
"Aaaaaaa ... Aku bahagia Bara!!!! Aku sungguh bahagia!!!"
Jenica berdiri di bibir pantai sembari berteriak kencang ke arah deburan ombak yang memecah batu karang. Dari raut wajah wanita itu terlihat jika hari ini tampak begitu bahagia. Karena senyum lebar tidak sedetik pun tenggelam dari bibirnya.
Bara tersenyum penuh arti. Ia mendekat ke arah Jenica, berdiri di belakangnya dan memeluk erat tubuh wanitanya ini.
"Aku pastinya juga lebih bahagia karena bisa membahagiakan wanitaku!"
"Setelah ini aku semakin yakin untuk meninggalkan Erlan Sayang. Aku sadar ternyata milikmu yang besar dan perkasa yang jauh lebih bisa membahagiakanku , bukan kekayaan Erlan."
"Tapi, aku rasa kamu bisa mendapatkan keduanya, Honey."
"Maksud kamu?"
Bara membalik tubuh Jenica hingga kini keduanya dalam posisi saling berhadapan. Bara menatap lekat wajah Jenica dan merapikan rambut sang kekasih yang berantakan karena diterpa oleh angin.
"Kamu alihkan semua aset-aset yang dimiliki oleh suamimu terlebih dahulu menjadi atas namamu. Setelah itu, kamu tinggalkan dia. Dengan begitu hidup kita pasti akan jauh lebih sempurna."
Bak sebuah sihir, Jenica terpaku pada usulan yang disampaikan oleh Bara. Wanita itu kembali tersenyum lebar seakan menjadi tanda bahwa ia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Bara.
"Kamu benar-benar cerdas Sayang. Aku malah tidak kepikiran sampai di sana. Iya benar, aku harus mendapatkan semua aset yang dimiliki oleh Erlan terlebih dahulu dan setelah itu aku akan meninggalkannya."
Bara tersenyum penuh arti saat apa yang menjadi rencananya akan berjalan sempurna. "Bagus Honey, dengan begitu hidup kita ke depan pasti akan jauh lebih bahagia dan sempurna."
__ADS_1
Jenica kembali menatap hamparan laut lepas yang ada di hadapannya. Sedangkan Bara jauh lebih erat memeluk tubuh sang kekasih dari belakang bahkan bibir mereka juga saling berpagut dan mengecup dengan mesra tanpa mereka tahu bahwa ada dua pasang mata manusia yang melihatnya dari kejauhan.
****
Dinda memandang sebuah sajian yang cukup membingungkan. Sepasang manusia yang tengah berlarian dan berkejaran di bibir pantai sembari tertawa-tawa. Sesungguhnya tidak ada yang membingungkan dari apa yang nampak di dalam indera penglihatannya itu karena pemandangan seperti itu merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh orang-orang yang berlibur di pantai. Namun yang membuatnya bingung adalah hal itu dilakukan oleh seorang wanita yang telah bersuami dengan lelaki yang bukan suaminya.
"Bagaimana? Sebuah pemandangan yang sangat indah bukan?"
Dinda yang tengah hanyut dalam kebingungan yang ia rasakan, menoleh ke arah samping di mana sang Tuan berada. Keluar dari hotel, lengan tangannya ditarik oleh Erlan untuk mengikuti kemana Jenica pergi. Dan di balik batu karang ini mereka bersembunyi untuk melihat apa yang tengah dilakukan oleh Jenica.
"Tuan..."
"Tidak aku sangka, ternyata wanita yang aku nikahi adalah wanita murahan yang berani menodai kesucian pernikahan dengan perselingkuhan yang ia lakukan."
Sorot mata Dinda terpaku pada wajah Erlan yang tampak fokus pada sepasang manusia yang ada di hadapannya. Semakin lekat ia menatap wajah Erlan, yang ada justru hanya ada rasa iba yang semakin terasa. Lelaki itu berupaya mati-matian untuk bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun padahal mungkin dalam dadanya ia merasakan emosi yang ingin ditumpahkannya. Namun ia tampak berusaha untuk tetap tenang.
"Apakah Tuan hanya ingin berdiri di sini saja dengan membiarkan non Jenica digoda oleh lelaki itu dan membiarkan lelaki itu merebut non Jenica? Apakah Tuan tidak ingin mendatangi mereka berdua?"
Dinda sedikit heran dengan apa yang dilakukan oleh Erlan. Biasanya, seorang suami akan meluapkan amarahnya ketika sang istri digoda oleh lelaki lain kemudian melabraknya. Namun entah mengapa hal itu tidak dilakukan oleh sang majikan.
"Bukankah istriku sudah mengizinkan lelaki itu untuk menggodanya? Jadi, untuk apa aku harus susah payah melabrak mereka berdua."
"Tapi Tuan, usia pernikahan Tuan baru satu bulan. Bukankah seharusnya saat ini Tuan dan non Jenica sedang bahagia-bahagianya?"
__ADS_1
"Ya, seharusnya memang seperti itu. Tapi dia yang memilih jalan ini untuk merusak pernikahan kami. Ternyaman pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di dalam otakku kini terjawab sudah."
"Pertanyaan? Pertanyaan apa Tuan?" tanya Dinda yang begitu penasaran.
Erlan meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan kasar. Mencoba untuk melepaskan rasa sesak yang terasa begitu menghimpit dada.
"Aku sempat melihat beberapa jejak tanda merah yang tertinggal di punggung dan tengkuk Jenica. Saat itu batinku berperang antara meyakini bahwa Jenica adalah wanita murahan atau setia. Tapi ternyata hari ini aku mendapatkan jawabannya. Dia memang wanita murahan yang tega menggadaikan kesucian sebuah tali pernikahan."
"Jadi, Tuan sudah jauh-jauh hari mengetahui perihal ini?"
"Ya, aku sudah mengetahuinya. Bahkan aku sampai membuat rencana tidak ikut ke Labuan Bajo agar bisa mengelabui Jenica."
Bibir Dinda semakin menganga lebar, tidak menyangka jika tuannya ini sampai membuat skenario seperti ini. Dinda semakin yakin jika Erlan benar-benar sudah mempersiapkan hatinya sendiri.
"Lalu, sekarang apa yang akan Tuan lakukan? Apakah Tuan hanya akan berdiam diri seperti ini saja?
Erlan menggelengkan kepala. "Tentu tidak. Aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk Jenica. Pastinya yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya."
..
.
. bersambung
__ADS_1