
Lautan manusia nampak memenuhi peron-peron kereta di jam enam petang. Mereka berjalan satu arah keluar dari dalam kereta. Setelah berada di perjalanan selama kurang lebih sembilan jam, pada akhirnya Dinda tiba di stasiun Jatinegara. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok lelaki yang akan menjemputnya. Seorang laki-laki yang menurut informasi dari mbok Surti sebagai sopir pribadi sang majikan.
Hampir sepuluh menit ia berjalan ke sana kemari dan menoleh ke kanan dan ke kiri, pada akhirnya senyum simpul terbit di bibirnya kala melihat sosok lelaki paruh baya yang membawa kertas bertuliskan namanya. Gegas, Dinda mengambil langkah kaki lebar untuk menuju lelaki paruh baya itu.
"Mbak Dinda ya?" tebak lelaki paruh baya itu dengan senyum sumringah. Dari raut wajahnya bisa Dinda simpulkan bahwa lelaki ini merupakan orang yang ramah.
Dinda menganggukkan kepala. "Benar Pak, saya Dinda, yang akan bekerja menggantikan mbok Surti. Ini pak Dirman ya?"
"Betul Mbak, saya pak Dirman." Dirman meraih travel bag yang dibawa oleh Dinda, bermaksud untuk membawakan tas itu. "Mari saya bantu untuk membawa tas ini Mbak. Kasihan kalau keberatan."
Dinda terkekeh geli. Sejatinya tas yang ia bawa tidaklah berat karena hanya ada bebrapa potong pakaian saja. "Terima kasih untuk tawarannya Pak. Namun tidak perlu, tas ini ringan kok."
"Benar, mbak Dinda tidak membutuhkan bantuan? Takutnya nanti tangan mbak Dinda pegal-pegal padahal belum bekerja?"
Kekehan lirih terdengar dari bibir Dinda. Ternyata lelaki paruh baya yang berdiri di hadapannya ini senang bergurau. Namun hal inilah yang membuat hati Dinda sedikit menghangat. Ia merapalkan doa, semoga yang akan menjadi majikannya nanti memiliki karakter seperti Pak Dirman ini.
"Pak Dirman ini bisa saja. Ini hanya ringan Pak. Bahkan terasa sangat ringan."
"Syukurlah kalau begitu Mbak. Oh iya, kita langsung menuju kediaman tuan muda saja ya Mbak?"
Sayup suara kumandang adzan mulai terdengar di setiap penjuru stasiun. Sebagai pertanda waktu shalat maghrib telah tiba. Sang muadzin berseru, mengajak insan yang bernyawa untuk segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
"Pak, bisa antar saya ke musholla terlebih dahulu? Sudah masuk waktu shalat maghrib. Saya ingin shalat terlebih dahulu. Takutnya, nanti di jalan terjebak macet dan saya belum sempat untuk shalat maghrib."
Dirman mengangguk mantap dengan seutas senyum di bibirnya. "Tentu saja bisa Mbak. Mari, saya antar ke musholla."
"Terima kasih pak Dirman!"
Dinda berjalan mengekor di belakang punggung Dirman. Langkah keduanya nampak seirama untuk bergegas menuju musholla. Sedangkan Dirman yang berada di depan Dinda, sedari tadi ia tiada henti tersenyum. Baginya, raut wajah Dinda ini begitu sedap dipandang. Terlebih dalam pengamatan Dirman, Dinda ini terlihat shalihah yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam circle sang tuan muda.
Semoga keberadaan Dinda ini banyak memberikan kebaikan untuk tuan muda.
***
__ADS_1
Mobil sedan warna hitam melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Hiruk pikuk keramaian khas kota metropolitan mulai terlihat jelas di sepanjang jalan. Kemacetan pun tidak dapat terhindarkan. Disertai dengan bunyi klakson yang bersahutan. Seakan menandakan bahwa si pengemudi kuda-kuda besi ingin segera keluar dari kemacetan yang menimbulkan kepenatan.
"Mbak Dinda ini umurnya berapa? Kok masih terlihat sangat muda?"
Untuk membunuh rasa bosan karena kemacetan, Dirman mencoba untuk membuka obrolan dengan Dinda yang saat ini duduk di samping kemudinya. Sorot mata Dirman tidak lepas dari arah depan. Fokus dengan sedikit celah yang bisa ia gunakan untuk bisa terlepas dari kemacetan ini.
"Usia saya dua puluh tahun Pak. Dua tahun yang lalu saya baru saja lulus SMA."
"Nah benar kan apa yang menjadi dugaanku. Karena saya lihat, mbak Dinda ini masih sangat muda. Kenapa tidak melanjutkan kuliah saja Mbak? Dan malah memilih untuk bekerja?"
Rasa penasaran memenuhi dada dan kepala Dirman. Lelaki itu teramat heran hal yang melatarbelakangi Dinda memilih untuk bekerja di saat perempuan-perempuan seusianya memilih untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.
Dinda tersenyum tipis. Ada sedikit rasa getir yang ia rasakan. Di zaman sekarang ini, siapa yang tidak ingin bersekolah hingga jenjang yang paling tinggi? Jika bisa memilih, Dinda pasti akan memilih jalan untuk melanjutkan pendidikannya. Namun untuk saat ini, jangankan untuk memilih, mendapatkan kesempatan saja tidak.
"Ada banyak hal yang saya alami Pak, sehingga membuat saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Namun tidaklah mengapa. Mungkin ini sudah merupakan skenario yang telah ditetapkan oleh Allah kepada saya. Dan saya hanya bisa menjalani dengan penuh keikhlasan."
Dirman mengangguk-anggukkan kepala. Mungkin sebagai pertanda sedikit mengerti. "Jadi, mbak Dinda memilih bekerja di Jakarta dan meninggalkan orang tua mbak Dinda di kampung?"
"Tidak Pak, saya tidak meninggalkan orang tua saya. Justru sebaliknya, kedua orang tua saya lah yang meninggalkan saya lebih dulu. Tepat di saat kelulusan SMA, kedua orang tua saya meninggal dalam kecelakaan maut."
Wajah Dirman mendadak pias kala mendengar cerita Dinda. Lelaki itu sungguh merasa tidak enak hati karena secara tidak langsung membuat Dinda teringat akan kedua orang tuanya yang telah tiada. Ia merasa harus lebih berhati-hati dalam mengajak ngobrol wanita ini.
Dinda tergelak lirih. "Tidak apa-apa Pak. Lagipula sudah dua tahun berlalu, jadi saya sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Dimana hidup seorang diri."
"Jadi sebelum ke Jakarta mbak Dinda ini tinggal sendirian di rumah?"
"Iya Pak, dua tahun yang lalu saya memang tinggal sendiri. Tapi enam bulan belakangan ini ada seseorang yang menemani hidup saya."
"Oh ya? Siapa itu Mbak?" tanya Dirman semakin penasaran.
"Suami dan mertua saya Pak!"
*Ckiiittttt....
Duggg*....
__ADS_1
"Aahhhhhhh!!!!"
"Astaghfirullah .... maaf, maaf mbak Dinda. Saya tidak sengaja!"
Dinda meringis sembari memijit pelipisnya yang terasa begitu nyeri tatkala terbentur dashboard. Entah apa yang dilakukan oleh lelaki paruh baya yang mengemudikan mobil ini. Yang membuatnya tiba-tiba ngerem mendadak.
"Pak Dirman ini kenapa? Mengapa mengerem mendadak?"
Dirman hanya nyengir kuda sambil menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. "Maaf ya Mbak. Saya benar-benar kaget saat mendengar bahwa mbak Dinda ini sudah bersuami. Sungguh tidak saya sangka sebelumnya Mbak."
"Ckckckck .... Bapak ini, saya kira ada apa di depan tadi sampai-sampai membuat Pak Dirman mengerem mendadak." Dinda menggeser pandangannya ke arah depan di mana kemacetan sudah mulai sedikit terurai. "Kalau Pak Dirman sendiri apa sudah lama menjadi sopir pribadi?"
"Sebelumnya, saya memang sopir pribadi, Mbak. Namun semenjak tuan muda sudah beranjak dewasa, saya berhenti untuk dan bertugas untuk menjaga rumah."
"Oh seperti itu. Tapi setidaknya saya merasa lega Pak, karena di tempat saya kerja nanti, saya sudah memiliki teman Pak Dirman, dengan begitu saya bisa cepat untuk beradaptasi."
Kekehan lirih terdengar keluar dari mulut Dirman. Lelaki itupun menggelengkan kepala. "Namun sepertinya saya tidak bisa untuk selalu ada di dekat mbak Dinda."
Dahi Dinda berkerut dalam. "Tidak bisa selalu ada di dekat saya? Mengapa bisa begitu Pak? Bukankah kita bekerja di tempat yang sama?"
"Tidak Mbak, kita tidak bekerja di tempat yang sama. Karena nantinya, mbak Dinda akan bekerja di apartement milik tuan muda!"
"Tuan muda?" tanya Dinda menyakinkan. "Pak, Pak, Pak, menurut Pak Dirman tuan muda yang akan menjadi majikan saya itu seperti apa? Apakah orangnya baik? Garang? Atau bagaimana?" sambung Dinda penasaran.
Dirman menatap raut wajah Dinda sejenak. Menatapnya dengan tatapan tiada terbaca. "Hati-hati Mbak, tuan muda itu orangnya bengis. Salah sedikit saja, Mbak Dinda pasti akan kena hukuman yang mengerikan."
"Apa???!!!!"
.
.
. bersambung...
Mohon maaf jarang membalas komentar-komentar kakak-kakak semua ya.. Hehhehe sedang sibuk di RL. 😂😂 Terima kasih banyak masih setia bersama Dinda ya Kak. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, komentar, favorit, gift dan Vote. Terima kasih 😘😘
__ADS_1