
Sebuah koper warna hitam telah teronggok di sudut ruang depan. Tak jauh dari letak koper itu, berdiri beberapa orang dengan raut wajah yang begitu sendu. Terlebih wajah lelaki yang baru kemarin melangsungkan pernikahannya.
"Simbok benar ingin pulang kampung? Apa tidak di sini saja untuk menemaniku, Mbok? Bagiku, Simbok sudah seperti mamaku sendiri dan rasa-rasanya aku tidak sanggup jika harus membiarkan mbok Surti pulang kampung."
Bulir-bulir bening mengalir deras menyusuri bingkai wajah Erlan. Ia peluk erat tubuh Surti dan menumpahkan air matanya. Pelukan lelaki ini seakan menggambarkan bahwa ia tidak ingin berpisah dari Surti.
Tak jauh berbeda dengan Erlan, Surti juga menangis tergugu di dekapan Erlan. Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar yang ia lalui untuk mendampingi putra dari majikannya. Sejak Erlan masih berwujud bayi merah sampai saat ini ia bisa membuat bayi, pria ini sudah seperti anaknya sendiri meskipun tidak terlahir dari rahimnya.
"Simbok minta maaf ya Den, untuk saat ini Simbok harus benar-benar pulang ke kampung. Setiap ada perjumpaan pastilah akan ada perpisahan. Dan saat ini merupakan penghujung waktu bagi Simbok untuk bersama dengan den Erlan. Simbok minta maaf jika banyak salah ya Den."
Erlan menggelengkan kepala dengan rasa sesak yang semakin menggerus dada. "Tidak Mbok, bahkan Simbok sudah menjadi wanita hebat pengganti mama untukku. Aku bersyukur karena Simbok hadir dalam kehidupanku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku jika tidak dirawat dan dibesarkan oleh mbok Surti."
"Isshhh .... ishhh ... isshhhh ... jangan lebai seperti itu Sayang. Sehebat apapun mbok Surti, dia ini hanya pembantu, jadi kamu jangan terlalu berlebihan. Dan ada masanya ia juga harus pergi dari kehidupanmu karena dia bukan istrimu."
Ucapan Jenica hanya semakin membuat jantung Erlan berdenyut nyeri. Ingin rasanya ia menimpali perkataan Jenica, namun ia berusaha untuk menahannya mati-matian. Ia memilih untuk tetap memeluk erat tubuh Surti.
Surti tersenyum getir mendengar perkataan Jenica yang persis dengan kata-kata yang keluar dari mulut orang tak berpendidikan. Ia tidak menyangka jika sikap istri majikannya ini jauh dari tata krama dan sopan santun. Namun Surti mencoba untuk mengabaikannya. Saat ini ia hanya ingin menikmati detik-detik terakhir bersama dengan Erlan.
Rasa tidak rela itu juga sakan membelenggu raga. Tidak rela jika harus berpisah dengan Erlan. Surti merenggangkan sedikit pelukannya dan menepuk-nepuk bahu Erlan.
"Sekarang den Erlan sudah memiliki pendamping hidup, jadi sudah waktunya Simbok pulang kampung Den. Mulai sekarang den Erlan sudah memiliki teman tidur, teman berbagi rasa dan teman berbagi cerita. Simbok hanya bisa mendoakan, semoga den Erlan senantiasa baik-baik saja."
__ADS_1
"Aamiin Mbok. Aku juga minta maaf karena tidak bisa mengantar pulang mbok Surti sampai kampung. Namun aku sudah meminta tolong pak Dirman dan bi Astuti untuk mengantarkan Simbok sampai rumah. Tidak apa-apa ya Mbok?"
"Tidak apa-apa Den. Simbok mengerti jika pekerjaan den Erlan sedang banyak-banyaknya." Surti menghadap ke arah Jenica yang sedang sibuk melihat kutek yang ia aplikasikan ke jari jemarinya. "Simbok titip den Erlan ya Non. Tolong jaga baik-baik den Erlan. Jangan sampai non Jenica melukai hati den Erlan."
Seperti seorang ibu yang berpesan kepada sang menantu, Surti turut memberikan sebuah pesan agar wanita ini selalu bersikap baik kepada suaminya.
"Aahhh ... mbok Surti ini tahu apa tentang aku? Aku pasti bisa menjaga Erlan dengan baik, tanpa diingatkan oleh Simbok. Saat ini, aku adalah istri dari Erlan, jadi aku cukup paham bagaimana harus bersikap."
"Jen, jaga sikap dan ucapanmu. Jangan keterlaluan seperti itu. Mbok Surti ini orang tua Jen, yang seharusnya kamu hormati," timpal Erlan memberikan peringatan.
Bibir Jenica mencebik yang menampilkan rasa remeh temeh dan juga keangkuhannya. "Aku paham kalau mbok Surti ini orang tua Lan, tapi jangan terlalu lebay seperti itulah. Geli aku mendengarnya."
Hembusan napas kasar terdengar keluar dari bibir Erlan. Ia merasa percuma jika harus berdebat dengan istrinya ini.
"Kamu baik-baik di sini ya Din. Jangan pernah malu untuk menjalani profesimu sebagai asisten rumah tangga seperti ini. Simbok percaya bahwa ke depan, kehidupanmu akan jauh lebih bahagia dari sekarang. Hanya satu kuncinya. Tetaplah memiliki hati yang cantik dan tulus. Karena nanti lah ketulusanmu itu yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan."
Dinda mengangguk pelan. Hatinya juga ikut trenyuh kala menghadapi kenyataan bahwa hari ini merupakan hari terakhirnya bisa bersama-sama dengan Surti. Waktu yang sekilas ini sudah sangat cukup meredam rasa rindu yang dimiliki oleh Dinda kepada orang tuanya. Bahkan sama persis dengan apa yang dirasakan oleh Erlan, bagi Dinda Surti juga sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Iya Mbok, aku akan selalu mengingat apa kata Simbok. Doakan aku selalu ya Mbok."
"Itu sudah pasti Din. Kamu wanita baik. Kelak nantinya hidupmu pasti akan diliputi oleh kebaikan pula."
"Haddeeehhhh ... ini lagi malah pakai acara nangis-nangis segala. Sudahlah Mbok, lebih baik Simbok segera berangkat. Ini aku dan juga Erlan ada keperluan masing-masing, masa iya harus terlambat karena drama melankolis seperti ini."
__ADS_1
Lagi-lagi Jenica menimpali perkataan Surti. Ia seakan tidak senang melihat orang-orang yang berada di lingkaran Erlan ini saling mengasihi satu sama lain. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu. Namun sepertinya pemandangan saling mengasihi seperti ini sangatlah merusak pandangannya.
"Jen, tolong bersikap sopan. Tidak pantas kamu mengatakan hal semacam itu Jen. Mbok Surti ini sudah seperti mamaku sendiri," ucap Erlan kembali memberi peringatan. Bahkan ia sampai kehabisan cara untuk mengubah sikap sang istri yang sudah sangat keterlaluan ini.
"Lan, bagaimanapun juga mbok Surti ini hanya pembantu, bukan mama kamu!"
"Jenica!" teriak Erlan lantang yang sudah habis kesabaran.
"Hah, apa ini Lan? Kamu berani membentakku? Setelah kemarin kamu menamparku sekarang kamu berani meneriaki aku? Tega kamu Lan!"
Jenica mengambil langkah seribu untuk pergi meninggalkan orang-orang yang ada di ruangan ini. Ia keluar apartement dan pergi entah kemana.
Erlan hanya bisa membuang napas kasar. Ia mendekat ke arah Surti yang juga hanya bisa terperangah tiada percaya dengan apa saja yang ia alami di pagi hari ini.
"Sekali lagi, maafkan istriku ya Mbok. Tolong jangan dimasukkan ke hati."
Surti tersenyum penuh arti. Ia menepuk-nepuk pundak majikannya ini. "Sudah, tidak apa-apa Den, Simbok mengerti. Kalau begitu Simbok pamit ya Den. Jaga diri deb Erlan baik-baik. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali!"
.
.
. bersambung...
__ADS_1