
Bayu mengayunkan tungkai kakinya memasuki area bandara. Seperti yang sudah disampaikan melalui whatsapp, orang yang akan ia jemput itu menunggu di salah satu kafetaria yang berada di kawasan ini. Lelaki itupun nampak begitu fokus untuk mencari di mana kafe itu berada.
Senyum tipis tersungging di bibir Bayu saat tempat yang ia cari berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Gegas, ia mengambil langkah kaki lebar untuk bisa segera bertemu dengan anak dari pelanggan offline-nya. Pandangannya mengedar ke arah sekeliling dan pada akhirnya tertuju pada sosok wanita cantik dengan memakai celana jeans dan blouse warna putih dan di sampingnya duduk seorang anak perempuan kecil yang berusia kurang lebih enam tahun.
Untuk memastikan agar tidak salah orang bahwa wanita itu adalah yang ia cari, Bayu sejenak melihat foto profil yang ada di kontak WhatsApp. Dan seperti dugaannya, wanita itulah yang ia cari.
"Mbak Maya?" ucap Bayu menyapa wanita yang tengah duduk sambil menikmati jus alpukat di hadapannya ini.
Wanita bernama Maya itu sedikit mendongak. Melihat ke arah Bayu. "Mas Bayu ya?"
Bayu tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala. "Iya Mbak, saya Bayu. Maaf ya Mbak kalau sedikit telat. Jalanan macet jadi saya terlambat sampai sini."
"Tidak apa-apa Mas, saya juga belum terlalu lama menunggu kok. Tadi juga penerbangannya sedikit delay, jadi saya sampai sini pun juga telat." Maya mengusap bibirnya menggunakan tisu untuk. "Mari silakan duduk dulu Mas. Dan silakan pesan makanan atau minuman yang mas Bayu suka."
"Eh tidak perlu Mbak. Nanti takutnya merepotkan."
"Tidak ade yang repot Mas. Ayo pesan dulu saja."
Bayu menyerah. Ia menggeser bangku kosong yang ada di depannya dan ia daratkan bokongnya di sana. Lelaki itupun memesan coklat panas untuk ia nikmati.
"Mama ... Om ini siapa? Sopir Oma?" tanya gadis kecil yang duduk di samping Maya dengan polos.
Maya hanya tergelak pelan sembari mencubit pipi putrinya ini. "Ssstttt .... Sayang, jangan bicara seperti itu. Om ini bukan sopir Oma. Om ini adalah orang yang dimintai tolong Oma untuk menjemput kita. Ayo salim dan kenalan dulu sama Om."
Bayu yang melihat sosok gadis kecil ini mendadak membuat hatinya terasa begitu hangat. Entah karena apa. Namun ia seperti merindukan kehadiran sosok seorang anak yang memang belum ia dapatkan sampai saat ini.
"Hai anak cantik, nama kamu siapa?" tanya Bayu mencoba untuk berkomunikasi dengan gadis kecil ini.
Gadis kecil itu pada awalnya hanya menatap wajah Bayu dengan penuh tanda tanya namun sejenak kemudian ia tersenyum lebar.
"Hallo Om ... namaku Cantika. Umurku enam tahun."
__ADS_1
"Cantika? Wah, namanya persis dengan orangnya. Sama-sama cantik. Cantika sudah sekolah ya?"
Gadis kecil yang dikuncir kuda itu menganggukkan kepala. "Iya Om. Aku sudah kelas satu SD."
"Wah, hebat."
Maya hanya tergelak lirih melihat keakraban Bayu dengan putrinya ini. Sungguh di luar dugaan jika Cantika bisa menyambut keberadaan Bayu dengan antusiasme tinggi. Padahal biasanya putrinya ini sulit tersenyum jika berkenalan dengan orang-orang baru.
"Oh iya Mbak, apakah ada lagi yang kita tunggu?" tanya Bayu memastikan. Barangkali suami dari wanita ini juga ikut serta.
Maya menggelengkan kepala. "Tidak ada Mas. Memang siapa yang akan kita tunggu?"
"Maaf, apakah suami mbak Maya tidak ikut serta?"
Maya yang baru saja meneguk jus alpukatnya tiba-tiba tersedak. Wanita itu sampai terbatuk-batuk saat mendapatkan pertanyaan dari Bayu.
Bayu tersentak. Rasa bersalah tiba-tiba menguasai hati. Ia berpikir jika ada yang salah dengan pertanyaannya ini.
"Astaga, apakah pertanyaan saya ada yang salah Mbak? Sampai membuat Mbak Maya terbatuk-batuk seperti ini?"
"Tidak ada lagi yang kita tunggu Mas. Karena hanya ada aku dan Cantika yang berangkat dari Surabaya. Sedangkan untuk suami...." Maya menjeda sejenak ucapannya dan melirik ke arah Cantika yang tengah fokus dengan tablet yang ada di tangan. "Saya sudah lama bercerai dari suami. Sejak Cantika berumur tiga tahun."
"Ya ampun ... maaf ya Mbak, saya tidak bermaksud untuk lancang. Saya kira Mbak Maya ini..."
Maya hanya tergelak pelan. "Tidak apa-apa Mas, santai saja. Hal itu itu sudah lama berlalu. Aku tersedak karena kaget, tiba-tiba saja ada yang bertanya perihal mantan suami saya. Lalu, kalau Mas Bayu sendiri bagaimana? Apa sudah menikah? Dan apa kesibukannya?"
Sebuah pertanyaan yang teramat mudah untuk dijawab namun seketika berubah menjadi sebuah pertanyaan yang seakan sulit untuk ia jawab. Bayu sedikit terperangah kala memahami pertanyaan wanita ini. Tiba-tiba saja ia dirundung oleh rasa galau.
Aduh, ini aku harus menjawab apa ya? Wanita ini janda kaya, lumayan kan kalau aku bisa dekat dengannya? Tapi bagaimana bisa aku menjelaskan perihal statusku bahwa aku ini sudah beristri?
"Mas, Mas Bayu? Kok bengong?"
__ADS_1
Bayu terhenyak. Sejenak, ia mengerjapkan mata dan tersenyum tipis. "Eh, maaf ya Mbak." Lelaki itu memasang wajah sendu dan sesekali menghela napas panjang. Seakan menunjukkan bahwa ada rasa sesak yang melanda.
"Ada apa Mas?" sambung Maya ingin tahu.
"Ceritanya rumit Mbak. Saya ini sudah beristri, tapi istri saya itu kurang bersyukur atas semua yang aku berikan..."
"Maksud Mas Bayu bagaimana?"
Bayu membuang napas kasar dengan tatapan mata menerawang. "Jadi, istri saya itu selalu menuntut lebih. Katanya saya tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya. Kebutuhan shopping dan bersolek. Maka dari itu, dia pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW Mbak. Untuk bisa membahagiakan dirinya sendiri. Sudah tiga tahun dia pergi ke luar negeri."
Maya terperangah. "Astaga ... sampai seperti itu Mas? Jadi sampai saat ini istri Mas Bayu itu tidak pernah mengirimkan uang?"
Bayu menggelengkan kepala. "Tidak sama sekali Mbak. Jangankan mengirim uang, nomor ponsel saya saja dia blokir, sehingga sampai saat ini saya tidak bisa berkomunikasi."
Wajah Maya turut sendu mendengar cerita Bayu. "Ya ampun, aku turut prihatin mendengarnya ya Mas. Lalu, Mas Bayu ini sekarang sibuk apa?"
"Ya, seperti inilah Mbak, jadi driver ojek online. Namun di samping itu saya juga memiliki pabrik kerupuk yang dikelola oleh ibu saya. Ya, sebagai usaha kecil-kecilan Mbak."
"Cckkkk... Cckkkkkk ... aku benar-benar salut dengan Mas Bayu. Bisa sabar dan ikhlas mendapatkan sikap yang kurang baik dari istrinya. Semoga keadaannya kembali membaik ya Mas."
Bayu mengedikkan bahu seperti sebuah isyarat bahwa ia mulai menyerah dengan pernikahannya. "Entahlah Mbak. Tiga tahun saya tidak tahu kabar berita tentang istri saya. Ya, semoga saja masih kuat. Kalau tidak, rasa-rasanya saya ingin berpisah saja daripada selalu tersiksa.".
.
.
. bersambung...
Hiyaaaaa... Hiyaaaa ..... hiyaaaa.... Bayu udah mulai bohong nih.. hihihihi kira-kira berhasil menggaet Maya tidak ya.. 😂😂😂
Oh iya, numpang promosi ya Kak.. Ini ada rekomendasi novel yang boleh untuk dibaca. Karya author Pena Senja. Kali ini author Pena Senja hadir dengan novel yang mengangkat tema perselingkuhan juga.. Hehe yang pastinya bikin gregeeettttt... 🤣🤣🤣 Jangan lupa di like, komentar dan favorit ya kak.. Masih anget karena baru ada 2 episode...
__ADS_1
Ini dia novelnya...