
"Jenica, keterlaluan kamu!"
Erlan menarik paksa lengan tangan Jenica sesaat setelah istrinya ini menyiram Dinda dengan air yang berada di dalam ember. Kali ini, perbuatan Jenica benar-benar keterlaluan. Akibat perbuatan sang istri sampai membuat tubuh Dinda basah kuyup.
"Lepaskan tanganku Lan! Aku harus memberikan pelajaran kepada pembantu ini agar dia tidak seenaknya sendiri."
Jenica bersusah payah untuk bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat tangan sang suami. Namun apalah daya, power yang dimiliki oleh Erlan terlampau besar, hingga apa yang ia lakukan hanya menjadi kesia-siaan.
"Stop Jen, jangan berlebihan seperti itu. Apa yang dilakukan Dinda bukanlah kesalahan fatal. Dia tidak mencuri, dia tidak merusak barang-barang yang ada di apartemen ini dan dia tidak melakukan tindakan kriminal apapun jadi tidak perlu mendapatkan hukuman!"
Erlan dibuat gemas dengan sikap Jenica yang sungguh keterlaluan di matanya. Bagi lelaki itu apa yang dilakukan oleh sang istri sangatlah kekanak-kanakan.
Jenica berdecih lirih. Melihat sikap Erlan yang selalu membela pembantunya ini justru hanya membuatnya over thinking.
"Selalu saja seperti ini, selalu saja kamu membela pembantu tidak tahu diri ini. Sebenarnya kamu itu kenapa Lan? Kenapa kamu selalu saja membelanya? Kamu suka sama pembantu ini?"
"Tuan, Nona, sudah. Jangan meributkan hal-hal seperti ini!" Untuk kesekian kalinya, Dinda mengusap wajahnya untuk menghilangkan sisa-sisa air yang terasa begitu perih mengenai matanya. "Nona Jenica, saya minta maaf jika apa yang saya lakukan ini merupakan satu kesalahan. Lain kali, saya tidak akan tidur di jam yang bukan waktunya tertidur Nona."
"Din, kamu tidak perlu seperti itu. Jika memang kamu mengantuk, tidak masalah kalau kamu tertidur," ujar Erlan yang ia rasa sudah berada dalam porsi yang benar.
"Tidak bisa begitu dong Mas. Dinda itu pembantu, seharusnya dia menaati semua peraturan yang ada di sini. Tidak bisa seenaknya seperti itu!" Jenica tetap kekeuh untuk memberikan argumentasi yang ia miliki.
"Jen, di tempat ini aku yang berhak untuk membuat peraturan dan tidak ada peraturan seperti apa yang kamu katakan itu. Tidak ada!"
"Tapi Lan!"
"Stop Jen!" Erlan menarik paksa tubuh Jenica untuk bisa pergi dari kamar mandi. "Din, segera bersihkan tubuhmu. Takutnya kamu masuk angin!"
Erlan dan Jenica berlalu pergi meniggalkan kamar mandi. Sedangkan Dinda, wanita itu hanya bisa mengangguk pelan. Sedetik kemudian air matanya menetes perlahan. Entah apa yang dirasakan wanita itu setelah disiram oleh majikannya.
Ya Tuhan ... ternyata seperti ini rasanya bekerja menjadi pembantu. Semoga suatu hari nanti keadaanku ini bisa berubah, Tuhan.
****
Capcay seafood dengan udang, telah tersaji di atas meja. Aromanya menguar memenuhi indera penciuman. Membuat siapa saja yang berada di dekatnya ingin segera menikmatinya.
__ADS_1
Jenica duduk di salah satu bangku, berhadapan langsung dengan Erlan yang duduk di seberang. Wajahnya masih bermuram durja sebagai salah satu pertanda bahwa hati dan juga perasaannya tengah dipenuhi oleh rasa kesal yang teramat mendera. Untuk tersenyum pun, rasa-rasanya tidak sanggup untuk ia lakukan.
"Ada apa kamu Jen? Mengapa kamu hanya diam seperti itu? Makanlah, tidak baik terlalu lama membiarkan makanan yang sudah tersaji ini!"
Erlan mengambil nasi dan juga capcay yang sudah terhidang. Ia berdecak pelan, karena diabaikan saja oleh sang istri. Biasanya jika seorang suami akan memulai ritual makan, pastilah sang istri yang mengambilkan nasi beserta sayur juga lauk pauknya. Tapi ini yang terjadi justru sebaliknya. Jenica nampak abai begitu saja.
"Aku gak na*fsu makan. Lebih baik aku di kamar saja!"
Jenica beranjak dari tempatnya. Saat ia akan mengayunkan tungkai kaki...
"Kembali duduk Jen!" titah Erlan dengan sorot mata tajam.
"Tapi aku gak na*fsu makan Lan. Aku ingin di kamar saja!"
"Aku bilang duduk ya duduk. Kamu masih bisa mendengar kan?"
Bibir Jenica mencebik. Ia tatap wajah suaminya ini dengan tatapan sinis dan kesal. Ia merasa bahwa Erlan tidak pernah peka dengan suasana hatinya. Akhirnya, ia memilih untuk menuruti kemauan Erlan. Kembali ia daratkan bokongnya di atas kursi makan.
"Hargai pekerjaan Dinda. Dia sudah susah payah masak untuk kita. Masa iya, kita tidak memakannya?"
Kali ini suara Erlan terdengar jauh lebih pelan dari sebelumnya. Ia rasa, tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami semakin besar. Ia harus bisa mendidik dan juga mengarahkan istrinya ini ke hal-hal yang baik.
"Bukan memaksa Jen, tapi mubadzir jika makanan yang sudah tersedia ini sama sekali tidak tersentuh. Paham kan maksudku?"
"Kamu ini cerewet sekali. Aku heran, setelah ada pembantu itu, mengapa kamu jadi tidak asyik seperti ini sih? Tidak seperti yang pernah aku kenal dulu. Semakin menjengkelkan."
Jenica mendengus kesal melihat sikap sang suami yang selalu saja membela Dinda. Selalu saja perasaan orang lain yang ia utamakan. Buka perasaan istrinya sendiri.
Sedangkan Erlan, dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat sikap istrinya yang sedikit berlebihan itu. Namun, ia tidak mau ambil pusing. Ia menanggapi santai sikap istrinya ini. Ia memilih untuk melanjutkan ritual makan malamnya. Erlan terlihat begitu lahap menikmati hasil masakan asisten rumah tangganya ini.
Jenica mengisi piringnya dengan nasi dan juga capcay. Dengan mala, ia mulai menyendok hidangannya untuk kemudian ia masukkan ke dalam rongga mulutnya.
Baru sebentar makanan itu mendarat di indera pengecapnya, tiba-tiba...
Bueeehhhhh...
Jenica menyemburkan makanan yang ia nikmati dan bergegas meneguk air putih yang sudah tersedia. Hal ini lah yang membuat Erlan terkejut setengah mati.
__ADS_1
"Ada apa Jen? Mengapa kamu muntahkan makanan itu?"
"Selera makananmu itu sebenarnya seperti apa sih Lan? Makanan dengan rasa tidak karuan seperti ini kok bisa menjadi makanan favoritmu? Masakan ini dengan masakan yang di jual di warung tegal, jauh lebih enak yang di warung tegal. Aku benar-benar tidak mau makan!"
"Tidak karuan bagaimana? Masakan Dinda enak kok. Rasanya pas di lidahku!" tanya Erlan dengan kernyitan di dahinya.
Tak ingin dipaksa lagi, Jenica hanya terdiam sembari menyilangkan lengan tangannya di depan dada. Ia masih berada di dalam mode hening, menatap Erlan yang begitu lahap memakan masakan buatan Dinda.
"Dinda...!!!!"
Jenica berteriak lantang memanggil nama sang pembantu. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling untuk mencari keberadaan Dinda, namun wanita itu sama sekali tidak menemukan di mana Dinda berada.
"Jen, kalu mau apa? Sudah cukup kamu mencari masalah. Jangan ganggu Dinda lagi!" perintah Erlan. Ia merasa akan terjadi keributan lagi antara istrinya dengan Dinda.
"Diam Lan. Kali ini, kamu diam saja. Aku harus mengajukan protes kepada pembantumu itu."
Dinda yang tengah berada di dalam kamar untuk menyetrika sampai tergopoh-gopoh dalam membawa tubuhnya untuk lebih dekat dengan Jenica. Ia bertekad tidak aka mencari masalah lagi terlebih ribut bersama majikannya sendiri.
"Iya Nona, ada apa?"
"Ada apa, ada apa?" Jenica menyodorkan capcay hasil masakan Dinda. "Coba kamu rasakan masakanmu! Benar-benar kacau!"
Dinda menundukkan kepala, merasa tak enak hati. "Maaf Nona, jika masakan saya tidak enak. Lain kali akan saya perbaiki lagi."
"Kamu ini benar-benar tidak becus bekerja ya. Kamu tahu masakan tidak enak seperti ini pantasnya diapakan?"
Dinda masih terdiam tak memberikan respon apapun. Sedangkan Erlan, lelaki itu sudah menangkap sinyal tidak mengenakkan dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Dinda.
"Masakan seperti ini, pantasnya di buang di depan orang yang memasaknya!"
Tanpa menghargai sedikitpun kerja keras Dinda dalam membuat masakan ini, Jenica menumpahkan capcay di depan mata kedua bola mata Dinda. Dinda yang melihat kejadian ini hanya bisa menunduk pasrah. Air matanya mulai menetes karena pekerjaan yang tidak dihargai oleh majikannya.
"Jenica!!!!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...