
Anak-anak sinar matahari mulai menelusup masuk ke dalam kamar Dinda melalui celah-celah jendela. Suasana kamar yang sebelumnya gelap gulita, kini kian terang benderang kala pancaran sinar itu merangsek masuk ke dalam kamar. Seketika membuat suasana hangat juga kian terasa.
Tubuh Dinda bergeliat kala sayup-sayup terdengar kicau burung gereja yang bertengger di atas genting rumahnya. Matanya mengerjap dan wanita itu sedikit memicingkan mata kala sinar mentari terasa begitu menusuk kornea. Ia menggeser sedikit tubuhnya dan memilih untuk bersandar di head board ranjang.
"Ya Allah .... Kepalaku pusing sekali!"
Dinda berujar lirih sembarangan memijit-mijit pelipisnya yang terasa begitu pusing. Suaranya terdengar begitu serak serta matanya bengkak setelah semalam ia menangis sendirian. Entah berapa lama ia menangis. Yang jelas hingga pukul dua belas malam ia masih larut dalam luka batinnya. Sampai-sampai ia tertidur tanpa sadar.
Meskipun kepalanya terasa begitu berat, Dinda mencoba untuk turun dari ranjang. Perutnya yang terasa begitu perih memaksa wanita itu untuk berjalan ke arah dapur untuk mencari makanan. Berharap ia menemukan sesuatu yang bisa mengisi perutnya.
"Astaga, tidak ada bahan makanan apapun di sini."
Dinda hanya bisa membuang napas kasar saat tidak sedikitpun ia menemukan bahan makanan yang bisa diolah. Entah itu mie instan, telor atau apapun itu yang bisa dimasak. Dinda pun hanya bisa terduduk lemas di kursi dapur.
"Lalu, sekarang aku harus bagaimana? Apakah pesan gofood saja?"
Baru saja Dinda beranjak dari posisi duduknya untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas, namun tiba-tiba...
Ting... Ting... Ting.....
"Bubur Ayam .... Bubur Ayam!!"
Denting suara sendok yang beradu dengan mangkuk terdengar nyaring di telinga. Suara seorang lelaki khas penjual bubur ayam juga seakan memanggil-manggil untuk mendekatinya. Senyum tipis pun tersungging di bibir Dinda.
"Akhirnya ada penjual bubur ayam juga. Lumayan, bisa untuk mengganjal perut."
Dinda mempercepat langkahnya untuk bisa segera menjangkaunya si penjual bubur. Sampai di teras, wanita itupun berteriak.
"Mang ... Beli bubur ayamnya!"
__ADS_1
***
Matahari berada tepat di atas ubun-ubun kala mobil yang dikendarai oleh Erlan tiba di sebuah desa. Sebuah desa yang cukup asri karena berada di balik area persawahan di mana terbentang hamparan tanaman padi yang masih menghijau. Meskipun raja siang mentransfer energi panasnya secara berlebihan namun keasrian tempat ini mampu meredam ini semua.
Berbekal Google maps, Erlan menyusuri tiap-tiap jengkal jalanan menuju tempat praktek mak Erot. Salah satu tempat pengobatan dan terapi alternatif yang begitu masyur untuk mengatasi segala keluhan pria. Apalagi yang ingin mengubah burung pipit menjadi burung rajawali.
Mobil yang dikemudikan oleh Erlan berhenti tepat di depan sebuah rumah yang berbentuk limasan. Dahi lelaki itu sedikit mengernyit kala melihat kondisi rumah ini begitu sepi.
"Katanya terkenal, tapi mengapa rumahnya sepi? Biasanya kalau terkenal keampuhannya kan pasti banyak pasien yang mengantre. Seperti milik Gus Samsudin itu."
Sejenak dibuat dilema antara turun atau tidak, akhirnya Erlan memilih untuk turun dari mobil. Lelaki yang tengah berupaya mencari obat untuk burung pipitnya itu memutuskan untuk tetap berdiri di halaman rumah saja.
"Permisi!" teriak Erlan.
Lumayan lama Erlan menunggu seseorang menyahuti teriakannya. Hampir saja ia menyerah dan kembali masuk ke dalam mobil. Namun saat ia mengayunkan tungkai kakinya tiba-tiba...
Erlan yang sudah berbalik arah kembali membalikkan punggung. Terlihat seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh tahun berdiri di depan teras.
"Sudah menunggu saya? Memang Anda tahu bahwa saya akan datang kemari?" tanya Erlan dengan kernyitan di dahi. Ia masih sanksi apakah wanita berusia senjata ini yang bernama mak Erot atau bukan.
Wanita itu terkekeh. Suaranya persis seperti nenek-nenek yang tengah bercanda dengan cicit-cicitnya.
"Iya, aku mak Erot. Orang yang kamu cari untuk permasalahan burung pipitmu. Ayo masuk, aku sudah mempersiapkan segalanya untuk mengubah burung pipitmu itu menjadi burung rajawali."
Erlan terhenyak seketika. Bagaimana bisa nenek tua ini membaca pikirannya? Padahal hari ini baru pertama kalinya mereka bertemu. Erlan masih terpaku dan membeku. Otaknya mendadak blank, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Sudah, jangan bengong seperti itu. Ayo masuk. Kita mulai lakukan terapinya. Bukankah kamu ingin segera memiliki rajawali?"
Erlan terbangun dari lamunannya. Akhirnya rajawali lah yang membuat Erlan kembali bersemangat untuk melakukan terapi ini. Erlan mengayunkan tungkai kaki untuk mengikuti kemana si mak Erot ini berjalan.
__ADS_1
"Duduk di sini dulu ya Cu! Ada hal yang ingin aku siapkan terlebih dahulu," ucap mak Erot mempersilakan duduk.
"Terima kasih Mak!"
Erlan mendaratkan bokongnya di atas sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati. Meskipun usia kursi ini terlihat sudah lumayan tua, namun masih terlihat kokoh sekali. Sembari menunggu mak Erot, Erlan mengedarkan pandangannya ke semua penjuru. Terlihat banyak bingkai foto yang menunjukkan betapa ramainya tempat praktek mak Erot ini.
"Ayo Cu, kita masuk. Kita mulai terapinya!"
Terdengar suara mak Erot memberikan titah. Ia menoleh ke arah sumber suara namun tiba-tiba...
"Apaan tuh?"
Kedua bola mata Erlan terbelalak sempurna kala melihat beberapa peralatan pertukangan yang di bawa oleh mak Erot. Seperti gergaji, palu, dan juga martil.
"Mak, i-itu yang Mak bawa untuk apa?" tanya Erlan terbata.
Mak Erot tergelak pelan. "Untuk memperbaiki dan menyempurnakan, Nak!"
"Apa? Menyempurnakan?" pekik Erlan dengan suara melengking.
Bulu kuduk Erlan tiba-tiba berdiri dan meremang. Pikirannya berkelana jauh sampai ke mana-mana. Ia bergidik ngeri kala membayangkan alat-alat pertukangan itu menjamah burung pipitnya. Bukan berubah menjadi rajawali, bisa-bisa malah menjadi bangkai karena terputus dan mati.
"Mak ... Sepertinya saya salah alamat. Saya permisi dulu!"
.
.
.
__ADS_1