Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 102. Jadilah Istriku


__ADS_3

"Astaga, tubuh tuan Erlan panas sekali!"


Setelah bersusah payah memapah Erlan yang tengah pingsan, kini tubuh lelaki itu berhasil Dinda tempatkan di atas ranjang. Ia memegangi pelipis majikannya ini dan terasa suhu tubuh sang majikan semakin tinggi.


"Baju Tuan Erlan juga basah kuyup. Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin jika aku yang menggantinya bukan?"


Dinda semakin larut dalam pikirannya sendiri. Ia mencari cara agar bisa mengganti pakaian sang majikan yang sudah basah kuyup ini. Hingga pada akhirnya ia memiliki cara untuk keluar dari masalah yang cukup pelik ini.


Dinda beranjak dari posisinya. Ia bergegas pergi ke rumah tetangga yang berada tidak begitu jauh dari kediamannya. Ia ingin meminta tolong tetangganya itu untuk mengganti pakaian Erlan.


Tok.... Tok.... Tokk...


Dinda mengetuk pintu rumah tetangganya ini. Meskipun sangatlah tidak sopan bertandang di larut malam seperti ini namun hanya inilah yang bisa ia lakukan. Pakaian Erlan harus segera diganti.


Tak perlu menunggu lama, pintu terbuka dan seorang lelaki berusia tiga puluh tahun terlihat berdiri di ambang pintu.


"Dinda? Ada apa malam-malam seperti ini datang kemari?" tanya lelaki yang bernama Diki sembari sesekali menguap. Sebagai tanda bahwa ia masih mengantuk.


"Mas Diki, aku minta tolong. Di rumahku ada lelaki yang tengah pingsan karena kehujanan. Tolong gantikan pakaiannya Mas. Badannya panas. Aku takut kalau semakin parah."


Dahi lelaki bernama Diki itu sedikit mengernyit. "Lelaki siapa Din? Bukankah suamimu tidak ada di rumah?"


"Dia majikanku Mas. Baru saja datang dari Jakarta. Dan sekarang Mas Bayu sudah bukan lagi menjadi suamiku Mas. Kami baru saja bercerai."


"Hah, bercerai? Dan sekarang kamu membawa masuk lelaki lain?"


Dinda membuang napas kasar sembari menggeleng pelan. Ternyata Diki masih salah kira.


"Bukan seperti itu Mas. Aku juga tidak tahu jika majikanku ini datang kemari. Ini semua tanpa sepengetahuanku Mas. Begini saja, daripada Mas Diki berpikiran yang buruk, setelah mas Diki mengganti pakaian majikanku, mas Diki saja yang tidur di rumahku sedangkan aku untuk malam ini tidur di sini sama mbak Asri, istri Mas. Bagaimana?"


Diki terlihat memikirkan apa yang diucapkan oleh Dinda. Ia melihat lekat raut wajah wanita ini. Rasa-rasanya Dinda tidak mungkin berbuat hal-hal yang melanggar norma kesopanan dan norma kesusilaan.


"Sudahlah Din, tidak perlu. Aku percaya padamu jika kamu tidak akan melakukan hal-hal buruk bersama lelaki itu. Oke, aku akan segera mengganti pakaian lelaki itu."


"Terima kasih banyak Mas!"


Akhirnya kedua orang itu kembali menghampiri Erlan yang masih tak sadarkan diri. Diki yang melihat sosok lelaki yang tengah terbaring ini hanya bisa berdecak lirih.


"Ckckckck ... Majikanmu ini tampan sekali Din. Memang dia belum punya istri?"


Dinda menyerahkan pakaian milik Bayu yang masih tertinggal. "Entahlah Mas, dia sudah menikah tapi sedang ada masalah dengan istrinya. Aku kurang tahu bagaimana kelanjutannya."


"Wah, wah, wah.... Jangan-jangan kalian jodoh Din. Suatu kebetulan bukan saat ini kalian dipertemukan dalam keadaan yang sama-sama sendiri," tebak Diki.

__ADS_1


"Ckcckkkkckk... Ini dunia nyata Mas, bukan dunia novel di mana pembantu bisa menikah dengan majikannya."


"Lah, kamu lupa jika kamu ini juga tokoh di salah satu novel?" ujar Diki seraya menerima pakaian yang diberikan oleh Dinda.


"Hahaha .... Iya juga ya Mas. Aku kok lupa!"


"Hmmmmmm ... Ya sudah, kamu keluar dulu gih. Aku akan mengganti pakaian majikanmu ini. Atau kamu mau tetap di sini? Barangkali ingin melihat burung milik lelaki ini?"


"Mas Diki!" teriak Dinda sembari melempar handuk ke arah lelaki itu.


"Hahaha hahaha. Bercanda Din!"


****


Kelopak mata yang sebelumnya terpejam itu, kini terbuka perlahan. Matanya sedikit memincing kala anak-anak sinar matahari mulai terasa menusuk kornea. Lelaki itu menggesek sedikit tubuhnya. Ia memilih untuk bersandar di headboard ranjang.


Erlan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Sembari mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Seketika ingatannya langsung tertuju pada peristiwa semalam di mana ia sempat bersitegang dengan para preman dan terakhir ia ingat jika ia pingsan. Erlan mengamati pakaian yang ia kenakan. Lelaki itu sedikit asing dengan pakaian yang melakat di tubuhnya ini.


"Baju milik siapa ini? Mengapa terlihat asing sekali?"


"Tuan ... Tuan sudah sadar?"


Belum sempat mendapatkan jawaban, tiba-tiba saja suara Dinda mulai merembet masuk ke dalam telinga. Erlan menautkan pandangannya ke arah Dinda dan terlihat wanita itu membawa sebuah nampan yang entah apa isinya.


Dinda tersenyum simpul. Ia letakkan nampan berisikan satu mangkuk bubur ayam dengan segelas wedang jahe hangat yang ia bawa di atas nakas.


"Itu pakaian mantan suami saya Tuan. Saya terpaksa harus mengganti pakaian Tuan karena sudah basah kuyup."


"Apa? Ini pakaian milik mantan suamimu? Kamu tidak memiliki pakaian yang lain kah?"


"Pakaian yang lain?" tanya Dinda dengan kernyitan di dahi. "Tuan mau jika pakai daster milik saya?"


"Bukan daster juga Din. Memang tidak ada pakaian yang lain?"


"Tidak Tuan, di rumah ini hanya ada mantan suami saya, jadi pakaian laki-laki yang tersisa ya hanya miliknya."


"Iiuuuhhhh .... Jijik sekali aku Din!"


Dinda terperangah. "Jijik? Jijik karena apa Tuan? Mantan suami saya tidak panuan ataupun kudisan kok jadi aman dari penyakit kulit."


"Ckkkkcckk bukan itu. Aku takut jika sampai tertular penyakit suka selingkuh dan menyiksa istri seperti mantan suamimu itu!" kelakar Erlan.


Sedangkan Dinda yang mendengar hanya tergelak pelan. Entah mengapa pasca perceraiannya dengan sang suami, wanita itu malah tidak terlihat sedih sama sekali. Sehari dua hari pasca ditalak, ia memang merasakan kesakitan yang luar biasa. Namun hanya dalam hitungan hari saja, ia sudah mulai kembali seperti sedia kala. Bahkan hatinya jauh terasa lebih ringan.

__ADS_1


"Tuan ini ada-ada saja!"


"Eh Din. Di rumah ini hanya ada kamu bukan?" tanya Erlan setelah teringat akan satu hal.


Gawat ini. Jika Dinda yang mengganti pakaian ini sudah otomatis dia melihat burun pipit milikku. Aduhhh .... bisa-bisa dia langsung ilfell. Sepertinya burung pipitku ini belum berubah menjadi rajawali.


"Iya Tuan, betul."


Matilah kamu Erlan .... Dinda sudah melihat burung pipitmu. Dia pasti ilfeel


Erlan terkesiap. "Lalu, yang mengganti pakaianku ini apakah kamu?"


Dinda tergelak pelan seraya menggelengkan kepala. "Jelas bukan Tuan. Saya meminta tolong tetangga sebelah untuk mengganti pakaian Tuan."


Slamet, Slamet akhirnya rahasia tentang burung pipit ini masih tetap terjaga.


"Haaahhh .... syukurlah. Aku kira kamu yang menggantinya."


Dinda mengambil mangkuk berisikan bubur itu. Ia menyendok bubur ayam yang ada di sana. "Makan dulu Tuan, setelah itu minum obat. Saya lihat badan Tuan semalaman panas."


Sejenak, Erlan menatap wajah Dinda. Ia sedikit ragu untuk menerima suapan dari Dinda. Namun ia berpikir kapan lagi bisa disuapi oleh Dinda jika bukan saat ini.


Ya Tuhan.... Semakin dekat aku melihat, wanita ini terlihat cantik sekali. Benar-benar bo*doh lelaki yang menyia-nyiakan Dinda ini.


"Tuan, saya benar-benar berterima kasih karena Tuan sudah membantu saya untuk mendapatkan kembali sertifikat rumah ini. Untuk mengganti uang itu, saya siap bekerja di kediaman Tuan tanpa digaji sama sekali sampai memenuhi jumlah uang yang sudah Tuan keluarkan."


Erlan hanya tersenyum simpul. Ternyata wanita ini memang bukan sembarang wanita. Ia tetap tidak ingin berleha-leha meskipun sudah ada bantuan yang ia dapatkan.


"Kalau seperti itu, justru aku yang merasa seperti kompeni. Masa mempekerjakan seseorang tanpa digaji."


"Tidak apa-apa Tuan, yang penting saya bisa mengembalikan uang Tuan."


Erlan hanya tergelak pelan. "Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan akan hal itu. Jika memang kamu mau dan bersedia, kamu tidak perlu mengembalikan uang itu dengan menjadi asisten rumah tangga untukku lagi. Bahkan aku akan tetap memberikannu jatah di setiap bulannya."


Dinda terhenyak. "M-maksud Tuan?"


"Menikahlah denganku dan jadilah istriku, Dinda. Aku berjanji akan membalut dan menyembuhkan luka yang saat ini kamu alami!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2