Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 74. Rencana Menikah


__ADS_3

Sembari menggoreng ayam untuk sarapan, Dinda masih sibuk berkutat dengan ponsel di tangannya. Setelah semalam mimpi buruk itu mendatangi, ia tiada henti mencoba untuk menghubungi sang suami. Namun apalah daya, sekuat apapun upaya yang ia lakukan, tidak sedikitpun merubah keadaan. Ponsel Bayu tetap tidak bisa dihubungi. Bahkan chat yang coba ia kirim hanya centang satu. Entah kapan akan berubah menjadi dua atau syukur-syukur berubah warna menjadi biru.


"Ya Allah, sebenarnya mas Bayu itu kemana? Dari semalam handphone tidak aktif dan nomor ibu juga tidak bisa di hubungi!"


Dinda bermonolog lirih sembari mengurut pelipisnya yang kian terasa berdenyut nyeri. Mimpi buruknya semalam seakan nampak begitu nyata, di mana ia melihat sang suami tidur berdua dengan wanita lain. Padahal, selama ini ia tidak pernah didatangi oleh mimpi seperti itu.


Semakin memikirkan perihal mimpi buruk semalam, semakin membuat Dinda dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak berujung. Hingga membuatnya larut dalam pikirannya sendiri.


Erlan yang baru saja keluar dari ruang kerja setelah semalam mengistirahatkan tubuhnya di sana, sedikit terkejut kala indera penciumannya mencium aroma gosong. Gegas, ia menuju dapur yang ia yakini sumber dari aroma gosong itu.


"Astaga Dinda!!"


Asap dari teflon sudah terlihat memenuhi ruangan. Buru-buru Erlan mematikan kompor dan nampak ayam yang digoreng oleh Dinda gosong total.


Mendengar pekikan suara Erlan, membuat kesadaran Dinda seakan ditarik paksa. Ia mengerjapkan mata dan tubuhnya terhenyak seketika.


"Ya Allah ... Ini mengapa bisa ada banyak asap seperti ini Tuan?"


Dinda mengibaskan tangannya untuk bisa menghalau asap-asap dari penggorengan. Sedangkan Erlan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keanehan tingkah laku asisten rumah tangganya ini.


"Seharusnya yang bertanya itu aku. Mengapa ayam goreng ini bisa gosong seperti ini, Dinda?"


Sepasang mata Dinda terpaku pada paha-paha ayam yang berada di dalam penggorengan. Wanita itu seakan kesusahan menelan cairan salivanya. Tidak menyangka jika paha-paha ayam itu sudah berubah warna.


"Eh, anu Tuan, itu ...."


"Kamu sibuk bermain handphone?" tembak Erlan setelah melihat sebuah ponsel yang masih di genggam erat oleh Dinda.


"Eh, itu Tuan, saya ...."


"Astaga Dinda. Dari awal sudah aku katakan, tinggalkan sejenak ponselmu ketika sedang melakukan pekerjaan. Lihatlah, apartement ini hampir saja terbakar karena kecerobohanmu!"


Karena panik melihat kepulan asap, Erlan sampai meninggikan intonasi suaranya. Ia yang biasa berbicara pelan seketika berubah seperti seseorang yang tengah emosi dan marah. Sampai-sampai membuat nyali Dinda menciut.


"M-maafkan saya Tuan. Saya salah!"


Dinda menundukkan kepala. Kali ini sadar bahwa apa yang dilakukannya hampir saja menjadi sebuah musibah. Tak terasa air mata wanita itu mulai menetes perlahan.

__ADS_1


Erlan terkesiap saat melihat Dinda yang mulai menangis. Seketika membuat Erlan merasa bersalah.


"Maaf, maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku hanya sedikit panik melihat asap sebanyak ini."


"Saya yang salah Tuan, karena lalai. Saya minta maaf."


Erlan membuang napas sedikit kasar. Tidak biasanya Dinda bekerja sedikit ceroboh seperti ini.


"Sebenarnya ada apa? Mengapa ayam ini bisa sampai gosong seperti ini? Kamu sibuk main handphone? Atau malah melamun?"


"S-saya hanya sedang bingung Tuan. Bingung karena ponsel suami saya tidak bisa dihubungi. Terlebih setelah saya mimpi buruk semalam."


Ingatan Erlan seketika tertuju pada Dinda yang berteriak semalam. Rupanya ia bermimpi buruk tentang suaminya.


"Memang, mimpi buruk seperti apa itu?"


"Saya bermimpi suami saya berselingkuh Tuan. Itulah yang membuat hati saya dirundung oleh kegelisahan. Saya takut jika sampai hal itu menjadi sebuah firasat."


Erlan mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Dinda. Ia mulai paham dengan apa yang dirasakannya. Wajar jika sampai seorang istri begitu cemas akan kesetiaan suaminya terlebih di saat jauh seperti ini.


"Baiklah, jika setelah kamu pulang dari Labuan Bajo nomor ponsel suamimu masih tetap belum bisa dihubungi, aku akan mengizinkanmu untuk mengambil cuti selama lima hari. Gunakan waktu itu untuk pulang kampung dan mencari kabar tentang suamimu. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


"Iya. Aku akan mengizinkanmu untuk pulang kampung."


Ucapan Erlan bak sebuah solusi terbaik yang ada saat ini. Dinda menganggukkan kepala, menyetujui usulan Erlan. Ia berpikir tidak ada hal yang lebih baik untuk ia lakukan selain pulang terlebih dahulu untuk melihat keadaan yang sebenarnya.


"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak."


"Tapi ingat, hanya lima hari. Setelah itu, kamu wajib kembali kesini!"


"Iya Tuan, saya janji akan kembali kesini."


Erlan tersenyum tipis. Ia mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Ia sedikit heran karena kondisi rumah begitu sepi.


"Apakah Jenica sudah bangun?"


"Iya Tuan, non Jenica sudah bangun. Namun setengah jam sebelum Tuan bangun, nonton Jenica sudah pergi, Tuan. Nona hanya mengatakan sedang ada urusan mendadak."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Erlan berbalik arah untuk kembali ke kamar. "Buatkan aku roti panggang dengan selai kacang saja Din dan juga segelas susu cokelat untuk sarapan."


"Baik Tuan. Sekali lagi maaf karena saya paha-paha ayam ini menjadi gosong."


Erlan tak begitu menanggapi perihal ayam gosong. Pikiran lelaki itu justru fokus pada Jenica yang sudah pergi di pagi seperti ini.


Sebenarnya urusan apa yang dilakukan Jenica di luar sana? Apakah mungkin urusan dengan lelaki yang meninggalkan kissmark di tengkuk dan juga punggungnya?


****


Mentari masih enggan menampakkan wajahnya. Meski jarum jam sudah menujukkan tepat pukul tujuh namun wajah alam masih terlihat temaram. Hembusan angin kencang khas dataran tinggi pun juga mendominasi, hingga membuat penduduk bumi bermalas-malasan dan memilih meringkuk lagi.


Maya dan Bayu masih membenamkan tubuh masing-masing di bawah selimut tebal yang disediakan oleh pihak losmen. Mereka sudah terjaga, namun masih enggan untuk beranjak dari ranjang. Tubuh keduanya terkulai lemah, mungkin sebagai wujud dari rasa lelah setelah semalaman mengarungi lautan api hasrat yang menggelora.


Senyum penuh kebahagiaan tiada henti terbit di bibir Bayu. Ia teramat bahagia karena bisa memiliki raga Maya seutuhnya. Dengan bercinta dengan kekasihnya ini, ia percaya bahwa jalannya untuk hidup bersama semakin terbuka lebar. Ia teringat bagaimana permainan yang mereka lakukan semalam. Maya benar-benar terlihat ganas dan cenderung mengendalikan permainan seakan menandakan jika selama ini ia tidak pernah mendapatkan kepuasan.


"Permainanmu semalam sungguh membuatku mabuk kepayang Sayang. Kamu benar-benar bisa membuatku merasakan surga dunia yang begitu nikmat. Aku sampai heran, apa yang dulu membutakan suamimu sampai dia tidak pernah bisa memuaskanmu?"


Maya tersipu malu. Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Bayu.


"Sudahlah Mas, jangan dibicarakan lagi. Aku sungguh malu."


"Hahahaha tidak perlu malu Sayang. Karena setelah ini, bukankah kita akan sering bercinta? Aku janji akan selalu memuaskanmu!"


"Mas ...."


"Ya Sayang?"


"Kita sudah melakukan sesuatu sejauh ini. Aku ingin kita cepat-cepat menikah."


"Tidak masalah Sayang. Kapan kamu ingin aku nikahi?"


Maya nampak sejenak berpikir. Rasa-rasanya ia tidak perlu mengulur-ulur waktu lagi.


"Lusa, lusa aku ingin kita menikah secara siri dulu. Dan setelah surat perceraianmu sudah keluar, kita langsung meresmikan pernikahan kita!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2