
"Mari dipilih sayurnya Bu, mumpung masih segar-segar!"
Sonya nampak sibuk berjibaku dengan sayuran hijau yang berada di depan mata. Mulai dari bayam, kangkung, sawi dan lain sebagainya. Meskipun sayuran ini sering kali ia lihat dan ia beli, namun seakan membuat Sonya selalu kebingungan dalam memilih.
"Waduh, saya bingung mau masak apa ini Bu-Ibu. Sayuran ini nampak menggoda semua. Padahal hanya daun-daunan saja ya."
"Hahahaha bu Sonya ini ada-ada saja. Yang namanya sayuran itu ya daun-daunan semua Bu. Kalau daging itu bukan sayuran tapi lauk," ujar seorang ibu bernama Indah dengan terbahak.
"Ya sudah sih Bu, ambil daging sapi saja. Dibuat rendang, bistik, atau serundeng. Barangkali bu Sonya mulai bosan dengan sayuran dan ingin masak daging?" sahut seorang ibu bernama Hartati sambil memasukkan ikan pindang ke dalam keranjang belanja.
Sonya berpikir sejenak dengan apa yang diusulkan oleh tetangganya ini. Ia membuka dompet yang ia bawa untuk melihat lembaran rupiah yang ada di sana.
Ah bodo amat uang belanja mingguan yang seharusnya sampai minggu depan aku gunakan untuk membeli daging sapi yang banyak. Masa iya setiap hari aku makan sayur hijau terus menerus? Memang aku kambing? Nanti kalau habis kan bisa minta Bayu lagi.
"Benar juga apa kata bu Hartati. Iya Bu, saya ambil daging sapi saja. Masa orang kaya makannya sayuran terus. Lama-lama bisa jadi kambing saya."
"Nah betul itu Bu. Oh iya, Dinda apa di rumah saja Bu?" tanya Hartati yang seakan ingin tahu tentang keseharian salah satu tetangganya ini.
Sonya tiba-tiba memasang wajah sedikit bete sembari membuang napas berat. "Ya, seperti itulah menantu saya Bu. Dia itu sudah sejak lama diminta untuk bekerja tapi memang dasarnya dia itu pemalas. Tidak mau bekerja untuk membantu suaminya. Maunya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah sambil menengadah uang hasil ngojek anak saya."
Entah setan apa yang merasuki Sonya, wanita itu seakan mengarang bebas akan keseharian sang menantu. Padahal bisa dipastikan hal itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Entahlah, ada maksud dan tujuan apa Sonya membuat karangan cerita seperti itu.
"Masa sih Dinda seperti itu Bu? Hanya ongkang-ongkang kaki di rumah? Padahal dulu Dinda itu dikenal sebagai anak yang rajin loh. Karena sebelum berangkat ke sekolah dia selalu membantu ibunya untuk menitipkan kue di warung-warung," ucap seorang ibu bernama Sri yang sedikit tidak percaya dengan ucapan Sonya.
"Aduh, Bu Sri ini kok tidak percaya sih. Bisa bu Sri lihat kan kalau setiap pagi saya lah yang berbelanja sayuran? Itu karena Dinda masih tidur bahkan saya yang sering memasak, menyapu dan mengepel. Sedangkan menantu saya itu hanya main ponsel saja," terang Sonya untuk membuat kumpulan ibu-ibu ini percaya.
"Ah, saya tetap tidak percaya Bu. Saya sering kok melihat Dinda menyapu halaman di sore hari," timpal Bu Indah.
__ADS_1
"Ya kalau ibu-ibu di sini tidak percaya ya silakan saja. Yang penting saya sudah mengatakan sebenarnya."
Seorang gadis muda bernama Affa mendengar dengan saksama obrolan Sonya dengan ibu-ibu ini. Ia sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Sonya. Karena selama ia mengenal Dinda, Dinda bukanlah wanita pemalas. Bahkan Dinda merupakan wanita rajin dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Ternyata mertua Dinda ini mulutnya lantam sekali. Bisa-bisanya dia menjelek-jelekkan nama Dinda di hadapan ibu-ibu ini. Padahal Dinda yang sudah memberikan tumpangan tempat tinggal untuk mertua dan suaminya. Sepertinya aku harus bertemu dengan Dinda sambil menawarkan pekerjaan dari budhe Surti di Jakarta.
Setelah bebrapa sayuran segar mengisi keranjang belanja yang ia bawa, Affa memilih untuk segera membayar dan pergi dari lapak sayur ini tentunya untuk bertandang ke rumah Dinda.
***
"Affa!" pekik Dinda saat melihat kedatangan salah satu teman SMA nya ini. "MashaAllah, kok tumben kamu main ke sini Fa?"
Meski sedikit terkejut, namun tidak bisa menyembunyikan rona bahagia yang terpancar dari wajah Dinda. Hal itu karena sudah lama ia tidak bertemu dengan teman SMA nya ini.
"Jadi, aku tidak boleh main ke rumahmu Din? Kalau begitu aku pulang lagi saja lah!"
"Astaga Fa, aku bercanda. Ayo duduk dulu. Kita ngobrol-ngobrol."
Kedua wanita itu duduk di sebuah lincak yang terbuat dari bambu. Affa mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Rumah ini masih tetap terlihat rapi dan terawat meskipun bangunannya nampak begitu sederhana.
Melihat rumah Dinda yang begitu bersih dan tertata rapi seperti ini, aku yakin bahwa yang diucapkan oleh mertua Dinda di lapak sayur tadi hanya fitnah. Mana mungkin rumah bisa sebersih dan serapi ini jika pemiliknya malas-malasan.
"Kamu apa kabar Fa? Aku dengar saat ini kamu bekerja di salah satu pabrik konveksi yang ada di Bogor?" ujar Dinda membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah kabarku baik Din." Affa mengeluarkan ponsel dari sebuah tas kecil yang ia bawa seraya membuka pesan yang dikirim oleh Surti. "Iya Din, sebelumnya aku memang bekerja di Bogor, tapi sudah sejak seminggu yang lalu aku pulang. Kebetulan ibuku sakit jadi sementara aku ambil cuti dulu dari pabrik."
"Oh begitu, tapi sekarang ibu kamu sudah sehat kan?"
"Alhamdulillah sudah Din."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu Fa. Aku ikut lega mendengarnya."
"Oh iya Din, kamu di rumah tidak ada kegiatan?"
Dinda hanya tersenyum simpul. "Kegiatanku ya hanya seperti ini Fa, bersih-bersih rumah, mencuci, dan mengurus suami. Aku sudah mencoba memasukkan lamaran pekerjaan tapi sampai sekarang belum ada panggilan."
Affa mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata dugaannya benar bahwa ucapan mertua Dinda di lapak sayur beberapa saat yang lalu hanya merupakan karangan bebas.
Kasihan Dinda, sepertinya mertua Dinda ini toxic sekali. Aku khawatir jika Dinda malah semakin diinjak-injak harga dirinya. Semoga Dinda mau menerima tawaran pekerjaan yang ditawarkan oleh budhe Surti.
"Oh iya Din, aku ada lowongan pekerjaan di Jakarta. Apa kamu mau?"
Mendengar kata lowongan pekerjaan membuat wajah Dinda nampak berbinar. "Pekerjaan? Mau Fa, mau."
"Tapi hanya sebagai asisten rumah tangga, Din. Apa kamu tidak malu?" tanya Affa dengan penuh kehati-hatian. Ia tidak ingin jika sampai Dinda merasa direndahkan karena hanya ditawari untuk menjadi asisten rumah tangga.
Dinda menggelengkan kepala. "Tidak masalah Din, mau menjadi asisten rumah tangga, menjadi office girl atau apapun itu tidak masalah. Asalkan pekerjaan itu halal dan aku bisa membantu mas Bayu untuk menjemput rezeki."
Affa menatap haru wajah temannya ini. Ternyata Dinda yang pernah ia kenal belum lah berubah. Ia masih tetap menjadi Dinda yang gigih, pantang menyerah dan mau berkorban untuk keluarga. Ia benar-benar tidak terima jika sampai ada orang yang menjelek-jelekkan temannya ini.
"Baiklah Din, nanti akan aku kabari lagi selanjutnya. Kapan kamu bisa berangkat, apa saja yang harus kamu persiapkan, nanti akan aku kabari lagi. Meskipun menjadi asisten rumah tangga, tapi kamu jangan khawatir Din. Penghasilan budhe Surti bekerja di sana lumayan besar bahkan dia sampai bisa membeli sawah dan tanah di kampung ini."
Dinda tergelak pelan seraya menepuk pundak Affa. "Kamu ini, pekerjaan saja belum aku mulai masa sudah menceritakan gaji. Berapapun gajinya inshaAllah aku bisa terima Fa. Yang terpenting majikannya baik."
"Aku jamin baik Din. Nyatanya budhe Surti betah sekali bekerja di sana. Dua puluh lima tahun lebih loh dia ikut majikannya itu."
Dinda tersenyum penuh arti sembari menghembuskan napas lirih.
Alhamdulillah ... Akhirnya Engkau menjawab doa-doa yang aku panjatkan ya Allah. Semoga dengan menerima tawaran dari Affa bisa menjadi jalan rezeki bagiku yang jauh lebih berkah lagi. Dan pastinya bisa membantu mas Bayu untuk menata masa depan kami.
__ADS_1