
Dinda terduduk lemas di atas ranjang sembari menatap layar ponselnya dengan nanar. Setelah berbincang sebentar dengan sang suami, rasa rindu itu tidak justru terobati. Namun hanya menyisakan sebuah tanda tanya besar di dalam pikiran dan juga hati. Sungguh, apa yang diucapkan oleh Bayu seakan membuatnya tiada berarti sebagai seorang istri. Apa salahnya menghubungi suaminya sendiri? Mengurai rasa rindu yang membelenggu karena terpisah jarak dan waktu. Dan hanya bisa terobati dengan saling menatap melalui layar gawai.
"Semakin ke sini mengapa aku merasa mas Bayu semakin berubah? Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Berbeda jauh dari awal pertama kami menikah dahulu."
Dinda sibuk bermonolog lirih sembari menatap foto pernikahan yang tersimpan di dalam handphone. Memory nya seakan jauh berkelana di mana dia untuk kali pertama menjadi istri dari Bayu. Semua terasa begitu manis. Bak cotton candy.
"Ya Allah ... aku ikhlas ikut bekerja keras membanting tulang, tapi mengapa suamiku seolah tidak mau tahu akan beban rasa rindu yang aku miliki untuknya? Apa mungkin, aku memang harus membatasi komunikasiku dengan mas Bayu sebagai celengan rindu? Aahhh ... rasa-rasanya teramat berat."
Rasa lelah tiba-tiba saja menyergap tubuh Dinda. Bahkan rasa kantuk juga terasa begitu menyiksa. Ia pun merebahkan diri di atas ranjang dan tanpa menunggu waktu lama, wanita itu terlelap dalam tidurnya.
***
Sementara itu, di sebuah kamar yang letaknya tidak begitu jauh dari kamar Dinda, terlihat sepasang suami istri sama-sama duduk sembari termenung. Suasana terasa hening karena tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Erlan memilih duduk di sofa kecil yang ada di dalam kamar, sedangkan Jenica duduk di bibir ranjang.
"Lan, sebenarnya ada apa? Apa ingin yang kamu bicarakan? Tiga puluh menit kita di sini, namun kamu hanya berdiam diri seperti itu. Ada apa Lan? Ada apa?"
Jenica memijit-mijit pelipisnya, merasa bingung dengan sikap dan perilaku sang suami yang baru beberapa saat yang lalu tiba di rumah. Kopi buatan Dinda yang ia akui sebagai hasil buatannya belum tersentuh sama sekali oleh Erlan. Suaminya itu justru memintanya untuk masuk ke kamar. Namun, sampai tiga puluh menit berada di kamar, suaminya ini hanya terdiam dan membisu.
"Jen, siapa orangnya?"
Erlan langsung menembak sebuah pertanyaan kepada Jenica. Setelah perbincangannya dengan Joni di kantor siang tadi membuat lelaki itu dikungkung oleh perasaan tak menentu. Ingin rasanya ia tidak mempercayai semua yang dikatakan oleh sang asisten, namun semakin ia pikir secara baik-baik, semua yang diucapkan Joni sangatlah logis.
Dahi Jenica berkerut dalam. Setelah sebelumnya ia dibuat penasaran oleh perilaku sang suami, kini ia dibuat bertanya-tanya dengan pertanyaan sang suami yang sangat sulit untuk ia pahami.
"Orangnya? Maksud kamu orang siapa Lan? Aku sungguh tidak paham dengan pertanyaanmu."
"Orang yang sudah merenggut keperawananmu!"
__ADS_1
Jenica terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Erlan yang langsung menancap tepat di jantung hati. Erlan yang ia pikir tidak terlalu paham dengan keperawanan ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Suaminya ini bertanya perihal keperawanan setelah semalam lelaki itu hanya diam saja. Sedikitpun tidak membahas perihal keperawanan.
"Lan, aku ...."
"Sebelumnya aku masih bisa berpikir positif bahwa kamu tidak berdarah saat malam pertama karena hymen mu tipis sehingga mudah ditembus. Tapi melihatmu tidak merintih kesakitan seakan menegaskan bahwa kamu memang sudah tidak perawan lagi!" timpal Erlan dengan deru napas yang memburu.
Jenica semakin terhenyak. Keadaan kali ini sungguh hanya membuatnya kebingungan setengah mati. Ia harus memutar otak untuk bisa memberikan jawaban yang logis.
Aku tidak merintih kesakitan bahkan mende*sah merasa nikmat karena burungmu yang kecil Lan. Burung cuma segede kelingking aja kok minta aku merintih kesakitan dan merasa nikmat. Aku yakin, siapapun istrimu pasti tidak akan pernah puas dengan permainan ranjangmu.
"Lan, itu sebenernya aku ti..."
"Siapa orang itu Jen? Siapa lelaki yang sudah merenggut keperawananmu!"
Hening ... tidak ada respon sedikitpun dari mulut Jenica. Wanita itu menundukkan wajah, larut dalam pikirannya sendiri. Keheningan ini justru membuat Erlan semakin tidak sabar untuk segera mendengar jawabannya. Ia bangkit dari sofa dan merapatkan tubuhnya di tubuh Jenica. Ia berdiri di hadapan Jenica dan ia pegang kedua pundak sang istri dengan erat.
Dibelenggu oleh amarah yang membara karena merasa dihianati, Erlan sampai mengguncang pundak Jenica dengan kedua tangannya. Lelaki itu semakin dibuat tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan oleh sang istri.
Erlan mengernyitkan dahi saat mendengar isak tangis yang terdengar lirih merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia menajamkan indera penglihatannya dan terlihat istrinya ini sedang meneteskan air mata.
"Akhirnya, yang aku takutkan terjadi juga," lirih Jenica yang masih belum mau untuk mendongakkan wajahnya. Ia tetap menundukkan kepala.
"Maksudmu apa Jen? Apa yang kamu takutkan? Kamu takut kebusukanmu terbongkar bahwa kamu adalah wanita murahan yang sudah bermain api di belakangku? Begitukah maksudmu?"
Sialan, Erlan bisa menebak apa yang aku sembunyikan. Tenang Jen, jangan panik. Kamu harus bisa mencari celah untuk mengelabui Erlan.
"Stop Lan, bukan seperti itu kejadiannya!"
"Lantas, kejadian apa yang kamu alami? Selama lima tahun kita menjalin hubungan, aku sama sekali tidak pernah melakukan hal semacam itu. Dan kini, aku menerima kenyataan bahwa kamu sudah tidak lagi perawan. Siapa yang sudah merenggut itu semua Jen?" teriak Erlan tak kalah lantang seraya mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Aku takut kejadian di masa lalu yang sudah susah payah aku kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan. Yang mungkin akan kembali membuatku trauma."
Erlan masih terdiam. Mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan oleh Jenica . Jenica menghela napas dalam dan perlahan ia hembuskan. Kini, ia tatap wajah Erlan dengan intens. Diiringi dengan air mata yang mulai menetes dari jendela hati dan menyusuri wajahnya. Ia terisak, dadanya pun naik turun tiada beraturan seakan menahan rasa sesak.
"Aku dilecehkan Lan. Aku diperkosa oleh lelaki tidak bertanggung jawab di waktu SMA. Dia sudah menodaiku dan merenggut kesucianku!"
Jenica kembali menundukkan wajah. Tubuhnya bergetar hebat, seakan terguncang dan trauma saat menceritakan perihal cerita masa lalunya yang sungguh kelam. Ucapan itulah yang membuat Erlan terhenyak. Tubuhnya seketika membeku.
"Jen ... Kamu?"
"Ya, aku diperkosa. Kehormatanku direnggut paksa oleh lelaki bia*dab yang tidak memiliki perikemanusiaan. Saat itu aku dicekoki dengan minuman yang sudah dicampur oleh obat tidur dan ketika aku bangun tiba-tiba aku sudah dalam keadaan berantakan."
"Jen...."
"Sekarang jika kamu menyalahkan aku atas kejadian kelak yang tidak aku inginkan itu, aku terima Lan. Aku yang salah karena selama ini aku tidak pernah bercerita perhal masa laluku itu."
"Mengapa kamu tidak pernah bercerita tentang hal itu Jen? Mengapa kamu hanya diam saja?"
"Aku tidak pernah mengatakannya kepadamu ataupun menceritakan kepadamu karena aku pikir itu semua adalah aib yang harus aku tutupi Lan. Aku tidak ingin calon suamiku kecewa karena aku yang sudah ternoda ini. Tapi ternyata aku keliru. Saat ini aku melihatmu begitu kecewa kepadaku..."
Jenica menjeda sejenak ucapannya. Ia raup dalam-dalam sisa oksigen yang masih tersisa di dalam kamar ini. Air mata miliknya tidak berhenti tapi justru semakin deras mengalir.
"Lan, aku mengerti jika tidak semua laki-laki bisa menerima keadaanku yang sudah tidak suci ini. Jika kamu memang ingin meninggalkanku karena aku sudah tidak perawan, aku persilakan. Atau jika kamu menginginkanku untuk pergi darimu, akan aku lakukan."
.
.
. bersambung...
__ADS_1