Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 76. Semakin Lancar


__ADS_3

"Hahaha .... Akhirnya, kita jadi orang kaya Bu!"


Bayu tertawa girang sembari menatap lekat amplop cokelat besar yang ada di tangannya. Tak lupa, ia juga mengendus-endus amplop itu, mencium aroma segar nan semerbak yang muncul di permukaan. Bagaimana tidak segar dan semerbak jika di dalam amplop itu berisikan gepokan-gepokan uang senilai tiga ratus juta rupiah. Uang hasil dari menggadaikan sertifikat rumah milik sang istri.


"Baru kali ini Ibu melihat uang sebanyak ini Bay. Waaoowwww, wanginya saja sampai memenuhi ruangan ini. Ternyata begitu mudah jalan kita untuk menjadi orang kaya."


Tak jauh berbeda dari Bayu, Sonya juga ikut kegirangan tiada terkira. Ternyata takdir berpihak kepadanya. Bisa menjadi wanita kaya raya diusianya yang menjelang senja seperti ini. Setelah mendapatkan uang tiga ratus juta dari hasil menggadaikan rumah sang menantu, sebentar lagi ia juga akan menikmati banyak uang dari Maya. Pastinya menantunya yang baru.


"Betul sekali Bu, ternyata benar bahwa setelah hujan pasti akan datang pelangi. Setelah kita diombang-ambingkan oleh keadaan, akhirnya kita bisa kembali menjadi orang kaya. Tak kusangka jika rumah Dinda ini bernilai tinggi. Pak Agus sampai berani meminjami kita uang tiga ratus juta dengan jaminan sertifikat rumah ini."


"Ya, tepat sekali itu Bay, bisa jadi kalau dijual rumah ini akan laku sampai lima ratus juta. Entah apa yang menarik dari rumah ini, padahal rumah ini hanya kecil dan mirip dengan gubug derita."


"Ah itu bukan lagi menjadi urusan kita Bu. Yang terpenting saat ini kita harus fokus untuk kehidupan kita selanjutnya."


Sonya sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Bayu. Ia harus bergerak cepat untuk menjemput kebahagiaan yang akan ia dapatkan setelah ini.


"Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan Bay?"


"Kita harus segera pindah ke rumah Maya Bu."


Tatapan penuh tanya terpancar jelas di wajah Sonya. "Apakah tidak terlalu cepat Bay? Kalau Maya bertanya yang macam-macam bagaimana?"


Bayu hanya tergelak pelan. Baginya, apa yang dikhawatirkan sang ibu bukanlah hal yang berarti. Ia sudah mengetahui kelemahan Maya. Dengan menjual sedikit air matanya, ia yakin bahwa hati Maya akan luluh juga.


"Tenang saja Bu. Itu sudah Bayu pikirkan." Bayu beranjak dari posisi duduknya dan mulai melangkah. "Ayo Bu, sekarang kita siap-siap untuk ke rumah Maya!"


"Sekarang Bay?"


"Mau kapan lagi Bu? Sekalian kita bicarakan rencana pernikahan besok dengan ndoro putri."

__ADS_1


Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas di wajah Sonya. Ia sudah membayangkan bagaimana nikmatnya menjadi orang kaya.


"Setelah kamu menikah dengan Maya, apakah Ibu juga akan dipanggil dengan ndoro putri?"


"Hahahaha itu sudah pasti Bu. Ibu tenang saja. Dengan menjadi besan ndoro putri, secara otomatis kasta Ibu juga akan naik. Jadi siap-siap saja untuk menjadi orang kaya Bu!"


****


"Om Bayu!!!"


Cantika, gadis kecil itu berlari ke arah Bayu yang baru saja turun dari motor. Seperti bertemu dengan sang ayah, dia langsung merengek, meminta Bayu untuk menggendongnya.


"Sayangnya Om. Sedang apa Cantika malam ini?"


"Cantika baru saja selesai mengerjakan PR, Om. Kata mama om Bayu mau kesini. Makannya, Cantika menunggu om Bayu di ruang tamu. Dan pas mendengar suara motor om Bayu, Cantika langsung berlarian ke sini."


Bayu menyunggingkan senyum. Ia mencubit hidung mungil gadis kecil ini. "Cantika tenang saja. Mulai hari ini, Om akan selalu berada di dekat Cantika."


"Mas Bayu, Ibu!"


Maya turut menyambut kedatangan Bayu dan calon mertuanya. Sekilas, Maya menyalami Sonya sebagai salah satu bentuk penghormatan.


"Maafkan Ibu dan Bayu ya Nak, karena malam-malam seperti ini kami bertandang ke rumahmu."


Sonya mengambil perannya. Wajahnya tiba-tiba memancarkan ekspresi wajah sendu dan matanya pun tiba-tiba berembun.


"Bu, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa tadi di telepon mas Bayu terisak?" tanya Maya begitu penasaran.


"Tanyakan pada Bayu saja Nak, Ibu sudah tidak sanggup untuk menceritakannya. Rasanya pahit sekali," ucap Sonya dengan air mata yang sudah mulai menetes.

__ADS_1


Maya menatap wajah Bayu. "Ada apa Mas?"


Bayu menghela napas dalam-dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. Seakan melepaskan segala beban batinnya.


"Hancur semua Sayang. Hancur!"


"Hancur apanya Mas? Coba ceritakan yang detail!"


"Ternyata selama ini, sebelum pergi menjadi TKW Dinda menggadaikan sertifikat rumahku. Dan hari ini merupakan jatuh temponya. Baru saja rentenir itu datang untuk menyita rumah yang aku tempati. Sekarang, aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi Sayang. Aku bingung mau kemana."


Untuk meyakinkan Maya, Bayu juga turut mengeluarkan air mata. Entah belajar akting darimana ibu dan anak itu, sehingga keduanya terlihat begitu piawai dalam menjalankan perannya.


"Astaga ... setega itu dia kepadamu Mas? Itu artinya dia yang membuatmu jadi kehilangan rumah seperti ini?" ucap Maya prihatin.


"Iya Sayang. Aku benar-benar tidak menyangka Dinda diam-diam telah mengambil sertifikat rumahku dan digadaikan ke renternir," jawab Bayu dengan mantap.


"Dan sekarang kami bingung mau tinggal di mana, Nak. Kami sudah tidak punya tempat tinggal lagi," timpal Sonya memelas yang semakin membuat Maya merasa iba.


"Ibu dan mas Bayu jangan khawatir ya. Mulai hari ini, kalian tinggal di sini saja. Lagipula besok kita juga akan menikah kan Mas? Jadi tidak ada salahnya jika sekarang kamu dan Ibu tingal di sini."


"A-apa itu tidak merepotkan Sayang?" tanya Bayu berpura-pura merasa tidak enak. Padahal di dalam hati ia begitu kegirangan.


"Tidak Mas. Malah sebaliknya, Cantika pasti akan senang jika kamu tinggal di sini." Maya mengarahkan pandangannya ke arah sang putri. "Iya kan Sayang? Kamu akan senang bukan jika om Bayu dan nenek tinggal di sini?"


"Iya Ma, Cantika senang sekali!"


Seutas senyum terbit di bibir Bayu. Ia bahagia karena Maya percaya terhadapnya. "Terima kasih Sayang, terima kasih!"


.

__ADS_1


.


. Bersambung..


__ADS_2