
"Jadi inilah pabrik kerupuk yang aku punya May. Tidak terlalu besar namun aku bersyukur karena adanya pabrik ini bisa membantu masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan."
Mobil sedan warna putih yang dikemudikan oleh Bayu mendarat sempurna di pelataran pabrik kerupuk milikSidiq. Kali ini, Bayu datang bersama Maya untuk menunjukkan sebuah bukti bahwa ia benar-benar memiliki pabrik. Pabrik kerupuk yang ia akui sebagai pabrik turun temurun dari almarhum sang ayah.
"Kamu ini selalu saja merendah Mas, pabrik ini lumayan besar menurutku."
Maya yang masih berada di dalam mobil melihat dengan saksama kawasan pabrik kerupuk milik Bayu. Orang-orang tampak berlalu lalang ke luar masuk pabrik dan sesekali mereka bercanda dan tertawa. Maya merasa suasana kekeluargaan di pabrik ini benar-benar begitu kental.
"Lumayan besar tapi tidak bisa membuat mantan istriku bersyukur. Aku sampai bingung bagaimana caranya aku membahagiakan mantan istriku dulu. Sampai-sampai hasil dari pabrik ini tidak bisa membuatnya bahagia."
Pandangan Maya yang sebelumnya intens menatap kawasan pabrik, kini ia geser untuk menatap wajah Bayu. Tanpa banyak kata, Maya mulai menggenggam jemari tangan lelaki yang duduk di sampingnya ini.
"Sudahlah Mas, jangan diingat-ingat lagi. Bukankah saat ini kamu harus fokus dengan masa depanmu? Kamu sudah menduda dan aku rasa tidak ada salahnya jika kamu mulai menata hidupmu lagi dengan lembaran baru."
Bayu tersenyum penuh arti. Ia bawa jemari tangan Maya untuk mendarat di pipinya. Namun sebelumnya ia kecup terlebih dahulu.
"Terima kasih karena kamu sudah ada di sampingku untuk menguatkanku ya May. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu, mungkin saat ini aku akan memilih untuk mengakhiri hidupku."
Maya menganggukkan kepala seraya mengulas sedikit senyumnya. "Iya Mas, sama-sama. Aku juga berterima kasih karena atas kehadiranmu lah yang membuat putriku kembali menemukan kebahagiannya lagi."
"Aku sungguh tidak sabar untuk bisa segera menikahimu May. Tapi ...."
"Tapi apa Mas? Apa kamu masih ragu?"
Bayu menggelengkan kepala, seakan menjadi tanda bahwa tidak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. "Aku sama sekali tidak ragu May. Aku bahkan ingin cepat-cepat menikahimu. Tapi jika harus menunggu istriku pulang dari luar negeri untuk mengurus perceraian, aku rasa itu terlalu lama."
__ADS_1
"Lalu?"
"Jika kamu aku nikahi secara siri dulu apakah kamu bersedia May? Sambil jalan, aku mengurus perceraian ku dengan Dinda. Dan setelah semua beres, aku akan menikahimu secara negara."
"Tidak masalah Mas. Yang terpenting saat ini kamu sudah menduda dan bisa menikahiku. Terlebih lagi, Cantika juga sudah tidak sabar untuk hidup bersamamu."
Jawaban yang dilontarkan oleh Maya seakan menjadi angin surga bagi Bayu. Ia yakin tak lama lagi, ia bisa menikahi Maya.
"Syukurlah kalau begitu May, aku benar-benar bahagia. Terima kasih banyak. Terima kasih."
"Sama-sama Mas. Oh iya, ayo kita turun Mas. Aku ingin melihat proses produksinya!"
"Ayo!"
***
Kedatangan Bayu dan Maya disambut oleh Sidiq. Seperti skenario yang dipersiapkan, Sidiq berperan sebagai salah satu orang kepercayaan Bayu.
Sidiq sedikit membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat. "Saya Sidiq Bu, yang bekerja di sini."
"Oh iya salam kenal ya Pak. Bagaimana perkembangan pabrik ini Pak?"
"Semua berjalan sempurna Bu. Pak Bayu ini merupakan pemilik pabrik yang selalu berbuat baik kepada para pekerjanya. Sehingga tidak mengherankan jika para karyawan merasa senang dan betah bekerja di sini."
Ucapan yang terlontar dari bibir Sidiq semakin membuat Maya yakin kepada Bayu. Yakin, bahwa lelaki ini merupakan lelaki yang baik.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu Pak?"
"Iya Bu, itu benar sekali. Bahkan Pak Bayu ini sering berbagi sembako dengan orang-orang di sekitar sini setiap bulan," sambung Sidiq.
Sidiq tidak sepenuhnya berbohong karena dulu Bayu memang selalu berbagi sembako dengan warga sekitar setiap bulannya. Namun sudah beberapa bulan terakhir tidak lagi ia lakukan.
"Pak Sidiq ini terlalu berlebihan. Itu semua bukan apa-apa Pak. Hanya sebagai salah satu bentuk rasa syukur saya atas rezeki yang saya dapatkan. Terlebih lagi, bukankah dari rezeki yang kita dapatkan ada sebagian yang menjadi hak-hak orang yang kekurangan?"
"Itu betul sekali Pak. Memang benar adanya bahwa dari sebagian rezeki yang kita peroleh ada hak orang-orang yang tidak berpunya."
Bayu semakin merasa berada di atas angin. Ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri karena dulu mengizinkan Dinda untuk berbagi sembako di kampung ini. Dan saat ini, ia bisa memetik buahnya. Ia dicap sebagai orang yang dermawan.
Maya semakin dibuat takjub oleh sifat Bayu. Semakin mengenal Bayu, ia merasa bahwa Bayu merupakan sosok lelaki sempurna yang layak untuk ia jadikan suami.
"Oh iya Pak Sidiq saya memiliki rencana. Ke depannya, saya akan menyerahkan sepenuhnya pabrik ini untuk Pak Sidiq. Silakan Pak Sidiq kelola dengan baik. Dan setiap bulan Pak Sidiq hanya tinggal membuat laporannya. Jangan lupa untuk menyisakan sepuluh persen dari pendapatan bersih di setiap bulan untuk shodaqoh ya Pak. Semoga dengan cara seperti itu bisa menjadi ladang amal dan kebaikan untuk kita semua."
Belum beranjak dari kekagumannya pada sifat Bayu, Maya semakin dibuat terkesima dengan rencana Bayu yang terkesan begitu menyentuh hati.
Mas Bayu benar-benar berhati mulia. Ia begitu peduli dengan keadaan orang-orang di sekitar yang mengalami kesusahan. Aku sungguh beruntung sebentar lagi bisa menjadi istrimu, Mas.
Bayu melirik ke arah Maya yang masih berada dalam mode terkesimanya. Ia tersenyum penuh arti melihat Maya yang tampak begitu terkesima itu.
Ulalaaaa .... Nasib baik ternyata berpihak kepadamu Bay. Lihatlah, alam seakan memberikanmu restu untuk mempersunting Maya. Maya benar-benar terlihat jatuh hati kepadamu.
.
__ADS_1
.
. bersambung...