
Ddrrrttt .... drrrttt .... drrttt ....
Getaran ponsel yang ada di dalam saku celana Bayu membuat lelaki itu sedikit terkejut. Ia yang sedang berbincang-bincang dengan Maya merasa terganggu dengan getaran ponsel di saku celananya ini. Dengan malas-malasan, ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam saku celananya.
Tubuh Bayu seketika membeku kala melihat nama seseorang yang tertera di layar ponsel. Nama seseorang yang tidak seharusnya menghubunginya di saat-saat seperti ini karena ia tengah menghabiskan waktu bersama sang incaran hati. Akan sangat berbahaya jika sekarang pemilik nama itu menghubunginya saat ini.
"Siapa Mas? Kok tidak segera diangkat?" tanya Maya yang sukses membuat Bayu sadar dari lamunannya.
Lelaki itu hanya berupaya tersenyum tipis untuk menyembunyikan kegugupannya. "Eh, ini istriku Mbak. Entah mengapa dia tiba-tiba menghubungiku. Padahal biasanya nomer istriku ini tidak pernah aktif dan selalu di reject jika aku hubungi."
"Coba diangkat saja Mas. Barangkali dia ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu," usul Maya. Namun raut wajah lelaki di depannya ini nampak seperti orang yang kebingungan. "Mas Bayu bisa menjauh dulu diriku untuk berbincang dengan istrinya. Barangkali mas Bayu tidak nyaman karena ada aku di sini."
"Terima kasih untuk pengertiannya ya Mbak. Aku permisi sebentar untuk mengangkat telepon."
"Silakan Mas!"
Bayu beranjak dari posisi duduknya. Ia sedikit menjauh dan mencari tempat yang ia rasa jauh lebih aman. Aman dari indera pendengaran Maya. Setelah mendapatkan tempat yang aman, gegas ia menerima telepon dari Dinda.
"Assalamualaikum Mas. Apa kabar Mas? Sehat?"
"Waalaikumsalam. Aku baik, Din. Oh iya, kamu lusa gajian kan? Jangan lupa kirim gajimu ke rekeningku!"
"Iya Mas. Nanti aku kirim untukmu dan juga ibu."
"Tumben jam segini kamu telepon? Apa tidak sedang bekerja?"
"Pekerjaan rumah sudah selesai semua Mas. Nanti malam aku mau nyetrika baju. Mumpung ada waktu luang, aku sempatkan untuk menghubungi kamu. Oh iya, bagaimana pekerjaanmu Mas? Lancar semua kan?"
"Iya, semua lancar. Tenang saja. Oh iya, kamu jangan sering-sering menghubungiku Din. Kamu itu harus bekerja keras agar kita ini cepat kaya. Ingat itu. Jangan sampai waktumu habis hanya untuk berbicara yang tidak penting kepadaku."
__ADS_1
"Tapi Mas, apa salahnya kalau aku berkomunikasi dengan suamiku sendiri? Lagipula dua minggu belakangan ini kita jarang komunikasi kan? Masa kamu tidak merindukan istrimu?"
Ekspresi jengah terpancar jelas di wajah Bayu. Lelaki itu hanya bisa berdecak kesal.
"Sudahlah Din. Untuk saat ini kamu fokus bekerja saja. Aku pun juga fokus bekerja. Ibaratnya kita sama-sama menabung rindu. Nah, nanti saat kita bertemu bisa kita pecahkan celengan rindu itu bersama-sama. Oke ya? Sekarang kamu lanjut kerja. Ini juga kebetulan ada orderan masuk!"
"Eh ... Mas, Mas, Mas!"
Panggilan telepon terputus. Dari ekor mata Bayu, ia menangkap bayangan Maya yang sepertinya ingin menguping pembicaraannya dengan Dinda.
Aduh gawat, semoga belum lama Maya berada di sana sehingga tidak mendengar apa yang aku bicarakan dengan Dinda. Ah, aku punya ide.
"Ya Tuhan Dinda ... aku tidak menyangka jika kamu berani berteriak dan berkata kasar seperti itu. Aku ini suamimu Din, tidak sepatutnya kamu berteriak kasar seperti itu!"
Ponsel yang sudah tidak terhubung dengan siapapun itu, tetap Bayu letakkan di telinga. Layaknya seseorang yang masih terlibat dalam pembicaraan via ponsel, Bayu terlihat berbicara sendiri.
Maya yang berada tak jauh dari balik punggung Bayu sedikit terkejut saat melihat gesture tubuh Bayu yang seperti tengah mengusap air mata. Bahkan teriakan yang Bayu lontarkan terdengar jelas di telinganya.
"Apa? Jadi benar itu yang kamu mau? Kamu mau kita pisah? Dan kamu ingin aku yang mengurus semua? Oke Din, aku turuti kemauanmu. Aku talak kamu sekarang juga. Dan mulai hari ini kamu bukan lagi menjadi istriku!"
Bayu yang sebelumnya berdiri, seketika tubuhnya terduduk lunglai di atas hamparan rumput taman. Ia mengacak rambutnya frustrasi seakan duka tengah menyelimuti hati. Ia pun memilih untuk menenggelamkan wajahnya di sela lutut. Dan entah bagaimana ceritanya lelaki itu menangis tergugu, mengeluarkan air mata.
"Mas Bayu!"
Maya mendekat ke arah lelaki yang terlihat tengah menenggelamkan dirinya ke dalam kepedihan hidup yang hakiki ini. Ikut berjongkok di hadapan Bayu untuk bisa mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi Bayu.
Bayu mendongakkan kepala dan menatap wajah wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Dengan gerak cepat, Maya mengambil selembar tisu dan ia usap ke pipi Bayu yang berurai air mata.
"Ada apa Mas?"
Maya melontarkan sebuah tanya seakan tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada Bayu. Padahal, sebelumnya ia telah mendengar suara Bayu yang terdengar lantang yang membicarakan tentang talak. Wanita itu hanya ingin memastikan ada apa sesungguhnya.
__ADS_1
"Istriku, Mbak ... Istriku meminta cerai!"
Bayu berujar sembari mengisakkan tangis yang terdengar begitu menyayat hati.
"Lalu, apa keputusanmu Mas?"
Bayu menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga-rongga dadanya dengan oksigen yang serasa sulit untuk ia dapatkan.
"Aku sudah menjatuhkan talak kepadanya Mbak. Aku sungguh sudah tidak kuat lagi. Harga diriku sebagai seorang suami seakan diinjak-injak. Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa terlepas dari belenggu derita."
Maya membuang napas lega. Entah apa yang membuat wanita itu juga ikut merasakan kelegaan yang luar biasa. Namun ia berpikir dengan seperti ini akan jauh lebih baik untuk ke depannya bersama Bayu.
"Aku turut prihatin mendengarnya ya Mas. Tapi aku yakin jika semua ini sudah merupakan jalan yang terbaik dari Tuhan untuk kamu."
Bayu menganggukkan kepala. "Iya Mbak, aku sudah ikhlas dan lapang dada menghadapi ini semua. Mungkin ini sudah menjadi jalan takdir hidupku."
"Betul itu Mas. Yang pasti hidupmu harus tetap berjalan, tidak berhenti sampai sini."
"Iya Mbak, aku sudah ikhlas. Meskipun hatiku rasanya begitu sakit dan hancur namun ada satu hal yang aku syukuri."
Maya menghentikan aktivitasnya mengusap pipi Bayu dengan tisu yang ia pegang. Saat tangannya hendak ia geser, namun tiba-tiba jemari tangan Bayu menahannya.
Maya sedikit terhenyak dan hanya bisa tertegun menatap wajah lelaki yang masih nampak gurat-gurat ketampanannya ini. Mata wanita itu menyipit seakan meminta penjelasan dari maksud ucapan Bayu.
"Aku bersyukur karena Tuhan menghadirkan kamu dan Cantika saat aku terpuruk seperti ini, Mbak. Kehadiranmu dan Cantika seakan menjadi penawar luka yang aku rasakan."
.
.
. bersambung
__ADS_1