Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 41. Pingsan


__ADS_3


"Masih kuat kan Din?"


Tanpa sedikitpun merasa berdosa, Jenica melontarkan sebuah pertanyaan kepada Dinda yang saat ini nampak tergopoh-gopoh membawa barang belanjaan. Di tangan asisten rumah tangga yang baru sehari menjalani pekerjaannya itu nampak berpuluh-puluh paper bag yang tak lain adalah barang-barang yang akan digunakan sebagai seserahan. Ia terlihat begitu kesusahan. Namun sebisa mungkin, Dinda tersenyum manis.


"I-iya Nona, saya masih kuat kok."


"Baguslah kalau gitu. Sebagai pembantu, fisik kamu harus kuat. Karena setiap hari kamu harus berjibaku dengan pekerjaan-pekerjaan seperti ini."


"Iya Nona."


Jenica menghentikan langkah kakinya saat tiba di depan sebuah food court yang ada di mall ini. Sejenak, ia menatap lekat food court ini dan ia pun tersenyum simpul.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya Din. Aku ingin membeli sesuatu terlebih dahulu. Aku tidak lama kok."


Dinda menganggukkan kepala. "Baik Nona, saya akan menunggu di sini."


Jenica lantas memasuki food court ini. Sedangkan Dinda meletakkan barang bawaannya untuk menghilangkan rasa pegal di pergelangan tangannya. Nampaknya berbelanja dengan nominal lima puluh juta lebih cukup membuatnya begitu kewalahan.


Dinda sedikit menatap Jenica dari kejauhan. Ia menyunggingkan senyum karena ternyata calon majikannya ini berhati mulia. Membelikan minuman ataupun makanan untuknya. Sangat pas sekali. Karena saat ini perutnya terasa begitu keroncongan dan kerongkongannya pun terasa kering kerontang.


Meskipun sedikit judes, tapi ternyata non Jenica berhati mulia. Ia tahu saja kalau aku ini kelaparan dan kehausan. Karena sejak tadi pagi perutku benar-benar belum terisi.


"Din, ayo kita lanjut lagi. Kita tinggal mencari skincare, setelah itu kita pulang."


Srrruuppppp ... aaahhhhh...


"Nikmat sekali jus anggur ini. Memang top jus anggur yang ada di sana."


Dinda hanya bisa melongo melihat sang majikan yang begitu menikmati satu cup jus anggur di tangannya. Bahkan Dinda sampai ikut menelan salivanya seakan menegaskan bahwa ia ikut merasakan kenikmatan jus anggur itu meskipun hanya sebatas angan belaka.


"Hei, kamu kenapa? Mengapa bengong seperti itu?"


Jenica menepuk bahu Dinda yang seketika menyadarkan asisten rumah tangga itu dari lamunannya. Matanya mengerjab dan mulai meraih kesadarannya.


"Eh ... iya Nona, ada apa?"

__ADS_1


Jenica tergelak pelan. "Kamu ini kenapa bengong. Ayo kita lanjut lagi. Cari skincare setelah itu pulang. Kamu masih kuat kan?"


Mau tak mau Dinda menganggukkan kepala meskipun rasanya perut sudah teramat lapar dan dahaga. "Iya Nona, saya masih kuat kok."


Jenica kembali menganyunkan kaki untuk memasuki salah satu outlet skincare terkenal yang berada di mall ini. Senyum sinis pun tercetak di bibir wanita itu.


Rasakan kamu Din. Anggap saja ini adalah luapan rasa kesalku karena memakai pakaian almarhum mama mertuaku. Aku saja tidak pernah diijinkan oleh Erlan untuk mengenakannya. Eh, kamu orang luar dan hanya pembantu bisa-bisanya melangkahiku. Benar-benar tidak tahu diri.


Dinda yang berjalan di belakang punggung Jenica hanya bisa mengumpat dalam hati. Padahal sejauh ini Dinda bukanlah orang yang sering mengumpat, tapi bagi wanita itu perilaku sang majikan benar-benar keterlaluan.


Nyesel aku sempat memuji non Jenica berhati mulia. Ternyata ia tak lebih seperti ratu tega. Tega membuat kelaparan dan kehausan pekerjanya. Ya Allah ... berapa jam lagi prosesi belanja ini berakhir? Semoga aku kuat sampai di rumah.


Dinda berjalan gontai sambil menekuri jejak-jejak langkah kakinya. Begitu lapar dan dahaga, sampai-saampai ia tidak kuat untuk menegakkan kepala. Ditambah dengan tangannya yang terasa pegal-pegal yang seakan menambah beban penderitaannya.


***


Ojek online yang ditumpangi oleh Dinda tiba di depan kawasan apartemen milik Erlan. Setelah dibuat kecewa oleh Jenica karena dibiarkan kelaparan dan kehausan, asisten rumah tangga itu juga kembali dibuat geleng-geleng kepala oleh sikap majikannya. Di pertengahan jalan, Dinda diturunkan dan diminta untuk kembali ke apartemen menggunakan ojek online.


"Totalnya lima belas ribu Mbak," ucap driver ojek online kepada Dinda setelah wanita itu mengembalikan helm yang ia pakai.


Dinda tersenyum kikuk seraya menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal. "Mas, saya naik sebentar ya untuk mengambil uang. Saya sama sekali tidak membawa uang."


"Menipu? Menipu bagaimana Mas?"


"Mbak ini hanya modus kan? Modus untuk mencari tumpangan geratis?" tebak driver ojek online ini.


"Eh sama sekali tidak Mas, saya tidak menipi dan tidak mencari tumpangan geratis. Saya itu tinggal di apartemen ini Mas, dan uang saya ada di sana," ucap Dinda mencoba meyakinkan si driver ojek.


"Cckkkcckkkk ... kalau mau menipu itu pikir-pikir dulu Mbak. Masa iya ada penghuni apartemen mewah dan elite seperti ini tapi sama sekali tidak punya uang? Hanya lima belas ribu loh Mbak," sangkal driver ojek tak percaya jika Dinda tinggal di apartemen ini.


"Sudah saya katakan kan Mas, uang saya ada di atas, saya ambil terlebih dahulu dan Mas-nya tunggu sebentar di sini."


"Aahhh, aku tidak percaya Mbak. Lebih baik sekarang Mbak ini langsung bayar daripada saya laporkan ke polisi karena tidak mau membayar ongkos ojek. Ayo cepetan Mbak, bayar. Aku keburu ada acara malam mingguan ini!" desak si driver seraya menengadahkan telapak tangan, meminta ongkos ojek.


"Mas, saya ambil dulu di atas. Dompet saya tidak saya bawa."


"Tidak Mbak, pokoknya sekarang. Mana uangnya?"

__ADS_1


Sedangkan dua orang yang berada di sebuah mobil yang kebetulan juga akan memasuki kawasan apartemen terlihat saling berpandangan. Mereka keheranan saat dari dalam mobil nampak seorang driver ojek online tengah berseteru dengan penumpangnya.


"Loh, Dinda?" ucap Erlan lirih.


Meskipun lirih namun tetap saja terdengar di telinga Joni. Asisten pribadi Erlan itu mengernyitkan dahi. "Dinda? Dinda siapa Lan? Kamu kenal?"


"Dia asisten rumah tangga yang baru pengganti mbok Surti Jon. Kok dia bertengkar dengan driver itu? Memang ada salah apa dia?"


"Ya mana aku tahu, Lan. Aku tidak mempunyai indera keenam, jadi aku tidak tahu," seloroh Joni asal.


Erlan hanya berdecak kesal. Bisa-bisanya asistennya ini bercanda. "Kamu ini malah bercanda. Sebentar, aku turun dulu. Ada apa dengan Dinda sampai terlibat pertengkaran dengan driver ojek online itu?"


Tanpa basa-basi, Erlan melepas safety belt dan bergegas keluar dari dalam mobil. Ia menghampiri Dinda dan driver itu.


"Hei, Hei, Hei, ada apa ini?" teriak Erlan dengan wajah tegas.


Dinda menoleh ke arah sumber suara. "Tuan Erlan?"


"Ini ada apa? Kenapa kamu bertengkar dengan driver ojek online ini?"


Driver ojek ini ikut menautkan pandangannya ke arah Erlan. "Anda suami Mbak ini ya? Eh Mas, lain kali jangan tinggalin istrinya di pinggir jalan dong. Mana tidak dikasih uang lagi." Driver ojek online ini menatap lekat wajah Erlan dan tersenyum sinis. "Pakaian aja formal, memakai jas, bersepatu pantofel, eh tapi tidak ngasih duit ke istri. Malu Mas, sama pakaian kamu ini!"


Erlan dan Dinda sama-sama terhenyak. Dari raut wajah keduanya menampakkan sebuah tanda tanya.


"Eh, maksud kamu apa? Siapa yang jadi istri saya? Jangan asal bicara Anda!" ucap Erlan memberi peringatan.


"Loh benar kan yang saya katakan? Anda ini suami dzolim Mas, masa tidak ngasih uang ke istri dan menurunkannya di pinggir jalan. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!"


Erlan membuka mulutnya. Bermaksud untuk menimpali ucapan driver ojek online ini. Namun, baru saja ia akan bersuara tiba-tiba....


"Loh, loh, loh!"


Hap!!!


"Dinda!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2