Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 63. Dingin


__ADS_3

Kelopak mata Jenica terbuka kala kerongkongannya terasa begitu kering kerontang. Netranya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Mencoba untuk mengetahui di mana ia berada.


Wanita itu sedikit terhenyak kala melihat selimut yang menutupi tubuhnya. Hanya ada selimut dan tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ia mencoba mengingat akan apa yang terjadi. Dan seketika, permainan ranjang yang beberapa saat lalu ia lakukan bersama Bara, kembali berputar-putar dalam memori otaknya.


"Hai Baby ... kamu sudah bangun?"


Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe warna putih itu mengejutkan Jenica yang masih berupaya mengumpulkan kepingan-kepingan permainan ranjang yang baru saja ia lakukan.


Jenica mengangguk pelan. "Ya, aku haus. Ingin minum."


Jenica hampir saja beranjak dari posisinya, namun buru-buru dicegah oleh Bara.


"Wait, wait, wait .... kamu di sana saja Baby, biar aku yang mengambilkannya untukmu."


Bara mengambil soft drink yang sebelumnya ia beli di minimarket yang letaknya tak jauh dari hotel. Ia berikan soft drink itu ke arah Jenica. Wanita itupun menerima dan mulai meneguk soft drink itu.


"Terima kasih Bar!"


Bara tersenyum simpul. Ia daratkan bokongnya di tepian ranjang. "Bagaimana Baby? Apakah kamu merasa puas dengan burung rajawali milikku? Tapi aku rasa kamu sangat puas karena aku bisa melihatmu merem melek dan menjerit kencang. Bukankah itu salah satu pertanda bahwa kamu puas?"


Jenica hanya bisa menunduk malu. Karena apa yang diucapkan oleh Bara memang benar adanya. Burung rajawali milik mantan kekasihnya ini memang sungguh membuatnya bahagia setengah mati.

__ADS_1


"Aku rasa tidak perlu aku jawab Bar. Kamu sudah tahu jawabannya."


"Hahahaha ... aku rasa hanya aku lah yang bisa memuaskanmu."


Bara bangkit dari posisinya. Ia berdiri menghadap Jenica dan ia biarkan bathrobe yang ia kenakan sedikit terbuka. Hingga kini, bentuk burung rajawali itu terlihat jelas di mata Jenica. Lelaki itu buru-buru meraih tangan Jenica dan menuntunnya untuk bisa memegang burung miliknya ini.


"Kapanpun kamu mau, burung rajawali ku ini siap untuk memuaskanmu!"


Wajah Jenica nampak berbinar bahagia. Di saat ia kurang bahagia karena tidak mendapatkan kepuasan batin akibat burung suami yang begitu kecil, ia menemukan burung rajawali yang bisa menghempaskan ketidakpuasannya itu. Dan ucapan Bara seakan menjadi angin segar ia bisa bercinta dengan lelaki itu kapanpun ia mau.


Jenica hanya tersenyum simpul. Ia raih ponsel yang berada di atas nakas yang sejak tadi tidak ia sentuh sama sekali. Tubuhnya terperanjat kala melihat penunjuk waktu yang ada di layar.


Jenica memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Tanpa banyak bicara dan tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, ia kenakan kembali pakaiannya dan bersiap untuk pulang.


"Biar aku antar, Baby!"


***


Erlan masih berdiri di balkon sembari memandang hamparan langit luas yang ada di atas sana. Langit malam nampak muram. Rembulan dan mutiara malam yang biasanya menampakkan wajah, malam ini entah hilang ke mana. Sama persis dengan hati seorang laki-laki yang tengah gundah gulana.


Harusnya saat ini masih menjadi malam-malam bahagia untuk Erlan karena masih berada dalam masa pengantin baru. Namun kenyataannya berbeda. Ia justru merasa hampa karena sang istri jauh lebih memilih untuk pergi bersama teman-temannya. Bahkan sampai menjelang pagi, sang istri belum juga kembali. Ia rasa kehidupan pernikahannya akan selalu bahagia, namun kenyataannya tidak seperti apa yang ia pikirkan. Sejak menikah, hampir tidak ada ketentraman yang tercipta. Selalu saja ribut dan terlibat cek-cok.

__ADS_1


"Jam dua dini hari. Dan Jenica belum pulang dan sama sekali tidak memberi kabar? Ini siapa yang kebangetan? Aku sebagai suami atau dia sebagai istri?"


Erlan sibuk bermonolog lirih. Ia pijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Bahkan lelaki itu seringkali terlihat menguap karena rasa kantuk yang mulai mendera.


"Ah, lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur. Terserah, Jenica mau pulang atau tidak, sungguh aku tidak peduli."


Erlan mengayunkan tungkai kakinya untuk kembali ke ruang kerjanya. Namun pada saat ia akan berbelok ke ruangan kerjanya, tubuh Erlan terpaku dan membeku kala netranya menangkap bayang sosok wanita yang membuka pintu apartemen.


"Sayang .... kamu belum tidur? Maafkan aku ya Sayang, aku terlambat pulang!"


Jenica berjalan mendekat ke arah Erlan. Namun saat tubuh wanita itu hampir merapat ke tubuh Erlan ....


"Stop. Jangan mendekat Jen. Aku ingin istirahat. Dan aku minta malam ini kamu tidak menggangguku."


Tanpa banyak berkata, Erlan kembali melangkahkan kaki menuju ruang kerja. Dan kini, giliran Jenica yang terpaku dan membeku melihat sikap Erlan yang sedikit dingin ini.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2