
Tok.. Tok... Tok....
"Mas Bayu ... Ibu .... Aku pulang!!!"
Dinda menginjakkan kaki di depan teras ketika hujan deras mengguyur bumi. Angin juga berhembus kencang dengan diiringi oleh kilatan-kilatan petir yang seakan membelah langit. Hingga terdengar suara yang begitu menggelegar sampai mengguncang panel-panel jendela kaca.
Suara Dinda hampir habis setelah berteriak-teriak kencang memanggil si penghuni rumah yang tak kunjung membukakan pintu. Ia menyerah dan memilih untuk mendaratkan bokongnya di atas lincak yang berada di teras. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Sepi dan gelap sekali karena PLN memutus aliran listrik di kala hujan lebat seperti ini.
"Kemana mas Bayu dan juga ibu? Mengapa rumah ini sepi sekali? Bahkan rumah ini terlihat begitu kotor seperti tidak berpenghuni. Ke mana mereka semua?"
Dinda semakin terlihat memelas saat udara dingin mulai menggerogoti tulang dan juga sendi. Ia membuka koper dan mencari jaket di dalam sana. Beruntung sang majikan membelikan jaket untuk ia bawa pulang ke kampung halaman sehingga ia tidak harus merasa kedinginan.
"Ya Tuhan aku ngantuk sekali dan tubuhku juga terasa begitu lelah. Apa iya aku harus tidur di teras seperti ini? Tapi kalau tidak di sini mau di mana lagi?"
Tak kuasa menahan rasa kantuk yang mendera, Dinda menaikkan kakinya di atas lincak. Ia meringkuk di kursi yang terbuat dari bambu itu dan mulai memejamkan mata. Benar saja, tak membutuhkan waktu yang lama Dinda sudah terlelap, hanyut dalam buaian mimpinya.
Sungguh kasihan. Ia yang seharusnya pulang bisa disambut oleh suami dan mertuanya justru hanya dinding-dinding yang membisu seperti ini yang menyambut kepulangannya.
***
Maya duduk di depan meja rias seraya mengaplikasikan night cream di wajahnya. Menjelang tidur, inilah ritual yang ia lakukan untuk tetap menjaga kecantikan wajahnya. Selesai mengaplikasikan night cream, tangannya pun meraih sebuah sisir dan mulai menyisir rambut panjang sebahunya.
"Sudah selesai Mas?"
Maya berujar saat melihat bayangan tubuh Bayu keluar dari kamar mandi yang terpantul melalui cermin. Lelaki itu mengenakan bathrobe warna dongker dengan rambut yang basah. Sisa-sisa air di rambut lelaki itulah yang membuatnya jauh terlihat lebih tampan.
Bayu melangkahkan kaki, mendekat ke arah Maya. Ia sedikit membungkukkan tubuh dan mulai memeluk tubuh Maya dari belakang. Harun aroma parfum istrinya ini terasa begitu sensual hingga membuat pikirannya berkelana ke mana-mana.
"Di luar hujan deras Sayang. Rasanya dingin sekali ya..."
Alih-alih menanggapi pertanyaan Maya, Bayu malah justru membuka topik pembicaraan baru. Ia pun tiada henti menciumi tengkuk leher Maya hingga membuat wanita itu kegelian.
"Memang kalau hujan kenapa Mas? Yang penting di dalam sini tidak kehujanan kan?"
Sembari terkekeh lirih, Maya menanggapi pertanyaan sang suami. Rupa-rupanya ia ingin mengajak Bayu untuk bercanda. Sedangkan Bayu justru dibuat gemas oleh istrinya ini.
"Kita cari kehangatan yuk Sayang!"
"Kehangatan? Kehangatan seperti apa itu Mas? Aku sungguh tidak paham," ucap Maya dengan gelak tawa lirih. Padahal ia sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan suaminya ini.
__ADS_1
Bayu membalikkan tubuh Maya. Kini, di depan matanya sudah terekspos dengan jelas dua benda sintal yang tersembunyi di balik lingerie warna merah yang menerawang. Sesekali Bayu mer*emas-r*emas dan memainkan benda itu dan setelah puas ia membopong tubuh Maya untuk ia lempar ke atas ranjang.
Tanpa banyak kata, Bayu menanggalkan bathrobe yang ia kenakan. Dan membuka dengan kasar lingerie yang dipakai oleh Maya. Ia pun mengungkung tubuh sang istri di bawah tubuhnya.
"Kehangatan seperti inilah yang aku maksud Sayang...," ucap Bayu sembari menenggelamkan benda pusakanya ke dalam lembah milik Maya.
"Aaaahhhh .... Mas Bayu...."
****
"Ya Allah Dinda!!!!"
Tubuh Dinda menggeliat kala sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Ia mengerjapkan mata hingga pada akhirnya kelopak matanya terbuka sempurna.
"Mbok Surti?"
"Kamu kenapa tidur di teras seperti ini Din? Kenapa kamu tidak masuk ke dalam rumah?"
Dinda menggeser tubuhnya hingga kini ia dalam posisi terduduk di atas lincak. Ia masih berupaya untuk mengingat-ingat akan apa yang terjadi sampai ia bisa tertidur di teras sampai pagi hari ini.
"Semalam aku sampai di sini Mbok, tapi mas Bayu ataupun ibu tidak ada yang membukakan pintu. Kemana ya Mbok mereka?"
"Sudah satu mingguan rumah ini selalu sepi Din. Simbok yang biasanya bertemu dengan ibu mertuamu ataupun Bayu, sudah satu minggu ini mereka tidak tampak berkeliaran di rumah ini. Simbok pun juga tidak tahu kemana mereka pergi."
"Oh begitu ya Mbok. Eh tapi kenapa mbok Surti ada di sini?"
"Simbok rencananya mau beli sayur di pasar. Namun sebelum berangkat, Tuan Erlan menghubungiku dan memberitahu bahwa kamu mengambil cuti untuk pulang kampung. Maka dari itu Simbok sempatkan untuk mampir kemari."
Dinda hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Aku sekarang bingung harus bagaimana Mbok. Aku sudah sampai di sini tapi suami dan ibu mertuaku tidak ada."
"Apakah kamu sudah menghubungi mereka?"
"Justru karena itu aku pulang kampung, Mbok. Sejak beberapa hari yang lalu nomor ponsel mas Bayu dan ibu mertuaku tidak dapat dihubungi. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sampai di sini malah rumah dalam keadaan kosong seperti ini."
Ada rasa iba yang bergelayut manja di hati Surti. Sejak mendengar Dinda yang harus rela bekerja di luar kota untuk menjadi pembantu demi keluarga, ada rasa curiga tentang suami dan mertua wanita ini.
"Kamu tidak punya kunci duplikat Din?"
Dinda menggeleng pelan. "Tidak Mbok, aku sama sekali tidak memiliki kunci duplikat."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kamu ikut Simbok saja ya Din. Kamu istirahat di rumah Simboklebih dulu sambil makan dan juga mandi. Nah, nanti siang kamu bisa kembali kemari. Barangkali nanti siang suami dan mertuamu sudah pulang."
"Tapi, apakah tidak merepotkan Mbok? Aku takut jika hanya membuat mbok Surti kerepotan."
"Tentu saja tidak Din. Kamu adalah teman keponakan Simbok dan juga teman seprofesi di tempat den Erlan. Jadi kamu tidak perlu merasa sungkan."
Lagi-lagi Dinda bernapas lega. Akhirnya di saat-saat ia berada dalam kebingungan, Tuhan mengulurkan tanganNya untuk memberikan bantuan melalui orang-orang baik yang ada di sekitarnya.
"Terima kasih banyak ya Mbok. Entah kalau tidak ada mbok Surti, aku bagaimana."
"Sudahlah Din, tidak perlu berterima kasih seperti itu. Sesama manusia kita wajib saling tolong menolong. Tapi sebelum ke rumah, kita ke pasar dulu ya Din."
"Baik Mbok!"
***
Suasana pasar tradisional yang berada di sekitar tempat tinggal Dinda terlihat ramai pagi hari ini. Salah satu tempat transaksi jual beli di mana harga-harga sayuran di sini begitu terjangkau. Tidak hanya terjangkau namun juga bisa dipastikan kesegarannya.
Dinda ikut memilih sayuran yang ingin dibeli oleh Surti. Begitu pula dengan Surti, ia juga terlihat sibuk memilih dan memilah sayuran segar di hadapannya ini. Hingga matanya menangkap bunga pepaya yang ia rasa akan nikmat jika diolah menjadi bahan makanan.
"Eh, ini mau aku beli!"
"Aku juga mau beli ini!"
Surti sedikit berteriak kala satu plastik bunga pepaya yang tinggal satu-satunya itu juga turut dipegang oleh seseorang. Wajah Surti sedikit mendongak dan terlihat sosok seorang wanita yang berusia sebaya dengannya. Dahinya pun mengernyit kala wajah wanita ini tidaklah begitu asing di ingatannya.
"Kamu?" ucap Surti masih sambil mengingat-ingat siapa wanita ini.
Wanita inipun juga ikut mengernyitkan dahi. Hingga akhirnya ia pun membelalakkan mata. "Kamu Surti kan? Teman SD aku dulu?"
"Kamu itu ... Ssshhhhhh, siapa ya... Aduhhhh aku kok lupa? Kamu .... Kamu..."
Wanita itu terkekeh lirih. "Aku Tina, Sur. Kartina anak tunggal bapak Rejopawiro!"
"Ya ampun Kartina!!!"
.
.
__ADS_1
. bersambung