Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 51. Sah


__ADS_3


Wanita berbalut kebaya berwarna putih itu tiada henti menekuk wajah. Tidak ada sedikitpun rona kebahagiaan yang menghiasi karena merasa kecewa berat dengan hasil riasan sang MUA. Sudah berkali-kali wanita itu memberi instruksi agar sang MUA totalitas dalam memoles wajah, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sang MUA seperti asal-asalan merias dengan alasan tidak ada waktu lagi. Alhasil, seperti inilah riasan sang calon pengantin. Make-up tebal persis seperti ondel-ondel.


"Jen, jangan menekuk wajah seperti itu. Perlihatkan senyummu. Kita ini sedang dilihat oleh banyak orang!"


Erlan yang duduk di sebuah bangku tiada henti memberikan instruksi kepada calon istrinya ini untuk memperlihatkan kebahagiaannya. Karena, sejak memasuki ballroom ini, Jenica terlihat begitu mengerikan karena wajah yang ditekuk, seakan memendam rasa kesal.


"Bagaimana aku bisa senyum? Riasanku ini terlihat buruk sekali Lan. Bahkan seperti ondel-ondel di Dufan. Aku malu Lan!"


"Ckkkcckkkkk ... sudahlah, ini semua sudah terjadi. Lagipula, semua ini kesalahanmu sendiri karena terlambat datang. Lebih baik sekarang kamu fokus dengan akad nikah kita. Untuk riasan, setelah ini bukankah masih ada sesi resepsi? Kamu bisa berdandan sesempurna yang kamu mau."


Jenica membuang napas sedikit kasar. Ia membenarkan apa kata calon suaminya ini, karena semua yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diperbaiki. Dengan terpaksa, senyum tipis itu terbit di bibirnya.


"Iiihuuhhhh ... Tuan Erlan kasihan ya. Orang kaya tapi mempunyai calon istri yang seleranya rendah. Masa iya riasan di wajahnya menor sekali seperti itu. Persis ondel-ondel yang ada di Taman Mini."


"Iyaa ya, sungguh rendah sekali seleranya. Malah jauh lebih cantik itu yang memakai kebaya warna gold yang sejak tadi bersama nenek-nenek itu."


Kasak kusuk para tamu undangan yang berseliweran di indera pendengaran, membuat hati Jenica semakin panas. Acara sakral dalam hidupnya seakan tidak meninggalkan kesan apapun selain hanya rasa malu.


Gila, aku dibandingkan dengan pembantu tidak tahu diri itu? Aku sungguh tidak terima. Jelas cantik aku kemana-mana. Lagian itu tamu benar-benar keterlaluan.


Jenica hanya bisa menyimpan rasa kesal dalam hati, kala mendengar kata-kata sumbang yang dilontarkan oleh salah satu tamunya ini. Ia pun memilih untuk kembali fokus dengan prosesi akad nikah yang akan diselenggarakannya.


"Mbak Jenica dan mas Erlan sudah siap ya?" tanya pak penghulu kepada calon pengantin.


"Siap Pak!"


"Baiklah, pak Wirabuana dan mas Erlan silakan berjabat tangan. Kita akan melangsungkan prosesi akad nikah."


Sesuai instruksi dari penghulu, dua lelaki beda generasi itu saling berjabat tangan.


"Saudara Erlan Hadi Anggara!"


"Saya!"

__ADS_1


"Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Jenica Ratri Marcelina binti Wirabuana dengan mas kawin emas seberat lima ratus gram dan uang sejumlah dua ratus lima puluh juta dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Jenica Ratri Marcelina binti Wirabuana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah!"


Hati yang sebelumnya dipenuhi oleh rasa kecewa, kini berubah menjadi bahagia tiada terkira. Rasa kesal akibat make-up yang terlalu tebal, mendadak menjelma menjadi tunas-tunas kebahagiaan. Senyum itu terus menerus mengembang di bibir Jenica karena mulai hari ini, ia resmi menjadi nyonya Erlan Hadi Erlangga.


Erlan dan Jenica menggeser tubuh masing-masing untuk saling berhadapan. Tanpa basa-basi, wanita itu meraih telapak tangan sang suami dan menciumnya dengan intens. Diikuti oleh Erlan yang mencium pucuk kepala sang istri, untuk mencurahkan segala rasa cinta yang ia punya.


Sedangkan seorang wanita yang duduk diantara kumpulan tamu-tamu undangan juga ikut meneteskan air mata. Keadaan seperti ini membuatnya teringat akan prosesi ijab qabul di tujuh bulan yang lalu. Mungkin sama seperti yang dirasakan oleh sang nyonya. Hari pernikahan merupakan hari paling membahagiakan bagi seorang wanita.


Aaahhh ... jika seperti ini aku jadi merindukan mas Bayu!


***


"Wah, wah, wah ... akhirnya putra Papa satu-satunya ini sudah sah menjadi seorang suami. Sekali lagi Papa ucapkan selamat, Erlan!"


Erlan hanya mengangguk pelan seraya tersenyum simpul. "Makasih banyak Pa."


"Papa juga salut kepadamu Lan, karena kamu bisa mempersiapkan acara pernikahan semegah ini. Tanpa adanya campur tangan Papa sama sekali!"


Rona penuh kekaguman nampak terpancar jelas di wajah Barata. Ia tidak menyangka jika sang putra bisa mempersiapkan acara ini dengan sempurna. Padahal putranya ini tidak melibatkannya dalam acara ini.


"Ini semua sudah aku serahkan sepenuhnya kepada tim WO Pa, jadi Erlan juga hanya tinggal beres."


"Ya, ya, ya, tapi ini suatu kebanggaan tersendiri bagi Papa atas kemandirian kamu. Oh iya, dari tadi Papa melihat seorang wanita memakai kebaya warna keemasan yang mengekori mbok Surti. Memang wanita itu siapa Lan? Apakah dia kerabat mbok Surti?" tanya Barata yang ingin tahu akan sosok cantik yang bersama Surti.


"Bukan Pa, dia adalah asisten rumah tangga yang nantinya akan menggantikan mbok Surti. Sudah dua minggu ia ada di sini."


Gila ... Erlan ini sungguh beruntung sekali, hidup dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Tidak hanya istrinya yang cantik tapi sampai pembantunya pun juga cantik. Punya ajian apa putraku ini?

__ADS_1


"Pa! Kok bengong!"


Erlan terpaksa harus menepuk pundak Barata untuk membangunkan pria ini dari lamunannya. Entah apa yang dipikirkan oleh sang Papa yang membuatnya bengong seperti ini.


Barata terkesiap dan mengerjapkan mata. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. "Ah tidak apa-apa. Syukurlah jika kamu sudah mendapatkan pengganti mbok Surti. Jadi kamu tidak perlu susah-susah mencari pembantu lagi."


Barata mengambil sesuatu dari balik jas yang ia kenakan. Ia berikan amplop coklat yang ia ambil dari sana kepada sang putra.


"Apa ini Pa?" tanya Erlan sedikit penasaran dengan penampakan amplop cokelat ini.


"Buka saja. Ini merupakan hadiah dari Papa!"


"Jen, bukanlah. Sepertinya ada hadiah spesial yang diberikan oleh Papa untuk kita!" titah Erlan kepada sang istri.


Jenica menerima amplop coklat pemberian sang mertua. Gegas, ia keluarkan sesuatu yang berada di dalamnya.


"Pa, ini...?" pekik Jenica menggantung dengan kedua mata terbelalak sempurna saat melihat dua tiket pesawat.


"Ya, ini tiket pesawat untuk kalian berbulan madu. Papa pilihkan Labuan Bajo sebagai tempat honeymoon untuk kalian. Bagaimana?"


"Waahhh ... makasih sekali Pa. Labuan Bajo merupakan salah satu tempat yang ingin aku kunjungi. Aku sungguh sangat senang sekali," ujar Jenica kegirangan.


"Makasih banyak ya Pa," ucap Erlan pula. Tidak menyangka jika sang Papa memberikan kejutan seperti ini.


"Baiklah, kalau begitu. Papa pulang dulu ya Lan. Setelah ini Papa ada janji bertemu dengan relasi."


Erlan menunduk takzim menyalami sang Papa. Setelahnya, gantian Jenica yang juga turut menyalami sang mertua. Sebelum berlalu pergi, Barata mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan sang menantu. Lirih, ia berbisik di telinga menantunya ini.


"Kalau kamu tidak puas dengan pelayanan suamimu, kamu bisa menghubungi Papa!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2