Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 98. Terapi


__ADS_3


"Mak, saya pulang saja Mak. Saya salah alamat!"


Tubuh Erlan meronta kala lengan tangannya ditarik-tarik oleh mak Erot yang memaksa lelaki itu untuk memasuki ruangan terapi. Sungguh kondisi saat ini sangat horor sekali. Erlan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai alat-alat pertukangan itu sampai melibas burung pipitnya.


"Salah alamat bagaimana Cu? Kamu ingin mengubah burung pipitmu menjadi burung rajawali kan? Ini merupakan tempat yang tepat," ucap mak Erot menjelaskan. Bahkan tangannya tidak lepas mencengkeram pergelangan tangan Erlan.


"Tidak Mak, saya salah. Tempat yang saya datangi ini bukanlah tempat spesialis burung-burung kecil tapi ahli pertukangan. Lihatlah apa yang Mak bawa itu!" terang Erlan.


Mak Erot melirik ke arah alat pertukangan yang ia letakkan di atas meja. Wanita berusia senja itu menjadi tergelak seketika.


"Hahahaha ... Jadi kamu kira aku akan menggunakan alat-alat ini untuk menterapi Cu? Kamu salah sangka Cu!"


Dahi Erlan mengernyit. "Salah sangka? Maksudnya bagaimana? Bukankah peralatan pertukangan itu yang akan Mak gunakan untuk terapi burung pipitku?"


"Hahahaha ... Ya jelas bukan Cu. Alat-alat pertukangan ini mau Mak berikan ke suami Mak yang sedang ada di halaman belakang. Dia sedang membuat lincak dari bambu Cu. Ayo ikut Mak, akan Mak tunjukkan!"


Mak Erot mengambil kembali alat-alat pertukangan yang ia letakkan di atas meja kemudian memandu tubuh Erlan untuk ia tampakkan suaminya yang ada di halaman belakang. Erlan menurut saja. Sekaligus untuk memastikan bahwa Mak Erot ini tidak memiliki niat untuk menciderai burung pipit miliknya.


"Lihatlah, suami Mak ada di sana bukan!" ucap Mak Erot ketika tiba di bibir pintu yang menghubungkan antara area dalam rumah dengan halaman belakang.


Erlan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan terlihat seorang lelaki yang berusia senja berada di halaman belakang. Lelaki itu terlihat sedang berdiri sembari intens melihat batang pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi.

__ADS_1


"Ya Tuhan, saya kira alat-alat pertukangan itu untuk burung pipit saya Mak," ujar Erlan dengan nada sedikit lega.


Mak Erot tergelak seketika. "Ya tentu tidak. Mana mungkin Mak menciderai burung pipit milikmu itu. Bukankah burung pipit itu satu-satunya amunisi bagimu untuk mencari cinta sejati?"


Erlan terhenyak. Ucapan mak Erot sungguh penuh dengan teka-teki. Wanita berusia senja ini seperti tahu tentang apa yang ia alami.


"Mak Erot kok tahu?"


"Haha hahaha ... Apa yang tidak Mak tahu, Cu. Orang-orang yang datang kemari semuanya karena permasalahan burung. Bedanya, mereka datang dengan pasangan masing-masing untuk mencari solusi, sedangkan kamu datang kemari setelah dicampakkan oleh istrimu. Benar seperti itu bukan?"


Erlan semakin terhenyak. Bibirnya menganga lebar saking terkejutnya. Bisa-bisanya mak Erot mengetahui perihal ia yang dihianati oleh Jenica.


Mak Erot tersenyum simpul seraya memegang lengan tangan Erlan. "Sudah, tidak perlu keheranan seperti itu. Sekarang kamu masuk ke ruang terapi. Mak mau mengantarkan alat pertukangan ini ke suami Mak terlebih dahulu."


Erlan hanya menganggukkan kepala. Ia melangkah pergi menuju ruang terapi sedangkan mak Erot menghampiri suaminyaa yang tengah berada di halaman belakang.


***


Hari sudah gelap saat Erlan selesai melakukan terapi burung pipit di tempat mak Erot. Selama enam jam lebih burung pipit milik Erlan itu dipijat, diurut, dibaluri ramuan-ramuan ampuh khas mak Erot untuk membuat hasil yang sempurna. Meskipun tidak ada aktivitas fisik, namun Erlan terlihat begitu kelelahan sekali. Itu semua terlihat dari tetes-tetes peluh yang membanjiri wajahnya.


"Ini serius sudah selesai Mak? Maksud saya hanya sekali saja saya datang kemari? Dan tidak perlu datang kemari lagi?"


Erlan sungguh keheranan. Biasanya orang-orang yang datang untuk terapi tidak hanya sekali tapi juga berkali-kali sampai menampakkan hasil. Namun entah mengapa saat ia yang terapi mak Erot hanya memintanya satu kali saja. Ini semua sungguh terasa begitu aneh.

__ADS_1


"Serius Cu ... Kamu cukup sekali saja datang kemari. Mak yakin, besok pagi burung pipitmu ini sudah berubah menjadi burung rajawali. Percaya sama Mak!"


"Tapi kok bisa berbeda dari pasien-pasien Mak yang lain?"


"Ya memang beda karena yang terjadi kepadamu ini kasusnya memang berbeda," jawab Mak Erot yang justru semakin membuat Erlan mengernyitkan dahi.


"Maksudnya bagaimana Mak?"


Mak Erot hanya terkekeh pelan. "Burung pipitmu ini akan semakin maksimal jika kamu bertemu dengan cinta sejatimu. Dan Mak rasa, sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya."


"J-jadi, maksud Mak, burung pipit saya itu kecil karena kemarin saya menikah dengan orang yang bukan merupakan cinta sejati saya? Dan itu semua akan menunjukkan respon yang berbeda ketika saya menikah dengan cinta sejati saya?"


"Iya Cu, memang seperti itu!"


"Tapi Mak, bagaimana caranya saya bisa mengetahui bahwa wanita itu adalah cinta sejati saya? Masa saya harus berpetualang rasa terlebih dahulu?"


"Hahahaha ... Tidak perlu seperti itu Cu. Kamu akan mengetahui siapa cinta sejatimu setelah kamu bertemu dengannya lewat mimpi."


"Mak, please! Saya sungguh tidak paham. Tolong jelaskan yang lebih sederhana Mak!"


Mak Erot tersenyum penuh arti. "Malam nanti ia akan datang di dalam mimpimu!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2