Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 22. Memaafkan


__ADS_3


"Ibu ingin minta maaf kepadamu!"


Suara lirih yang terdengar dari balik punggung, membuat Dinda yang tengah sibuk menumis sayur kangkung sedikit terhenyak. Sekilas, ia membalikkan punggungnya dan terlihat sang ibu mertua duduk di salah satu kursi plastik yang berada di area dapur ini.


Menggunakan sendok, Dinda mencicipi rasa masakan yang ia masak pagi ini. Setelah semuanya pas dan matang, ia matikan kompor dan kemudian menghampiri keberadaan sang ibu mertua. Ia juga menggeser sebuah kursi plastik yang masih tersisa.


Dinda tersenyum penuh arti. Setelah kemarin hatinya sempat terasa begitu nyeri karena ucapan sang ibu mertua yang bagaikan belati, kini semuanya berubah. Hatinya serasa ditetesi embun pagi yang membuat rasa sakit yang ia rasakan musnah. Beban batin karena sikap mertua yang sebelumnya terasa begitu membebani, kini hilang layaknya kapas yang tertiup angin. Ringan, tiada beban sama sekali.


"Aku sudah memaafkan Ibu. Asalkan untuk ke depannya jangan pernah Ibu mengucapkan kata-kata seperti itu lagi. Karena sungguh Bu, tidak ada manusia pembawa sial. Semua yang terjadi pada kita sejatinya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa."


Sonya mengangguk pelan. Dengan raut wajah penuh penyesalan dan sorot mata yang menyiratkan betapa tulusnya meminta maaf, ia menggeser kursinya untuk merapat ke arah Dinda. Tanpa basa-basi, ia meraih telapak tangan sang menantu dan ia genggam dengan erat.


"Iya Din, Ibu sadar bahwa apa yang Ibu ucapkan itu memang sudah sangat keterlaluan. Kemarin, mungkin hati juga perasaan Ibu sedang kalut karena musibah yang kita alami ini datang bertubi-tubi. Maka dari itu, Ibu tidak bisa mengendalikan emosi. Sekali lagi Ibu minta maaf ya Din."


Dinda mengangguk pelan. Rasa-rasanya tidak ada alasan baginya untuk tidak memaafkan sang ibu mertua. Bukankah sudah selayaknya manusia itu saling memaafkan? Dan hal itulah yang selama ini ditanamkan oleh almarhum kedua orang tuanya. Maafkan. Kelak hati kita akan jauh terasa lebih ringan.


"Iya Bu, aku sudah memaafkan Ibu. Kita mulai semua dari awal. Pada fase inilah pernikahanku dengan mas Bayu sedang diuji. Dan aku akan berusaha untuk tetap mendampingi mas Bayu apapun keadaannya. Seperti janji yang pernah aku ucapkan kepada mas Bayu saat di depan penghulu dan saksi."


Tanpa pikir panjang, Sonya bergegas memeluk tubuh Dinda. Ia peluk tubuh menantunya ini dengan erat dan sesekali ia usap-usap punggung sang menantu.


"Terima kasih banyak Din. Ternyata Bayu tidak salah memilihmu untuk menjadikanmu seorang istri. Hatimu seluas samudera dan kamu salah satu wanita setia yang tidak pernah meninggalkan suamimu dalam keadaan terpuruk seperti ini."


Dalam pelukan Sonya, Dinda mengangguk pelan. "Aku bisa menghadapi segala ujian yang menimpa rumah tanggaku asalkan mas Bayu juga kuat untuk menghadapinya Bu. Kami harus saling bergandengan tangan dan langkah kaki kami harus tetap searah, sehingga kami tidak tersesat."


"Iya Din ... Ibu paham akan hal itu. Ibu percaya bahwa Bayu juga akan bisa lebih dewasa dalam menghadapi ini semua."


Eheemmmm...

__ADS_1


Suara seseorang yang berdehem mulai terdengar memenuhi dapur. Suara itulah yang membuat Dinda dan Sonya sedikit terkejut.


"Ibu dan Dinda sedang apa? Mengapa kalian berpelukan di dapur seperti ini?"


Sebuah pemandangan langka terpampang jelas di depan mata Bayu. Melihat sang istri dan sang ibu saling memeluk erat seperti ini seakan begitu asing di indera penglihatannya. Seumur-umur, tepatnya selama ia menikah dengan Dinda, baru kali ini melihat ibu dan istrinya begitu akrab seperti ini. Seakan semua baik-baik saja dan tidak ada kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.


Dinda menyunggingkan senyum termanis yang ia punya. "Tidak ada apa-apa Mas, aku dan Ibu hanya sedang mengobrol saja."


"Betul itu Bay, sekaligus Ibu juga minta maaf kepada Dinda akan kejadian kemarin. Ibu merasa teramat bersalah kepada menantu Ibu ini," sambung wanita paruh baya yang sudah nampak garis-garis halus di wajahnya itu.


"Syukurlah, jika Ibu dan Dinda sudah saling berbaikan. Aku sangat lega mendengarnya," ujar Bayu sembari melirik ke arah wajan yang masih nangkring di atas kompor. "Din, apakah sarapannya sudah siap? Aku ingin sarapan dan setelah itu aku mulai narik."


"Sudah Mas, sarapannya sudah siap kok. Mas Bayu dan Ibu tunggu di ruang tengah dulu ya. Biar aku siapkan. Kita sarapan sama-sama."


Dinda beranjak dari posisi duduknya untuk kemudian ia ayunkan tungkai kakinya menuju kompor. Ia pindah tumis kangkung itu ke dalam sebuah mangkuk dan ia bawa ke ruang tengah. Sedang Sonya dan Bayu, sudah lebih dulu duduk di atas sebuah karpet yang berada di ruang tengah untuk menunggu Dinda menyiapkan sarapan mereka.


"Nah ... sudah siap semua, mari kita makan!" ajak Dinda dengan raut wajah yang dipenuhi oleh binar-binar kebahagiaan.


"Kamu sudah mulai ngojek Mas?" tanya Dinda setelah menandaskan makanannya dan meneguk segelas air putih di hadapannya.


Bayu mengangguk pelan. "Betul Din, entah mengapa akun yang aku ajukan di approve dengan cepat padahal biasanya lama. Bisa sampai dua minggu akun yang diajukan mendapat balasan. Sedangkan punyaku hanya selang beberapa jam saja. Maka dari itu, aku mulai narik hari ini."


Dinda tersenyum bahagia. Rupa-rupanya Allah memberikan kemudahan bagi suaminya untuk mulai kembali menata hidup. "Alhamdulillah ... itu semua berkah dari Allah, Mas. Kita harus mensyukurinya."


"Ya, itu sudah pasti Din." Bayu mengusap mulutnya dengan tisu. Ia ambil sebatang rokok untuk menjadi ritual terakhirnya setelah makan. Ia nyalakan batang rokok itu, ia hisap dan ia hembuskan. "Oh iya, bagaimana dengan usulanku kemarin Din?"


Dahi Dinda sedikit berkerut. "Usulan? Usulan apa Mas?"


"Kamu ikut bekerja agar kehidupan kita bisa segera kembali seperti dahulu, Din. Hidup yang serba kecukupan dan tidak sedikitpun merasa kekurangan. Bagaimana?" Bayu bertanya langsung pada point utamanya.

__ADS_1


"Bekerja?" Sejenak, Dinda menjeda ucapannya. Matanya sedikit kosong dan menerawang seperti tengah memikirkan sesuatu. "Tapi apa tidak lebih baik aku di rumah saja, Mas? Kalau aku ikut bekerja, lalu siapa yang akan akan mengurusi keperluan kamu dan semua pekerjaan yang ada di rumah ini?"


"Kamu tenang saja Din, biarkan pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Ibu," timpal Sonya, meredam kecemasan yang Dinda rasakan.


"Tapi, aku kerja apa Bu? Aku ini hanya lulusan SMA. Dan saat ini yang banyak dibutuhkan pasti yang telah memiliki gelar sarjana," tutur Dinda seakan pesimis jika ada lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA.


Sonya terlihat tengah memikirkan sesuatu. Sejenak kemudian, kedua bola matanya membulat sempurna dengan mulut yang mengaga.


"Bagaimana kalau kamu bekerja di Jakarta saja Din, cari lowongan sebagai pembantu rumah tangga? Ibu yakin gaji kamu di sana akan besar. Atau, kamu menjadi TKW di Malaysia, Singapura, Hongkong, Korea atau di mana? Ibu yakin kamu akan mendapatkan gaji yang besar Din."


Dinda terhenyak. "Tapi Bu?"


"Ibu rasa ada baiknya juga jika kamu ikut bekerja, Din. Mumpung kamu dan Bayu belum memiliki anak jadi kalian masih memiliki kesempatan untuk sama-sama bekerja, mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Pastinya untuk memperbaiki kehidupan kalian ini."


Hening, Dinda nampak larut dalam pikirannya sendiri. Memang, apa yang diucapkan oleh mertua ada benarnya, Selama masih belum ada kehadiran buah hati, ia bisa mempergunakan waktu untuk bekerja, membantu sang suami mengumpulkan rezeki. Namun apakah iya, ia harus sampai menjadi TKW yang bekerja di luar negeri? Yang artinya ia harus berpisah jauh dari suaminya?


"Din, bagaimana? Kamu setuju bukan?"


Bayu yang menepuk pundak Dinda sedikit terkesiap. Ia mengerjabkan mata untuk berupaya bangun dari lamunannya. "Eh, apa Mas? Kamu mengatakan apa?"


"Bagaimana? Kamu mau kan, ikut bekerja?"


Dinda menatap manik mata sang suami dan sang mertua secara bergantian. Wanita itupun membuang napas sedikit kasar. "Aku mau bekerja Mas, tapi paling jauh hanya sampai di luar kota. Sedangkan jika menjadi TKW, aku tidak mau."


Senyum Bayu terbit di bibir tipis dengan warna gelap karena terlalu banyak merokok miliknya itu. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjadi TKW. Kamu bisa ikut bekerja saja, aku sudah sangat bahagia. Terima kasih banyak ya Din."


Dinda menganggukkan kepala pelan. "Sama-sama Mas, aku akan ikut membantumu untuk mencari rezeki."


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2