Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 30. Dimanfaatkan?


__ADS_3


Di perjalanan pulang, Jenica nampak tidak banyak bicara. Sejak tadi, ia nampak menatap ke arah luar kaca. Menatap jalanan Ibu kota yang dihiasi oleh lampu-lampu kota yang berjajar dan terang menyala.


Aku heran, kenapa ya om Barata bersikap genit seperti itu? Padahal aku kan calon menantunya. Benar-benar mencurigakan sikap om Barata itu. Apa dia sengaja menggodaku? Tapi apa maksudnya menggoda calon menantunya sendiri? Hmmmmm...


Perhatian Erlan yang sebelumnya fokus ke arah depan, kini berpindah ke arah samping bangku kemudinya. Dahinya mengernyit karena sedari tadi calon istrinya ini hanya lebih banyak diam.


"Jen, ada apa denganmu? Aku perhatikan sejak pulang dari rumah papa, kamu lebih banyak diam. Ada apa Sayang?"


Pikiran Jenica yang sebelumnya menerawang entah kemana, kini seakan ditarik paksa untuk menatap ke arah sang kekasih. Wanita itu hanya bisa tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa Sayang, aku hanya sedikit nervous menjelang hari pernikahan kita. Jadi, tanpa sadar aku sering melamun seperti ini."


"Hahahaha..." Erlan terbahak mendengar penjelasan Jenica yang terdengar begitu menggelitik telinga. "Sayang, kenapa nervous sih? Kita itu akan menikah, bukan akan mengikuti lomba, jadi kenapa harus nervous, hmmmmm?"


"Ihhhhh ... Kamu kok malah ngetawain aku Lan? Aku ini beneran nervous. Masa kamu anggap bercanda. Sebel aku!"


Jenica memasang wajah cemberut sembari menyilangkan lengan tangannya di dada. Memberi isyarat bahwa ia tengah kesal. Padahal sejatinya bukan itu yang membuatnya kepikiran.


"Uluh-uluh ... jangan cemberut dong. Aku cuma bercanda Sayang. Sudah ya, jangan berpikir macam-macam. Yang penting di hari H nanti acara kita berjalan lancar dan sempurna. Oke?"


Erlan mengusap pipi kekasihnya ini dengan lembut. Mentransfer sebuah sugesti positif agar Jenica bisa sedikit lebih tenang.


Jenica memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Erlan. Ia tidak ingin jika sampai ekspresi wajahnya membuat Erlan semakin bertanya-tanya.


"Iya Sayang. Mungkin ini hanya sekedar rasa gugup karena akan melepas masa lajangku."


Hanya diangguki oleh Erlan, lelaki itu kembali fokus pada jalanan yang ia lalui. Ia pun mengarahkan laju mobilnya ke sebuah perumahan elit, yang merupakan tempat tinggal Jenica.


"Ayo Lan, masuk dulu. Papa dan mama baru saja pulang dari Libanon. Mereka pasti senang bisa bertemu denganmu."


Berdiri di depan mobil, Jenica mengajak sang kekasih untuk singgah sejenak di kediamannya. Bertemu dengan kedua orang tuanya yang baru saja pulang liburan.


"Libanon? Ada acara apa mereka ke Libanon Jen? Ikut perang? Atau ada misi perdamaian dari PBB?"


Kerutan dahi tercetak jelas di dahi Erlan. Ada acara apa calon mertuanya ini sampai pergi ke Lebanon. Sungguh sangat membingungkan.

__ADS_1


"Aduh kamu ini masih saja bercanda Lan. Papa dan Mama ke Libanon itu untuk liburan bukan untuk perang. Hmmmmmm."


" Hahahaha iya Sayang, iya. Baiklah kalau begitu. Mumpung masih belum terlalu larut aku mampir sejenak bertemu om dan tante."


Keduanya berjalan beriringan untuk memasuki rumah yang cukup mewah ini. Baru saja mereka tiba di teras, keduanya sudah disambut oleh kedua orang tua Jenca dan seorang laki-laki yang berusia tiga puluh tahun.


"Wah, wah, wah ... ternyata calon menantuku datang. Ayo-ayo masuk!"


Erlan tersenyum simpul mendapatkan sambutan hangat dari calon mertuanya. Lelaki itupun hanya menganggukkan kepala. "Terima kasih Tante!"


Di sebuah ruang tamu yang cukup luas, Erlan berharap langsung dengan keluarga Jenica. Papa, mama dan juga sang kakak. Meski sedikit gugup, namun Erlan mencoba untuk bersikap santai. Sedang Jenica, duduk di samping calon suaminya ini.


"Bagaimana Lan, persiapan pernikahanmu? Sudah 100 persen?" tanya Wirabuana yang tak lain adalah papa Jenica.


"Sudah Om, semua sudah siap. Tinggal pelaksanaannya saja," ucap Erlan menegaskan yang seketika membuat keluarga Jenica bernapas lega.


"Syukurlah, Om benar-benar lega mendengarnya." Wirabuana menyulut batang rokok yang ia keluarkan dari saku celananya. "Oh iya Lan, sebentar lagi kamu kan akan menjadi suami dari anak Om. Itu artinya kita sudah menjadi keluarga bukan?"


Erlan menganggukkan kepala. Menyetujui apa yang diucapkan oleh Wirabuana. "Iya Om, kita semua akan menjadi keluarga besar."


Wirabuana sekilas mrlirik ke arah Sukma yang tak lain adalah istrinya. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala seakan memberikan sebuah isyarat.


Wirabuana berhati-hati sekali dalam menyampaikan maksud dan tujuannya. Saat ini, ia merasa tidak memiliki jalan lain untuk mencari bantuan selain Erlan. Meskipun ini bukan kali pertama ia meminta bantuan Erlan, namun ia harus berhati-hati. Takutnya tidak berkenan di hati sang calon menantu.


"Suntikan dana lagi?" tanya Erlan sedikit keheranan. "Bukankah baru tiga bulan yang lalu, saya sudah memberikan suntikan modal untuk perusahaan milik om Buana?" sambungnya pula dengan kernyitan di dahi. Ia heran, untuk apa lagi suntikan modal itu.


"Iya Lan baru tiga bulan yang lalu Om meminta suntikan modal dari kamu, namun untuk kali ini Om benar-benar butuh modal lagi untuk pengadaan armada distribusi."


Erlan sedikit lemas mendengar permintaan calon mertuanya ini. Belum apa-apa, sudah banyak uang yang ia kucurkan untuk bisnis mertuanya ini. Erlan nampak berpikir keras hingga pada akhirnya lengan tangannya dipegang oleh Jenica.


"Sudahlah Sayang, berikan modal untuk Papa. Papa kan calon mertuamu yang otomatis akan menjadi orang tua kamu juga kan? Jadi, tolongin papa ya Sayang. Hanya kamu harapan Papa satu-satunya."


Melihat wajah sang kekasih yang begitu berharap, membuat hati Erlan meluluh. Ia pun menganggukkan kepala. "Baiklah Om, akan saya bantu. Berapa jumlah dana yang Om butuhkan?"


Hati Wirabuana mendadak kegirangan. Pada akhirnya ia mendapatkan jalan keluar untuk mendapatkan suntikan modal.


"Tidak banyak kok Lan, hanya lima ratus juta."

__ADS_1


"Baik Om, besok Om bisa datang ke kantor. Akan saya berikan modal itu."


***


Setelah hujan deras mengguyur bumi manusia, rasanya akan sangat syahdu menikmati sisa-sisa rintik hujan malam ini dengan secangkir cokelat panas untuk menghangatkan tubuh. Namun Erlan hanya terlihat duduk termenung di balkon sambil menatap secangkir cokelat panas yang tadi dibuat oleh Surti dengan tatapan kosong.


Wangi khas biji cokelat yang begitu nikmat tatkala menyeruak ke dalam indera penciuman, nyatanya tidak dapat membangunkan Erlan dari lamunannya. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya. Namun setelah pulang dari kediaman Jenica dan bertemu dengan Wirabuana, lelaki itu lebih banyak diam.


"Den, ini sudah larut malam. Den Erlan tidak segera beristirahat?"


Suara Surti yang tiba-tiba terdengar di indera pendengaran, membuat Erlan sedikit terhenyak. Ia menoleh ke arah Surti yang semakin mendekat ke arahnya.


"Sebentar lagi Mbok, aku masih ingin menikmati hujan."


Surti hanya tersenyum simpul melihat ekspresi wajah majikannya ini. Ia paham betul jika seperti ini pasti ada sesuatu yang dipikirkan oleh Erlan. Namun, Surti berupaya untuk tidak terlalu ikut campur dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh majikannya ini.


"Den, kalau seandainya pengganti Simbok kita minta untuk berangkat besok bagaimana? Apakah den Erlan setuju?"


"Loh, sudah ada yang bisa menggantikan Simbok?" tanya Erlan heran karena secepat ini mbok Surti mendapatkan ganti.


"Alhamdulillah sudah Den. Namanya Dinda. Wanita muda berusia dua puluh tahun."


"Dua puluh tahun? Apa tidak terlalu muda Mbok? Takutnya tidak berpengalaman dalam mengerjakan pekerjaan rumah," ujar Erlan sedikit sangsi.


Surti hanya tersenyum simpul melihat kesangsian majikannya ini. Padahal jika umur belum terlalu tua, cara kerjanya pasti akan jauh lebih bagus.


"Tenang saja Den. Simbok jamin den Erlan akan puas dengan pekerjaannya. Dia masih muda dan pastinya kerjanya sat, set, sat, set."


Erlan tergelak mendengar ucapan Surti. Sudah persis anak-anak muda zaman milenial seperti ini.


"Okelah Mbok. Jadi besok orang itu langsung disuruh berangkat saja ke Jakarta naik kereta. Untuk tiketnya biar menjadi tanggunganku."


"Baik Den, nanti biar Simbok hubungi Dinda."


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2