Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 86. Persiapan


__ADS_3

Mentari pagi perlahan mulai naik ke singgasana. Membiaskan semburat warna kuning keemasan di ujung cakrawala. Hembusan angin yang berbisik mesra, membangunkan jiwa-jiwa manusia yang semalaman terjaga.


"Astaga!!!"


Suara Dinda terdengar melengking dengan tubuh sedikit terperanjat kala melihat tubuhnya terbaring di atas hamparan pasir putih. Tepat di depan matanya terhampar lautan lepas dengan birunya air yang begitu kontras dengan warna langit.


"Perasaan semalam aku ada di atas tebing, tapi ini kenapa tiba-tiba bisa berada di bibir pantai?"


Dinda bermonolog lirih sembari mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ia ingat betul bahwa semalam ia berada di atas tebing bersama sang majikan. Namun ia keheranan karena tiba-tiba pada saat bangun, tubuhnya ada di bibir pantai. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Hingga sorot matanya pun terhenti pada sosok seorang laki-laki yang terlihat sibuk sendiri.


"Tuan Erlan!"


Dinda bangkit dari posisinya. Gegas, langkah kaki wanita itu terayun untuk mendekat ke arah Erlan. Hingga kini ia pun berdiri di belakang punggung sang majikan.


"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan?"


Erlan yang mengetahui kehadiran Dinda, sedikit membalikkan punggung. Lelaki itu hanya tersenyum simpul.


"Kamu sudah bangun? Kemarilah, makan ini!"


Erlan berujar sembari menyodorkan bambu kecil di mana sudah terdapat ikan bakar di sana. Hal inilah yang justru membuat Dinda semakin keheranan.


"Tuan membakar ikan? Bagaimana bisa?"


"Tentu bisa. Ada ikan, ada ranting pohon ada api jadi apalagi yang tidak bisa?" Erlan kembali menyodorkan ikan bakar itu ke arah Dinda. "Makanlah, mumpung masih hangat. Meskipun tidak diberi bumbu, aku yakin ikan ini sudah sangat gurih."


Merasakan perutnya yang sudah keroncongan, Dinda menerima ikan bakar yang diberikan oleh Erlan. Dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera. Tanpa basa-basi, Dinda mulai menikmati sajian ikan bakar ini.


"Hmmmmmm benar, ikan ini terasa begitu gurih meskipun tidak dibumbui. Ini sungguh enak Tuan."


Erlan tersenyum penuh arti. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang apa adanya. Tidak jaim dan bisa mengekspresikan apa yang dirasakan tanpa dibuat-buat.


"Kalau enak, kamu bisa makan semua yang sudah aku bakar. Itung-itung agar kamu tidak kelaparan."


Tak jauh berbeda dengan Dinda, Erlan juga turut menyantap ikan bakar yang ada di tangannya. Sungguh sensasi liburan yang luar biasa dan luar dugaan, bisa menikmati ikan bakar di tepian pantai seperti ini. Terlebih di waktu pagi, di mana sunrise yang juga bisa turut ia nikmati.

__ADS_1


"Tapi Tuan, mengapa kita bisa berada di bibir pantai? Bukankah semalam kita ada di atas tebing?"


"Semalaman kamu ketiduran. Oleh karena itu aku menggendongmu untuk bisa turun ke sini. Kebetulan aku bertemu dengan beberapa nelayan yang pulang melaut. Aku beli ikan yang mereka tangkap sekalian aku pinjam tikar. Tikar itu yang kamu gunakan untuk alas tidur."


Dinda kembali menatap ke tempat di mana ia tertidur. Benar saja, ada tikar di sana. Namun entah bagaimana ceritanya ia bisa berpindah haluan di hamparan pasir pantai.


"Ya ampun, Tuan sampai menggendongku? Mengapa tidak Tuan bangunkan saja saya?"


Erlan mengedikkan bahu sembari menggigit ikan bakar di tangan. "Sudah aku bangunkan berkali-kali, tapi tidurmu persis seperti orang pingsan. Jadi tidak bangun sama sekali."


Dinda tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah karena mengantuk atau kelelahan, sampai-sampai ia tidak bangun.


"Hehehe maaf ya Tuan."


"Hehem, tidak masalah."


"Tuan, apakah Tuan baik-baik saja?" tanya Dinda mencoba untuk membuka obrolan. Ia sungguh tak habis pikir melihat wajah Erlan yang nampak biasa-biasa saja setelah diselingkuhi oleh sang istri.


"Ya, aku baik-baik saja. Memang aku harus bagaimana? Harus menangis tergugu? Harus marah-marah? Harus meratapi nasib? Tidak kan?" ujar Erlan balik bertanya.


Erlan tergelal pelan. Namun entah mengapa justru terasa begitu menyayat saat mendengar gelak tawa itu.


"Tidak pantas air mataku aku keluarkan untuk seorang penghianat. Jadi untuk apa aku menangis? Dadaku memang terasa begitu sesak, tapi sesesak apapun itu tidak akan aku biarkan setetes air mata pun jatuh dari kelopak mataku. Jenica tidak pantas untuk aku tangisi."


Erlan mencoba untuk tetap tegar meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar. Hal itulah yang membuat Dinda semakin merasa iba. Seorang laki-laki yang seharusnya masih menjalani masa-masa indah sebagai pengantin baru, namun yang terjadi justru sebaliknya.


"Sabar ya Tuan, saya yakin Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih baik dari ini. Saya hanya percaya akan ada pelangi setelah hujan."


Erlan mengangguk pelan. "Ya, akupun juga percaya akan hal itu. Apakah sore nanti kamu jadi pulang?"


"Iya Tuan, saya izin untuk pulang terlebih dahulu. Saya benar-benar khawatir akan keadaan suami dan mertua saya. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bisa dihubungi."


"Memang sebelumnya apa yang terjadi, sampai-sampai mereka tidak dapat dihubungi?"


"Entahlah Tuan, saya merasa tidak terjadi apapun. Terakhir kali saya menghubungi mereka pada saat mengirimkan uang tiga ratus ribu."

__ADS_1


Erlan mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Dinda. Sejatinya ia sedikit merasa aneh dengan sikap suami dan mertua asisten rumah tangganya ini. Karena baginya, mereka hanya memanfaatkan Dinda saja.


"Ya sudah, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Setelah tiba di kampung halamanmu, pasti kamu akan segera mengtahui apa yang sebenarnya terjadi."


"Iya Tuan. Terima kasih banyak karena sudah memberikan saya waktu untuk cuti."


Keduanya kembali hening. Menikmati ikan bakar yang memanjakan lidah yang diiringi dengan hembusan angin pantai dan deburan ombak landai yang terasa begitu menentramkan jiwa. Dan juga awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas yang seakan menjadi pemandangan indah di atas permadani alam.


****


"Waaaah Mama cantik sekali. Hari ini Mama akan menikah dengan om Bayu ya?"


Cantika, gadis kecil itu tiada henti memuji sang mama yang terlihat begitu anggun dengan kebaya berwarna putih tulang. Riasan tipis di wajahnya pun juga turut mempertegas kecantikannya. Terlebih senyum yang sedari tadi merekah seakan membuat kecantikan wanita itu bertambah berkali-kali lipat.


Maya tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Iya Sayang. Sebentar lagi om Bayu akan menjadi ayah Cantika. Apakah Cantika bahagia?"


"Tentu Mama, Cantika bahagia sekali. Karena setelah itu om Bayu bisa tinggal bersama kita."


"Itu sudah pasti Sayang. Dan setelah Mama dan om Bayu menikah, jangan lupa Cantika memanggil om Bayu dengan sebutan papa, oke?"


"Oke Mama!"


"Ya sudah sekarang Cantika kembali ke depan ya. Temani om Bayu di sana."


Langkah kaki gadis kecil itu terayun meninggalkan kamar pribadi sang mama. Sedangkan Maya kembali menatap bayangan wajahnya yang terpantul di kaca.


"Akhirnya setelah sekian lama aku menjada, aku akan kembali menikah. Tuhan teramat baik kepadaku karena telah mempertemukan aku dengan sosok lelaki seperti mas Bayu. Aku berjanji kali ini merupakan pernikahan yang terakhir untukku."


Maya bermonolog lirih. Ia tidak sadar jika di ambang pintu sudah berdiri sang ibu yang juga turut tersenyum melihat putrinya.


"May, yang akan menikahkanmu dengan Bayu sudah hadir. Ayo kita keluar untuk segera melakukan prosesi ijab-qobul!"


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2