
Bak terkena sengatan aliran arus listrik, tubuh Jenica merinding seketika kala merasakan helaan napas yang keluar dari bibir Erlan. Bahkan, suaminya ini juga mencumbu mesra tengkuk lehernya yang membuatnya serasa melayang ke nirwana. Ia hanya bisa memejamkan mata, merasakan sensasi rasa nikmat yang berasal dari sentuhan suaminya ini.
Erlan tersenyum simpul, tak ingin berlama-lama lagi, dengan perlahan ia merebahkan tubuh sang istri. Dan kini tubuh Jenica terbaring sempurna di atas ranjang.
"Boleh kan Sayang aku mendapatkan hakku malam ini?"
Jenica mengangguk pelan. "Tentu Sayang ... mulai malam ini, aku milikmu seutuhnya."
Seperti mendapatkan durian runtuh, Erlan bergegas melucuti pakaian yang dikenakan oleh dirinya sendiri dan juga Jenica. Lelaki itu lebih dulu mematikan saklar lampu dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Meskipun temaram, namun justru membuat suasana intim jauh lebih terasa. Hingga kini, Jenica sudah dalam posisi di bawah kungkungan tubuh Erlan.
Bak sesuatu yang alamiah terjadi, benda pusaka milik Erlan di bawah sana mencari jalan untuk menembus dinding pertahanan yang dimiliki oleh Jenica. Tanpa mengerahkan tenaga yang besar ataupun merasa kesusahan untuk menembus dinding pertahanan seperti cerita-cerita tentang malam pertama, dengan sekali dorongan benda pusaka milik Erlan itu sudah bersarang di lembah kenikmatan milik Jenica.
Aneh, mengapa milik Jenica ini mudah sekali untuk aku masuki? Bahkan dia tidak merintih kesakitan seperti kata orang-orang yang melakukan ritual pertama?
Milik Erlan sudah masuk, tapi mengapa seakan tidak ada rasanya? Benar-benar beda dengan milik Bara yang mendapatkan keperawananku saat SMA dulu.
Dua orang itu sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Sekilas, Erlan melihat ke arah bawah. Betapa terkejutnya ia saat tidak ada sedikitpun bercak merah yang menempel di sprei.
Tidak ada darah. Apakah mungkin Jenica bukanlah perawan? Ah, tidak, tidak. Jangan berpikir buruk Lan. Seseorang yang tidak berdarah saat malam pertama tidak selalu berarti tidak perawan. Jauhkan pikiran burukmu itu Lan.
Erlan berusaha mati-matian untuk memupus segala pikiran buruknya. Ia mencoba untuk kembali fokus dalam melakukan ritual malam pertama bersama Jenica. Lelaki itu terus memacu tubuhnya untuk bisa memberikan kenikmatan bagi sang istri.
Apa-apaan ini? Mengapa bur*ung milik Erlan sama sekali tidak terasa? Ahhhh ****, benar-benar kecil. Persis seperti burung pipit. Sungguh beda dengan bu*rung milik Bara. Tapi aku tidak boleh diam saja. Aku akan pura-pura mende*sah agar Erlan percaya bahwa aku menikmati permainan ini. Padahal tidak terasa sama sekali.
"Sshhh .... ssshhhh ... ssshhhhh ... emmmmhh .. terus Sayang, ini nikmat sekali. Rasanya benar-benar membuatku melayang tinggi."
Bak lupa dengan perkara tidak ada darah yang membekas di sprei, Erlan tersenyum penuh arti. Hatinya teramat bahagia bisa memberikan kenikmatan untuk istrinya ini.
"Iya Sayang .... akan aku buat kamu terbang hingga ke langit ke tujuh!"
__ADS_1
****
Dinda hanya bisa melongo dan menelan salivanya kala melintas di depan kamar milik majikannya ini. Suara khas sepasang suami istri yang tengah bercinta itu benar-benar terdengar jelas bahkan bisa menembus dinding juga pintu kamar ini. (Untuk suaranya tidak perlu saya jabarkan ya Kak, pasti sudah pada tahu😆) Keduanya seolah saling berlomba-lomba untuk mencapai puncak kenikmatan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Sstttt .... sssstttt ... Sssstttt!"
Dinda terkesiap kala mendengar desisan dari seseorang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mbok Surti sudah memberikan isyarat dengan tangannya untuk mendatanginya.
"Kamu ini ngapain nguping di depan kamar den Erlan Din? Mau ikutan juga?"
Dinda hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. Karena sejatinya dia tidak menguping.
"Aduuhh Mbok, aku ini tidak nguping tapi tanpa sengaja mendengar suara-suara dari dalam kamar tuan Erlan. Suaranya kencang dan berisik sekali Mbok."
"Cckkcckk ... sudah, sudah, jangan lagi kamu nguping. Namanya juga pengantin baru. Bisa bahaya kalau kamu nguping Din!" ujar Surti memberikan peringatan.
"Hah? Bahaya? Bahaya kenapa Mbok?"
Gelak tawa Surti terdengar menggema di mini bar, sedangkan Dinda hanya bisa menunduk malu karena tiba-tiba saja ucapan Surti ini membuat pikirannya berkelana di masa-masa awal ia menjadi seorang istri. Hampir sama dengan sang majikan, suasana kamar selalu saja dipenuhi oleh de*sahan-de*sahan.
Astaga ... ini kenapa aku jadi merinding seperti ini? Haduuhhh, benar-benar tidak beres ini.
Cekleeekkkk...
Pikiran Dinda yang berkelana entah sampai mana seketika kembali ke asal setelah mendengar suara pintu kamar yang dibuka oleh si pemilik kamar. Tak selang lama, terlihat Jenica keluar dari dalam kamar yang hanya mengenakan lingerie berwarna maroon.
"Sedang apa kalian di sini? Apa pekerjaan kalian sudah selesai sehingga bisa santai-santai seperti ini?" tanya Jenica yang melihat dua orang asisten di apartement miliknya ini hanya berdiri terpaku di dekat mini bar.
Melihat keangkuhan yang terpancar dari raut wajah Jenica hanya membuat Surti berdecak kesal. Ia rasa Erlan benar-benar tidak pantas untuk mendapatkan istri seperti Jenica ini.
Issssshhhh .... belum apa-apa tapi kelakuannya sudah seperti nyonya besar. Aku khawatir den Erlan akan sering makan hati karena ulah istrinya.
__ADS_1
"Ya jelas sudah selesai semua lah. Kalau belum selesai bagaimana mungkin kita bersantai di sini," jawab Surti yang juga tidak kalah angkuh.
"Kalau memang sudah selesai, masuk kamar saja kalian berdua. Jangan pernah sentuh area ruangan ini!" titah Jenica dengan lantang.
Surti membelalakkan mata. Ia sungguh terkejut karena dilarang berada di area mini bar. Padahal sebelum Erlan menikah, mereka bisa bebas berada di ruang manapun kecuali ruangan kerja Erlan dan kamar pribadinya.
"Jangan sembarangan melarang orang untuk berada di tempat ini Nyah. Area mini bar ini bebas untuk siapa saja. Bahkan dari dulu den Erlan tidak pernah melarang."
"Itu dulu, sebelum Erlan menikah. Sekarang aku sudah menjadi nyonya di apartement ini jadi semua harus berjalan sesuai dengan apa yang aku mau. Paham kalian?" ucap Jenica tegas. Sedangkan Surti dan Dinda sama sekali tidak memberikan respon apapun.
"Itu lagi, kenapa kamu malah bengong seperti itu?" sambung Jenica yang melihat Dinda hanya berdiri mematung dan melongo.
Dinda sedikit terkesiap. Ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya saat menatap lekat tubuh majikannya ini.
"Eh, tidak apa-apa Nyonya. Apa ada yang Nyonya perlukan? Biar saya ambilkan."
Jenica sama sekali tidak merespon penawaran Dinda. Kerongkongannya seakan kering kerontang dan ia rasa harus membuka kulkas yang ada di hadapannya.
"Awas saja kalau kalian masih berkeliaran di area ini. Aku tidak akan segan untuk memotong gaji kalian karena tempat kalian hanya di dapur dan juga kamar. Mengerti?"
Jenica mengambil soft drink dari dalam kulkas. Setelahnya, tanpa basa-basi wanita itu kembali melenggang pergi untuk kembali ke dalam kamar.
"Itu kenapa si nyonya baru uring-uringan tidak jelas ya Din? Apakah dia tidak puas dengan ritual malam pertamanya dengan den Erlan?" tanya Surti yang di wajahnya nampak sebuah tanda tanya besar.
"Aku rasa tidak begitu Mbok. Simbok lihat leher non Jenica kan? Penuh bekas tanda merah. Itu artinya non Jenica maupun tuan Erlan sama-sama menikmati permainan mereka. Masa iya kalau tidak bergairah dan tidak merasa puas leher non Jenica sampai merah-merah seperti itu?"
"Hahahaha!" tawa Surti tiba-tiba saja menggema. "Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu paham tentang hal-hal semacam itu Din!"
.
.
__ADS_1
. bersambung..