkat, non Jenica juga ikut pergi. Katanya sedang ada urusan dengan temannya."


Hembusan napas kasar terdengar keluar dari bibir Erlan. Lagi-lagi tidak ada sosok seorang istri yang menyambut kepulangannya. Boro-boro menghilangkan rasa penat yang seharian dia rasakan dengan menyambut kedatangannya, memperlihatkan batang hidungnya saja tidak dilakukan oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Oh seperti itu. Baiklah, tidak masalah."


Erlan mengayunkan tungkai kakinya bermaksud untuk memasuki ruang kerjanya. Seperti biasa, sepulang dari kantor, ia selalu menyempatkan diri untuk berdiam diri di ruang pribadi miliknya itu.


"Maaf Tuan, saya ingin bertanya."


Langkah kaki Erlan yang sudah terayun, seketika terhenti. Ia balikkan sedikit badannya. "Ya, apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Tuan, apakah gaji yang Tuan berikan itu tidak keliru?"


"Bukan, bukan begitu Tuan. Gaji yang Tuan berikan justru menurut saya terlalu banyak. Apakah Tuan tidak keliru dalam memberikan gaji?"


"Oh aku kira kurang." Erlan hanya mengangkat sedikit bahunya dan menanggapi santai pertanyaan Dinda. "Tidak, aku rasa nominal itu sesuai dengan hasil pekerjaanmu. Sejauh ini aku puas dengan hasil kerjamu."


"Tapi Tuan, saya rasa itu terlampau banyak. Saya rasa ...."

__ADS_1


"Sudah, sudah, bagiku nominal gaji segitu pantas untuk aku berikan kepadamu. Jadi, tinggal kamu nikmati saja."


Tanpa membuang banyak waktu, Erlan kembali melangkahkan kaki memasuki ruang kerjanya. Menyisakan Dinda yang hanya bisa menatap punggung sang majikan dengan sejuta rasa yang terselip dalam dadanya.


Tuan Erlan benar-benar orang baik. Semua yang dikatakan oleh mbok Surti memang benar, bahwa tuan Erlan itu memang berhati baik. Beruntung sekali non Jenica yang bisa menjadi istrinya. Semoga semua kebaikanmu dibalas oleh Allah, Tuan.


Dinda hanya bisa bermonolog dalam hati, mengagumi kebaikan majikannya ini. Tidak ia sangka jika akan di perkerjaan di kediaman lelaki yang bagitu baik seperti Erlan. Dinda kembali menuju dapur, melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.


Sedangkan di ruang kerja, Erlan masih terlihat larut dalam pikirannya sendiri. Ia berdiri di balik jendela lebar sembari menatap hamparan langit sore di atas sana. Seketika ingatannya tertuju pada saat di mana ia akan bercinta dengan sang istri pagi tadi.


Aku melihat ada beberapa tanda merah di tengkuk dan punggung Jenica. Persis dengan sebuah kissmark yang ditinggalkan oleh seseorang di tubuh istriku. Dan jelas bukan merupakan kissmark dariku. Apakan semalam istriku bercinta dengan lalaki lain? Jika memang benar, siapakah orang itu?


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2