Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 33. Sambutan Hangat


__ADS_3


"Iya Mbak, tuan muda itu orangnya tegaan. Pernah satu ketika ada salah satu karyawan di kantor tuan muda yang berhianat. Ia memanipulasi laporan keuangan dan menggelapkan uang perusahaan. Mbak tahu apa yang dilakukan oleh tuan muda?" tanya Dirman menggantung yang justru membuat Dinda semakin penasaran.


Masih menatap wajah Dirman dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya Dinda menggelengkan kepala. "Tidak Pak, saya tidak tahu!"


"Orang itu digantung di atas pohon selama tiga hari tiga malam tanpa diberi makan ataupun minum Mbak!" Dirman menampakkan ekspresi bergidik ngeri dengan mengedikkan sedikit bahunya. "Hiiiiii ... pokoknya ngeri sekali Mbak!"


Dinda yang mendengar cerita Dirman seakan kesusahan menelan salivanya. Seperti ada sesuatu yang melintang di kerongkongan. Wajah wanita itu mendadak berubah pias. Antara merasa takut, heran dan entah apa lagi yang tidak bisa ia ungkapkan.


Astaghfirullah ... lelaki seperti itu yang akan menjadi majikanku? Ya Allah, apa aku bisa betah bekerja di sana?


Dirman sedikit melirik ke arah Dinda yang tengah larut dalam pikirannya. Ia berusaha mati-matian untuk menyembunyikan tawa. Melihat wajah calon asisten rumah tangga tuan mudanya yang nampak ketakutan. Namun tidaklah mengapa jika untuk pengenalan pertama ia kenalkan tuan mudanya dengan ekspektasi mengerikan. Setidaknya bisa membuat Dinda lebih giat dan bersemangat dalam bekerja, tidak terkesan santai-santai saja.


Di pohon ciplukan maksudku. Hihihi hihihihi benar-benar menggemaskan wajah wanita ini. Kalau saja, wanita ini belum menikah dan saat ini tuan muda sedang tidak menjalin hubungan dengan kekasihnya dan akan segera menikah, nampaknya wanita ini pantas untuk mendampingi tuan muda. Entah mengapa aku melihat jika wanita ini penuh kasih sayang dan setia.


Dirman mengarahkan laju mobilnya ke arah basement apartement mewah yang berada di pusat kota. Mobil yang ia kemudikan pun mendarat sempurna di sana.


"Nah, mari turun Mbak. Kita sudah sampai," ucap Dirman mempersilakan sembari melepas safety belt yang ia kenakan.


Dinda yang masih larut dalam lamunannya, mulai mengerjabkan mata, mencoba untuk meraih kesadaran. Rupa-rupanya sosok tuan muda yang diceritakan oleh Dirman sudah cukup membuatnya bergidik ngeri dan pikirannya berkelana jauh. Ia sampai berkhayal jari telunjuknya akan dipotong saat masakan yang ia olah tidak enak.


"Oh iya, mari Pak!"


Tak ingin berlarut-larut dalam pikirannya sendiri yang semakin tiada terkendali, Dinda melepas sabuk pengamannya. Ia membuka pintu dan mulai keluar dari dalam mobil.


Dirman memandu Dinda untuk menuju sebuah lift yang akan mengantarkannya ke unit milik sang tuan muda. Dinda sedikit terhenyak kala melihat telunjuk Dirman memencet tombol lantai dua puluh.


"Jadi, apartement milik majikan saya ada di lantai dua puluh Pak?"

__ADS_1


"Iya Mbak. Apa ada yang salah?"


"Ya Allah Pak, tinggi sekali. Bahkan mungkin jauh lebih tinggi dari pohon kelapa yang ada di kampung saya."


Dirman terkekeh geli melihat wajah polos Dinda. Sungguh di luar dugaan, wanita yang masih terlihat polos seperti ini sudah bersuami. Menurutnya tega sekali yang menjadi suami Dinda. Membiarkan istrinya bekerja jauh di usianya yang masih terbilang belia.


"Meskipun tinggi, tapi nanti akan banyak keindahan yang bisa Mbak Dinda lihat di sana. Sunset, sunrise bahkan hamparan langit luas yang bertabur bintang. Saya yakin, mbak Dinda akan betah bekerja di sana."


Ya kalau tipe-tipe tuan muda persis seperti apa yang dikatakan Pak Dirman mana ada yang betah? Belum apa-apa sudah dirongrong oleh rasa takut.


Dinda nyengir kuda untuk menutupi kegugupannya untuk bertemu dengan sang majikan. "Hehe iya Pak, saya pasti akan betah. Kapan lagi saya berada di tempat yang lebih tinggi dari pohon kelapa. Iya kan?"


Dirman semakin mengeraskan tawa. Bisa-bisanya wanita ini melibatkan si pohon kelapa dalam obrolannya. "Mbak Dinda ini ternyata hobi bergurau juga ternyata."


Pintu lift terbuka. Dua orang itu keluar dari lift dan mulai menyusuri lorong-lorong khas apartement yang akan mengantarkan mereka ke unit milik sang tuan muda.


"Nah, ini adalah apartement milik tuan muda Erlan, Mbak. Semoga Mbak Dinda betah!"


"Dirman!" Surti menyapa si pemilik nama. Kemudian ia arahkan pandangannya ke arah sosok wanita yang berdiri di samping Dirman. "Ini...?"


Dinda sejenak menundukkan kepala sebagai bentuk rasa hormatnya kepada mbok Surti. Ia tersenyum simpul yang seketika memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Iya Mbok, saya Dinda. Teman sekolah Affa yang tak lain adalah keponakan mbok Surti."


"MashaAllah .... ternyata kamu jauh lebih cantik dari foto profil di kontakmu Din. Mari, mari silakan masuk!"


Dipandu oleh Surti dan Dirman, Dinda memasuki area apartement tempatnya bekerja ini. Dinda mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan hanya ada rasa takjub yang memenuhi ruang-ruang dada. Bahkan bibir wanita itu sampai menganga lebar yang menandakan bahwa ia begitu terkesima dengan interior-interior yang memenuhi segala sisi apartement ini.


"Jadi Din, di sini ada dua kamar tidur. Nanti salah satunya akan menjadi kamarmu. Dan di sudut sana ada ruang khusus yang merupakan ruang kerja den Erlan."


Surti menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di dalam apartement ini kepada Dinda. Sebagai langkah pertama agar penggantinya ini tidak kebingungan. Sedangkan Dinda nampak begitu seksama mendengar penjelasan Surti.

__ADS_1


"Jadi, nanti saya tinggal hanya berdua dengan tuan muda Erlan, Mbok?"


Ada sedikit rasa canggung yang menyelinap di dalam hati milik Dinda. Tinggal satu atap berdua dengan lelaki yang bukan sanak saudara seakan membuat hati wanita itu merasa tidak enak hati.


"Tidak Din, nanti akan ada non Jenica. Dia adalah calon istri den Erlan. Dan kebetulan dua minggu mendatang mereka baru akan menikah."


Dinda menghembuskan napas lega, setidaknya dengan adanya nyonya Erlan, ia tidak akan tinggal satu atap berdua dengan lelaki yang memang bukan sanak saudaranya yang mungkin saja bisa menimbulkan fitnah.


"Alhamdulillah ... saya lega mendengarnya Mbok. Karena bagaimanapun juga tidak elok jika saya hanya tinggal bersama tuan Erlan saja."


"Ckckckck ... mengapa orang seperti kamu ini dibiarkan bekerja, Din? Seharusnya kamu itu hanya tinggal di rumah, mengurus suami dan rumah tangga. Ini malah jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk bekerja."


"Loh, jadi mbok Surti tahu kalau Mbak Dinda ini sudah menikah?" timpal Dirman keheranan. Padahal sejak kemarin, Surti tidak bicara apapun perihal asisten rumah tangga baru tuan mudanya ini.


Surti mengangguk pelan. "Iya Man, aku tahu dari keponakanku. Padahal, seharusnya Dinda ini ada di rumah, dijaga baik-baik oleh suaminya. Eh, ini malah disuruh kerja."


Dinda yang melihat ekspresi wajah Surti yang begitu gemas itu hanya bisa terkekeh geli. Ia memegang lengan tangan wanita paruh baya ini.


"Sudah Mbok, tidak masalah saya ikut banting tulang. Saya ikhlas untuk bekerja di sini, Mbok. InshaAllah ini semua akan membawa kebaikan dan manfaat untuk keluarga saya."


"Ya Allah Din .... ternyata benar kata Affa. Kamu ini benar-benar wanita berhati mulia. Semoga kamu betah untuk bekerja di sini ya Din. Tapi Simbok percaya kalau den Erlan pasti akan merasa senang memiliki asisten rumah tangga seperti kamu ini."


Tanpa terasa, kristal-kristal bening berkumpul di pelupuk mata Surti. Hatinya begitu tersentuh melihat sosok seorang Dinda. Wanita muda yang hatinya begitu mulia yang sanggup berkorban untuk keluarga.


Hati Dinda semakin menghangat. Mendapatkan sambutan dari Surti dan Dirman yang juga terasa begitu hangat. "Aamiin. Semoga ya Mbok."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2