Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 47. Licik


__ADS_3


Maya menikmati suasana malam sembari berdiri berdiri di balik jendela kamar. Dengan memakai pakaian tidur dari bahan satin warna peach, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu larut dalam dunianya sendiri. Ia melihat ke arah luar jendela yang berhadapan langsung dengan taman. Namun pandangan itu nampak kosong dan menerawang. Entah hal apa yang tengah mengusik pikirannya.


"Mama!"


Gelombang suara anak kecil yang merembet masuk ke dalam indera pendengaran, seakan menarik paksa kesadaran Maya yang entah sedang berkelana ke mana. Tubuhnya terperanjat dan bergegas menoleh ke arah sumber suara. Terlihat ibu dan juga sang anak masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Cantika, Ibu!"


"Belum tidur May?" tanya Kartina saat melihat sang anak masih berdiri di depan jendela.


"Belum Bu, masih belum bisa tidur!"


Kartina mengulas sedikit senyumnya. Ia berjalan ke arah ranjang dan mulai ia daratkan bokongnya di tepian.


"Tadi Ibu lihat putrimu keluar kamar sendirian. Saat Ibu samperin, dia ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Saat Ibu tanya ingin menanyakan apa, dia tidak mau menjawab." Kartina menatap wajah cucunya yang sudah naik ke atas ranjang sang mama. "Sekarang cucu Oma ini sudah bertemu dengan mama. Memang apa yang ingin tanyakan oleh Cantika ke mama?"


"Cantika hanya ingin tanya, apakah besok om Bayu akan mengantar sekolah Cantika lagi, Ma? Kalau setiap hari om Bayu mengantar sekolah, bisa kan?"


Maya sedikit terkejut mendengar pertanyaan polos yang dilontarkan oleh Cantika. Ia semakin merasa bahwa putrinya ini sudah bergantung dengan keberadaan Bayu. Lebih-lebih selama ini sang putri memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya disayang oleh sosok seorang ayah. Mengingat sudah sejak Cantika berusia tiga tahun, ia ditinggal oleh sang ayah. Dan tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari seorang laki-laki bergelar ayah.


Sekilas, Maya melirik ke arah Kartina. Dari sorot mata wanita itu tersirat sebuah makna bahwa ia sedikit bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan. Sedangkan Kartina hanya tersenyum seraya mengangguk pelan.


"Coba nanti Mama hubungi om Bayu dulu ya Sayang. Semoga saja om Bayu tidak ada keperluan jadi bisa mengantar Cantika."


Cantika merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik sang mama bahkan sesekali menguap. Sejatinya gadis kecil itu sudah mengantuk namun ia masih bersemangat untuk tetap membuka mata hanya demi bertanya perihal Bayu.


"Mengapa om Bayu tidak tinggal di sini saja sih Ma? Kalau om Bayu tinggal di sini kan Cantika ada temannya. Jadi setiap hari om Bayu juga bisa mengantarkan Cantika ke sekolah."


Maya tergelak lirih mendengar pertanyaan polos Cantika. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk bisa lebih dekat dengan sang putri.

__ADS_1


"Tidak bisa begitu Sayang."


"Kenapa tidak bisa Ma?"


"Om Bayu itu bukan siapa-siapa kita. Maka dari itu om Bayu tidak bisa tinggal sembarangan dengan kita."


"Kalau om Bayu jadi ayah Cantika, baru boleh tinggal di sini ya Ma?"


Maya dan Kartina hanya bisa saling bertatap netra dan sama-sama tersenyum simpul. Tidak mereka sangka jika Cantika sudah bisa kritis seperti ini.


"Sudah ya Sayang, tidak perlu kita bicarakan lagi. Sekarang Cantika bobok ya. Bobok di kamar Mama saja. Oke?"


Mata yang sudah terasa begitu berat dan berkali-kali menguap, membuat gadis itu tidak bisa lagi menahan rasa kantuk yang mendera. Benar saja, tidak perlu membutuhkan waktu lama Cantika hanyut dalam buaian mimpinya.


"Memang, sejauh apa hubunganmu dengan Bayu May?" tanya Kartina yang juga ikut penasaran dengan.


"Hanya biasa saja Bu. Sebatas aku minta tolong mas Bayu untuk mengantarkan Cantika ke sekolah."


"Apakah hanya itu saja? Apakah diantara kalian sudah sama-sama mengerti tentang kehidupan masing-masing?"


Maya menghela napas panjang dan perlahan ia hembuskan. Niat hati untuk menyimpan rapat apa yang terjadi di taman sore tadi, mau tak mau ia harus menceritakannya kepada sang ibu. Karena sungguh, obrolan yang terjadi di antara dirinya dengan Bayu hanya membuat hatinya semakin bimbang.


"Iya Bu, mas Bayu sudah bercerita banyak tentang rumah tangganya. Dan akupun juga sudah menceritakan tentang masa laluku."


"Lalu?"


"Mas Bayu berencana untuk menceraikan istrinya karena istrinya itu hanya mengejar kebahagiaannya sendiri Bu. Dan ...."


"Dan apa May?"


"Dan mas Bayu juga bertanya kepada Maya. Seandainya mas Bayu bercerai dengan istrinya apakah aku bersedia untuk menggantikan posisi istrinya."

__ADS_1


Kedua bola mata Kartina terbelalak dan membulat sempurna. Wanita paruh baya itu sepertinya teramat kaget mendengarkan cerita dari Maya.


"Lalu, apa jawabanmu May? Kamu menyanggupinya? Atau kamu menolaknya?"


Maya mengendikkan bahu. "Aku belum memberikan jawaban apapun Bu."


"Bagus itu May. Sebelum kamu membuat keputusan ada baiknya kamu lihat dulu rumah dan usaha yang dipunyai oleh Bayu. Dan juga rumah tangganya."


Maya menganggukkan kepala. Sependapat dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. "Iya Bu, Maya akan melakukan hal itu. Dan jika perihal rumah tangga mas Bayu, Maya rasa apa yang diucapkan oleh mas Bayu memang benar adanya. Mas Bayu memang tersiksa dengan pernikahannya Bu. Bahkan dia sempat menangis yang menggambarkan betapa beratnya ia menanggung beban batin yang ia rasakan karena memiliki seorang istri yang tidak pandai bersyukur."


***


"Apa Bay? Kamu langsung mengutarakan keinginanmu untuk memperistri Maya?"


Sonya hampir saja tersedak tahu isi yang masuk ke dalam mulutnya saat mendengar pernyataan Bayu bahwa putranya ini sudah mengutarakan keinginannya mempersiapkan anak dari pelanggan offline yang hampir setiap hari memakai jasanya.


"Iya Bu, aku rasa lebih cepat akan jauh lebih baik. Sekarang tinggal mencari cara agar aku seolah-olah memang memiliki pabrik kerupuk.


" Hmmmmmmm .. lalu apa rencanamu Bay? Coba katakan, barangkali bisa Ibu bantu."


Bayu nampak berpikir keras. Dan tak selang lama tawa dari bibirnya terdengar menggema. "Bayu punya ide Bu, Bayu punya ide. Bayu rasa, kita harus minta tolong Pak Sidiq yang punya pabrik kerupuk di kampung sebelah. Bayu rasa, kita bisa bekerja sama dengannya."


Sonya menganggukkan kepala. Ia rasa rencana putranya ini tidaklah terlalu buruk. "Lalu, bagaimana dengan Dinda Bay? Kamu yakin akan berpisah darinya?"


Pandangan mata Bayu sedikit menerawang. Ada sebuah keraguan yang meraja saat ia akan membuat keputusan ini. Namun, hasrat ingin cepat kaya dengan cara instan dan juga pesona Maya yang jauh lebih memikat membuat Bayu mantap untuk mengambil keputusan ini.


"Iya Bu, Bayu akan berpisah dengan Dinda. Namun nanti dulu. Karena saat ini, Bayu masih membutuhkan Dinda. Terlebih gaji bulanan Dinda."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2