Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 23. Sadar Ditipu


__ADS_3


"Aku berangkat dulu ya Din!"


"Iya Mas, hati-hati ya. Semoga kamu selalu berada di dalam lindungan Allah."


Dinda meraih tangan milik Bayu untuk kemudian ia kecup punggung tangan milik suaminya ini dengan intens. Dalam hati, ia melangitkan pinta kepada Sang Maha penggenggam kehidupan, semoga sang suami diberikan kemudahan dalam menjalani hari-harinya.


Bayu tersenyum tipis seraya mengusap-usap pucuk kepala Dinda. "Aamiin ... Terima kasih untuk doanya Din."


Bayu mengayunkan tungkai kakinya. Berjalan ke halaman depan di mana sebuah sepeda motor sudah siap untuk ia pakai mencari rezeki. Sepuluh menit mesin motor itu dipanaskan, kini waktunya bagi Bayu untuk berangkat. Perlahan, motor yang dikendarai oleh sang suami bergerak dan bayangannya pun hilang dari pandangan mata Dinda.


Dinda tersenyum penuh arti. Sudah satu bulan, sang suami menjalani profesi sebagai driver ojek online. Ia teramat bersyukur karena hasil sang suami dari menjadi driver ojek online, sudah sangat lumayan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Memastikan asap di dapur tetap mengepul dan sedikit bisa disisihkan untuk ditabung. Dinda merasa, kali ini hidupnya jauh lebih berkah dari sebelumnya.


Rezeki yang sedikit belum tentu membuat kekurangan dan rezeki yang banyak pun belum tentu bisa memenuhi segala keinginan. Seperti itulah konsep berkah dalam rezeki yang diyakini oleh Dinda. Sedikit ataupun banyak, yang terpenting bisa mencukupi kebutuhan di setiap harinya dan ada kelebihan untuk dijadikan sebagai tabungan.


"Din, bagaimana kelanjutan lamaran pekerjaanmu? Apa sudah ada satu perusahaan atau tempat yang lain memanggilmu untuk interview?"


Dinda hanya bisa mengulas senyum tipis di bibirnya. Ia daratkan bokongnya di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu, yang berada di beranda.


"Belum Bu, aku sama sekali belum mendapat panggilan interview dari pabrik ataupun perusahaan yang aku kirimi lamaran."


"Kok bisa sih Din? Padahal nilai-nilai di ijazah kamu bagus, tapi kenapa rasanya sulit sekali bagimu untuk mendapatkan pekerjaan?"

__ADS_1


Sonya sampai tidak habis pikir. Nilai mata pelajaran di ijazah milik sang menantu nyaris sempurna, bahkan baru dua tahun yang lalu ia lulus sekolah. Seharusnya menantunya ini mudah untuk mendapatkan pekerjaan, tapi ini terasa sangat sulit sekali.


"Mungkin karena saingannya banyak yang sarjana Bu. Saat ini perusahaan-perusahaan ataupun pabrik banyak yang mencari lulusan sarjana, bukan lulusan SMA seperti aku ini," jelas Dinda sesuai dengan persepsinya.


"Aduhhhh ... kalau seperti itu, bagaimana bisa kamu cepat kaya Din? Kalau hanya mengandalkan gaji Bayu saja, kalian pasti tidak akan pernah mempunyai uang tabungan yang banyak. Dan dapat dipastikan hidup kalian akan terus melarat seprti ini."


Sonya mengusap wajahnya sedikit frustrasi. Keadaan serba kekurangan, kemiskinan, bahkan tidak bisa eksis untuk berbaur di kalangan-kalangan sosialita seakan menjadi momok tersendiri bagi wanita paruh baya itu. Ia seakan tidak sanggup untuk hidup melarat di usianya yang sudah mendekati uzur itu.


Dinda tersenyum tipis. Meski terasa sedikit gemas dengan polah tingkah sang ibu mertua yang tidak mau untuk hidup sederhana, namun ia berusaha untuk tetap tenang menghadapinya. Berusaha meredam semua kekhawatiran yang dirasakan oleh Sonya.


"Ibu tidak perlu risau. Rezeki itu sudah ada yang mengatur Bu. Kita hanya tinggal meminta agar senantiasa diberikan keberkahan dalam hidup. Tidak perlu mengejar kaya. Tapi berkahnya."


"Cckkkkk ... kamu ini bisa-bisanya ceramah di waktu-waktu seperti ini. Ini bukan waktunya ceramah Din. Tapi waktunya bekerja mengumpulkan kekayaan, mumpung Ibu masih hidup di dunia," ujar Sonya seraya berdecak kesal.


"Ibu tenang saja. Kita perbanyak berdoa dan memohon kepada Allah agar kehidupan kita jauh lebih baik dari sebelumnya, Bu."


Sonya yang sebelumnya berdiri di depan pintu, ia langkahkan kakinya pelan ke arah Dinda. Wanita paruh baya itu duduk di samping Dinda. "Coba kamu melamar di rumah makan atau menjadi pembantu rumah tangga saja Din. Rasa-rasanya kamu bisa lebih mudah diterima untuk bekerja di sana daripada di pabrik atau prusahaan."


Sejenak, Dinda memikirkan apa yang menjadi perkataan sang mertua. Ia pun hanya bisa mengangguk pelan untuk memangkas perkataan yang terkesan begitu terkesan begitu menggebu untuk memintanya bekerja.


"Baik Bu. Nanti akan aku coba untuk memasukkan lamaran di rumah makan."


"Nah begitu. Saat ini kamu tidak perlu gengsi untuk bekerja menjadi apapun. Selama hal itu menghasilkan banyak uang dan bisa membuat kita semakin kaya, kerjakan saja," pungkas Sonya.

__ADS_1


"Iya Bu, iya. Nanti coba aku masukkan lamaran di rumah makan."


***


Hembusan angin menerpa wajah lelaki yang tengah duduk di bawah pohon waru sembari melihat lembaran-lembaran uang yang berada di dalam dompet miliknya. Dengan teliti, ia menghitung alat pembayaran itu dengan mimik wajah yang tiada terbaca. Entah, ia merasa senang atau sebaliknya.


"Haahhh ... hari ini orderan sepi. Food, ride, express, semua sepi. Masa dari tadi pagi baru ada tiga orderan yang masuk? Bukannya untung tapi malah buntung ini."


Bayu bermonolog lirih sembari membuang napasnya kasar. Ia buka jaket khas ojek online warna hijau yang ia kenakan yang seketika tubuhnya terasa lebih segar dan tidak lagi gerah. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling, melihat lalu lalang kendaraan yang ada di depan matanya.


Bayu mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Ia buka aplikasi WhatsApp untuk mengintai salah satu nama kontak yang ia simpan. Lagi-lagi lelaki itupun hanya bisa mengacak rambutnya.


"Ini si Sony juga kemana? Aku chat dari dua hari yang lalu tapi tetap ceklis. Biasanya ia akan memberikanku hasil modal yang aku titipkan untuk bermain judi online. Tapi kenapa sudah hampir satu minggu lebih ia tidak nampak batang hidungnya?"


Pandangan mata Bayu sedikit menerawang. Ia teringat akan uang lima juta yang diberikan oleh Sony. Masih sangat jauh dari modal yang ia berikan untuk bermain judi online yang sejumlah dua puluh juta. Lelaki itu masih hanyut dalam pikirannya sendiri memikirkan keberadaan Sony. Namun tak lama kemudian kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna kala ia menyadari akan satu hal.


"Jangan-jangan Sony menipuku? Dia pergi membawa uang yang aku berikan untuk modal judi?"


Bayu bangkit dari posisi duduknya. Ia kenakan kembali jaket khas ojek online yang ia bawa dan kemudian menuju sepeda motor miliknya. Gegas, pria itu menarik tuas gas dan dengan kecepatan penuh menuju kediaman Sony yang hanya berjarak lima ratus meter dari tempatnya melepas lelah.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2