Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 43. Menguping


__ADS_3


Sajian sup iga telah terhidang di atas meja makan. Harum arioma rempahnya mulai menguar, memenuhi indera penciuman. Seakan membuat lidah ingin segera mengecap cita rasanya.


Erlan terlihat begitu antusias kala menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya. Berkali-kali ia menyesap tulang-tulang iga untuk mengambil sumsumnya. Dan, jika dilihat dari lahapnya ia menyesap hidangan ini dapat dipastikan bahwa masakan sang asisten rumah tangga memang cocok di lidahnya.


Surti yang menatap sang majikan memakan sup iga buatan Dinda hanya bisa melongo. Wanita paruh baya itu teramat heran melihat sang majikan yang terlihat begitu antusias menikmati hidangan di depannya. Bahkan, pria itu sampai menambah nasi seperti untuk bisa terus dan terus menikmati sup iga buatan Dinda. Sebuah pemandangan yang langka. Karena bagi Surti selama ia hidup bersama Erlan, pria itu tidak pernah memakan masakannya se antusias ini.


"Enak ya Den?" tanya Surti dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya.


Erlan yang sebelumnya fokus terhadap hidangan di depannya ini, seketika melirik ke arah Surti. Ia hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala.


"Iya Mbok. Kali ini masakan mbok Surti terasa enak sekali. Bumbu-bumbunya begitu terasa dan daging iganya empuk sekali. Aku sampai nambah bekali-kali."


Surti menyunggingkan senyum di bibirnya. Ternyata majikannya ini salah sangka karena sejatinya sup yang dimakan merupakan buatan Dinda.


"Tapi Den, sup itu bukan masakan saya. Itu semua yang masak Dinda."


Erlan hampir saja tersedak saat mendengar Surti mengucapkan kata Dinda. Buru-buru ia meneguk air putih yang ada di hadapannya dan mengatur napasnya.


"Masakan Dinda? Serius Mbok?"


Ya Tuhan ... kemarin kopi yang Dinda buat begitu pas di lidah, sekarang masakan Dinda ini juga terasa begitu nikmat. Padahal baru kali ini aku menikmati masakan juga kopi buatannya, tapi mengapa semua terasa begitu sesuai seleraku?


"Iya Den, itu masakan Dinda. Ternyata benar dugaan Simbok kalau Dinda adalah orang yang tepat untuk menjadi asisten rumah tangga di sini. Pekerjaannya bagus, rapi, dan yang paling penting masakannya cocok sekali dengan lidah den Erlan. Kalau begitu, Simbok merasa tenang untuk meninggalkan rumah ini Den."


"Ah tapi bagiku, Simbok tetap yang terbaik. Tidak ada gantinya dan tidak ada duanya. Meskipun nanti Simbok sudah tidak ada di sini, aku akan tetap ingat sama mbok Surti."

__ADS_1


"Hahaha den Erlan ini ada-ada saja. Kalau umur tidak bisa menua, Simbok pastikan akan ikut den Erlan terus."


Keduanya larut dalam tawa. Erlan juga nampak masih ingin mengecap sisa-sisa kenikmatan di akhir suapannya ini. Bahkan lelaki itu sampai merem melek yang membuat Surti terkekeh geli.


"Maaf Tuan, saya minta izin untuk masuk ke kamar Tuan Erlan. Saya ingin mengambil pakaian kotor dan ingin membersihkan kamar mandi yang ada di kamar Tuan Erlan."


Dinda yang baru saja keluar dari dapur, menghampiri sang majikan yang tengah duduk di kursi makan. Menyampaikan maksud dan tujuannya untuk masuk ke kamar pribadi milik sang majikan.


"Masuk saja. Oh iya, untuk pengharum kamar mandi, tolong sekalian diganti."


Dinda menganggukkan kepala. "Baik Tuan, saya permisi dulu."


Dinda mengayunkan tungkai kakinya untuk memasuki kamar pribadi sang majikan. Sedangkan Erlan juga ikut beranjak dari posisi duduknya setelah puas menikmati sup iga buatan Dinda. Ia bermaksud untuk segera ke kantor, mengigat ada meeting pagi bersama relasi.


"Loh, den Erlan mau berangkat?" tanya Surti keheranan. Ia merasa ada yang aneh dengan penampilan majikannya ini.


"Tapi itu Den!" tunjuk Surti ke arah rambut Erlan.


Erlan menyipitkan kedua matanya. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Surti. "Itu apa Mbok?"


"Den Erlan belum sisiran. Masih berantakan rambutnya!"


Erlan terhenyak. Buru-buru ia pegang rambutnya. Benar saja masih berantakan.


"Ya ampun, kenapa bisa lupa seperti ini sih?"


Tanpa basa-basi, Erlan kembali masuk ke dalam kamar. Mencari sisir untuk merapikan rambutnya sambil bercermin. Kala ia fokus menyisir rambut, sayup-sayup terdengar suara seseorang yang sepertinya tengah melakukan panggilan suara di dalam kamar mandi. Seperti didorong oleh rasa ingin tahu yang begitu besar, Erlan memilih untuk menguping pembicaraan asisten rumah tangga barunya ini.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk segera mengirim uang setelah gajian nanti Din. Ingat, kita harus bekerja keras untuk bisa kembali ke kehidupan semula. Dan aku ingin menginvestasikan uang kita untuk membeli tanah."


"Iya Mas, itu bisa diatur. Lagipula baru tiga hari aku bekerja jadi rasanya sangat tidak elok jika sudah membicarakan gaji. Apa tidak ada yang ingin kamu bicarakan kepadaku selain gaji Mas?"


"Memang apa Din? Kamu bekerja sampai Jakarta kan untuk mencari uang, jadi yang kita bahas ya perihal uang. Iya kan?"


"Itu benar Mas, tapi mengapa kamu tidak menanyakan bagaimana kabarku terlebih dahulu atau mungkin kamu mengucapkan rindu karena jauh dariku?"


"Halaaaahhhh ... sudahlah. Aku tidak bertanya perihal kabarmu karena aku yakin kalau kamu baik-baik saja. Dan aku tidak mengatakan rindu karena saat ini kita tidak perlu terlalu menye-menye tentang rindu ataupun cinta. Karena saat ini yang kita butuhkan adalah uang Din. Jadi lupakan dulu perihal rindu atau apapun itu. Itu semua tidak penting Din. Yang penting adalah uang."


Dinda tersenyum penuh kegetiran. Ia kira sang suami akan menghujani nya dengan kata-kata mesra yang bisa meredam kerinduan yang ada. Tapi ternyata hanya perihal uang yang ia tanyakan.


"Sudah, jangan cengeng. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu Din. Ingat, kerja yang rajin biar kamu banyak mendapatkan bonus. Kalau begitu sudah dulu ya. Aku mau berangkat ngojek."


Sambungan terputus dan hanya menyisakan bunyi tut, tut, tut. Dinda hanya bisa membuang napas kasar dan mengelus dada. Tidak ingin terlalu larut dalam pikirannya, ia kembali menggosok dinding-dinding kamar mandi dan juga closet menggunakan sikat di tangannya.


"Benar kata Mas Bayu. Aku tidak boleh cengeng. Aku harus mengesampingkan rasa rindu dan apapun itu untuk bisa meningkatkan kualitas kerjaku. Ayo Dinda semangat. Kamu pasti bisa mengubah nasibmu. Dan bisa mengangkat derajat keluargamu. Semangat!"


Dinda bermonolog lirih. Memberikan semangat untuk dirinya sendiri sehingga bisa semangat dalam bekerja. Ia ingat bahwa ada mimpi yang harus ia raih dan cita yang harus ia kejar.


Erlan yang berdiri tak jauh dari punggung wanita yang tengah berjongkok ini hanya bisa tersenyum penuh ironi. Ada rasa iba saat mendengar percakapan asisten rumah tangganya ini dengan sang suami. Karena, tidak seharusnya seorang suami ikut campur dengan pendapatan istri. Bukankah ada suatu ungkapan bahwa uang suami adalah uang istri. Sedangkan uang istri tetap akan menjadi uang istri sendiri?


Sepertinya kamu benar-benar orang yang tulus, Din. Tulus berkorban untuk keluarga meskipun sebenarnya keberadaan suamimu sudah cukup untuk menjadi tulang punggung. Semoga suamimu tidak pernah mempermainkanmu. Ataupun menghianati hasil kerja kerasmu.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2