Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 85. Rencana Pulang


__ADS_3

Amarah itu masih berkecamuk dalam ada meskipun sudah coba Erlan luapkan melalui teriakannya yang lantang. Bahkan wajah lelaki itu masih menampakkan gurat-gurat kekecewaan atas pengkhianatan yang dilakukan oleh sang istri. Namun semua berubah setelah ocehan-ocehan sang asisten rumah tangga yang merembet ke dalam indera pendengaran.


Ia yang sebelumnya menghadap ke arah laut lepas, kemudian berbalik badan. Seketika ia luruhkan tubuhnya dan kini posisinya terduduk.


"Astaga Dinda .... Kalau seperti ini bagaimana aku bisa marah?"


Erlan membuang napas kasar sekaligus mengacak rambutnya kasar. Ia sampai tak habis thinking, bisa-bisanya Dinda membahas perihal bunuh diri.


Dinda yang melihat Erlan terduduk seketika bernapas lega. Ia berpikir, upayanya mencegah sang majikan pada akhirnya membuahkan hasil. Ia pun bergegas menghampiri sang majikan.


"Syukurlah, Tuan mau mendengarkan ucapan saya. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan jika sampai Tuan mati karena bunuh diri lalu saya yang kerepotan mengurus jenazah Tuan."


"Ckckckck ..... Memang siapa yang mau bunuh diri Din?" tanya Erlan seraya melabuhkan pandangannya ke arah samping, di mana Dinda mendaratkan bokongnya.


"Loh, bukannya Tuan mau melakukan upaya bunuh diri? Tuan naik ke ata tebing seperti ini dan sebentar lagi pasti akan lompat bukan?" Dinda membuang napas pelan. "Sesulit apapun ujian yang kita hadapi jangan sampai kita mengambil jalan pintas dengan bunuh diri Tuan, dosa!"


"Iiihhhhh .... kamu ini!" Saking gemasnya Erlan sampai mengacak rambut Dinda. Sungguh tidak dapat ia mengerti bagaimana bisa Dinda berpikir bahwa ia akan bunuh diri. "Aku ini hanya sekedar meluapkan amarah yang aku rasakan. Aku sama sekali tidak ada niat untuk bunuh diri!"


"Apa? Tuan tidak berencana bunuh diri?" tanya Dinda dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan. "Lalu, mengapa Tuan berdiri di tebing seperti ini?"


"Aku hanya mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan diri. Aku rasa tempat ini yang paling pas."


"Ya Tuhan .... ternyata Tuan tidak mau bunuh diri? Jika tahu seperti itu, seharusnya aku tidak perlu susah-susah untuk mengejar dan menyusul Tuan."


Erlan kembali berbalik punggung. Kini, ia bisa melihat hamparan laut lepas yang ada di depan matanya.


"Meskipun harga diriku sebagai seorang laki-laki dan seorang suami sudah diinjak-injak oleh Jenica, tapi aku masih bisa berpikir jernih bahwa bunuh diri itu bukanlah sebuah penyelesaian. Bahkan, justru banyak kerugian yang aku dapat jika melakukan itu. Ya kalau aku lompat dari tebing ini terus mati tapi kalau sebaliknya? Bukankah aku hanya akan menjadi manusia paling menyedihkan?"


Dinda turut membalikkan punggung. Tak etis rasanya jika ia memunggungi sang majikan. "Syukurlah jika Tuan memiliki pemikiran seperti itu. Hidup dan mati seseorang itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Meskipun kita sudah melakukan upaya bunuh diri namun jika belum waktunya kita mati ya tidak akan mungkin terjadi kematian itu."

__ADS_1


"Lagipula aku malu jika sampai mati karena bunuh diri...."


"Malu? Memang malu karena apa Tuan?"


Erlan meraup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Pandangannya masih menerawang tapi lelaki itu tetap bisa berkomunikasi normal dengan sang asisten.


"Aku malu, ketika nanti jika sampai ada pemberitaan di media."


Dinda semakin mengerutkan dahi. Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh sang majikan.


"Loh, bukannya merupakan hal yang lumrah ya Tuan ketika seorang pemilik perusahaan terkenal meninggal kemudian ada media yang meliputnya?"


"Wajar saja. Yang menjadi tidak wajar ketika sampai ada headline news 'Akibat Burung Kecil, CEO Perusahaan Ternama Lompat Dari Tebing dan Tewas Mengenaskan'. Bukankah itu sangat memalukan?"


Erlan memijit-mijit pelipis. Saat ini justru bukan perselingkuhan Jenica yang menjadi pusat pikirannya melainkan alasan perselingkuhan yang dilontarkan. Sungguh, sebagai seorang laki-laki ia teramat malu karena perkara burung, rumah tangganya menjadi berantakan seperti ini.


"Astaga ... Jadi karena itu yang membuat Tuan frustrasi hingga berdiri di atas tebing seperti ini? Hahaha..."


Erlan yang sebelumnya merasa begitu gemas akan ocehan-ocehan sang asisten rumah tangga, kini menjadi sedikit kesal setelah mendengar Dinda terbahak-bahak. Entah apa yang menjadi kemauan lelaki itu.


"Hmmmmm ... kalau saya tidak punya rasa simpati mana mungkin saya ada di sini Tuan. Sudahlah Tuan, saya rasa hal itu bukanlah permasalahan besar."


"Apa katamu? Bukan permasalahan besar?" Erlan sampai terkejut mendengar ucapan Dinda. "Bagaimana mungkin perkara burung bukan merupakan permasalahan besar Din? Itu aset terbesar yang dimiliki oleh seorang laki-laki."


Dinda hanya tersenyum simpul. Ia mulai tersadar jika pembahasan dengan tuannya ini kurang pantas. "Saat ini sudah banyak treatment-treatment untuk kasus seperti itu Tuan. Jadi Tuan tinggal datang kepada ahlinya saja. Beres kan?"


Erlan mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Dinda. Kali ini ia harus mengakui bahwa asisten rumah tangganya ini sangat bisa diandalkan dalam hal apapun. Ia sampai tidak berpikir sampai sana bahwa perkara burung kecil bisa ditangani oleh ahlinya.


Senyum tipis terbit di bibir Erlan. "Terima kasih banyak Din. Sekarang pikiranku jauh lebih terbuka. Dan entah kenapa saat ini aku jauh merasa lebih lepas dan bebas. Padahal aku baru saja bercerai dari istriku."

__ADS_1


"Mungkin itu karena hati Tuan yang jauh lebih lapang. Lapang untuk menjalani skenario hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan."


"Ya, aku rasa memang seperti itu."


"Oh iya Tuan, sekarang tugas saya untuk menemani non Jenica sudah selesai bukan? Kalau boleh, saya langsung pulang kampung."


"Memang harus segera pulang ya?"


Dinda menundukkan wajah. Tiba-tiba saja suasana hatinya berubah sendu. Apalagi jika teringat akan sang suami setelah mimpi buruk itu mendatangi.


"Jika Tuan mengizinkan, pagi ini saya langsung pulang kampung. Entah mengapa hati saya tidak begitu tenang. Sejak saya mimpi buruk beberapa waktu yang lalu, nomor ponsel suami dan mertua saya tidak bisa dihubungi. Saya khawatir terjadi sesuatu terhadap mereka."


Erlan mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku celana. Ia lihat jadwal penerbangan ke kampung di mana Dinda tinggal.


"Untuk pagi, tidak ada penerbangan ke kampung halamanmu. Tapi baru akan ada penerbangan di jam dua siang. Bagaimana? Apa mau kamu ambil?"


Kepala Dinda mendongak. Tawaran sang majikan sungguh membuat hatinya sedikit lebih tenang. "Apakah saya boleh pulang siang nanti Tuan?"


"Tentu saja. Pulang dan selesaikanlah semua keperluanmu. Namun ingat, aku hanya memberi waktu selama satu minggu. Setelah itu kamu harus kembali." Erlan membuang napas sedikit kasar dan ia lanjutkan ucapannya. "Lagipula, waktu satu minggu sudah sangat cukup bagimu untuk bermesraan dengan suamimu."


Pipi Dinda menghangat hingga mencetak semburat warna merah di sana. Ia teramat malu ketika membahas perihal kemesraan.


"Apa sih Tuan. Saya pulang untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja."


"Ya, tapi bukankah juga sebagai kesempatan untukmu bisa bermesraan dengan suamimu? Tidak ada yang melarang bukan?"


Dinda semakin menunduk karena malu. Tak tahu, apa yang harus ia katakan untuk menanggapi ucapan majikannya ini.


.

__ADS_1


.


. bersambung


__ADS_2