
"Apa? Den Erlan mau datang ke kampung halaman Simbok? Yang bener Den?"
Melalui sambungan telepon, Surti dibuat terkejut oleh ucapan yang ia dengar langsung dari sang mantan majikan. Terlebih lagi di tengah malam seperti ini sang mantan majikan menelpon.
"Iya Mbok, mungkin minggu depan aku akan tiba di kampung halaman Simbok. Ada satu kepentingan di sana, sehingga mengharuskan aku untuk pergi ke kampung halaman Simbok. Eh, tapi kenapa Simbok terdengar bisik-bisik seperti itu? Apakah teleponku ini mengganggu?"
Surti menggelengkan kepala meskipun tak dapat dilihat oleh Erlan.
"Tidak Den, Simbok tidak merasa terganggu. Hanya saja Dinda sedang tidur di kamar Simbok. Takutnya dia yang terganggu jika suara Simbok keras-keras."
"Apa? Dinda tidur di rumah mbok Surti? Kenapa bisa begitu Mbok? Bukankah Dinda punya keluarga? Kenapa malah justru tidur di rumah Simbok?"
Dari nada dan intonasi suara Erlan, Surti dapat mengetahui bahwa mantan majikannya ini berada di dalam mode terkejut setengah mati. Bahkan Surti dapat membayangkan jika saat ini kedua mata Erlan terbelalak sempurna dengan bibir yang menganga lebar.
"Ceritanya panjang Den."
"Ada apa sih Mbok? Apa yang terjadi pada Dinda? Ada apa dengannya?"
Surti mencoba untuk menguatkan hati saat akan bercerita kepada Erlan. Meskipun hal itu bukan dialami oleh dirinya sendiri, namun ia dapat merasakan luka yang tengah menghampiri Dinda.
"Dinda dihianati Den. Suami Dinda menikah sirri dengan wanita lain."
"Apa? Benar seperti itu Mbok?"
"Benar Den. Besok kalau den Erlan sudah tiba di sini, akan lihat sendiri bagaimana keadaan Dinda."
"Baiklah kalau begitu Mbok. Mungkin minggu depan aku sampai di sana. Aku hanya minta, tolong jaga Dinda ya Mbok. Urusi semua yang diperlukan oleh Dinda. Nanti akan ada bonus untuk mbok Surti."
__ADS_1
Dahi Surti sedikit berkerut kala mendengar penuturan Erlan. Dari nada bicara mantan majikannya itu tersirat sesuatu yang sedikit asing. Erlan seolah begitu perhatian dan mengkhawatirkan akan keadaan Dinda.
"Den ... Apa telah terjadi sesuatu?"
"Maksud Mbok Surti apa? Aku tidak paham."
"Den Erlan seperti teramat mengkhawatirkan dan peduli dengan Dinda. Apakah.... Oh ya Allah... Jangan-jangan den Erlan jatuh cinta kepada Dinda ya? Astaghfirullahalazim... Eling Den... Den Erlan itu sudah mempunyai istri. Jangan coba-coba menghianati non Jenica, Den!"
Seperti sosok seorang ibu yang sedang memberi wejangan dan nasihat kepada sang anak, Surti mencoba untuk memberikan peringatan kepada Erlan. Ia khawatir jika sampai mantan majikannya ini terjerembab ke dalam perasaan yang salah.
"Haduhhh ... Mbok Surti ini bicara apa sih? Aku tidak seperti itu Mbok. Dan aku tidak pernah melakukan sebuah penghianatan."
"Tapi dari ucapan den Erlan, Simbok seperti menangkap sinyal bahwa den Erlan menyimpan rasa kepada Dinda. Simbok khawatir jika Den Erlan persis seperti suami Dinda yang berhianat."
"Ya ampun Mbok ... aku bukanlah lelaki seperti itu. Kalaupun aku memiliki perasaan kepada Dinda, aku rasa juga tidak salah ...."
Surti masih terjebak dalam prasangkanya sendiri. Ia berpikir bahwa Erlan masih memiliki seorang istri. Tidak selayaknya lelaki itu mengucap hal demikian.
Helaan napas panjang terdengar mengalun lirih. Erlan menjeda sejenak ucapannya dan ia lanjutkan kembali. Akan menjadi kesia-siaan jika ia masih saja menanggapi ucapan Surti.
"Sudahlah Mbok, nanti aku ceritakan semua. Kalau begitu sudah dulu ya Mbok. Simbok lekaslah beristirahat. Pesanku diingat ya Mbok. Jaga Dinda baik-baik dan pastikan dia tidak ke mana-mana sampai aku tiba di sana ya Mbok."
Surti menganggukkan kepala. "Baik Den. Simbok akan menjaga Dinda baik-baik."
Tut ... Tut... Tut...
Sambungan telepon terputus dan Surti kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Ia pejamkan mata dan mulai memeluk mimpi.
__ADS_1
***
Sementara itu, di apartement milik Erlan, lelaki yang baru saja menyandang status duda itu berjalan keluar kamar. Kerongkongannya seakan kering kerontang setelah berbincang dengan Surti. Ia bermaksud ke dapur untuk mengambil air minum.
Namun baru beberapa langkah, langkahnya tiba-tiba terhenti kala melintasi depan kamar yang ditempati oleh Dinda. Ia menatap lekat pintu kamar milik asisten rumah tangganya yang tertutup rapat. Entah ada magnet apa, sampai-sampai membuat Erlan begitu ingin memasuki kamar Dinda.
Tanpa sadar, tangannya memegang tuas pintu kamar. Ia tarik perlahan dan kini kamar Dinda terbuka dengan sempurna. Erlan mengayunkan tungkai kakinya dan mulai memasuki kamar Dinda. Pandangannya mengedar ke segala penjuru. Senyum pun terbit di bibir lelaki itu kala melihat begitu tertata rapi kamar milik asisten rumah tangganya ini.
Pandangan mata Erlan tertuju pada bingkai foto kecil yang berada di atas nakas. Tanpa pikir panjang ia meraih bingkai foto itu dan ia daratkan bokongnya di tepian ranjang.
Erlan tersenyum sinis kala melihat sosok lelaki berpakaian serba putih yang berdiri di sebelah wanita dengan kebaya warna serupa dan dengan rambut di sanggul. Ia paham betul foto apakah itu.
"Dasar lelaki tidak punya malu. Bisa-bisanya dia menghianati pernikahannya dengan Dinda. Kurang apa coba Dinda? Sudah mati-matian dan pontang-panting kerja di ibu kota namun dibalas dengan sebuah kebusukan."
Erlan meraup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Mendengar cerita dari mbok Surti seakan ikut menyeretnya ke dalam rasa benci kepada suami Dinda itu.
"Jangan hanya karena Dinda seorang wanita yang sudah tidak memiliki keluarga lantas bisa kamu perlakuan semau dan sesukamu. Itu salah besar. Karena saat ini, kamu akan langsung berhadapan denganku."
.
.
. bersambung...
Yuhuuuu.... mohon maaf sebesar-besarnya karena hiatus hampir satu bulan ya kak... hihihihi... tapi inshaAllah mulai hari ini akan saya lanjutkan kembali sampai tamat. Namun mohon maaf jika harus saya percepat alurnya... Hehehehe... Terima kasih banyak yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini ya Kak... semoga kebahagiaan senantiasa mengiringi langkah kaki kakak-kakak semua.
Oh iya... saya berikan rekomendasi novel milik teman saya nih Kak. Silakan mampir jika berkenan.
__ADS_1