
Bayu meyusuri ruang bagian depan kediaman pelanggan offline nya ini dengan perasaan takjub. Pandangannya tiada henti mengedar ke sekeliling, terkesima dengan barang-barang mewah yang ada. Kepalanya mendongak. Sebuah lampu kristal berukuran besar sungguh membuat bibirnya menganga lebar.
Ckkkckkkckkk ... ini sih mewah sekali. Mungkin harga lampu kristal ini hampir sama dengan motor yang aku pakai untuk ngojek. Atau barangkali lebih mahal. Gila, ini sih orang kaya banget.
Bayu tiada henti memuji kondisi rumah milik pelanggannya ini. Matanya terus mengedar ke setiap sudut ruangan. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sudah berada di tempat sang pelanggan menunggu.
"Mas Bayu!" seru si satpam sembari menepuk pundak Bayu.
Bayu sedikit terperanjat. "Ya Pak?"
"Ini loh, Ndoro putri sudah menunggu!"
Banyu tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba saja dia salah tingkah. Ingin melakukan apapun takut salah. Lelaki itupun memilih untuk tetap berdiri.
"Duduklah Mas!" titah wanita yang dipanggil Ndoro putri itu.
"Terima kasih Nyonya."
Ndoro putri yang bernama Kartina itu menyunggingkan senyum. Cara duduk wanita inipun juga terlihat anggun. Persis seorang putri keraton.
"Jadi begini Mas, aku ingin minta tolong Mas Bayu untuk menjemput putri saya yang baru saja tiba dari Surabaya. Bisa kan?" tanya Kartina menyampaikan tujuannya memanggil Bayu.
Bayu menganggukkan kepala, pertanda bisa memenuhi permintaan Kartina. "Jemput di mana Nyonya? Di stasiun? Atau terminal?"
"Di bandara Mas. Nanti aku beri no kontak putri saya sehingga kamu bisa berkomunikasi langsung dengannya. Oh iya, Mas Bayu ini bisa bawa mobil kan?"
"Bisa Nyonya. Memang kenapa ya Nyah?"
"Baguslah. Nanti mas Bayu bawa mobil milikku saja untuk menjemput. Rasanya tidak mungkin memakai motor karena barang bawaan putriku pasti sangat banyak. Dan ada cucu saya juga."
Ohhh ... jadi anak dari wanita kaya ini sudah berkeluarga? Tapi mengapa hanya anak dan cucunya saja yang datang ke sini? Ke mana suaminya? Mengapa tidak ikut serta? Atau apakah ia seorang janda? Ahh, Bayu .... apa yang kamu pikirkan? Memang kenapa kalau dia janda? Tidak ada hubungannya denganmu juga kan?
Kartina memandang wajah lelaki di hadapannya ini dengan ekspresi penuh tanda tanya. Ia keheranan, mengapa Bayu hanya nampak bengong saja.
"Mas, Mas Bayu! Kamu baik-baik saja kan?"
"Eh iya Nyah!" Bayu terkesiap dan mulai tersadar dari lamunannya. Matanya sedikit mengerjap untuk pulih ke alam sadarnya setelah sebelumnya berkelana entah kemana . "Baik Nyonya nanti saya akan menjemput anak Nyonya di bandara menggunakan mobil."
__ADS_1
Kartina mengulas sedikit senyum di bibir. Ia bangun dari posisi duduknya. "Baiklah, nanti sore Mas Bayu bisa menjemput putriku di bandara. Sekarang, antar aku ke butik dulu. Kebetulan aku ada janji dengan salah satu kerabat."
Bayu ikut bangun dari posisinya seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. "Baik Nyonya. Mari saya antar."
Driver ojek online dan pelanggannya itu berjalan beriringan menuju halaman depan di mana motor Bayu terparkir di sana. Seperti biasa, Bayu akan mengantar nyonya kaya raya ini ke sebuah butik terkenal yang ada di pusat kota.
Bayu tiada henti tersenyum merasakan nasib hidupnya sedikit berubah setelah bertemu dengan Kartina. Ternyata ia yang sudah susah payah mengejar jambret yang tempo hari merampas tas berisikan uang seratus juta milik Kartina mendapatkan imbalan seperti ini. Bayu dijadikan driver langganan untuk mengantarkan Kartina ke butik miliknya. Menjadi driver langganan wanita kaya ini sungguh membuat hari-harinya jauh lebih berarti. Ya, tentunya dengan mendapatkan hasil yang berki-kali lipat.
Buncahan-buncahan rasa bahagia memenuhi ruang-ruang di hati Bayu. Ia semakin yakin jika mulai saat ini tepatnya setelah mengenal wanita kaya raya ini, hidupnya akan jauh lebih baik dari sebelumnya.
***
Surti hanya bisa menatap kagum pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh Dinda. Sebelumnya ia memberi tahu apa-apa saja yang harus dilakukannya setiap pagi. Dan siapa sangka, tanpa dipraktikkan pun Dinda sudah mahir menjamah semua pekerjaan rumah tangga ini. Persis seperti yang ada di dalam benaknya. Wanita muda ini begitu cekatan dan bekerja dan sat, set, sat, set.
"Ya Allah Din, Simbok tidak menyangka jika kamu begitu cepat dalam mengerjakan pekerjaan ini. Simbok sungguh kagum."
Dinda hanya tersenyum simpul sembari mengeluarkan pakaian dari dalam mesin cuci. Pakaian-pakaian ini sudah bersih dan kering sempurna.
"Jelas cepat Mbok. Saya menggunakan mesin cuci jadi bisa saya tinggal untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Jadi istilahnya, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Cucian beres dan masakan juga sudah siap. Nanti tinggal membersihkan ruangan setelah tuan Erlan berangkat ke kantor."
"Ckckckck ... ternyata Affa tidak salah menawarkan pekerjaan ini kepadamu Din. Bukan majikanmu saja Simbok sudah sangat puas dengan pekerjaanmu. Apalagi den Erlan. Kalau seperti ini cara kerja kamu, Simbok yakin akan banyak bonus yang kamu dapatkan."
Derap langkah kaki seseorang terdengar menggema, membuat Surti dan Dinda menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Erlan sudah rapi dengan pakaian formalnya dan duduk kursi makan. Lelaki itu terlihat asyik dengan gawainya.
"Bikinkan den Erlan kopi Din. Biasanya pagi-pagi seperti ini sebelum ke kantor, den Erlan ngopi," ucap Surti menjelaskan aktivitas pagi Erlan.
"Kopi hitam atau kopi susu Mbok?"
Surti terlihat sejenak berpikir, namun sesaat kemudian seutas senyum terbit di bibirnya. "Kita buat challenge ya Din?"
"Challenge? Maksudnya bagaimana Mbok?" tanya Dinda dengan dahi yang berkerut. Ia teramat heran, wanita seusia mbok Surti paham dengan bahasa-bahasa gen Z seperti ini. Kira-kira belajar dari siapa ya mbok Surti? 😂😂
"Begini Din, terserah kamu mau membuat kopi hitam atau kopi susu. Yang jelas setiap pagi kalau Simbok membuatkan kopi, selalu saja tidak dihabiskan oleh den Erlan. Nah, sekarang kamu coba membuat kopi. Kalau den Erlan bisa menghabiskan kopi buatanmu sampai tandas tanpa bekas, itu artinya kopi buatanmu cocok di lidah den Erlan. Bagaimana? Setuju?"
Dinda hanya bisa menganggukkan kepala. Lagipula, apa yang bisa dia lakukan selain menyetujui ucapan Surti. "Baik Mbok, coba saya buatkan kopi untuk den Erlan."
Dinda dan Surti melangkahkan kaki mereka menuju mini bar. Tangan Dinda meraih kopi hitam dan gula yang sudah tersedia sembari mendidihkan sedikit air untuk menyeduh kopi ini.
"Kok tidak pakai air dari dispenser saja Din? Kan sama-sama air panas?" tanya Surti saat melihat sebuah panci kecil sudah nangkring di atas kompor.
__ADS_1
Dinda terkekeh lirih seraya memasukkan kopi dan gula ke dalam sebuah cangkir yang terbuat dari keramik. "Dulu almarhum ibu saya pernah berkata kalau membuat kopi itu lebih nikmat kalau memakai air mendidih Mbok karena aroma dan rasanya akan semakin kuat."
"Baiklah, kalau den Erlan bisa menghabiskan kopi buatanmu, berarti teori dari ibumu memang luar biasa Din. Lekas sajikan di hadapan den Erlan, Din. Simbok mau ke kamar sebentar."
Dinda dan Surti berlawanan arah. Dinda menuju ke arah Erlan yang sedang duduk di kursi makan sedangkan mbok Surti kembali ke kamar.
"Selamat pagi Tuan. Ini kopinya!"
Tak bisa diingkari, Dinda seperti terkena tremor yang membuat tangannya gemetaran tanpa sadar. Ada rasa takut sekaligus gugup yang menyergap hati. Apalagi jika teringat pertemuan pertamanya dengan Erlan yang cukup mengesankan.
Jemari Erlan yang sebelumnya sibuk men scroll layar ponselnya, seketika ia hentikan. Ia menatap wajah Dinda dan kopi yang terhidang di atas meja sekilas secara bergantian. Hingga akhirnya pandangan mata lelaki itu kembali fokus ke arah layar ponselnya.
"Terima kasih. Tapi, jika aku tidak menghabiskan kopi buatanmu ini tolong jangan tersinggung. Karena sejauh ini tidak ada orang yang benar-benar bisa untuk membuat kopi yang sesuai dengan seleraku."
Astaga, kenapa Tuan Muda ini begitu ribet sih? Masa beberapa orang yang pernah membuatkan kopi untuknya tidak ada satupun yang sesuai dengan lidahnya. Memang kopi seperti apa yang ia mau? Eh, Dinda .... please jangan julid, dia ini majikanmu!
"Jangan protes, karena perihal kopi itu benar-benar sesuai dengan hati. Jangankan sepuluh orang, seratus orang yang membuat kopi jika tidak tidak sesuai dengan lidah dan hati kita pasti tidak akan menyisakan rasa enak," ucap Erlan sarkas. Seakan tahu bahwa asisten rumah tangganya yang baru ini sedang mencibirnya dalam hati.
Dinda terhenyak karena sang tuan muda bisa membaca apa yang ada dalam hatinya. Wanita itupun hanya bisa tersenyum kikuk.
"Betul Tuan. Kalau begitu lebih baik sekarang Tuan muda segera nikmati kopinya. Jangan langsung diseruput melalui bibir cangkirnya, tapi Tuan tuang dulu ke dalam lepek keramik yang sudah saya sediakan."
Dahi Erlan sedikit berkerut. Mau tak mau, pandangan matanya yang sebelumnya fokus ke layar ponsel kini beralih ke Dinda yang berdiri di hadapannya.
"Mengapa harus aku tuang terlebih dahulu?"
"Silakan dicoba dulu saja Tuan. Dengan begitu bisa Tuan rasakan perbedaannya."
Seperti terkena hipnotis, Erlan menuruti apa yang diucapkan oleh Dinda. Ia menuang kopi hitam buatan Dinda di atas lepek, dan mulai menyesapnya perlahan.
Kedua bola mata Erlan terbelalak saat minuman dari biji kopi itu mulai membasahi kerongkongan. Bahkan ia sempat terhenyak kala rasa kopi buatan Dinda ini terasa begitu nikmat.
Gila .... baru kali ini aku minum kopi yang rasanya sesuai dengan lidah dan juga hati. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. Punya ilmu apa dia sampai bisa membuat kopi dengan rasa yang begitu nikmat seperti ini?
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Dari kopi turun ke hati..... 😍😍😍😍😍