
"Sayang, kamu serius tidak ikut ke Labuan Bajo?"
Tiba di bandara, Jenica bertanya sekali lagi kepada sang suami akan keputusannya untuk tidak ikut ke Labuan Bajo. Dengan manja, ia bergelayut di lengan tangan Erlan seakan begitu berat untuk meninggalkan sang suami.
"Tidak Jen. Kamu nikmati saja liburanmu di Labuan Bajo. Setelah itu kita akan trip ke Eropa."
Erlan menjawab santai pertanyaan istrinya ini. Bahkan wajahnya terlihat biasa-biasa saja meskipun setelah ini ia akan berpisah untuk sementara waktu dengan istrinya. Wajah laki-laki yang baru saja menyandang gelar seorang suami yang biasanya begitu sendu dan sedih karena ditinggal pergi oleh sang istri, sedikitpun tidak nampak di wajah Erlan. Bahkan ia jauh terlihat lebih santai.
"Hmmmm ... baru kali ini ada bulan madu tapi tidak dengan suaminya tapi justru malah dengan pembantunya. Terlihat konyol tidak sih Sayang?"
Erlan menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak Jen. Yang terlihat konyol itu jika kamu pergi dengan lelaki lain. Kalau pergi dengan Dinda, itu masih wajar."
Tubuh Jenica seketika terperanjat kala mendengar Erlan mengucapkan kata lelaki lain. Tiba-tiba saja keringat dinginnya keluar semua.
"Apaan sih Sayang? Mana mungkin aku pergi dengan lelaki lain? Jelas yang ada di sini hanya aku dan Dinda. Lagipula yang aku cinta cuma kamu. Bukan yang lain!"
Jenica pura-pura memasang wajah cemberut seolah begitu kesal karena Erlan mengatakan hal itu. Namun sejatinya ia mencoba untuk meredam perasaan gugup dalam dada.
Erlan menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia mencubit hidung Jenica dengan gemas. "Iya, aku percaya kalau hanya aku yang aku cintai Jen. Dan tidak mungkin kan kalau kamu pergi dengan lelaki lain?"
"Jelas tidak Sayang. Aku ini setia. Nyatanya selama lima tahun aku setia menunggumu."
"Iya Jen, aku percaya."
"Nah, begitu dong." Jenica mengurai tubuhnya dari tubuh Erlan. "Sayang, aku ke toilet dulu ya."
"Oke Jen!"
Jenica berlari kecil menuju toilet saat hasrat ingin pipis tiba-tiba menyerang. Sedangkan di tempat ini hanya menyisakan Erlan dan juga Dinda.
"Ada apa kamu Din? Mengapa kamu terlihat gelisah seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak Tuan, saya baik-baik saja!"
"Jangan bohong. Aku menangkap sinyal kegelisahan di raut wajahmu. Apa kamu masih kepikiran dengan suamimu yang tidak bisa dihubungi?"
Erlan menangkap perubahan sikap Dinda sejak kemarin dia bercerita mimpi buruk tentang sang suami. Hingga sampai hari ini pun wajah asisten rumah tangganya ini juga terlihat seperti orang yang gelisah.
Dinda tersenyum tipis. Meskipun ia kepikiran perihal Bayu, namun untuk saat ini bukan itu yang membuatnya gelisah.
"Betul itu Tuan, tapi untuk sekarang bukan tentang suami saya yang membuat saya gelisah, tapi...."
Erlan semakin mengernyitkan dahi. Ia kira tidak banyak yang membuat hati asistennya ini gelisah tapi ternyata banyak juga. Ia sampai mengira jika hari-hari yang dilalui oleh Dinda ini begitu berat.
"Tapi apa?"
"Saya merasa gugup akan naik pesawat, Tuan. Ini pertama kalinya saya naik pesawat!"
"Hahahaha ... astaga Dinda, aku kira kamu ada masalah apa. Ternyata karena ini?"
"Saya takut Tuan."
"Apa yang membuatmu takut? Tinggal naik terus duduk di bangku penumpang. Simpel kan?"
"Entahlah Tuan, saya merasa gugup saja."
"Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan akan hal itu. Nikmati saja liburanmu. Oh iya, aku sudah transfer uang ke rekeningmu, bisa kamu gunakan untuk jajan di sana."
"Jajan?"
"Maksudku membeli semua keperluanmu di sana. Aku kira, lima belas juta cukup untuk liburan selama seminggu."
Kedua bola mata Dinda terbelalak dan membulat sempurna. "L-lima belas juta? Itu apa tidak keliru, Tuan?"
__ADS_1
"Apanya yang keliru Din?"
"Itu jauh lebih banyak daripada gaji saya!"
"Tidak masalah. Aku ikhlas memberikannya untukmu."
"Tapi lima belas juta itu sangatlah banyak Tuan. Apa Tuan tidak sayang jika dibuang cuma-cuma seperti ini?"
Ada beberapa pertanyaan yang berkutat di kepala Dinda. Apakah orang-orang kaya itu begitu mudah untuk mendapatkan uang sampai-sampai mereka tidak pikir dua kali untuk memberikan uang yang mereka miliki untuk orang lain. Kadang Dinda bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak uang yang didapatkan oleh Erlan selama sebulan sekali.
"Siapa bilang dibuang cuma-cuma? Uang itu aku berikan untukmu, jadi bukan dibuang cuma-cuma namanya. Karena pasti juga akan berguna untukmu bukan?"
"Tapi kalau untuk berbelanja di Labuan Bajo sepertinya terlalu banyak Tuan."
"Ya sudah, terserah kamu akan gunakan untuk apa uang itu. Untuk apapun terserah kamu."
Obrolan Dinda dan Erlan terpangkas saat Jenica kembali hadir di tengah-tengah mereka. Dan juga suara panggilan para penumpang dengan tujuan Nusa Tenggara Timur mulai terdengar menggema memenuhi ruang tunggu.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Oke!" pamit Jenica sembari mengecup pipi dan bibir Erlan.
"Baiklah. Kalian hati-hati. Dan selamat menikmati liburan kalian."
Jenica mulai melangkahkan kaki dibuntuti dengan Dinda yang menggeret dua koper di tangannya.
"Saya pamit, Tuan. Terima kasih banyak untuk uang jajannya."
.
.
. bersambung..
__ADS_1