Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 100. Tuan Erlan?


__ADS_3

Erlan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah mendapatkan petunjuk lewat mimpi, ia bergegas pergi ke kediaman Dinda. Beruntung ia masih menyimpan alamat rumah Dinda yang tertera di KTP. Berbekal alamat itu, Erlan menggunakan goggle maps untuk bisa tiba di kediaman Dinda.


Tidak ia pedulikan betapa lebat hujan yang turun malam ini. Tidak ia hiraukan betapa pekat malam ini di mana keadaan sekitar lebih didominasi oleh area persawahan. Dan tidak ia hiraukan rasa kantuk dan lelah yang mendera karena baru siang tadi ia tiba di kota ini.


Ckkiiitttt...


"Aaaargghhh !!!"


Erlan memekik penuh keterkejutan kala tanpa diduga ada pohon yang tiba-tiba tumbang di depan mobilnya. Angin yang berhembus kencang seakan tidak mampu membuat pohon itu untuk tetap berdiri tegak. Entah karena memang sudah lapuk atau akarnya yang tidak kuat untuk menopang dari terpaan angin.


"Apa-apaan ini? Mengapa tiba-tiba ada pohon yang tumbang?"


Tanpa berpikir panjang, Erlan bergegas keluar dari dalam mobil. Dibantu penerangan dari sorot lampu mobil yang ia kendarai, lelaki itu mencoba untuk melihat apa yang terjadi. Pohon yang tumbang dan melintang sungguh menjadi kendala bagi Erlan melewati jalan ini.


Pohon yang lumayan besar melintang menghalangi perjalanan Erlan. Ia harus memutar otak untuk bisa menggeser pohon ini. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, berharap bisa mendapatkan pertolongan, namun yang ada justru sebaliknya. Ia sama sekali tidak mendapati orang-orang berlalu lalang di tempat ini.


Jelas tidak ada manusia yang berlalu lalang karena tempat ini merupakan area persawahan.


"Apa mungkin aku menggeser pohon ini sendirian?" ucap Erlan bermonolog lirih.


Jika diperhatikan, sangatlah tidak mungkin jika Erlan menggeser pohon yang tumbang ini. Namun keyakinan dalam diri untuk bisa segera tiba di kediaman Dinda, yang seakan menjadi kekuatan tersendiri untuk Erlan bisa menggeser pohon yang tumbang ini. Dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya, Erlan mencoba untuk menggeser pohon ini.


"Hiyaaaaaaa!!!!"


Bak seperti mendapatkan keajaiban, Erlan merasakan begitu ringan dalam menggeser pohon yang tumbang ini. Bahkan ia tidak percaya jika sanggup melakukannya ini sendirian, tanpa dibantu oleh siapapun. Hingga akhirnya, pohon itu tak lagi menghalangi perjalanannya.


"Aneh, mengapa aku seperti tidak merasakan berat sama sekali dalam memindah pohon ini?"

__ADS_1


Erlan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Ia sedikit bergidik ngeri jika ada hal-hal mistis yang ia alami. Ia sampai berpikir jika ada campur tangan makhluk tak kasat mata yang membantunya. Sama seperti para jin yang membantu Bandung Bondowoso saat membangun seribu candi dalam waktu satu malam.


"Astaga Erlan, kamu ini seperti manusia yang tidak memiliki iman saja. Sudah jelas ini semua atas kasih sayang Tuhan kepadamu."


Erlan berdecak kesal. Bisa-bisanya ia berpikir ada jin yang membantunya. Padahal apa yang terjadi padanya merupakan pertolongan dari Tuhan. Merasa sudah terlalu lama berada di luar, hingga membuat tubuhnya basah kuyup, Erlan memilih untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"Semoga tak ada lagi halangan yang aku alami. Aku sungguh khawatir dengan keadaan Dinda!"


Erlan kembali menginjak pedal gas. Kali ini ia harus memperlambat laju kendaraannya. Khawatir jika tiba-tiba ada lagi pohon yang tumbang.


***


"Aku tidak mau pergi dari sini. Ini rumahku. Ini rumahku!"


Dinda berteriak lantang dengan tubuh meronta, memaksakan diri untuk tetap berada di kediamannya. Ia tidak terima jika diusir oleh para preman yang bahkan tidak ia kenal sama sekali. Sekuat tenaga, ia masih bertahan untuk tetap menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya.


"Diam kamu! Jika kamu tidak bisa diam, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu!"


Seorang preman yang merupakan sang ketua berteriak memberikan peringatan dan ancaman. Ia sepertinya juga sudah sangat kewalahan menghentikan Dinda yang terus berteriak dan meronta sehingga membuat kepalanya semakin pusing saja. Meskipun derai air hujan bisa meredam teriakan Dinda, namun tetap saja terdengar bising di telinga. Ditambah dengan Dinda yang sedari tadi meronta seperti orang kesetanan, semakin membuat para preman kehabisan tenaga.


"Cuiihh ... Aku tidak peduli. Aku akan tetap ada di sini. Tidak sudi untuk pergi dari rumahku sendiri!"


Tanpa merasa takut, Dinda meludahi si preman. Rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan jauh lebih besar dari rasa takut kepada preman. Wanita itu bahkan tidak peduli dengan siapa ia berhadapan saat ini.


Entah sudah berapa banyak air mata yang tertumpah dari bingkai mata Dinda. Sejak ia mendapati sertifikat rumahnya berada di tangan sang preman, ia tiada henti menangis. Dunianya seperti hancur seketika karena satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya harus terlepas dari genggaman.


Ditambah dengan rasa benci yang menggerogoti hati kepada sosok sang mantan suami. Ia tidak menyangka jika lelaki itu sanggup untuk menghancurkan hidupnya sehancur ini. Menjadi puing-puing duka dan lara yang berserakan di dasar hati.

__ADS_1


Preman itu membelalakkan mata. Apa yang dilakukan oleh Dinda sungguh memantik api amarahnya. Ia masih tidak percaya jika Dinda masih kuat untuk melakukan perlawanan dan yang lebih mencengangkan, Dinda meludah di hadapannya. Apa yang ia lakukan sungguh sangat merobek-robek harga dirinya sebagai seorang preman.


"Oh ... Ternyata kamu mau melawanku?" Preman itu kemudian menautkan pandangannya ke arah dua temannya yang sedari tadi memegangi tangan Dinda. "Lempar dia keluar. Biar tahu rasa dia karena sudah berani melawanku!"


"Baik Bos!"


Tanpa basa-basi dua preman itu menarik tubuh Dinda untuk mereka bawa di tepian teras. Seketika, langsung ia hempaskan tubuh Dinda di dalam deras air hujan.


"Aku tak mau pergi dari sini. Ini rumahku. Ini rumahku!"


Di bawah deras air hujan, Dinda menangis tergugu dengan posisi bersimpuh. Ia masih belum terima mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia tidak rela jika harus pergi dari rumahnya sendiri. Terlebih dia sama sekali tidak menikmati uang hasil menggadaikan rumah ini.


"Bos, bagaimana ini Bos? Kasihan sekali wanita itu. Dia pasti kedinginan Bos!"


Salah satu preman yang memiliki belas kasih sedikit merasa kasihan akan apa yang terjadi pada Dinda. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana dinginnya air hujan ini ketika menyentuh kulit wanita itu. Terlebih dengan kilatan-kilatan petir, ia sungguh khawatir jika Dinda sampai tersambar.


"Aaahhhh ... Biarkan saja wanita itu tetap di sana. Biar dia sadar jika rumah ini sudah bukan lagi menjadi miliknya."


"Ini rumahku. Ini rumahku. Kalian lah yang seharusnya pergi dari sini!" teriak Dinda semakin lantang.


"Hahaha jika kamu menginginkan rumah ini kembali, suruh Bayu mengembalikan uang yang ia pinjam dari juragan Agus." Preman itu mulai mengayunkan tungkai kaki. "Ayo semua, kita pergi dari sini!"


Kelima preman itu menurut apa yang diperintahkan oleh sang ketua. Baru saja mereka akan memasuki mobil yang terparkir di depan halaman, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh sorot lampu dari sebuah mobil yang juga turut memasuki halaman rumah ini.


"Berhenti kalian semua. Jangan ada yang beranjak dari sana!"


Para preman itu terkesiap saat melihat ada sosok lelaki yang menghentikan langkah kaki mereka. Dinda yang mendengar suara itu, bergegas melihat ke arah sumber suara. Kedua matanya terbelalak sempurna dengan bibir yang menganga lebar.

__ADS_1


"T-Tuan Erlan?!"


__ADS_2