Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 21. Niat Terselubung


__ADS_3


Puntung-puntung rokok berhamburan di lantai. Di dekatnya, duduklah seorang lelaki yang memasang raut wajah kusut dan frustrasi. Tak lupa sebuah botol dengan label bergambar 'kakek tua' juga turut menemani. Dua benda itu seakan menjadi tempat pelarian yang paling ia inginkan saat ini.


Bayu, pria berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah sejak sore tadi menghabiskan waktu di sebuah warung remang-remang yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Di sekelilingnya, juga banyak para pemuda yang tengah melepaskan penat dengan ditemani oleh wanita-wanita yang tampil dengan pakaian begitu menggoda. Mereka bergelayut manja di pangkuan para pemuda. Dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang mampu membuat api hasrat membara.


"Masih kuat Bay?"


Sony yang baru saja dari kamar mandi, kembali menghampiri Bayu yang masih setia duduk di salah satu kursi warung remang-remang ini. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena begitu heran akan Bayu yang masih nampak begitu kuat menenggak minuman memabukkan ini.


"Hahahaha ... apa kamu lupa Son? Jika sejak SMA dulu aku terkenal dengan panggilan 'pendekar air surga'? Berapa banyak botol yang aku tenggak, tidak akan membuatku mabuk," seloroh Bayu dengan mata yang sudah menyipit dan memerah dari sebelumnya. Jika dilihat, sebentar lagi lelaki itu akan hangover, namun entahlah. Bisa jadi, ia masih akan kuat.


"Ya, ya, ya .... okelah aku akui itu, bahwa kamu memang tidak mudah dikalahkan dalam hal mabuk-mabukan seperti ini." Sony berujar sembari menggeret sebuah kursi yang berada di samping Bayu. Ia ikut menuangkan sedikit minuman memabukkan itu ke dalam gelas dan menenggaknya.


"Sssshhhh ... haaaahhhh.."


Kepulan-kepulan asap rokok membumbung tinggi setelah Bayu hembuskan dari rongga mulutnya. Malam ini, nampaknya ia tidak terlalu peduli sudah berapa barang bernikotin yang ia hisap dan berapa banyak pula minuman memabukkan itu ia tenggak, asalkan bisa membuatnya sejenak lupa akan kepelikan hidup yang bertubi-tubi ia hadapi.


"Sekarang aku harus bagimana? Setelah mendengar ibuku mengatakan bahwa Dinda adalah menantu pembawa sial, mengapa aku sedikit membenarkannya? Aku merasa sebelumnya jalan hidupku tidak pelik seperti ini, tapi sekarang?"


Pria bermanik mata coklat itu menjeda ucapannya. Ia mengusap wajahnya kasar. Jika teringat akan perkataan sang ibu, yang ada dirinya semakin membenarkan apa yang telah terlisan itu.


"Jangan gegabah untuk mengambil keputusan Bro! Karena untuk saat ini, kamu harus berpikir secara matang terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu."


Sony yang sedari tadi mendengar curahan hati Bayu, sudah mulai mengerti akan akar permasalahan yang sedang dihadapi oleh teman sekolahnya ini. Namun, untuk kali ini, ia merasa bahwa Bayu harus berpikir seribu kali sebelum mengambil langkah yang justru akan merugikan dirinya sendiri.


Sorot mata Bayu tertambat pada lelaki yang duduk di sampingnya ini. Dahinya sedikit berkerut yang menjadi tanda jika ia kurang mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Sony.


"Apa yang membuatku harus berpikir matang? Bukankah apa yang diucapkan oleh ibuku itu benar? Jadi, tidak ada salahnya bukan jika aku memutuskan untuk bercerai dari Dinda?"


Sony menggelengkan kepala. "Tidak Bro. Tidak seperti itu. Jika saat ini kamu menceraikan Dinda, kamu dan ibumu lah yang akan semakin tiada terarah hidupnya."

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya lelaki dengan kulit sawo matang itu.


"Saat ini, kamu tidak bekerja. Kamu dan ibumu tidak memiliki tempat tinggal dan numpang di rumah Dinda. Kalau kamu menceraikan Dinda, lalu kamu mau tinggal di mana?"


Perkataan Sony seketika membuat Bayu terhenyak. Apa yang diucapkan oleh temannya ini memang ada benarnya. Dia merasa akan merugi jika sampai menceraikan Dinda saat ini. Tidak memiliki rumah, tidak bekerja dan pastinya hidup yang akan ia jalani akan semakin blangsak.


"Tapi, bukankah sebentar lagi aku akan kaya? Bukankah dengan judi online yang kamu tawarkan itu aku akan menjadi cepat kaya Son?"


Sony tergelak pelan. "Sabar Bro. Semua butuh proses. Tapi aku jamin, uang yang sudah kamu titipkan kepadaku untuk judi online, akan bertambah berkali-kali lipat. Tapi, belum saat ini Bro. Semua ada waktunya, tapi aku pastikan tidak akan lama. Mungkin tiga bulan ke depan, kamu sudah bisa menikmati keuntungan yang berkali-kali lipat, asalkan uang yang kamu pertaruhkan juga banyak."


"Ya, ya, ya, terserah kamu saja Son. Yang pasti, aku ingin bisa mendapatkan hasil yang berkali-kali lipat."


Sony menepuk-nepuk pundak Bayu dengan mantap. Untuk mensugesti temannya ini agar semakin percaya. "Kamu tenang saja, semua aman. Yang penting saat ini kamu jangan bercerai dari Dinda terlebih dahulu. Saat ini kamu mungkin juga bisa bekerja sebagai driver ojek online sambil menunggu hasil judi kita. Aku kira itu jauh lebih bermanfaat."


Bayu nampak hening sejenak. Mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Sony. Ia merasa tidak buruk juga usulan yang disampaikan oleh temannya ini. Untuk mengisi waktu yang terlanjur luang dan menunggu dari hasil judi online, ia akan menjalani profesi sebagai driver ojek online terlebih dahulu.


"Bagus juga idemu itu Son. Baiklah, aku akan mendaftar untuk menjadi driver ojek online."


Senyum seringai terbit di bibir Sony. Ia melirik ke arah Bayu dengan lirikan yang sulit terbaca. Namun sepersekian detik, lelaki itu tertawa pelan.


Inilah enaknya menjanjikan sesuatu kepada manusia yang sedang stres, frustrasi, dan ingin semua hal ia dapatkan secara instan. Saat ini, aku akan merapat ke kamu Bay. Akan aku tunjukkan bahwa aku bukanlah penipu. Namun perlahan, aku akan membawa kabur uang yang sudah kamu titipkan kepadaku. Sama seperti kasus ibumu yang juga ditipu oleh sahabatnya sendiri. Hahahaha.


****


Dinda masih mengurung diri di dalam kamar. Sejak pertengkarannya dengan sang mertua dan justru tidak dibela oleh Bayu, wanita berambut sedikit bergelombang itu memilih untuk tetap meringkuk di atas ranjang. Membenamkan dirinya dalam kepedihan dan kesedihan hati yang entah dengan siapa ia harus berbagi. Perut ia biarkan kosong tanpa terisi sama sekali sejak siang tadi. Sehingga membuat kepalanya juga ikut terasa begitu nyeri. Telaga bening di wajahnya yang baru saja mengering, seakan membuat wanita itu tidak ingin beranjak kemanapun.


Ceklekkk ...


Suara daun pintu yang dibuka dari arah luar membuat pandangan Dinda yang sebelumnya menerawang entah kemana, kini beralih ke arah sumber suara. Ia yang sebelumnya berada dalam posisi meringkuk layaknya janin yang ada di dalam kandungan, kini ia geser untuk bersandar di head board ranjang. Nampak Bayu berjalan menghampirinya.


"Kamu mabuk lagi Mas?" tanya Dinda yang mulai mencium aroma alkohol yang begitu menyengat.

__ADS_1


"Sedikit saja. Tidak banyak," ujar Bayu berkilah. Padahal sudah banyak yang ia tenggak untuk membasahi kerongkongannya.


"Kenapa kamu mabuk lagi Mas? Tidak seharusnya kamu melakukan hal ini. Ini bukan seperti mas Bayu yang aku kenal. Sebelumnya, kamu tidak pernah seperti ini Mas."


Dinda sedikit meninggikan intonasi suaranya. Rasa sakit hati yang sebelumnya ia rasakan lantaran ucapan ibu mertua, mendadak sirna. Dan kini ia jauh lebih merasa sakit ketika melihat sang suami yang justru sering mabuk-mabukan seperti ini.


"Sudahlah Din, ini hanya sebagai upaya untuk menghilangkan kepenatanku saja. Dan tidak banyak yang aku tenggak." Bayu duduk di tepian ranjang sembari menghembuskan napas kasar. "Aku ingin bicara sesuatu kepadamu Din."


Dahi Dinda mengernyit. "Apa itu Mas?"


"Aku minta maaf atas semua perkataan Ibu. Tolong maafkan semua perkataan yang mungkin sudah menyinggung perasaanmu. Dan aku tadi juga tidak ada maksud untuk tidak membelamu. Aku hanya sedang berada di posisi yang kalut. Maka dari itu aku memilih untuk pergi sejenak dari rumah."


Dinda hanya terdiam kala mendengar setiap ucapan yang dilontarkan oleh Bayu. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Hatinya terasa begitu berat untuk bisa memaafkan, namun kembali lagi bahwa ia harus bisa menjadi wanita pemaaf seperti apa yang diajarkan oleh almarhum kedua orang tuanya.


Bayu meraih telapak tangan milik Dinda dan ia genggam dengan erat. "Kamu mau kan memaafkan ibu? Mulai besok, aku akan mulai bekerja lagi untuk bisa menghidupi keluarga kita. Dengan begitu, ibu pasti tidak akan uring-uringan lagi."


"Kamu mau bekerja, Mas? Bekerja di mana?"


"Untuk sementara, aku ingin mendaftar sebagai driver ojek online, sambil mencoba untuk mencari pekerjaan di pabrik atau perusahaan yang lain. Aku kira itu bisa menjadi langkah awal yang baik untuk kehidupan kita."


Wajah Dinda yang sebelumnya sendu, kini sedikit berbinar. Mendengar sang suami kembali memiliki semangat untuk kembali bekerja, sudah cukup membuat hatinya bahagia tiada terkira.


"MashaAllah .... aku benar-benar bahagia mendengarnya Mas. Aku doakan semoga langkah kakimu senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah, Mas."


"Aamiin," ucap Bayu dengan senyum tipis yang terbit di bibirnya. "Kamu jika ingin ikut bekerja juga akan aku izinkan Din. Dengan sama-sama bekerja siapa tahu kita bisa semakin cepat untuk membuat keadaan kembali seperti semula. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2