Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 82. O O Kamu Ketahuan


__ADS_3

Pukul setengah satu dini hari, Erlan berdiri mematung di depan kamar hotel yang ia tempati. Suasana sudah teramat sepi. Tidak ada seorang pun yang berlalu lalang di tempat ini. Sedangkan Dinda yang diminta sang majikan untuk mendatanginya hanya bisa dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Erlan.


"Tuan, sebenarnya apa yang akan Tuan lakukan? Mengapa sedari tadi Tuan hanya berdiri di sini?"


"Kita akan menggerebek orang-orang yang berbuat mes*um!"


Jawaban singkat, padat dan lugas yang justru hanya membuat Dinda semakin kebingungan. Ia sampai menggaruk-garuk kepala sebagai pertanda tak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh Erlan.


"Maaf Tuan, apakah saat ini selain menjadi pemimpin perusahaan, Anda juga menjadi satpol-pp? Yang bertugas untuk menggerebek pasangan-pasangan me*sum?"


Pertanyaan Dinda yang terlampau polos membuat Erlan semakin gemas. Ia yang seharusnya sudah mempersiapkan diri untuk emosi tingkat tinggi, kini emosi itu seakan terjun bebas hingga nyungsep ke dasar bumi. Ia yang sudah memasang wajah garang seketika air wajahnya berubah. Lelaki itu terlihat gemas sendiri bahkan terkekeh geli.


"Iya, aku sekarang merangkap menjadi satpol-pp. Itung-itung untuk menambah penghasilan."


"Astaga Tuan, kalau memang gaji yang Tuan kasih ke saya terlalu besar, tidak masalah jika Tuan kurangi. Daripada Tuan merangkap jadi satpol-pp untuk menambah penghasilan. Sungguh Tuan, saya tidak masalah jika Tuan kurangi."


"Hahaha astaga, aku ini hanya bercanda Din. Mana ada penghasilanku kurang. Bahkan untuk menggajimu sepuluh juta per bulan pun aku sanggup," ucap Erlan sambil terbahak.


Ingin rasanya ia mencubit pipi asisten rumah tangganya ini. Namun ia sadar bahwa Dinda sudah bersuami, jadi tidak bisa sembarangan memperlakukan wanita ini.


"Lantas, untuk apa Tuan sampai berpatroli seperti ini? Bahkan sampai belum tertidur meskipun hari sudah selarut ini?"


Erlan membuang napas sedikit kasar. Ternyata Dinda masih belum paham dengan apa yang menjadi rencananya.


"Sudahlah, kamu ini malah membuat aku tidak jadi emosi. Aku seharusnya memasang wajah garang saat ini. Ayo sekarang ikut aku!"


Tak ingin berlama-lama lagi, Erlan melangkahkan kaki menuju kamar yang ditempati oleh Jenica. Berbekal access card yang ia dapatkan dari resepsionis, ia yakin bisa menangkap basah sang istri yang tengah bermain api dengan kekasih gelapnya.


Tiba di depan pintu kamar Jenica, ia menempelkan telinganya di permukaan daun pintu dan kedua bola matanya terbelalak saat sayup-sayup ia mendengar suara de*sahan dan eraman dari dalam sana.


"Coba tempelkan telingamu di sini!" titah Erlan kepada Dinda.


Dinda pun menuruti apa yang diperintahkan oleh sang majikan. Bibirnya menganga lebar kala mendengar suara berisik dari dalam kamar. Seketika ingatannya tertuju pada permainan ranjang yang ia lakukan bersama Bayu. Dan tiba-tiba saja tubuhnya merinding dibuatnya.

__ADS_1


"Tuan, ini kan suara ....?"


Perkataan Dinda terdekat di dalam tenggorokan. Rasanya, tidaklah etis jika ia berbicara tentang orang-orang yang sedang bercinta dengan sang majikan.


"Ya, ini adalah suara sepasang manusia yang sedang bercinta."


"Tuan, apakah ini adalah suara nona Jenica? Dan apakah ini maksud Tuan ingin menggerebek pasangan yang sedang berselingkuh?"


"Betul sekali. Malam ini semua harus selesai!"


Dinda terhenyak. "Selesai? M-maksud Tuan, Tuan akan mengakhiri pernikahan Tuan yang baru satu bulan ini?"


Erlan menganggukkan kepala mantap. "Aku akan memaafkan semua kesalahan kecuali penghianatan dan perselingkuhan. Jadi, aku memutuskan untuk mengakhiri pernikahanku dengan Jenica."


"Tapi Tuan ....?"


"Sudahlah, untuk sementara kita berdiri di sini dulu. Kita tunggu mereka sampai selesai melakukan ritual ini. Setelah itu, baru kita sergap mereka!"


****


Ribuan tetes-tetes peluh yang membanjiri tubuh dan ranjang yang sudah berantakan seperti terkena gelombang air pasang seakan menjadi pertanda bahwa keduanya teramat menikmati petualangan cinta ini. Mengarungi lautan hasrat yang bergelora dan nantinya akan menghempaskan mereka kedalam palung kenikmatan tiada tara.


"Eeemmmpphhh .... Sayang, aku, aku ingin keluar!!!!"


"A-aku juga Honey!!"


"Aaaaaaaaaaahhhhhh"


Setelah tiga jam pergumulan itu dilakukan pada akhirnya semburan lahar hangat milik Bara ke dalam lembah kenikmatan milik Jenica menjadi akhir dari semuanya. Tubuh keduanya sama-sama bergetar hebat dengan mata yang terpejam, menikmati sensasi rasa nikmat yang terasa hingga ke pucuk kepala. Syaraf-syaraf yang sebelumnya terasa begitu tegang kini melemas.


Bara menjatuhkan tubuhnya di samping Jenica setelah puncak kenikmatan itu ia dapatkan. Tanpa basa-basi ia merengkuh tubuh sang kekasih untuk ia bawa ke dalam pelukan. Ia mengecup intens kening Jenica, seakan meluapkan rasa cinta yang ia miliki untuk wanita itu.


"Honey, terima kasih banyak. Kamu memang hebat jika berada di atas ranjang. Sama seperti saat pertama kita melakukan ini dulu."

__ADS_1


Bara mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Jenica atas pelayanan yang diberikan. Sejatinya bukan hanya karena pelayanannya namun juga mimpi-mimpi indah yang ditawarkan oleh wanitanya ini. Mimpi akan menjadi orang kaya setelah Jenica bercerai dari Erlan dan mendapatkan harta gono gini.


"Aku juga berterima kasih kepadamu Sayang. Karena burung rajawali milikmu ini benar-benar bisa membuatku melayang tinggi hingga ke nirwana. Rasa-rasanya sungguh nikmat sekali."


Bara terkekeh. Ia cubit hidung Jenica dengan gemas. "Apakah kamu menginginkan lagi?"


Jenica tersipu malu. Burung milik Bara memang terasa begitu candu. Dan rasanya ia ingin selalu dimanjakan oleh burung milik kekasihnya ini.


"Apakah boleh jika aku meminta lagi Sayang? Aku masih ingin bercinta denganmu."


"Hahahaha ... Honey, Honey .. Jelas tidak masalah kalau kamu masih menginginkannya. Aku paham betul jika selama ini kamu tidak pernah puas dengan burung milik suamimu."


"Hehem... Itu benar sekali. Bagaimana bisa puas jika burung milik Erlan saja hanya sebesar kelingking. Sama sekali tidak ada rasanya."


Bara semakin dibuat bangga dengan perkataan Jenica. Tidak rugi ia memiliki burung yang besar karena dengan burung yang ia miliki bisa mengantarkannya pada hidup yang berkecukupan. Dimanjakan secara materi oleh para wanita yang tidak pernah merasa puas dalam bercinta. Bukan hanya Jenica, tante-tante girang yang ada di kotanya pun juga turut menjadi pelanggannya.


Bara beranjak dari posisinya, hingga kini ia berdiri di samping ranjang dalam keadaan polos tanpa tertutup sehelai benang pun. Ia ulurkan tangannya ke arah Jenica yang masih berada di atas ranjang.


"Ayo ikut aku. Kita bercinta di kamar mandi. Aku rasa di sana akan jauh lebih menantang Honey!"


Tanpa basa-basi, Jenica menyambut uluran tangan Bara. Dalam keadaan polos juga, ia berdiri di hadapan sang kekasih. Keduanya saling berpelukan dengan bibir berpagut dan melangkah ke kamar mandi. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba...


Klik...


Brakkkkk!!!!!!!!


Plok ... Plok .... Plok ....


"Waaaoowwww, sungguh hebat kamu Jen! Hebat kamu!"


"Erlan!!!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2