Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 83. Bukan Istriku Lagi


__ADS_3

"Erlan!!!!"


"Aaaaaa Tuan ... Lelaki itu telanjang bulat!"


Dinda yang ikut masuk ke dalam kamar untuk menyergap sang nyonya memekik seketika kala pandangannya terkontaminasi oleh pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Seorang lelaki dalam keadaan polos yang berdiri tepat di hadapannya. Pemandangan inilah yang membuat tubuh Dinda sedikit gemetaran. Khawatir jika ia sampai tergoda akan postur tubuh selingkuhan majikannya ini. Ia pun hanya bisa menutup matanya menggunakan telapak tangan dan kemudian berbalik badan menghadap ke arah pintu. Ia mengayunkan tungkai kaki, bermaksud untuk pergi dari kamar ini.


"Jangan pergi. Tetaplah di sini!" titah Erlan seraya menarik lengan tangan Dinda. Mencegah sang asisten rumah tangga untuk pergi dari kamar ini.


"Tapi Tuan, pemandangan ini sungguh memalukan. Saya pergi saja dari sini."


Dinda yang sebelumnya didera oleh rasa kantuk, kini seakan musnah. Sepasang manusia dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang menutupi sudah cukup membuat matanya terbelalak dan membuat sempurna. Membunuh rasa kantuk yang sebelumnya ia rasa.


Erlan yang melihat ekspresi Dinda hanya menanggapi santai seraya tersenyum tipis.


"Tetaplah di sini. Jika kamu tidak ada di sini, aku khawatir jika aku kalap sehingga akan melakukan hal-hal yang justru merugikan diriku sendiri. Jangan ke mana-mana!"


Pagutan bibir Jenica dengan sang kekasih gelap seketika terlepas kala terdengar suara bariton yang begitu familiar di telinganya memenuhi langit-langit kamar hotel mewah ini. Suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh atmosfer penuh gairah dan penuh naf*su mereguk kenikmatan dunia, kini berubah menjadi suasana serba canggung kala sang suami masuk ke dalam kamar ini. Bahkan keadaan dirinya dan sang kekasih gelap yang polos tanpa sehelai benang pun juga turut menjadi alasan wanita itu hanya bisa bisa berdiri mematung dan membeku.


Sadar dalam keadaan telanjang bulat, Jenica bermaksud mengambil selimut untuk menutupi. Namun buru-buru Erlan mencegahnya.


"Stop. Jangan lakukan apapun! Tidak perlu kamu tutupi tubuhmu yang sudah kamu obral itu. Semua tidak akan ada gunanya."


"Tapi Lan ... Ini semua tidak seperti yang kamu lihat. A-aku bisa menjelaskan semuanya!"


"Omong kosong! Kamu kira aku ini lelaki bo*doh dan buta sampai tidak bisa menyimpulkan apa yang saat ini kamu lakukan bersama lelaki ini? Semua sudah jelas. Kamu sudah menghianati pernikahan kita!"


Jenica terhenyak. Ia merasa tersudut karena Erlan tidak mau mempercayainya. Ia bermaksud untuk merapatkan tubuhnya ke tubuh Erlan. Berupaya untuk membujuknya.


"Sayang ...."


"Stop . Jauhkan tubuh kotormu itu Jen. Sekarang semua sudah jelas. Ternyata lelaki inilah yang meninggalkan jejak kissmark di punggung dan juga tengkukmu. Ternyata kamu yang telah menodai pernikahan kita yang baru berusia satu bulan."

__ADS_1


"Apa? Kissmark di punggung dan tengkuk? Apa maksudmu Lan?"


Tak ada raut kesedihan ataupun kehancuran di wajah Erlan. Lelaki itu bahkan terlihat biasa-biasa saja. Bahkan ia terlihat begitu santai menghadapi perselingkuhan istrinya.


"Ya, ternyata Tuhan memberitahuku tentang siapa kamu yang sebenarnya melalui bekas kissmark yang tertinggal di punggung dan juga tengkukmu. Dari sanalah aku juga memiliki rencana untuk melihat perselingkuhanmu dengan mata kepalaku sendiri. Dan hari ini semua terjadi. Dengan kedua mataku sendiri aku bisa melihat semuanya."


Jenica semakin terkejut dibuatnya. Tidak menyangka jika sang suami memiliki rencana seperti ini. Kini, ia benar-benar merasa kecolongan.


"Sayang .... Aku minta maaf. Aku khilaf melakukan ini semua. Maafkan aku Sayang..."


Jenica maju satu langkah diikuti oleh Erlan yang juga mundur satu langkah. Ia seakan begitu jijik berdekatan dengan istrinya ini.


"Khilaf katamu?" tanya Erlan memastikan.


"Iya Sayang, aku benar-benar khilaf. Maafkan aku Sayang. Ijinkan aku untuk memperbaiki ini semua dengan tetap berada di sampingmu."


"Cih, aku bahkan sangat jijik mendengar ocehanmu itu Jen. Asal kamu tahu, tidak ada ke khilafan dalam sebuah perselingkuhan. Kamu melakukan itu semua secara sadar sehingga tidak pantas kamu bersembunyi di balik kata khilaf. Lagipula, tidak sekali saja kamu melakukan hubungan badan dengan lelaki ini. Itu bukan khilaf namanya. Tapi ketagihan!"


Erlan tersenyum getir. Hatinya juga terasa begitu hancur namun ia berusaha mati-matian untuk tidak meneteskan air mata ataupun memperlihatkan rona kesedihan di wajahnya.


"Sebelum kita menikah, kita sudah lebih dulu menjalani hubungan selama lima tahun. Kamu pasti sudah paham bukan jika aku bisa memaafkan semua kesalahan kecuali perselingkuhan dan penghianatan? Jadi aku rasa kamu tidak akan pernah aku maafkan."


"Sayang .... Kumohon ... Kumohon maafkan aku. Aku akan melakukan apapun asalkan kamu mau memaafkan aku Sayang."


Jenica meluruhkan tubuhnya, hingga kini ia dalam keadaan bersimpuh di atas lantai. Kepalanya menunduk sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia sadar bahwa kali ini akan sangat merugikan baginya jika sampai Erlan murka dan menceraikannya. Ia sama sekali belum memindahkan aset-aset milik Erlan menjadi atas namanya. Sehingga bisa dikatakan ia hanya akan membawa tangan kosong jika sampai sang suami menceraikannya.


"Memang apa yang bisa kamu lakukan dengan tubuhmu yang sudah kotor karena dijamah oleh lelaki lain seperti ini? Kamu bahkan saat ini sudah seperti wanita jala*ng yang menjajakan tubuhnya kepada para lelaki hidung belang."


"Iya Sayang ... Aku mengakui bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Aku minta maaf Sayang. Tolong maafkan aku!"


Air mata Jenica berderai membasahi wajah. Ia sungguh piawai dalam menjalankan perannya. Berharap dengan air mata itu, hati Erlan bisa melunak dan pada akhirnya bisa mendapatkan kata maaf dari sang suami.

__ADS_1


"Hahaha ... Kamu menangis Jen? Hapus air mata buayamu itu. Aku tidaklah percaya jika kamu saat ini merasa menyesal."


"Sungguh aku sangat menyesal Sayang. Tolong maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal-hal semacam ini lagi. Please maafkan aku!"


"Sekali seseorang berselingkuh, bisa dipastikan orang itu akan melakukan hal yang sama di masa-masa mendatang. Aku tidak ingin mengambil resiko seperti itu. Daripada nantinya aku selalu teringat akan tubuhmu yang sudah dijamah oleh lelaki lain di saat kita bercinta, lebih baik aku segera mengambil keputusan. Aku akan...."


"Stop Sayang, jangan katakan hal itu. Aku minta maaf dan tolong sekali ini saja kamu memaafkanku. Kumohon Sayang.."


Erlan membuang napas sedikit kasar. "Baiklah, aku memaafkanmu. Aku anggap tidak pernah terjadi hal-hal memalukan seperti ini."


Kepala Jenica yang sebelumnya menunduk, kini ia dongakkan. Ia menatap wajah Erlan dari posisinya di mana sang suami mengedarkan pandangannya ke sembarang sudut untuk menghindar dari tatapan Jenica.


"Terima kasih Sayang ... Terima kasih karena kamu telah memaafkanku. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Mulai sekarang, aku akan selalu ada di dalam apartemen untuk melayanimu sepenuhnya."


Jenica kembali merasa berada di atas angin. Akhirnya, ia mendapatkan maaf dari sang suami. Ia masih percaya bahwa semarah dan semurka apapun Erlan, lelaki itu tidak akan pernah bisa hidup tanpa dirinya. Dalam artian, Erlan tidak akan pernah bisa untuk meninggalkannya.


"Oh, terserah kamu ingin keluar rumah atau tetap stay di dalam rumah. Aku bahkan tidak peduli akan hal itu Jen!"


"Hah, apa? Maksud kamu bagaimana Lan? Bukankah kamu akan bahagia jika aku tidak keluyuran dan tetap stay di dalam rumah. Sepenuhnya mengirusimu?"


"Tidak perlu repot-repot kamu melakukan hal itu. Aku tidak butuh."


Jenica semakin terhenyak. Ia masih belum terlalu paham dengan apa yang Erlan ucapkan. "Maksud kamu bagaimana Lan? Bukankah kamu sudah memaafkanku? Itu artinya kita akan tetap bersama bukan?"


"Cih, jangan ke-gr-an kamu. Aku memang sudah memaafkanmu tapi, aku tetap berada pada keputusanku..."


Erlan menjeda sejenak ucapannya dan menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan. "Jenica, aku menceraikanmu. Dan mulai hari ini, kamu bukanlah istriku lagi!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2