
Suasana ballroom salah satu hotel bintang tujuh (bukan merk puyer ya Kak😂) di kota Jakarta nampak begitu ramai di jam empat pagi hari ini. Para tim dari wedding organizer yang dipercaya untuk menghandle seluruh rangkaian acara hari ini terlihat berlalu lalang ke sana kemari untuk memastikan jika acara hari ini akan berjalan lancar tanpa satu kendala apapun.
Sebuah dekorasi yang didominasi oleh warna gold, terlihat begitu apik dan memanjakan mata siapapun yang berada di tempat ini. Sebuah panggung rendah dengan kursi pelaminan sudah siap. Meja-meja prasmanan yang nantinya akan dihiasi oleh aneka rupa hidangan pun juga sudah siap.
Kini tinggal menunggu sang mempelai memasuki ballroom ini untuk melakukan prosesi akad nikah dan kemudian dilanjutkan dengan acara resepsi yang juga akan diadakan di tempat ini pula. Tak lupa, satu space khusus untuk para penyanyi yang sengaja diundang untuk menyemarakkan acara hari ini juga sudah siap. Pastinya mereka sudah siap untuk menghibur para tamu yang datang ke acara ini.
Serangkaian acara pernikahan Erlan dan Jenica akan berjalan satu persatu. Pagi ini, kedua mempelai akan melangsungkan akad nikah yang rencananya akan diselenggarakan tepat pukul delapan. Setelah itu, lanjut ke acara resepsi dan diperkirakan acara sang tuan muda akan selesai di pukul satu siang.
Dinda dan Surti berada di sebuah ruangan khusus yang sudah disediakan sebagai tempat make-up. Atas perintah sang tuan muda, dua orang yang bekerja di apartement miliknya itu harus ikut dirias juga. Bahkan kebaya modern nuansa gold juga sudah disiapkan oleh Erlan untuk Dinda juga Surti.
"Mbok, acara tuan Erlan mewah sekali ya. Tadi aku sekilas melihat dekorasi yang ada di ballroom, mashaAllah Mbok, cantik dan elegan sekali."
Di sebuah sofa, Dinda dan Surti mendaratkan bokong mereka untuk menunggu para MUA yang sebentar lagi akan tiba. Di sela obrolannya dengan Surti, Dinda tiada henti memuji konsep pernikahan tuan mudanya ini. Yang terlihat begitu mewah sekali.
"Itu sudah pasti Din. Relasi den Erlan orang-orang penting semua, jadi wajarlah kalau dia mengambil konsep seperti itu."
"Cckkkckkkk ... aku tidak bisa membayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh tuan Erlan, Mbok," decak Dinda seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Surti tergelak pelan melihat ekspresi wajah Dinda yang begitu polos ini. Surti sampai berpikir dalam pikiran Dinda pasti tergambar lembaran-lembaran uang yang banyak sekali untuk membayar jasa Wedding Organizer ini.
"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan Din. Yang jelas gaji kita selama satu tahun tidak akan cukup untuk membayarnya."
Cekleekkkkk....
Suara daun pintu yang dibuka dari arah luar membuat perhatian Dinda dan Surti beralih ke arah pintu. Tak selang lama, muncul kurang lebih lima orang dengan membawa kotak make-up di tangan masing-masing.
"Adududuhh ... maafkan eike ya Cin, eike sedikit terlambat. Padahal eike sudah bangun pagi-pagi sekali, tapi ternyata telat juga."
Seorang laki-laki yang berpenampilan seperti wanita itu berjalan mendekat ke arah Dinda. Ia menundukkan sedikit tubuhnya dan menatap lekat wajah Dinda. Dinda yang ditatap intens oleh MUA ini hanya bisa mengernyitkan dahi karena tidak paham dengan apa yang diucapkannya.
__ADS_1
"Waowwww ... it's amazing. Wajah you benar-benar nampak cantik natural Cin. Bersih, tidak ada jerawat sama sekali. Hmmmm sedikit kusam sih, tapi Eike yakin setelah di make-up, kamu akan menjelma menjadi ratu Cleopatra dan siap menghipnotis seluruh tamu undangan. Ayo kita mulai make up!"
Dinda terhenyak. Ia merasa ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi. "Eh tapi saya bukan pengantinnya Mas. Saya ini pembantu di apartement majikan saya."
"Eittsss .... jangan panggil Eike Mas, tapi Madam Rosebrand. You know? Madam Rosebrand."
Hampir saja Dinda tertawa kala mendengar kata Rosebrand. Tiba-tiba saja pikirannya berkelana jauh sampai terhenti pada salah satu merk tepung beras. Namun sebisa mungkin, ia menahan tawa itu agar tidak menyinggung perasaan Madam Rosebrand ini.
"I-iya Madam, maaf. Tapi saya itu bukan calon pengantinnya. Saya hanya pembantu, Madam."
"Haduuhhhh ... bisa pusing Eike kalau seperti ini. Kalau bukan you calon mempelai wanitanya lalu siapa, hemmmmmm? Di sini hanya ada you dan simbok ini, jadi tidak mungkin jika bukan you calon mempelainya. Let's Go! Kita tidak punya banyak waktu ini."
"Eh tapi...."
Dinda tidak bisa berbuat apa-apa saat lengan tangannya ditarik oleh lelaki yang menyebut dirinya sebagai Madam itu. Ia dudukkan tubuh Dinda di depan sebuah cermin lebar dan siap untuk di make-up.
"You ini mau dinikahi pria kaya raya kok masih mengelak saja. Kalau you tidak mau menjadi pendamping tuan muda Erlan, biarkan Eike saja lah ya yang menggantikan you?"
"Tapi saya ini bukan calon mempelainya, Madam. Saya itu..."
Dinda hanya bisa terduduk pasrah. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa karena setiap kali ia mencoba untuk memberikan penjelasan, tapi tetap saja dibantah oleh Madam Rosebrand ini.
MUA itu mulai mengambil amunisinya satu persatu. Bersiap merias wajah Dinda dan menjadikannya ratu Cleopatra. Surti yang masih duduk di sofa hanya melongo melihat drama tukang rias yang salah alamat ini. Namun, wanita paruh baya itu hanya bisa tergelak saat menyadari bahwa ada kesalahan di sini.
***
Tubuh Jenica menggeliat kala rasa haus tiba-tiba datang menyerang. Kelopak matanya mengerjap dan terbuka perlahan. Ia sedikit memincingkan mata kala anak-anak sinar matahari mulai masuk menembus kaca jendela lebar di kamarnya ini. Ia menggeser tubuhnya dan mulai bersandar di head board ranjang. Ia mengucek-ucek mata sembari berupaya untuk meraih kesadaran yang belum kembali penuh di dalam raga.
Kamar miliknya ini nampak begitu berantakan dengan botol-botol minuman memabukkan dan juga kaleng-kaleng minuman bersoda. Semalam, ia memang sengaja mengundang teman-teman yang berada di circle nya untuk mengadakan pesta lajang. Sebuah pesta yang biasa dilakukan sehari sebelum acara pernikahan. Hingga pukul dua dini hari, ia dan teman-temannya berpesta.
Dering suara ponsel yang berada di atas nakas memaksa Jenica untuk bergegas meraih benda pipih itu. Baru saja ia akan menggeser icon berwarna hijau namun panggilan itu tiba-tiba mati. Dahinya sedikit mengernyit karena panggilan itu berasal dari nomor Erlan.
__ADS_1
"Tumben Erlan melakukan panggilan berkali-kali. Ada apa ya?"
Tak selang lama, ponsel itu kembali berdering. Gegas, ia menggeser icon berwarna hijau itu.
"Iya hallo Sayang, ada apa? Tumben pagi-pagi seperti ini kamu sudah telfon aku? Kangen ya?"
"Jen, jangan bercanda kamu itu di mana? Mengapa kamu belum sampai di hotel untuk di make-up? Ini sudah jam setengah tujuh pagi. Kamu mau membatalkan pernikahan ini?"
Kedua bola mata Jenica terbelalak sempurna bahkan tubuhnya sampai terperanjat. Ia baru ingat jika pagi ini ia harus ke hotel jam empat pagi untuk di make-up. Ia lempar ponsel yang ada di dalam genggaman. Tidak perduli dengan Erlan yang masih mengoceh di seberang telepon dan bergegas menuju kamar kedua orang tuanya.
Dug .... dug .... dug ...
"Pa, Ma! Bangun!"
"Papa, Mama!"
Mendengar suara pintu yang digedor-gedor, membuat tidur Wirabuana dan Sukma terganggu. Dengan langkah kaki gontai dan malas, mereka membukakan pintu kamar.
"Ada apa sih Jen? Masih pagi tapi sudah bikin ribut? Papa dan Mama masih ngantuk ini!"
"Papa dan Mama itu bagaimana? Kita harus segera ke hotel Ma, Pa. Hari ini aku akan menikah!"
"Hah?"
"Kita kesiangan Ma, Pa!"
Rasa kantuk dan malas yang sebelumnya membelenggu raga tiba-tiba hilang seketika. Mereka berlari tunggang langgang, berlari ke sana kemari tiada terarah. Bingung harus bagaimana dan melakukan apa. Ini semua karena kesiangan.
.
.
__ADS_1
. bersambung...
Hayoooo... Kira-kira pernikahan Jenica dan Erlan tetap berjalan atau tidak ya... 🤣🤣🤣