Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 50. Lah Kok Ngamuk?


__ADS_3


Motor jadul merk Le*genda melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan tikus yang ada di depannya. Mengapa disebut jalan tikus? Ya, karena jalanan yang dilalui ini memanglah sempit sekali. Persis seperti jalan tikus😃


"Aduuuhhh.... ini kenapa jalannya pelan sekali sih Pak? Aku udah telat ini!" teriak Jenica yang kesal karena rasanya laju motor ojek yang membawanya ini benar-benar seperti keong.


"Pelan gimana sih Mbak? Ini sudah kecepatan full, tapi ya harap dimaklumi karena motor tua jadi napasnya ngos-ngosan," bela si tukang ojek, tak ingin jika kendaraannya dimaki-maki.


Jenica hanya bisa berdecak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. Untuk protes pun sebenarnya ia hanya akan membuang tenaga tenaga saja. Karena kecepatan motor ini sungguh sangat menguras rasa sabarnya.


"Loh, eh, eh, eh, eh ... ini motor kenapa Pak?"


"Sebentar ya Mbak, coba saya hidupkan lagi mesinnya!"


Jenica terkesiap kala mesin motor ini tiba-tiba mati. Gegas, ia mulai turun dari motor. Sedangkan si tukang ojek mencoba untuk mengengkol tuas mesin yang ada di samping kanan kakinya untuk membuat mesin motor ini kembali menyala. Namun apalah daya. Sampai keringat tukang ojek itu mengalir deras, mesin motor ini tetap tidak bisa menyala.


"Waduh, maaf sekali ya Mbak. Ini sepertinya businya yang bermasalah."


Jenica terhenyak. "Jadi maksud Bapak?"


Si tukang ojek itu mengangguk pelan. "Iya Mbak, ini motornya mogok jadi tidak bisa mengantarkan si Mbak sampai hotel."


"Terus, aku harus bagaimana Pak? Ini aku sudah sangat terlambat."


"Aduuuhhh, bagaimana ya Mbak?" Bapak tukang ojek terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, hingga ia menyadari sesuatu. "Ahhh, lebih baik Mbak nya lari saja. Lihatlah Mbak, hotel itu hanya tinggal beberapa ratus meter saja dari sini."


Bapak tukang ojek menunjuk ke arah bangunan hotel yang nampak berdiri megah dan menjulang tinggi. Diikuti oleh Jenica yang mengikuti ke mana arah jari telunjuk Bapak tukang ojek.


Jenica nampak berpikir sejenak. Meskipun akan terlihat konyol namun, ini lah satu-satunya cara untuk bisa segera tiba di hotel.


"Baiklah Pak. Sepertinya aku memang harus lari."


"Ayo Mbak, semangat!"


Tanpa ba-bi-bu dan membuang banyak waktu, Jenica mengambil start untuk berlari sekencang mungkin. Wanita itu seakan berpacu dengan waktu untuk bisa segara tiba di hotel. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, ia berlari kencang menembus jalan tikus yang dipenuhi oleh air-air comberan yang entah berasal dari mana.


"Iuuuhhhh ... kalau bukan karena hari pernikahanku, aku tidak mau kotor-kotor seperti ini!"


***


"Apa? Jadi ini bukan calon pengantinnya?"


Madam Rosebrand memekik kecang. Tiba-tiba saja tubuhnya serasa begitu lemas. Ia mendaratkan bokongnya di atas sofa seraya memijit-mijit pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing, mencoba mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi.

__ADS_1


"Dari tadi saya kan udah bilang kalau aku ini bukan calon mempelai wanitanya, Madam. Tapi Madam tidak percaya," ucap Dinda mencoba mengingatkan sang MUA. Karena memang betul, tatkala Dinda mencoba untuk menjelaskan hanya dianggap sebagai angin lalu saja oleh Rosebrand.


"Ya bagaimana Eike bisa percaya Cin. Hanya ada you wanita muda yang ada di ruangan ini, jadi siapa lagi jika bukan you calon pengantinnya. Lagipula siapa calon pengantin Tuan Erlan? Mengapa dia belum sampai di sini padahal ini sudah menjelang acara dimulai?"


Tidak ada yang memberikan respon atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Rosebrand. Semua orang yang ada di ruangan ini terlihat begitu larut dalam pikirannya sendiri-sendiri.


Rosebrand menggeser pandangannya ke arah Erlan. "Tuan, ini terus bagaimana? Acara akad akan dimulai sebentar lagi. Masa iya calon pengantin wanitanya tidak hadir?"


Erlan hanya membuang napas sedikit kasar. Ia yang masih berada dalam mode terkesima akan kecantikan sang asisten rumah tangga mencoba untuk meraih kesadaran dan akal sehatnya.


"Kita berdoa saja, semoga sebentar lagi Jenica sampai di sini. Kabar terakhir ia sudah naik ojek untuk kemari."


"Tapi Tuan, lihatlah di luar sana. Tamu-tamu sudah pada berdatangan satu persatu. Dan ini sudah pukul delapan kurang lima belas menit. Katapun calon Tuan tiba di sini, tidak bisa Eike make-up dengan maksimal," terang Rosebrand.


"Tidak apa-apa Madam. Sebisanya saja," ucap Erlan lirih, pasrah jika sang kekasih tidak bisa di make-up secara sempurna di acara pernikahan ini.


"Aha!!!" pekik Rosebrand tiba-tiba yang membuat perhatian semua orang mengarah kepadanya. "Bagaimana kalau mempelai wanitanya diganti oleh gadis cantik ini Tuan? Kita tinggal memakaikan kebaya akad nikah saja. Sehingga acara ini tidak harus terlambat? Bagaimana? Setuju?"


Erlan dan Dinda sama-sama terperanjat. Keduanya kompak menggeleng-gelengkan kepala.


"Tidak Madam, itu merupakan hal yang sangat mustahil!" ucap Dinda lantang.


"Kenapa mustahil, Cinta? Kamu loh sudah berpenampilan cantik dan sempurna, jadi tinggal melaksanakan akad saja."


"Saya ini sudah menikah, Madam. Saya ini seorang istri. Jadi tidak mungkin mengikuti saran yang diucapkan oleh Madam."


"Lan, coba hubungi lagi Jenica. Tanya, sudah sampai mana dia!" timpal Joni yang juga ikut tidak sabar menunggu kehadiran calon istri bosnya ini. Karena bagaimanapun juga tamu-tamu undangan sudah berdatangan.


Erlan merogoh saku celana yang ia pakai. Ia menggulirkan jemarinya di atas layar ponsel dan mencoba mencari kontak sang calon istri namun, belum sempat ia menemukan nama kontak Jenica tiba-tiba...


Ceklekkkkkk....


"Maaf, maaf, aku terlambat. Ayo lekas make up aku!!"


Tanpa basa-basi, Jenica mulai mendaratkan bokongnya di bangku yang ada di depan cermin. Ia seakan tidak peduli dengan kumpulan orang-orang yang tengah tertegun melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


Jenica mengernyitkan dahi karena semua orang yang ada di ruangan ini hanya terperangah dan tidak bergerak sama sekali. Merasa kesal karena sudah dicuekin, wanita itu kembali berdiri dan bergabung di tengah-tengah orang yang sedang berdiri ini.


Baru saja ia akan protes kepada Madam Rosebrand, kedua bola mata Jenica justru membuat sempurna saat melihat seorang wanita yang nampak begitu anggun dan cantik dengan riasan juga kebaya nya. Gegas, ia merapatkan tubuhnya ke arah wanita ini.


Plak... Plakkk... Palakk!!!


"Aaaahhhhhhh..."

__ADS_1


"Dinda!"


Surti yang juga sudah nampak cantik dengan balutan kebaya yang ia pakai, memekik kencang saat melihat wajah Dinda ditampar oleh Jenica. Ia mendekati Dinda dan membawa tubuh Dinda ke dalam pelukannya.


Sedangkan Dinda yang mendapatkan serangan dadakan itu hanya bisa meneteskan air mata di atas pundak Surti. Wanita itu tidak paham mengapa sampai ditampar oleh calon istri majikannya ini.


Melihat Jenica melayangkan tamparan bertubi-tubi di wajah Dinda, membuat semua orang yang ada di tempat ini terkejut setengah mati. Erlan yang menyadari akan hal itu pun kemudian mendekat ke arah sang calon istri dan menarik tangannya.


"Apa-apaan kamu Jen? Mengapa kamu menampar Dinda?"


Wajah calon pengantin itu sudah mulai memerah, mengeluarkan amarah. Dadanya juga terasa bergemuruh hebat kala perasaan cemburu itu menguasai raga.


"Aku yang seharusnya bertanya apa-apaan ini? Mengapa pembantu ini yang di make-up seperti ini?"


"Ini ada sedikit kesalahpahaman Jen..."


"Alahhhhhh .... kesalahpahaman apa? Jelas-jelas dia ingin merebut posisiku. Jika dia tahu diri, harusnya dia menolak untuk dirias seperti ini. Dasar pembantu tidak tahu diri!"


Tangan Jenica kembali terangkat untuk kembali menampar Dinda namun...


Plakkkk!!!!


"Hentikan Jen!"


"Erlan!" Jenica memegang sebelah pipinya setelah calon suaminya ini memberikan satu tamparan di wajahnya. "Kenapa kamu menamparku Lan? Mengapa kamu justru membela pembantu tidak tahu diri ini?"


Tangan Erlan sedikit bergetar sesaat setelah ia menampar Jenica. Baru kali ini ia melakukan hal semacam ini. Ia merasa perbuatan Jenica memang sudah sangat keterlaluan sekali.


Erlan menghela napas panjang dan kemudian hembuskan perlahan. "Maaf, aku minta maaf Jen. Bukan maksudku untuk bersikap kasar terhadapmu. Tapi sikapmu ini sudah sangat keterlaluan. Dinda sama sekali tidak bersalah!"


"Dia tetap bersalah Lan, dia ingin merebut posisiku untuk menjadi mempelai wanitanya. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menggeser posisiku!"


"Stop Jen. Dinda tidak bersalah. Lebih baik saat ini kamu bersiap-siap untuk di make up. Lihat, tinggal sepuluh menit lagi acara akan dimulai."


Tersadar akan waktu yang semakin mepet, membuat Jenica tidak lagi peduli dengan keberadaan Dinda yang terlihat jauh lebih cantik. Ia pun menarik paksa lengan tangan Madam Rosebrand untuk segera merias wajahnya.


"Ingat ya, aku ingin riasanku jauh lebih sempurna dari riasan pembantu tidak tahu diri itu!" titah Jenica kepada Madam Rosebrand.


Sedangkan Madam Rosebrand hanya bisa menggeleng pelan. "Tidak bisa Nona. Waktu sudah sangat mepet. Jadi, Eike hanya bisa merias Anda, ala kadarnya saja!"


"Apa?????"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2