Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 95. Kembali Miskin Lagi?


__ADS_3

"Aku terima Mas. Namun ada satu permintaanku. Kembalikan kunci rumahku, karena rumah yang selama ini kamu tinggali adalah rumah peninggalan orang tuaku. Dan itu adalah hakku!"


Kedua mata Bayu membulat sempurna kala mendengar permintaan Dinda. Pasalnya rumah itu ia jadikan jaminan untuk berhutang dan hasil uang itu sudah habis untuk membeli mahar untuk Maya. Namun apapun keadaannya, Bayu mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik.


"Baiklah, tunggu sebentar. Akan aku ambilkan!"


Bayu berlalu pergi meninggalkan ruangan ini. Menuju kamar untuk mengambil kunci rumah milik sang mantan istri. Sedangkan Kartina terlihat tidak percaya jika putrinya ini lebih memilih untuk tetap mempertahankan lelaki seperti Bayu.


"May, Ibu tanya sekali lagi. Apa kamu tidak ingin mengubah keputusanmu untuk tetap bersama Bayu?"


Maya menggelengkan kepala. Dengan tegas, ia berdiri pada pendirian dan pilihannya.


"Tidak Bu, aku tetap akan hidup bersama mas Bayu. Jalan inilah yang sudah aku pilih Bu. Terlebih lagi Cantika sudah teramat ketergantungan terhadap kehadiran mas Bayu. Aku tetap akan mempertahankannya!"


Seperti tertancap ribuan duri, hati Kartina terasa begitu perih sekali. Tidak ia sangka jika putri yang ia besarkan dengan penuh kasih tak sedikitpun bersimpati terhadap apa yang menimpa wanita lain. Dan lagi, putrinya inilah yang menjadi perusak hubungan rumah tangga wanita lain.


"Tapi kamu lihat sendiri kan Nak? Bayu itu penuh dengan kebohongan. Dia sudah menipu kita semua. Apakah kamu masih akan tetap mempertahankan seorang penipu?"


Kartina bertanya sekali lagi untuk mencoba membuka mata hati putrinya yang telah tertutup kabut ini. Ia berharap agar Maya bisa segera sadar akan kebodohannya.


"Mas Bayu berbohong pasti ada alasannya Bu. Maya lihat mas Bayu berbohong untuk bisa hidup bersama Maya. Dan itu sudah cukup menjadi bukti cinta mas Bayu untuk Maya."


"Astaga Maya... " lirih Kartina sembari mengurut dada. "Kamu ini sudah dibutakan oleh cinta yang semu, May. Ayo sadar Nak. Kamu itu sudah menjadi perusak rumah tangga orang lain!"


Maya menggelengkan kepala. "Tidak Bu. Aku tidak pernah menjadi perusak rumah tangga orang karena mas Bayu sudah tidak mencintai istrinya. Dia hanya mencintaiku."


"Ya ampun May..."


Kartina sudah tak sanggup lagi untuk berucap apapun. Lidahnya terasa begitu kelu. Memang susah memberi nasihat untuk orang yang tengah dibutakan oleh cinta.


Sedangkan Dinda hanya bisa menatap nanar wajah Maya dari tempatnya berdiri. Ternyata sudah sedalam itu perasaan yang dimiliki oleh Maya kepada mantan suaminya itu. Air mata pun hanya bisa mengalir deras membanjiri wajah Dinda sebagai luapan kehancuran hati yang tengah ia rasakan. Surti yang berdiri di tempat ini pun hanya bisa mengusap-usap lengan Dinda untuk menguatkannya.

__ADS_1


"Ini kunci rumahmu. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku harap setelah ini kamu tidak akan pernah mengganggu hidupku lagi!"


Dengan tangan bergetar, Dinda menerima kunci rumah miliknya. Setidaknya apa yang menjadi miliknya telah kembali dan dapat ia peluk lagi. Rumah satu-satunya yang merupakan harta paling berharga yang ia miliki.


"Terima kasih banyak untuk saat-saat indah yang pernah ada diantara kita, Mas. Aku mengucapkan terimakasih karena kamu sudah pernah menjadi bagian terindah dalam cerita hidupku. Meskipun pada akhirnya, kamulah orang yang paling tega menancapkan luka dalam hatiku."


Dinda mencoba untuk tetap tegar meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar. Ia mengawali hubungannya dengan Bayu secara baik-baik dan jika semua berakhir, ia pun juga ingin mengakhirinya secara baik-baik pula.


"Sudahlah Din, aku bahkan sudah lupa kebahagiaan seperti apa yang pernah kita lewati bersama karena aku merasa justru semakin sengsara dan ketiban sial setelah aku menikah denganmu. Dan sekarang, aku sudah jauh lebih bahagia hidup bersama dengan Maya."


Bayu berujar seraya menarik lengan tangan Maya untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Bahkan ia dengan sengaja memberikan sebuah kecupan mesra di bibir Maya untuk memporak-porandakan hati mantan istrinya ini.


"Benar begitu kan Sayang?" tanya Bayu kepada istrinya ini. Sedangkan Maya hanya bisa tersipu malu seraya menganggukkan kepala.


Dinda hanya bisa tersenyum getir sedangkan Kartina dan Surti menatap penuh rasa jijik ke arah sepasang suami-istri ini.


Sedangkan di teras depan Sonya dibuat bertanya-tanya kala sayup-sayup terdengar suara beberapa orang dari arah ruang tamu. Tiba di ambang pintu, betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok wanita yang begitu familiar di penglihatannya.


Sonya memekik kencang yang seketika membuat orang-orang yang berada di ruang tamu menoleh ke arah pintu. Dinda yang merasa dipanggil, hanya bisa tersenyum tipis dan menganggukkan kepala pelan.


"Iya Bu, ini aku. Bagaimana kabar Ibu? Sehat?"


Ada sebuah gejolak rasa yang memenuhi ruang hati Sonya. Tiba-tiba saja hatinya dilanda kekalutan saat melihat kedatangan Dinda yang tanpa terduga ini. Ia merasa posisinya semakin terancam jika sampai Dinda mengatakan yang sebenarnya.


Ini sungguh gawat. Bisa jadi nasibku menjadi orang kaya yang baru beberapa hari ini akan berakhir jika Dinda jujur tentang semuanya. Bisa-bisa Maya meminta cerai dari Bayu. Oh ya Tuhan ... Aku tidak mau jadi miskin lagi..


"Untuk apa kamu datang kemari? Kamu ingin menghancurkan hidup putraku lagi, hah?" bentak Sonya ke arah Dinda untuk menutupi kegugupan yang ia rasa.


Dinda tersenyum tipis. Sebisa mungkin ia bersikap santai agar tidak terpancing dengan apa kelakuan sang mantan mertua.


"Oh tentu tidak Bu. Justru saya datang kemari untuk membuka jalan kebahagiaan bagi mas Bayu." Dinda menautkan pandangannya ke arah Bayu. "Benar seperti itu kan Mas?"

__ADS_1


Bayu masih membisu dan membeku. Ia seakan merasa kikuk sendiri tak tahu apa yang harus ia katakan.


"Semua yang ada di sini, jangan pernah percaya dengan apa yang disampaikan oleh wanita gila ini. Apapun yang sudah keluar dari mulut wanita ini adalah kebohongan besar!" teriak Sonya yang kini tatapan matanya fokus kepada Kartina dan Maya.


"Ibu tenang saja. Semua kebenaran yang sudah aku katakan tidak akan pernah mengubah pendirian dan jalan hidup menantu baru Ibu itu untuk tetap mendampingi mas Bayu. Iya kan Mbak Maya?" timpal Dinda masih dengan santainya.


Kini tatapan Dinda tertuju pada sosok wanita yang sejak tadi didekap dan dipeluk erat oleh laki-laki yang pernah menjadi bagian cerita di dalam lembaran hidupnya. Sungguh sebuah pemandangan yang terlihat romantis dan manis sekali. Namun membuat batin Dinda terasa begitu teriris perih.


Sonya terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh Dinda. Antara percaya atau tidak namun ia bergegas menatap intens bahasa tubuh antara Maya dengan sang putra.


Ternyata benar jika Maya sama sekali tidak terprovokasi dengan kedatangan Dinda dan apa yang diucapkan oleh wanita sialan itu. Itu artinya aku masih bisa menikmati semua kemewahan yang ada di rumah ini sampai aku mati. Hahahaha .. . Ya Tuhan, aku sangat bersyukur sekali.


"May, Ibu tanya sekali lagi. Apakah kamu tetap berada pada keputusanmu untuk tetap melanjutkan pernikahanmu dengan Bayu?" ulang Kartina kepada sang anak.


"Iya Bu, aku akan tetap mempertahankan pernikahanku dengan mas Bayu. Kami saling mencintai dan tidak ingin terpisahkan lagi!"


"Oh sungguh manis sekali May!" puji Kartina meskipun itu semua terdengar menjijikkan. "Kalau begitu dengan cinta yang kalian miliki, kalian bisa tetap bertahan hidup bukan?" sambung Kartina pula.


Maya menganggukkan kepala. "Itu sudah pasti Bu. Karena cinta yang kami miliki ini yang akan menjadi pondasi di dalam kami mengarungi bahtera rumah tangga ini."


"Baiklah kalau begitu. Mulai hari ini silakan tinggalkan semua fasilitas yang telah Ibu berikan. Buktikan semua yang sudah kamu katakan bahwa hanya dengan cinta yang kalian miliki, kalian bisa melewati suka dan duka yang menghampiri."


Maya tersenyum simpul. "Baik Bu, akan Maya buktikan. Bahwa tanpa fasilitas dari Ibu, mas Bayu bisa menghidupiku!"


Berbeda jauh dengan ekspresi Maya yang terlihat begitu yakin, wajah Bayu dan Sonya justru menampakkan ekspresi terkejut setengah mati. Mereka seakan belum siap untuk melepaskan diri dari segala kemewahan yang baru beberapa hari mereka nikmati.


Ya Tuhan .... Apakah ini artinya hidupku akan kembali miskin blangsak lagi?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2