Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 87. Tiba di Kampung Halaman


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Samaya Ambarwati binti Harjolukito dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Ucapan qabul dari bibir Bayu terdengar menggema memenuhi langit-langit ruangan di mana prosesi akad nikah ini dilaksanakan. Sebuah kalimat singkat dan terkesan ringan namun sejatinya memiliki makna yang begitu besar dan memiliki pertanggungjawaban yang besar pula kepada sang penguasa alam.


Wajah Bayu dan Maya sama-sama berbinar terang bak sinar mentari di pagi hari. Pada akhirnya selama satu bulan lebih mereka saling mengenal, hari ini keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri.


"Terima kasih ya Mas, akhirnya kamu memenuhi janjimu untuk menikahiku. Kuharap kamu akan setia kepadaku dan ikut membesarkan Cantika."


Tanpa berpikir panjang Bayu menganggukkan kepala. Apa yang menjadi permintaan Maya teramat mudah untuk dilakukan meskipun sejatinya ia menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap.


"Itu sudah pasti Sayang. Kamu adalah wanita yang sangat dan paling aku cintai. Itu artinya, aku tidak akan pernah menghianati cinta kita. Aku juga berjanji akan mendampingimu untuk membesarkan Cantika."


"Terima kasih banyak Mas. Selain itu, aku juga meminta kepadamu untuk segera mengesahkan pernikahan kita ke KUA. Aku tidak ingin jika hanya menikah secara siri saja."


Meskipun telah dinikahi secara siri, Maya tetaplah seorang wanita yang pernikahannya ingin diakui secara agama maupun negara. Itulah sebabnya ia mewanti-wanti sang suami untuk segera mengesahkannya.


Kekehan lirih terdengar keluar dari bibir Bayu. Ia menggenggam erat jemari tangan Maya dan mengecupnya intens.


"Tenanglah Sayang. Aku yakin tidak sampai dua bulan, aku sudah akan mengantongi akta cerai. Jadi kamu jangan khawatir ya. Yang pasti, saat ini aku sudah menjadi milikmu seutuhnya. Jiwa dan ragaku semua aku serahkan kepadamu."


Bak sebuah lagu menjelang tidur, kata demi kata yang terlisan dari bibir Bayu sungguh membuat Maya dimabuk kepayang. Ia percaya bahwa hidupnya akan jauh lebih bahagia bersama Bayu.


"Aku pegang janjimu, Mas!"


Tak jauh berbeda dengan Bayu, wajah Sonya juga terlihat berbinar terang. Hatinya teramat bahagia. Pada akhirnya, mimpi dan angannya menjadi orang kaya di usia senja akan terwujud. Ia yakin setelah ini hidupnya akan semakin bahagia dengan segala kemewahan yang ia punya. Terlebih sang besan yang terlihat begitu royal. Wanita itu sampai berpikir bahwa sang besan tidak akan perhitungan terhadap dirinya.


"Terima kasih banyak ya Jeng, karena jeng Kartina mau menerima Bayu sebagai menantu. Saya sungguh sangat bahagia Jeng!"


Senyum tipis terbit di bibir Kartina. Ia pun juga hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan Sonya.


"Ini semua demi putri dan cucu saya Jeng. Maya sudah terlanjur cinta kepada Bayu sedangkan Cantika juga sudah berharap penuh kepada Bayu untuk menjadi papanya. Jadi apa lagi yang menjadi alasan untuk tidak menerima Bayu?"


"Iya Jeng, saya teramat berterima kasih. Mungkin inilah buah dari kesabaran Bayu menghadapi istrinya yang tidak pandai bersyukur. Selalu saja merasa kurang. Pada akhirnya ia dipertemukan dengan Maya. Dan saya semakin yakin dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana. Bahwa buah dari kesabaran itu sangatlah manis."

__ADS_1


Bak seorang mertua yang selama ini ikut merasa teraniaya akan sikap sang menantu yang kurang bersyukur, Sonya tiada henti menjelek-jelekkan Dinda di hadapan Kartina. Nampaknya wanita itu akan melakukan berbagai macam cara agar sang besan percaya bahwa selama ini ia adalah korban. Korban salah pilih menantu yang membuat hidupnya terpuruk.


Kartina mengulas senyum di bibir. Ia meraih telapak tangan Sonya dan menggenggamnya erat. "Sudahlah Jeng, jangan lagi dipikirkan. Yang jelas saat ini Bayu dan Maya sudah sama-sama bahagia. Kita sebagai orang tua harus turut bahagia untuk mereka."


"Iya Jeng, ternyata kebahagiaan Bayu memang ada dalam diri Maya bukan kepada istrinya."


"Ya sudah, setelah ini saya memiliki kejutan untuk mereka berdua."


Sonya menyipitkan mata dengan sedikit kernyitan di dahi. "Kejutan? Kejutan apa itu Jeng?"


Kartina terkekeh lirih sembari menutup bibirnya. "Bukan apa-apa Jeng. Hanya sebuah rumah dan mobil baru. Ya, hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan mereka."


Kedua bola mata Sonya terbelalak. "Rumah dan mobil Jeng?"


"Iya, rumah yang besarnya tidak jauh berbeda dari dengan rumah ini. Yang ada di pusat kota Jeng. Kurang lebih satu jam dari sini. Setelah ini terserah jeng Sonya, ingin tinggal bersama saya atau ikut mereka?"


Ya Tuhan .... Baru menjadi menantu Kartina saja putraku sudah mendapatkan rumah dan mobil. Lalu apalagi yang akan dia dapat setelah ini? Ckckckck .. Sungguh beruntung putraku.


"Saya ikut Bayu saja Jeng. Lagipula selama ini saya tidak terbiasa jauh dari Bayu. Jadi saya tinggal bersama Bayu saja."


"Baiklah Jeng. Itu semua terserah jeng Sonya saja."


Serangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Bayu dan Maya sama-sama tersenyum bahagia. Kedua tangan mereka saling bertautan seakan tidak ingin terlepas. Pada akhirnya semesta memberikan restu bagi keduanya untuk menjalani kehidupan sebagai sepasang suami-istri. Meskipun belum sah di mata hukum.


***


"Ibu, Maya pamit ya. Mulai hari ini Maya sudah tidak hidup sendiri lagi. Ada mas Bayu yang menemani. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir akan keadaan Maya dan juga Cantika."


Tiga buah koper milik Maya, Cantika dan juga Bayu sudah teronggok di depan teras. Setelah mempersiapkan semua, kini tiba waktu bagi mereka untuk pindah. Pindah di rumah baru yang sudah dipersiapkan oleh Kartina.


"Iya May, mulai saat ini Ibu akan jauh lebih tenang karena sudah ada yang menjagamu dan juga Cantika." Kartina mengarahkan pandangannya ke arah sang menantu dan menepuk pundaknya. "Bay, aku titip Maya dan juga Cantika. Jaga keduanya dan jangan pernah sakiti ataupun kecewakan mereka."


Bayu menunduk takzim. "InshaAllah Bu. InshaAllah aku akan menjaga mereka dengan baik. Tak akan aku sia-siakan, kecewakan ataupun aku sakiti mereka."

__ADS_1


"Ibu percaya padamu Bay. Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang terakhir untuk kalian berdua. Kalian bisa sama-sama mengambil pelajaran dari kegagalan rumah tangga kalian sebelumnya."


"Iya Bu, kami mengerti. Kalau begitu kami pamit ya Bu. Mumpung hari belum terlalu sore. Terima kasih banyak utuk hadiah rumah dan mobil yang sudah Ibu berikan," tutur Bayu mengakhiri percakapannya dengan sang mertua.


"Baiklah. Kalian hati-hati di jalan."


Seluruh koper sudah masuk ke dalam bagasi. Bayu memposisikan dirinya di balik setir kemudi dan Maya di sampingnya. Sedang Sonya dan Cantika ada di bangku belakang. Bayu melajukan mobil yang ia kendarai. Perlahan, mobil itu meninggalkan halaman dan menghilang dari jangkauan mata Kartina.


***


"Haaaaahhhhh ... Akhirnya, sampai juga!"


Dinda meregangkan otot-otot tubuh setelah raganya tiba di bandara. Berada di dalam pesawat selama empat jam lamanya, membuat tubuh wanita itu lelah tiada terrkira. Dan kini ia memilih untuk duduk sejenak di salah satu kafetaria sembari menikmati cokelat panas dan juga puff pastry strawberry.


Pandangan mata Dinda mengedar ke arah sekitar sembari mengunyah hidangan yang tersaji. Sebuah tempat yang selama ini tidak pernah ia sangka bisa ia datangi. Namun pada kenyataannya melalui sang majikan lah yang bisa membuatnya menapakkan kaki di tempat ini. Bandara, salah satu tempat yang dulu ia anggap hanya orang-orang kaya saja yang bisa menginjakkan kakinya, dan saat ini ia bisa berada di tempat ini.


"Ya Tuhan terimakasih. Melalui tuan Erlan, akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di tempat ini."


Dinda bermonolog lirih dengan pikiran yang menerawang. Entah mengapa setelah bekerja di tempat Erlan, ia banyak sekali mendapatkan kejutan demi kejutan. Sering diberi uang yang lumayan banyak. Diajak berlibur di salah satu destinasi wisata yang begitu terkenal di negeri ini meskipun hanya dua hari ia berada di sana. Dan diberi ongkos pulang kampung menggunakan pesawat.


"Tuan Erlan benar-benar baik, sungguh menyesal non Jenica sudah menyia-nyiakan tuan Erlan."


Lagi, Dinda masih saja memuji sang majikan yang ia anggap begitu baik dan berhati malaikat. Sampai-sampai ia lupa untuk apa ia pulang ke kampung halamannya.


"Astga Dinda, mengapa malah memikirkan tentang tuan Erlan dan non Jenica? Sekarang sudah waktunya kamu mencari taksi online dan segera pulang ke rumah. Cari tahu apa yang terjadi kepada mas Bayu dan ibu kenapa tidak ada kabar sama sekali!"


Setelah tersadar, Dinda bangkit dari posisi duduknya. Ia geret koper yang ia bawa dan bersegera mencari taksi online untuk bisa mengantarkannya ke kediamannya.


.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2