
Dinda berdiri di balik jendela sembari menatap lekat butiran-butiran embun yang bergelayut manja di atas dedaunan. Mata wanita itu masih terlihat begitu sembab dan sayu seakan mempertegas bahwa semalam wanita itu larut dalam tangisnya dan tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan benar. Sekuat tenaga ia mencoba untuk meredam air matanya namun ternyata sia-sia saja karena butiran-butiran bening itu masih begitu deras mengalir.
"Din, apakah kamu yakin sudah siap menemui suamimu hari ini? Jika memang kamu belum siap, kamu bisa mengurungkan niatmu itu Din."
Surti bertanya seraya berjalan mendekat ke arah Dinda. Wanita itu ikut berdiri di balik jendela di samping Dinda. Matanya pun juga tidak lepas dari keindahan yang berada di luar sana. Meskipun hanya ada barisan tanaman padi yang telah menguning.
Dinda menghala napas dalam-dalam. Rongga dadanya seakan kekurangan oksigen sehingga membuatnya begitu sesak. Namun sesesak apapun ia harus tetap kuat untuk menjalaninya.
"Mau hari ini, besok, lusa, atau atau satu bulan lagi tidak akan pernah mengubah kenyataan kan Mbok? Kenyataan bahwa mas Bayu sudah menghianati pernikahan kami dengan menikahi siri wanita lain."
"Tapi Simbok benar-benar khawatir jika kamu tidak kuat untuk menghadapi kenyataan ini Din. Simbok hanya khawatir jika hal ini sampai merusak mentalmu."
Tatapan mata Dinda terlihat begitu menerawang ke arah luar sana. Ia jemarinya terulur untuk mengusap air mata yang seakan tidak mau berhenti mengalir.
"Sejak ditinggal oleh ayah dan ibuku, aku sudah terbiasa untuk menguatkan diriku sendiri Mbok. Aku terbiasa untuk menghadapi kepelikan-kepelikan hidup seorang diri. Ternyata ini adalah maksud yang terselip di kala Allah mengambil kedua orang tuaku terlebih dahulu. Ternyata Allah menempa hatiku untuk menghadapi ujian hidup yang jauh lebih besar."
Kepala Dinda menunduk. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah. Wanita itu menangis tergugu di sana.
"Seharusnya mereka masih ada di sini Mbok, untuk memberiku kekuatan. Dan seharusnya mas Bayu dan ibunya bisa menjadi sosok pengganti kedua orang tuaku yang sudah pergi. Tapi kenyataannya mereka justru melakukan hal ini kepadaku. Apa sebenarnya salahku Mbok, apa?"
Surti sedikit terhenyak mendengar tangis Dinda yang semakin menjadi. Tanpa pikir panjang, ia menarik lengan tangan Dinda dan ia bawa ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kamu bisa meluapkan semuanya kepada Simbok Din. Kamu bisa menganggap Simbok ini sebagai orang tuamu. Dan jangan pernah kamu pendam itu sendirian."
Dinda semakin larut dalam kesedihannya. Seketika memori ingatannya tertuju pada masa-masa di mana ia masih berpacaran dengan Bayu. Rupanya tiga tahun menjalani masa pacaran dan hampir satu tahun ia menjalani kehidupan berumah tangga bersama Bayu tidak bisa menjadi jaminan bahwa hubungannya itu akan abadi untuk selamanya, seperti mimpi-mimpi yang ia punya.
Orang yang paling ia cinta ternyata menjadi orang yang paling dalam menusuk luka di hatinya. Dan rasa percaya yang selama ini ia jadikan sebagai kunci dalam sebuah hubungan ternyata justru menjadi senjata Bayu untuk membunuhnya secara perlahan.
"Terima kasih banyak ya Mbok. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika tidak pernah bertemu dan mengenal mbok Surti."
Surti masih dengan sabar dan penuh kelembutan mengusap punggung wanita ini. "Sabar ya Din. Ini semua pasti akan segera berlalu dan kamu akan segera melihat pelangi setelah badai ini."
"Semoga saja memang ada pelangi setelah ini, Mbok."
"Lantas, langkah apa yang akan kamu tempuh setelah ini? Apakah kamu akan tetap mempertahankan rumah tanggamu bersama Bayu dengan ikhlas dimadu. Ataukah kamu memilih untuk..."
Dinda mengurai sedikit pelukannya dari tubuh Surti. Ia kembali menatap ke arah luar jendela di mana sang surya mulai menampakkan wajahnya. Diiringi dengan sinar-sinar emas yang terlihat di ufuk timur.
"Tidak ada satu wanita pun yang rela di madu, Mbok. Terlebih tidak bisa bagi seorang laki-laki menggenggam dua hati yang berbeda. Pasti akan ada salah satu yang terluka. Dan aku tidak bisa menerima itu semua."
"Jadi maksud kamu, kamu akan..."
Dinda menganggukkan kepala mantap. "Aku akan menemui mas Bayu untuk menyelesaikan ini semua Mbok."
__ADS_1
Surti menghela napas panjang. Ia mengusap-usap lengan tangan Dinda untuk menguatkannya. Sebagai sesama kaum perempuan, ia bisa merasakan seperti apa hancurnya seonggok daging yang bernyawa dalam raga Dinda ini. Dan yang lebih membuat Surti begitu iba, wanita sebaik dan setulus Dinda justru disatukan dengan orang yang salah. Namun kembali lagi, semua yang terjadi dalam diri manusia memang sudah sesuai dengan takarannya.
Mobil warna putih memasuki halaman rumah Surti. Mobil itu berhenti dan tak selang lama keluarlah sosok seorang wanita yang masih terlihat begitu anggun meskipun usianya tak lagi muda. Bahkan sudah memasuki usia senja. Pandangan Surti dan Dinda fokus ke arah wanita itu.
Tak selang lama terdengar suara pintu yang diketuk dari arah depan. Dinda dan Surti bergegas membukakan pintu untuk Kartina.
"Kartina!" sapa Surti menyambut kedatangan temannya ini.
Kartina mengulas sedikit senyumnya. Meskipun mata wanita itu juga terlihat begitu sembab. Sepertinya wanita itu semalam juga larut dalam kesedihannya mendapati kenyataan bahwa sang menantu ternyata masih terikat sebuah tali pernikahan dengan seorang wanita.
"Aku datang kemari untuk memenuhi janjiku. Janji untuk mengantarkan Dinda bertemu dengan Bayu." Kartina menatap lekat netra Dinda. "Apakah kamu siap untuk bertemu Bayu hari ini, Nak?"
Tanpa ragu, Dinda menganggukkan kepala. "Iya Bu, saya sudah siap. Lebih cepat pastinya akan lebih baik agar keadaan seperti ini tidak berlarut-larut."
Kartina menghela napas dalam. Ia raih telapak tangan Dinda ini dan kemudian ia genggam dengan erat. "Apapun itu, Ibu akan mendukung semua jalan dan langkah yang kamu ambil, Nak. Semoga ada banyak hikmah dan pelajaran hidup dari apa yang kamu alami ini."
"Aamiin Bu. Terima kasih."
Pada akhirnya tiga orang wanita itu berjalan beriringan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan. Mereka mengambil posisi masing-masing. Perlahan mobil itu bergerak meninggalkan kediaman Surti.
.
__ADS_1
.
. bersambung