Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 62. Angin Surga


__ADS_3


Sepasang manusia yang pernah merajut tali kasih di masa lalu itu duduk bersisihan. Keduanya larut dalam sebuah obralan yang terkesan begitu mengasyikkan. Dimulai dari saling menanyakan kabar, kesibukan yang saat dilakoni hingga perihal masalah-masalah pribadi juga turut menjadi bahan perbincangan. Itu semua seakan menjadi salah satu jalan pembuka bagi keduanya untuk kembali mengulang masa-masa yang pernah tercipta. Sesekali mereka terlihat tertawa lepas. Ahhhh, terlihat begitu mesra.


"Aku turut bahagia jika saat ini hidupmu penuh dengan kesempurnaan Jen. Pengusaha muda nan kaya, gelimang harta dan juga serba terpenuhi semua kebutuhan hidupmu. Ibarat kata, semua kemewahan ada di dalam genggamanmu."


Bara menghisap sebuah vape, dan mengepulkan asapnya. Hingga kini di sekeliling Jenica dan Bara dipenuhi oleh asap pekat beraroma vanilla. Lelaki itu juga sesekali terlihat meneguk whiskey yang berada di dalam gelas rock khas minuman beralkohol itu.


Jenica juga turut meneguk minumannya. Ia tersenyum simpul seakan membenarkan apa yang diucapkan oleh sang mantan.


"Ya, itu memang benar Bar. Aku memang sempurna dalam urusan materi namun, aku merasa kurang sempurna dalam urusan ranjang."


Bara yang sejak tadi nampak begitu intens mendengar obrolan Jenica sedikit mengernyitkan dahi. Apa yang terlontar dari bibir Jenica seakan membuat rasa ingin tahunya semakin meronta.


"Kurang sempurna dalam urusan ranjang? Maksud kamu bagaimana Jen? Punya suamimu tidak bisa berdiri? Atau bagaimana?"


"Bisa berdiri sih bisa berdiri, tapi milik Erlan kecil sekali, hanya sebesar jari kelingking ini," ucap Jenica seraya menunjukkan jari kelingkingnya. "Sumpah sama sekali tidak terasa apapun. Dan, baru masuk dua menit saja sudah keluar. Arrgghhh ... pokoknya aku tidak merasa puas."


"Tidak merasa puas? Itu artinya, kamu tidak sampai pada puncak kenikmatan?"


Jenica menggelengkan kepala pelan. "Sama sekali tidak. Aku hanya berpura-pura mende*sah agar sedikit menghargainya. Ya, hitung-hitung membuatnya sedikit bangga menjadi seorang laki-laki. Padahal tidak terasa sama sekali."


"Haha hahaahaa ... Jenica, Jenica." Bara berujar sembari tertawa terbahak. "Kasihan sekali kamu. Jadi, sejak malam pertama, kamu tidak merasakan kenikmatan dong?"


"Bagaimana bisa nikmat dan sampai puncak jika terasa pun tidak?"


Bara menggeser tubuhnya untuk bisa lebih rapat dengan Jenica. Ia dekatkan bibirnya dan mengecup telinga wanita ini.


"Itu artinya belum ada yang mengalahkan besarnya milikku? Yang dulu katamu selalu membuatmu merem melek merasakan nikmat?"


Tubuh Jenica sekilas merinding, bak terkena aliran arus listrik. Wanita itu berusaha mati-matian untuk bisa menguasai gejolak hasrat yang perlahan mulai mengaliri memenuhi laju aliran darahnya.

__ADS_1


"Ya tentu belum ada yang mengalahkan milikmu. Bagiku, milikmu adalah yang paling besar yang pernah aku rasakan."


Senyum seringai terbit di bibir lelaki berpawakan tinggi tegap itu. Seperti menjadi angin surga, ucapan Jenica juga membuat rasa ingin bercinta juga turut hadir memenuhi rongga-rongga dadanya.


Jemari tangan Bara bergerilya menyusuri wajah cantik juga permukaan tubuh mantan kekasih yang masih dibalut oleh pakaian ini. Ia berikan sentuhan-sentuhan intim yang membuat Jenica melenguh dan membuat matanya terpejam.


"Apakah kamu ingin merasakan kenikmatan bercinta denganku lagi? Merasa puas dengan milikku yang besar dan pastinya bisa membuatmu melayang hingga ke awan?"


Bak sebuah mantra yang terdengar melenakan dan menutup akal sehat, Jenica mengangguk pelan. Haus akan kepuasan dari sang suami sah seakan membuat wanita itu mengeluarkan sinyal untuk dipuaskan di atas ranjang. Rasa puas yang barang tentu bisa membuat suasana hatinya jauh lebih bahagia.


"Aku mau Bar. Aku mau menikmati milikmu yang besar dan terasa sesak di dalam lembah surgawi milikku ini."


Bara bersorak gembira dalam hati. Ia bangkit dari posisi duduknya dan ia ulurkan tangannya untuk menggapai tangan sang mantan.


"Kalau begitu, ayo ikut aku ke hotel tempatku menginap. Di sana, aku akan memuaskan dan memanjakanmu dengan burung rajawali milikku."


Jenica menerima uluran tangan Bara dan turut bangkit dari posisi duduknya. Wanita itu tersenyum penuh arti menyambut kenikmatan yang akan ia rasakan sebentar lagi.


Keduanya berjalan dengan saling bergandengan tangan keluar dari ruangan ini. Sesekali mereka saling melempar senyum seakan mengabarkan kepada dunia bahwa mereka tengah berbahagia. Bahagia karena bisa bertemu setelah sekian lama tak bersua. Dan bahagia karena sebentar lagi mereka akan kembali merasakan nikmatnya surga dunia.


"Loh, loh, loh kalian mau kemana?" teriak Lidia yang melihat Bara dan juga Jenica membuka tuas pintu.


Bara sedikit membalikkan punggung dan melempar senyum ke arah Lidia. "Pinjam temanmu sebentar. Aku ingin mencari angin sambil bernostalgia dengan temanmu ini."


Dahi Lidia berkerut dalam. "Cari angin? Angin apa?"


Kedua bahu Bara mengendik dan hanya terkekeh pelan. Ia kembali ayunkan tungkai kakinya untuk bersegera menuju hotel di mana ia menginap.


***


Mesin penunjuk waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dinda yang sebelumnya menonton acara televisi, kini berganti dia yang di tonton oleh benda elektronik itu. Rupa-rupanya ia tertidur di atas sofa yang berada di ruang tengah.

__ADS_1


Pintu apartement terbuka dan tak selang lama muncul sosok lelaki muda yang wajahnya terlihat kuyu. Dari wajah yang kuyu itu mungkin sebagai tanda bahwa hari ini dia sangat kelelahan.


Perlahan langkah kakinya terayun menyusuri ruangan ini. Hingga langkah kakinya terhenti kala melihat sosok seorang wanita yang tengah terlelap di atas sofa dengan televisi yang masih menyala.


Erlan tersenyum simpul. Melihat sang asisten rumah tangga yang tengah tidur terlelap ini entah mengapa membuat hati dan perasaannya menjadi damai. Wajah wanita ini benar-benar mengeluarkan aura kecantikan yang begitu luar biasa. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat suasana hatinya kembali tenang.


Tangan Erlan terulur untuk bisa menyentuh wajah wanita ini, namun tiba-tiba...


" Tuan Erlan!" pekik Dinda saat kelopak matanya terbuka. Gegas, ia menggeser posisinya hingga kini ia terduduk di sofa.


"Maaf, maafkan saya Tuan. Saya ketiduran. Tuan baru saja pulang? Biar saya siapkan makan malam untuk Tuan."


Hampir saja Dinda berdiri dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, namun buru-buru Erlan menahan wanita itu.


"Nanti saja, aku masih belum lapar. Duduklah!"


Meskipun sedikit bingung dengan perintah Erlan, namun Dinda tidak membantah. Ia mulai paham dengan bagaimana karakter sang majikan yang memang tidak suka dibantah. Dinda membenahi posisi duduknya hingga merasa nyaman.


Tanpa terduga, Erlan juga ikut duduk di samping Dinda. Perbuatan sang majikan inilah yang membuat Dinda sedikit terhenyak. Namun ia tetap terdiam dan mematung.


"Apakah sejak pagi tadi Jenica belum pulang?" tanya Erlan membuka pembicaraan.


Dinda menggelengkan kepala. "Belum Tuan, nona Jenica sama sekali belum pulang. Apa nona Jenica tidak memberi kabar kepada Tuan?"


Erlan menghembuskan napas sedikit kasar. Sejatinya ia sudah tahu bahwa istrinya ini akan pulang larut. "Menurutmu sebagai seorang istri, apakah yang dilakukan oleh Jenica itu pantas?"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2