
"Haahhhh .... akhirnya selesai juga!"
Erlan menghempaskan tubuhnya di atas sofa sembari meregangkan otot-otot yang terasa kaku luar biasa. Akhirnya, setelah melewati serangkaian acara pernikahan dari mulai akad hingga resepsi, kini ia bisa kembali ke apartement dengan penuh bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika mulai saat ini ia telah resmi bersanding dengan wanita yang ia cinta. (Hahahaha belum sadar aja kamu Lan, kalau wanita yang kamu nikahi itu jelmaan ulat bulu ππ)
Erlan melirik ke arah samping di mana sang istri sudah lebih dulu duduk di sana. Ia tersenyum kecil kala melihat raut wajah Jenica yang sedari tadi hanya ditekuk saja. Erlan paham, apa yang tengah melanda hati istri tercintanya ini.
"Jen, jangan cemberut seperti ini dong. Kita ini baru saja melewati momen-momen bahagia kita loh. Masa iya wajah kamu ditekuk seperti itu terus? Kamu tidak bahagia menikah denganku?"
Jenica yang larut dalam pikirannya sendiri mau tak mau menautkan pandangannya ke arah sang suami. Ia menghembuskan napas kasar seakan menjadi pertanda bahwa ia masih dipenuhi oleh kekesalan.
"Bagaimana aku bisa bahagia Lan, jika di hari istimewaku saja aku tidak bisa tampil dengan sempurna. Aku benar-benar kecewa dengan riasan MUA itu karena justru hanya mempermalukan aku pada saat akad. Banyak orang yang mencibirku seperti ondel-ondel di Taman Mini, Lan!"
Jenica meluapkan segala amarah yang sejak acara ia pendam sendiri. Nampaknya kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi dan menumpahkan semua dia hadapan Erlan. Sedangkan Erlan yang mendengar itu semua hanya bisa berdecak lirih.
Erlan mengusap pucuk kepala Jenica dengan lembut. Berusaha memberikan rasa nyaman dan tenang kepada istrinya ini.
"Sudahlah Jen, jangan kamu pikirkan lagi. Toh itu semua juga karena kesalahanmu sendiri bukan karena kamu datang terlambat? MUA se profesional apapun juga tidak bisa bekerja dalam waktu lima menit Jen."
Alih-alih merasa tenang setelah dielus-elus oleh sang suami, Jenica justru merasa lebih marah lagi. Wajahnya justru bertambah ngeri dari sebelumnya.
"Mengapa kamu malah justru menyalahkan aku Lan? Bukankah kesiangan itu hal yang manusiawi? Jadi wajar kan kalau aku kesiangan?"
"Memang wajar Jen, tapi seharusnya kamu mempersiapkan itu semua dengan sempurna. Jangan begadang atau paling tidak pasang alarm sehingga kamu tidak sampai kesiangan!"
Mendengar celotehan Erlan malah semakin membuat Jenica merasa kesal. Gegas ia bangkit dari posisi duduknya kemudian berlalu pergi meninggalkan sang suami.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu Lan. Seharusnya kamu tidak menyalahkan aku, tapi sejak tadi kamu malah menyudutkan aku. Itu juga pembantu kamu yang tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia diam saja saat dirias. Sungguh tak tahu malu!"
Brakkkk!!!!
Jenica berteriak lantang dan menghempaskan pintu kamar pribadi di depannya ini dengan kasar. Saking kerasnya gelombang suara itu, sampai membuat Erlan, Dinda dan Surti terkaget-kaget. Dinda dan Surti yang tengah berada di dapur hanya saling melempar pandangan. Sedangkan Erlan hanya bisa memijit-mijit pelipis, bingung harus melakukan apa lagi untuk membujuk sang istri agar tidak bad mood lagi.
Tidak ingin membiarkan keadaan seperti ini berlarut-larut, Erlan memutuskan untuk menyusul Jenica ke kamar. Ia berpikir Jenica akan lebih mudah diberi pengertian jika berada di kamar.
"Aku benar-benar kasihan sama den Erlan, Din," ucap Surti lirih sambil melihat sekilas tubuh sang tuan muda yang sudah hilang di balik pintu kamar pribadinya.
Dinda yang tengah memotong sayuran hanya bisa mengerutkan dahi, kurang begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Surti.
"Kasihan bagaimana Mbok, bukankah saat ini tuan Erlan sedang bahagia-bahagianya karena baru saja menikah?"
"Aku tidak bisa menjamin den Erlan akan bahagia selalu Din. Lihat saja itu sikap istrinya. Aku takut den Erlan akan mati muda karena setiap hari menghadapi istri yang keras dan tidak punya sopan santun seperti itu!"
Surti terhenyak. Buru-buru ia menutup mulutnya. "Astaghfirullah .... aku benar-benar tidak sengaja mengatakan hal itu Din. Aku hanya khawatir dengan keadaan den Erlan setelah memperistri wanita yang memiliki perangai keras dan kasar itu. Apalagi saat tadi dia juga menampar pipimu, Din. Benar-benar kasar."
Senyum tipis terukir di bibir Dinda. Sejatinya, ia juga teramat terkejut dengan apa yang menimpanya saat di ruang make-up pagi tadi. Seumur-umur, baru kali ini ia ditampar oleh orang yang tidak terlalu ia kenal. Dan terlebih lagi orang itu merupakan istri dari majikannya.
"Sudahlah Mbok, mungkin tadi non Jenica sedang panik jadi tidak bisa mengontrol emosi. Aku juga tidak merasa gimana-gimana. Aku memaklumi keadaan non Jenica saat itu."
"Tapi aku sungguh tidak menyangka jika non Jenica sekasar itu Din. Aku hanya khawatir jika den Erlan mengalami tekanan batin memiliki istri ganas seperti macan itu," ujar Surti dengan tatapan menerawang. Merasa iba sekaligus khawatir saat membayangkan sosok macan yang tiba-tiba hadir di dalam pikirannya.
Dinda yang mendengar ucapan yang terlalu paranoid itu hanya bisa keheranan. Bisa-bisanya Surti memiliki pikiran yang sudah terlampau jauh.
"Jika tuan Erlan sudah memilih non Jenica sebagai istrinya, bisa dipastikan non Jenica lah yang terbaik untuk tuan Erlan kan Mbok? Jadi, bagaimanapun sikap non Jenica, pasti tuan Erlan bisa menerimanya. Dan barangkali seiring berjalannya waktu tuan Erlan bisa mengarahkan non Jenica agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
__ADS_1
Surti mengedikkan bahu sebagai isyarat menyangsikan ucapan Dinda. "Belum tentu juga Din, jika itu sudah merupakan watak dari non Jenica pastinya akan sukar untuk dirubah."
Lagi, Dinda mengusap pundak Surti. Sebagai seseorang yang sudah sejak lama hidup bersama Erlan, Dinda yakin jika apa yang dirasakan oleh Surti kepada Erlan sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
"Kita doakan yang terbaik saja ya Mbok. Semoga pernikahan tuan Erlan ini senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan dan tuan Erlan sendiri selalu diberikan kesabaran untuk bisa membimbing istrinya untuk bisa lebih baik lagi."
"Aamiin!"
***
Sedangkan di kamar, Erlan masih sibuk membujuk sang istri agar tidak lagi menekuk wajah. Segala macam cara sudah ia coba dan pada akhirnya di dalam pelukannya, Jenica nampak jauh lebih tenang. Istrinya ini sudah bisa mengontrol emosinya.
"Sudah ya, ini hari bahagia kita loh Sayang, masa kamu masih ingin uring-uringan? Lebih baik kita bersiap-siap!"
Jenica mengurai pelukan Erlan, dan ia tatap lekat netra milik suaminya ini. "Siap-siap? Siap-siap apa Sayang?"
Erlan terkekeh geli sembari mencubit hidung mancung Jenica. Ia mendekatkan wajahnya di bagian telinga sang istri dan menciuminya.
"Siap-siap untuk ritual malam pertama kita!"
.
.
. bersambung...
Yaaah Thor, kok Erlan jadi nikah sama Jenica sih?? Hihihi sabar ya Kak, kasihan kalau gak jadi nikah, Erlan udah pacaran selama lima tahun loh, masak gagal nikah?? ππ Sabar, semua akan ada jalannya.. Jalan menuju Romaππ Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya Kak.. Perjalanan masih panjang Kakak-kakak Sayaanggggg... π₯°π₯°π₯°
__ADS_1