Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 79. Menyusul


__ADS_3

"Ngapain kamu masih membuntuti ku? Jauh-jauh sana. Aku tidak ingin sial karena berada di dekatmu!"


Tiba di hotel, Jenica masih saja uring-uringan tidak jelas. Meminta Dinda agar tidak mengikutinya. Bahkan, suaranya yang lantang sampai membuat perhatian orang-orang di sekitar tertuju padanya. Mereka sama-sama menatap heran dengan apa yang sedang terjadi antara Dinda dan Jenica.


"Tapi Nona, saya harus kemana? Saya tidak paham dengan tempat ini Nona. Saya takut kesasar."


Dinda mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Hamparan air laut terlihat begitu memesona. Dengan pulau-pulau yang ada di tengah-tengahnya juga turut menjadi medan magnet bagi perhatian para manusia.


Namun seindah apapun tempat ini, tetap menjadi satu hal yang mengerikan bagi Dinda. Bagaimana tidak ngeri jika ia berada sendiri di tempat ini tanpa sanak famili ataupun orang-orang yang ia kenal.


"Itu bukan urusanku. Terserah kamu ke mana. Bahkan kalau kamu diculik pun, aku juga tidak peduli!"


"Tapi Nona.... "


"Stop jangan berkata apapun lagi. Sekarang, pergi jauh dari tempat ini dan jangan sekali-kali menggangguku lagi."


Dengan pongah, Jenica meninggalkan Dinda yang hanya bisa menatap punggung majikannya dengan tatapan penuh tanda tanya. Bahkan untuk saat ini otaknya serasa buntu. Tidak tahu harus kemana.


Perlahan, tungkai kaki Dinda terayun meninggalkan hotel ini. Ia menundukkan kepala, menekuri jejak-jejak langkah kakinya yang tercetak di hamparan pasir pantai ini. Namun tiba-tiba...


Dug!!!

__ADS_1


"Aaahhhhhh!!!"


Dinda memekik kala tiba-tiba saja tubuhnya menabrak dada bidang seseorang yang ada di depannya.


"Aduhh Mas, kalau jalan itu lihat-lihat. Masa.... Hah, Tuan Erlan?"


Dinda perlahan mendongakkan kepala. Baru saja ia melayangkan protes namun ia semakin dibuat terkejut oleh kedatangan Erlan yang tiba-tiba. Bahkan bibirnya sampai menganga lebar ketika melihat sang majikan berada di tempat ini.


"Seharusnya, yang jalan hati-hati itu kamu. Kenapa kamu ada di tempat ini? Bahkan masih menggeret koper seperti ini? Mau kemana kamu?"


Kernyitan di dahi Erlan terlukis begitu jelas. Jelas-jelas sebelumnya ia melihat sang istri dan asisten rumah tangganya ini memasuki hotel. Namun ini mengapa sang asisten rumah tangga tidak langsung beristirahat di dalam kamar tapi malah justru berkeliaran sendirian di tempat ini?


"Eh, itu Tuan anu...."


"Anu apa?"


"Hehehe itu Tuan, saya ingin menginap di tempat yang berbeda saja dari non Jenica. Saya masih merasa canggung jika harus satu kamar dengan non Jenica. Tuan kan tahu sendiri kalau saya tidak terlalu dekat dengan non Jenica. Saya khawatir jika keberadaan saya justru mengganggu liburan non Jenica," kilah Dinda.


Ternyata wanita ini pandai menyembunyikan keburukan-keburukan yang dilakukan oleh Jenica. Padahal sejak di pesawat tadi, aku juga melihat apa yang dilakukan Jenica kepada wanita ini. Bahkan di depan hotel tadi, aku mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Jenica.


"Baiklah, aku bisa menerima alasan darimu. Lalu, sekarang kamu mau menginap di mana? Bukankah kamu bisa menginap di hotel yang sama dengan Jenica dan mengambil kamar yang berbeda?"

__ADS_1


"Hehehehe, saya menginap di pondok-pondok kecil yang ada di tepian pantai saja Tuan. Saya rasa jauh lebih nyaman."


"Baiklah kalau begitu. Mari aku antar."


"Eh, tapi bukankah seharusnya saat ini Tuan menemani non Jenica?"


"Tenang saja. Aku hanya sebentar menemanimu mencari penginapan setelah itu bukankah waktu yang aku habiskan bersama Jenica akan jauh lebih banyak. Jadi, tidak masalah jika saat ini aku menemanimu dulu mencari penginapan."


Meskipun sedikit tak bisa dipahami oleh Dinda, namun wanita itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Ia kembali memutar tumit dan melangkahkan kaki lagi menyusuri hamparan pasir putih ini.


"Eh, tapi ngomong-ngomong mengapa Tuan bisa tiba-tiba ada di sini? Bukankah Tuan tidak memiliki niat untuk ikut kemari?" tanya Dinda sedikit penasaran.


Jelas penasaran karena sebelumnya Erlan terlihat bersikeras untuk tidak ikut ke Labuan Bajo, tapi sekarang tiba-tiba dia menyusul kemari.


"Aku memiliki kejutan untuk Jenica. Maka dari itu aku sengaja membuat cerita tidak ingin ke Labuan Bajo tapi pada kenyataannya aku ikut dalam penerbangan yang sama dengan kalian."


"Waaahhh ... Tuan sampai mau membuat kejutan untuk non Jenica? Pastinya akan mengesankan sekali untuk non Jenica."


Erlan tersenyum tipis. "Ya, aku yakin akan sangat mengesankan bagi Jenica dan tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Oleh karena itu, jangan katakan apapun kepada Jenica jika aku juga berada di sini."


.

__ADS_1


.


. bersambung..


__ADS_2