Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 60. Membangkang


__ADS_3


Hatcchiihhh ... hatccchhiihhhh ...


Keheningan ruang dapur apartement Erlan dipeceh oleh suara seseorang yang bersin-bersin. Sejak tadi Dinda tiada henti bersin-bersin saat memulai aktivitasnya pagi hari ini. Semalam, wanita itu hampir tak dapat mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang, kala indera penciumannya mampet, tubuh terasa begitu dingin dan juga kepala terasa begitu pening. Alhasil, meskipun matahari mulai menampakan wajahnya, wanita itu masih merasakan kedinginan yang luar biasa.


"Kamu sakit?"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar merembet masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Dinda sedikit terperanjat. Ia berbalik badan dan terlihat Erlan yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya mendekat ke arahnya.


Dinda hanya mengulas senyum tipis di bibir. "Tidak apa-apa Tuan. Mungkin hanya sedikit kedinginan saja, sehingga membuat saya bersin-bersin seperti ini."


Erlan merapatkan tubuhnya di tubuh Dinda. Ia ulurkan tangannya untuk memegang pelipis asisten rumah tangganya ini. Erlan sedikit terkejut karena kening Dinda terasa panas sekali.


"Kamu demam. Sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat saja. Daripada bertambah parah. Lekas minum obat demam yang ada di kotak obat."


"Tapi Tuan, pekerjaan saya belum selesai. Saya masih harus memasak, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya."


Erlan sedikit mengintip panci yang masih nangkring di atas kompor yang asapnya mengepul. "Masakanmu sudah matang kan?"


"Sudah Tuan."


"Hari ini kamu masak saja, sedangkan untuk pekerjaan lain sementara tidak perlu kamu kerjakan. Beristirahatlah agar sakitmu tidak semakin parah."


"Tapi Tuan ...."


"Sudah, jangan membantah. Ini perintah dariku dan kamu harus mematuhinya." Erlan kembali berbalik badan untuk meninggalkan Dinda di dapur. Namun baru beberapa langkah, lelaki itu menghentikan langkah kakinya. "Sarapan lah terlebih dahulu. Setelah itu baru minum obat dan beristirahat."


Mau tak mau dan suka tak suka, Dinda menuruti perintah sang majikan. "Baik Tuan, terima kasih banyak."

__ADS_1


Dinda tersenyum penuh arti. Dalam hati, ia benar-benar bersyukur mempunyai majikan seperti Erlan ini. Benar apa yang dikatakan oleh Surti kepadanya bahwa Erlan memang berhati baik dan mulia. Yang kata Surti persis seperti mamanya.


Erlan melangkahkan kaki menuju ruang depan. Saat hendak mendaratkan bokongnya di atas sofa, ia sedikit mengernyitkan dahi kala melihat sang istri yang sudah tampil rapi dan cantik di pagi hari ini. Erlan sampai bertanya-tanya dalam hati, mau kemana istrinya ini.


"Jen, mau ke mana kamu? Tumben pagi-pagi seperti ini sudah rapi?"


Jenica turut mendaratkan bokongnya di sofa. Ia ambil compact powder yang ada di dalam tas, untuk kemudian men-touch up lagi wajahnya dengan benda yang wajib dibawa oleh kaum hawa itu.


"Hari ini aku pulang agak malam ya Lan. Kegiatanku hari ini padat sekali. Mau shoping, mau spa, mau ke salon, mau nongkrong di kafe sama teman-teman dan di malam harinya, aku ada undangan barbeque-an oleh salah satu temanku."


"Serius kegiatanmu sepadat itu hari ini? Lalu, kamu akan pulang ke rumah jam berapa?"


Jenica nampak memikirkan sesuatu. Seperti orang yang tengah menghitung waktu. "Aaahhhh ... aku tidak bisa memprediksi Lan. Yang pasti sampai malam karena ada teman yang baru pulang dari Aussie juga."


"Tapi Jen, kamu ingat kan kalau saat ini status kamu adalah seorang istri. Apa pantas seorang istri pulang larut malam hanya untuk hal-hal tidak berfaedah seperti itu?"


"Apa? Tidak berfaedah kata kamu?" tanya Jenica dengan intonasi suara yang sedikit lebih tinggi. Sepertinya, wanita itu sudah mulai tersulut emosinya.


Jenica berdecih, meremehkan perkataan sang suami. "Lan, aku menikah denganmu, bukan berarti aku harus kehilangan duniaku. Aku ingin bersenang-senang di luar sana. Lagipula kamu ini kenapa sih Lan, cerewet sekali!"


"Tapi sebagai suami, aku melarang kamu untuk pulang sampai larut malam. Aku hanya mengizinkanmu pergi sampai siang hari dan di sore hari, kamu harus sudah tiba di rumah."


"Aku tidak peduli Lan. Yang pasti, aku akan tetap pulang sampai larut malam. Teman-teman ku pastinya akan mencari keberadaanku jika sampai aku tidak ikut acara itu Lan."


"Jenica!" teriak Erlan lantang. "Kamu ini lebih mementingkan aku sebagai suamimu atau teman-temanmu itu Jen?"


Jenica hanya tersenyum sinis. Wanita itu seakan tidak takut sama sekali akan dosa akibat seorang istri yang membangkang pada perintah suami.


"Erlan, aku juga mementingkan kamu sebagai suamiku. Tapi seharusnya kamu juga tidak mengekang kebebasanku kan? Meskipun aku sudah menjadi seorang istri, tapi aku masih punya hak untuk berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temanku kan?"

__ADS_1


"Jenica!"


"Sssttt ... sudah ya Lan, aku tidak mau berdebat lagi!" Jenica bangkit dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah Erlan yang berada dalam mode emosi jiwa.


Cup... cup ... cup...


Tiga kecupan Jenica labuhkan di bibir Erlan. Wanita itu tersenyum lebar tanpa merasa berdosa sama sekali. "Aku pergi dulu ya Sayang. Oh iya, nanti tolong transfer ke rekeningku ya untuk shoping dan kebutuhanku yang lainnya. Dadah Sayang..."


Jenica berjalan berlenggak-lenggok meninggalkan Erlan yang masih berada dalam mode tertegun, terdiam dan membeku. Lelaki itu nampak masih teramat shock dengan apa yang ia alami pagi hari ini. Ia tidak menyangka jika istrinya benar-benar membangkang akan perintahnya.


"Tuan ... sarapannya sudah siap. Silakan sarapan terlebih dahulu Tuan!"


Erlan menghela napas dalam-dalam dan ia hembuskan secara kasar. Ia usap wajahnya dan mencoba untuk membebaskan diri dari emosi yang menguasai diri. Ingin rasanya ia segera berangkat ke kantor agar bisa lupa dengan kejadian yang baru saja ia alami. Namun rasa lapar seakan menahan Erlan untuk tetap berada di sini.


Dengan langkah kaki gontai, Erlan menuju meja makan. Ia duduk manis dan di hadapannya telah tersaji menu makanan yang terasa menggugah selera.


"Ini apa yang kamu masak?" tanya Erlan sesaat setelah menghirup aroma masakan di hadapannya.


Dinda hanya tersenyum tipis seraya menyiapkan bihun, irisan daging sapi, kecambah, kol dan daun seledri dalam mangkuk untuk ia siapkan di depan Erlan. "Ini soto daging Tuan. Nah, sekarang kuah ini bisa tuang ke dalam mangkuk setelah itu bisa Tuan nikmati."


Bak seorang anak yang menurut akan perintah sang ibu, Erlan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Dinda. Setelah semua siap, ia menyendok soto daging ini dan kemudian ia masukkan ke dalam rongga mulutnya.


Perlahan, cita rasa menu soto ini memanjakan lidah dan mengaliri kerongkongan. Tak ada kesan yang tertinggal selain kesan nikmat tiada tara.


Sudah cantik, berhati lembut, berkorban untuk keluarga dan pintar memasak lagi. Pasti bahagia sekali yang menjadi pasangan hidup Dinda. Astaga Erlan , mengapa kamu memuji istri orang?


.


.

__ADS_1


. bersambung..


__ADS_2